HADIAH
TERINDAH
Sudah hampir seminggu berlalu sejak Dylan memutuskan
hubungannya dengan Venus. Keadaan Venus pun sudah jauh lebih ceria dibandingkan
dengan kemarin-kemarin. April tak menyangka sahabatnya itu bisa sembuh secepat
ini. Kadang ia sendiri bingung, bagaimana sebenarnya perasaan Venus kepada
Dylan. Namun ia senang jika Venus memang sudah tak patah hati lagi. Waktu
memang dapat menyembuhkan hati yang luka.
Sebenarnya sejak hari pertama mereka putus, mereka tetap
sering jalan berdua. Mereka tetap bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Tak
ada yang berubah diantara keduanya, ya mungkin keadaannya sekarang tak ada tali
yang mengikat diantara keduanya. Ya seperti sekarang ini. Venus, April dan
Dylan sedang menghabisakan waktu bersama disebuah cafe.
“Dy, kamu tahu enggak minggu kemarin April dihukum sama
pak Hendry, dosen yang sering aku ceritain itu looh.. Dia dihukum bikin tiga
puluh gambar dalam kurun waktu satu setengah hari“ Ucap Venus sambil cekikikan.
“ Wah, seriusan? “ Tanya Dylan menahan tawa.
April memoyongkan bibirnya. Ia memandang Venus dengan
sebal, lalu bermain mata dengannya. Jika ada penerjemah maka artinya akan
seperti ini : “ Kenapa mesti cerita sama Dylan sih? Malu tahu .. “
“ Ah, udah ah enggak usah dibahas. Enggak penting! “
Gerutu April sebal.
Venus dan Dylan tertawa bersamaan. Tiba-tiba mereka
berhenti dan saling berpandangan. Kemudian mereka tertawa kembali. April
bingung melihat tingkah aneh kedua sahabatnya.
“ Eh Dylan.. Ngapain kamu disini? “ Tanya seorang wanita tiba-tiba.
Mereka bertiga menoleh bersamaan. Tawa keduanya tiba-tiba berhenti saat tahu
wanita itu adalah Irish. Wajah keduanya berubah menjadi sedikit aneh.
“ Eh, Irish. Dari dulu aku memang sering kesini “ Ucap
Dylan sambil tersenyum aneh.
Irish bercipika-cipiki dengan April dan Venus. Setelah
itu ia cipika-cipiki dengan Dylan. Gayanya genit sekali. Venus dan April sebal melihat
tingkah wanita yang satu ini.
“ kalau dari dulu aku tahu kamu sering kesini, aku pasti
bakal sering dateng kesini “ Ucap Irish sambil memanggil seorang waiters. Dylan
hanya tersenyum, lalu ia pamit untuk pergi ke toilet.
Venus kesal mendengar ucapan Irish barusan. Hello.. Gila aja loe!. Dulu dia masih jadi
pacarku. Dasar cewek penggoda ..
“ Kalian masih sering ketemu? “ Tanya Irish penasaran.
“ Iya. Memangnya kenapa, enggak boleh? “ Tanya Venus
mencoba sabar.
“ Kalian kan udah putus “
Ampuuunnn deh!
“ Memangnya kalau mereka udah putus kenapa? Bukan berarti
tali silaturahmi mesti putus juga kan? Lagian dari SMP mereka udah temenan. Ya
jadi wajar aja kalau mereka mau jalan bereng juga, toh dari dulu mereka emang udah
temenan “ Ucap April dengan nada sedikit kesal. Wajah Irish terlihat sebal.
Venus tersenyum pada sahabatnya. Thanks
..
Namun ia tak menyerah begitu saja. “ Aku nanya sama Venus
bukan sama kamu. Lagi pula, sekarang Dylan lagi deket sama aku. Jadi kamu
jangan ngegodain dia lagi.. kalau bisa kamu juga jangan deket-deket sama dia
lagi.. “ Ucap Irish lembut. Ia tersenyum dengan penuh kemenangan. Meskipun
samar namun terdengar jelas dalam ucapannya ada nada ancaman disana.
Venus tersenyum. “ Tenang aja. Aku enggak pernah
ngegodaiin dia ko kaya cewek-cewek lain. Tanpa aku goda pun, Dylan datang
dengan sendirinya ke pelukanku “ Ucap Venus menantang tatapan Irish.
Tatapan Irish semakin tajam, entah mengapa tatapannya itu
terasa menusuk-nusuk jantung Venus. Membuat Venus jengah. Akhirnya ia
mengalihkan pandangannya.
“ Baguslah kalau begitu. Aku pegang kata-katamu “ Ucap
Irish menang.
April menatap Irish sebal. Ingin sekali ia mencekik leher
wanita itu dan membantingkan kepalanya ke atas meja. Dasar cewek nyebeliiiin!!
Dylan kembali bergabung dengan mereka. Namun baru saja
Dylan akan duduk, tangannya sudah ditarik oleh Irish. “ Dy, kita pergi yuuk?
Aku pengen jalan-jalan sama kamu nih..” Ucap Irish manja. Dylan melihat Venus,
ia serba salah. Venus hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“ Ayooo Dy.. Cepetan.. “ Ucap Irish menarik tangan Dylan
lebih kencang. Dylan terus menatap Venus dengan pancaran mata yang sama sekali
tak bisa diartikan oleh kata-kata. Venus membalas tatapan itu, sampai akhirnya
keduanya hilang dibalik pintu..
Venus menunduk.
April menatap Venus miris. Orang yang baru saja menjadi
mantan kekasihnya itu sudah dekat dengan orang lain. Ia tahu perasaan Venus
pasti hancur.
April mengelus-elus punggung Venus.
Tak lama kemudian Venus mengangkat mukanya sambil tersenyum
lebar. “ Makan Ice cream yuk? Kamu yang traktir.. hehe “ Ucap Venus sambil
berlari meninggalkan sahabatnya yang masih duduk tak percaya dengan ekspresi
Venus barusan.
“ Eh, VEEE. Tunggu doonnggg! “ Ucap April sambil
berteriak. Kemudian ia berlari menyusul sahabatnya yang sudah berada didalam
mobil.
{
“ Ril ntar sore ada waktu enggak? “ Tanya Arga sesaat setelah
selesai perkuliahan. Terlihat April sedang membereskan alat-alat tulisnya.
Saat pak Hendry keluar meninggalkan kelas, hampir semua
anak langsung keluar. Di dalam kelas ada beberapa anak yang mengikuti sebuah
perkumpulan, tak lama kemudian mereka pun langsung keluar sambil membicarakan gosip-gosip
tentang sang rektor. Tinggal Venus, April dan Arga yang berada di dalam
kelas.
“ Emangnya kenapa? “ Tanya April tak menjawab pertanyaan Arga.
April tak mengalihkan pandangannya ia tetap fokus membereskan alat tulisnya.
“ hmm.. ehem. Aku,, aku mau ngajak kamu jalan “ Ucap Arga
gugup. Venus menahan tawa melihat tingkah Arga. Jelas sekali kalau ia nervous.
“ Kamu kenapa sih Ga? Biasanya juga kamu blak-blakan
kalau mau ngajak makan atau ngajak jalan. Tumben-tumbenan kamu nanya-nanya dulu
“ Tanya April dengan nada aneh. Itu malah membuat Arga semakin salah tingkah.
“ Hmmm .. Ntar sore ya? Boleh-boleh “ Lanjut April setelah berpikir beberapa saat.
Terlihat Arga menghela nafas, lega.
“ Ntar sore aku jemput.. Ya udah aku pulang duluan ya “
Ucap Arga sambil berjalan pergi meninggalkan kelas.
Venus tertawa terbahak-bahak.
“ Idih, kamu kenapa Ve? kesambet ya? “ Tanya April
bingung.
Venus masih tertawa, ia memegang perutnya karena sakit. “
Aduh.. hihi. Lucu deh si Arga. Dia tuh nunggu jawaban kamu, sampai-sampai dia nahan
nafas gitu.. By the way, kayaknya bakal ada yang jadian nih.. hihi “ Goda Venus
sambil menyenggol tubuh April. Venus tersenyum jail.
Terlihat muka April memerah.
“ Ih, siapa lagi yang mau jadian?! “ Protes April.
“ Hmm. Jangan boong
deh..
Itu kan yang kamu pengen? “ Tanya Venus sok misterius.
Wajah
April semakin memerah.
“
Tuh kan bener.. hihi “ Goda Venus sambil menunjuk wajah April.
“
Ih, apaan sih? Udah ah, aku mau pulang “ Ucap April dengan sebal.
“
RIL JANGAN LUPA PJ-NYA YAAA “ Teriak Venus sambil tertawa.
April berjalan dengan hati yang tak karuan.
Terlihat mang Ujang sudah menunggunya sejak tadi. Ia
masuk ke dalam mobil, mang Ujang mulai menjalankan mobilnya.
April mengalihkan pandangannya keluar jendela mobilnya. Lalu
ia tersenyum karena mengingat apa yang baru saja Venus katakan.
Sebenarnya ia juga berharap hal yang sama dengan yang
diharapkan oleh sahabatnya itu. Dua tahun ia mengenal Arga, itu adalah waktu
yang cukup untuk mengenal seseorang luar dan dalam. Ia dan Venus memang dekat
dengan Arga, namun kedekatan yang terjadi antara Venus dan Arga berbeda dengan
kedekatan antara April dan Arga.
Entahlah, ketika ia berada dekat dengan Arga ia selalu
merasa nyaman. Arga termasuk orang yang menyenangkan, perhatian, baik hati dan
juga pengertian meskipun ia juga termasuk orang yang keras kepala. Pertama kali
ia bertemu Arga saat mereka ospek dulu. Saat itu mereka hanya mengobrol biasa
layaknya teman baru. Tak ada perasaan apa pun disana. Namun setelah pertemuan
selanjutnya ia merasa ada sesuatu yang aneh jika berada dekat dengan lelaki
itu.
April yakin ini memang cinta. Cinta sederhana yang tak
pernah meminta balasan. Namun ia juga hanya manusia biasa yang ingin selalu
dicintai. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia berharap Arga pun merasakan
hal yang sama dengan apa yang ia rasakan.
“ Udah sampe mba “ Ucap mang Ujang menyadarkan. April mengangguk, lalu ia
keluar dari mobilnya. Seperti biasa, siang itu keadaan rumah sedang sepi. Papah
April sedang bekerja, sementara mamahnya sedang arisan dengan ibu-ibu kompleks.
Sekarang mas Tyo sudah menikah, ia tinggal dengan Istri dan satu jagoan
kecilnya di kawasan menteng. Jadilah ia sekarang seperti anak tunggal dan
selalu kesepian jika saja Venus tak sering menemaninya.
Ia melangkah menuju kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul
15.00. Ia bersiap-siap untuk pergi makan dengan Arga. Ia memilih memakai blues berwarna
pink agak tua. Ia memoles wajahnya dengan bedak tipis, sedikit blush
on dan lip gloss glossy pink.
Tok .. Tok .. Tok ..
“ Masuk.. Oh bibi, ada apa bi? “
“ Di bawah ada temennya mba. Laki-laki, orangnya manis
sopan lagi “ Ucap Bi Minah.
“ Oh iya bi, suruh tunggu sebentar “ Jawab April sambil
memakai high heels berwarna cokelat.
April berjalan keluar kamar, ia mempercepat langkahnya.
Ia tak ingin membuat Arga menunggu lebih lama.
“ Hmm , sorry nunggu lama ya? “ Ucap April merasa tak
enak.
Arga tersenyum manis. “Enggak ko, berangkat sekarang?“
April mengangguk. Ia dan Arga berjalan ke Civic hitam
milik Arga. Arga membukakan pintu mobil untuk April. April tersenyum, lalu ia
mengucapkan terima kasih.
Untuk
beberapa lama mereka hanya terdiam. Tak tahu harus berkata apa.
April menekan tombol power Mp4 untuk memecah keheningan,
namun tangannya bersentuhan dengan Arga saat ia juga ingin melakukan hal yang
sama. Keduanya terhenyak kaget.
“ Sorry.. “ Ucap keduanya hampir bersamaan. Mereka
tersenyum, gugup.
Kemudian mereka terdiam kembali.
“ Udah sampe Ril.. “ Ucap Arga tiba-tiba. Mereka berhenti
disebuah taman yang cukup indah.
April keluar dari mobil, ia melihat ke sekeliling. Di
taman itu banyak sekali orang yang sedang
melakukan berbagai aktivitas.
Ada yang sedang jalan-jalan sore, bersepeda, anak-anak
yang bermain dan berlari kesana kemari, dan sejoli-sejoli yang sedang berpacaran. Di taman tersebut terdapat air
mancur yang dikelilingi oleh bunga-bunga berwarna-warni. Mungkin sejenis bunga-bunga
liar, entahlah.
Arga menarik tangan April dan mengajaknya duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu jati yang terletak tak
jauh dari kolam air mancur.
“ Aku kesana dulu ya.. “ Ucap Arga sambil menunjuk salah
seorang pedagang ice cream. April hanya mengangguk.
April
terus memperhatikan Arga. Ia tersenyum. Aduuuh … gimana kalau
dia beneran nembak aku? Aku mesti
jawab apa?
“
Nih Ril ice creamnya “ Ucap Arga sambil menyodorkan sebuah corneto cokelat.
“
Makasih “ Ucap April sambil tersenyum.
April
mulai menjilati ice creamnya, matanya memperhatikan anak-anak yang sedang
bermain. Ia tak berani menatap lelaki disampingnya, bukan karena malu tapi
lebih karena ia gugup.
“
Ril.. “ Ucap Arga tiba-tiba.
April
menoleh. “ Iya? “
“
Kamu cantik “
Wajah
April seketika memerah,
ia kaget mendengar Arga tiba-tiba berkata seperti itu. Entah mengapa sore ini
Arga berubah menjadi sedikit serius.
Arga
mengambil sesuatu dari saku belakangnya. “ Oiya, ini buat kamu “ Ucap Arga
sambil memberikan setangkai mawar merah yang dibungkus plastik bening.
“ Oh.. Iya.. oke.. makasih.. “ Ucap April gugup.
Jantungnya mulai berdetak kencang. Ia segera mengalihkan pandangannya, ia
mencoba untuk mengendalikan perasaannya yang mulai bergejolak. Ia tak ingin
terlihat memalukan didepan lelaki yang sekarang ia cintai itu.
“ Ril.. “
April menoleh kembali. “ Iya? “
Perlahan tangan Arga terulur menyentuh tangan April, lalu
ia menggenggamnya. Tangan April terasa sangat dingin, tapi tangan Arga
membuatnya menjadi hangat.
Terlihat
Arga menarik nafas. “ Pertama kali kita bertemu saat ospek dulu, kita
membicarakan ini itu layaknya teman baru. Tak ada sedikit pun perasaanku yang
terlibat didalamnya.. “
April
terdiam. Setelah Arga yakin April tak merespon kata-katanya, ia menerusakan
ucapannya.
“
Namun sejak pertemuan selanjutnya aku mulai suka dengan keberadaanmu, entah
mengapa aku merasa ada sesuatu yang beda dalam diri kamu. Kamu menggoreskan warna
yang baru dan berbeda dalam hidupku. Disampingmu aku selalu merasa nyaman.
Sehari enggak ketemu kamu rasanya seperti ada yang kosong.. “ Lanjut Arga.
Terlihat
muka April memerah, lalu ia menunduk. Tangan Arga terulur, dengan lembut
tangannya menyentuh dagu April dan membuat wajah April kembali mendongak.
“
Aku cinta sama kamu Ril. Sangat mencintaimu.. “ Ucap Arga tak lama setelah ia
memperhatikan wajah cantik April.
Bibir
April membisu, tak percaya dengan kata-kata yang baru saja ia dengar. Berjuta
perasaan bergejolak dalam hatinya, kata-kata itu berhasil memukul-mukul dada
April dengan keras.
“
Aku enggak tahu, kapan perasaan
ini tumbuh dan aku pun enggak tahu kenapa aku bisa cinta sama kamu .. Aku
enggak
mau
berjanji ini itu agar kamu bisa
nerima aku. Namun satu hal yang perlu kamu tahu, aku enggak mau kehilangan kamu
dan aku akan berkorban apa saja agar kamu selalu ada dalam hidupku “
Pipi April terasa panas, sepertinya saat ini wajahnya
sudah menjadi kepiting rebus. Jantungnya pun berdebar semakin liar. Ia tak tahu
harus menjawab apa.
“ Kamu mau jadi pacar aku? “ Tanya Arga setelah panjang
lebar ia mencurahkan segala isi hatinya yang membuat perasaan April terbang.
Setelah perpisahannya dengan Denis, ia memang tak pernah
berpacaran lagi sampai saat ini. Banyak yang mendekatinya dan terang-terangan
bilang suka, namun belum ada laki-laki yang dapat mengetuk pintu hatinya sampai
saat ini. Hingga akhirnya, lelaki didepannya ini mengetuk pintu hatinya dan berhasil masuk
ke dalam relung-relung hatinya. Ia tak sanggup untuk menolaknya, karena semakin
ia menolaknya perasaan itu malah semakin menggerogotinya.
Setelah berpikir sebentar akhirnya April mengangguk.
Terlihat Arga mengerutkan alis tak mengerti. Ampun deh!. Masa enggak ngerti?! Aku khan malu kalau mesti bilang “
mau.. mau bangeeetttt “
April menghela nafas, mencoba meyakinkan kembali akan
keputusan yang akan ia ucapkan. Namun seribu kali pun ia berpikir, jawabannya
pasti akan tetap sama. Ia sangat mencintai Arga.
“ Iya.. Aku mau jadi pacar kamu.. Aku,, juga cinta sama
kamu “ Ucap April setelah ia bisa sedikit mengendalikan perasaannya yang tak
karuan.
Terlihat senyum Arga merekah. Kebahagiaan terpancar dari
wajahnya, begitu pun dengan April. Mereka tak perlu menyembunyikan perasaan
masing-masing lagi yang terkadang membuat mereka berdua
tersiksa.
Tiba-tiba Arga memeluk tubuh April, terlihat ia kaget dengan
pelukan hangat kekasih barunya yang mendadak
itu. Tak lama kemudian April
tersenyum. Akhirnya ia pun melingkarkan tangannya ke tubuh Arga.
{
Hari telah menjelang malam ketika April menelepon Venus
yang telah tertidur lelap.
“ Aduh, siapa sih malem-malem gini telepon?! Enggak
tahu apa sekarang waktunya tidur? “ Gerutu Venus kesal.
Venus melihat jam dindingnya, jam baru menunjukkan pukul
01.30. Dengan malas ia mengambil handphone merahnya yang berada dekat dengan
lampu kamar. Venus menyipitkan matanya, melihat layar handphonenya yang terus
berkedip.
“ hah?? April? Ngapain dia malem-malem gini telepon? “
Ucap Venus heran. Tapi akhirnya ia menekan tombol answer.
“ VENUUSSS! Lama banget sih angkat teleponnya?? “ Omel
April membuka pembicaraan. Venus mengerutkan alis. Ini tuh siapa yang lagi ngelindur ya? perasaan sekarang emang waktunya
buat tidur, bukan buat telepon-teleponan.
“ Ril, ngapain sih kamu malam-malam gini telepon? Ini tuh
jamnya orang-orang lagi istirahat tahu “ Ucap Venus antara sadar dan tidak.
“ Hmm. Maaf deh, kalau aku ganggu waktu kamu tidur. Tapi
sumpah deh, aku pengen cerita sesuatu niihh sama kamu. Aku engga bisa nunggu
sampe besok sampe-sampe aku engga bisa tidur “
“ Emangnya kamu mau cerita apaaa? “
“ Tahu engga Vey, tadi sore Arga nembaakkk akuuuu “ Ucap
April sambil cengengesan.
“ Terus gimana? “ Tanya Venus lemas.
“ Aku bilang kalau aku juga cinta sama dia “
“ Terus? “
“ Ya.. kita jadian “
“ Ohhhh.. “ Ucap Venus sambil manggut-manggut.
“ Ih, Vey ko reaksinya gitu sih. Vey kamu tidur yah? “
Tanya April.
“ Hmmm.. “
“ Ve.. Venus? “
Tak ada jawaban sama sekali. Venus memang sudah pergi
jauh ke alam mimpi meninggalkan sahabatnya yang kesal setengah mati.
Tak terasa sang fajar telah bersinar terik,
namun Venus telah siap untuk berangkat ke kampus. Pagi ini mata kuliahnya
adalah tentang melukis. Ia tak ingin terlambat, karena mata kuliah ini hanya
ada seminggu sekali. Selain menggambar, Venus juga memang senang melukis.
Sesampainya dikampus, Venus langsung pergi ke kelas
melukis. Ternyata disana belum ada seorang pun yang datang. Memang tak banyak
orang yang mengambil kelas melukis, mungkin karena merasa tak ada bakat
melukis, tak berminat atau apa lah. Venus tak peduli. Venus dan April adalah
sebagian orang yang mengambil kelas ini. Meskipun awalnya April ragu, namun
Venus terus mendukungnya sampai ia bisa menunjukkan kelebihannya dalam melukis.
Tak lama kemudian, beberapa orang mulai memasuki ruangan
termasuk April. Venus tersenyum kearahnya. Tapi entah mengapa April malah
memalingkan muka.
Venus mengerutkan alis. April melangkah menuju kursi yang
biasa ia duduki, tepatnya kursi disebelah Venus.
“ Morning Ril.. “ Ucap Venus tersenyum.
“ Morning “ Jawab April datar.
Venus menelan ludah. Venus kenal betul gelagat sahabatnya
itu. Jika April berubah menjadi dingin, ia pasti lagi bete atau lagi ada
masalah.
“ Kenapa? “ Tanya Venus hati-hati.
“ Nothing “ Jawab April singkat.
Baru saja Venus ingin berbicara namun suaranya tertahan,
ia tak bisa berkata apa-apa saat Pak Monro datang. Tiga jam setengah berlalu
begitu saja tanpa ada obrolan sama sekali. Hmm,
April kenapa ya? Apa dia lagi ada masalah? Atau aku punya salah sama dia? Aduuuhh.
Gini nih kalau dia udah kumat, bikin bingung and khawatir aja.
“ Aku pulang duluan yah? “ Ucap April sesaat setelah pak
Monro keluar.
“ Loh, kamu mau kemana? Kan abis ini kita masih ada kelas
“ Tanya Venus bingung.
“ Aku enggak enak badan.. “ Ucap April sambil melangkah
pergi.
Venus menggaruk kepalanya yang tak gatal. Venus
memiringkan kepalanya. Tak biasanya April pulang saat jam kuliah. Hmmm, April kenapa yah?
Venus berjalan keluar kelas, ia pergi ke kantin untuk
membeli minuman. Terlihat disana ada dua sosok yang sangat ia kenali.
Venus tersenyum. “ Hai.. boleh aku duduk disini? “ Tanya
Venus ragu.
“ Ya boleh lah, kenapa sih tumben banget pake permisi
segala? “ Tanya Arga.
“ Hmmm.. engga apa-apa. Ya,, takut ganggu aja “ Ucap
Venus sambil melirik ke arah April. Wajahnya dingin sekali, terlihat kalau ia
sedang bad mood.
“ Enggak ko nyantai aja kaliii.. “ Jawab Arga sambil cengengesan.
“ Oiya sampe lupa, selamet ya buat kalian berdua. Moga
langgeng aja.. Oiya mana traktirannya niihhh? “
“ hehe. Iya makasih Vey.. Pesen aja yang kamu pengen,
biar aku yang traktir “ Ucap Arga sambil tersenyum lebar.
“ Seriusan? Asiikk.. “ Jawab Venus sambil tersenyum.
Venus terus mencoba membuat suasana lebih santai, ia
berusaha mencairkan kekesalan dalam hati April yang sebenarnya ia pun tak tahu
alasannya.
“ Ga, aku pulang duluan ya “ Ucap April tiba-tiba, ia
pergi begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun pada Venus.
Venus mengerutkan alis. Ia tak mengerti dengan apa yang
sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu. Kemarin ia bahkan baik-baik saja.
Matanya terus memperhatikan April, ia masih belum menyadari apa yang sebenarnya
terjadi.
Tiba-tiba Venus berdiri. “ Ga, duluan ya.. “ Ucap Venus
sambil sedikit berlari.
Venus berlari sambil mencari-cari sosok yang sejak tadi
pagi membuatnya bingung. Setelah ia berputar-putar akhirnya ia menemukan April
sedang mengobrol dengan seorang laki-laki. Entah siapa.
“ April.. “ Ucap Venus sambil terengah-engah.
Mereka berdua menengok. Lalu sang laki-laki berpamitan
pergi, April mengangguk lalu melambaikan tangan padanya. Namun tak lama
kemudian April melangkah pergi. Dengan segera Venus menyusulnya.
Venus menarik tangan April.
“ Ril, please. Kenapa sih dari tadi pagi kamu cuekin aku
terus? Kamu dingin banget, enggak kaya biasanya. Kamu lagi ada masalah? atau
aku punya salah sama kamu? “ Tanya Venus bingung.
April tersenyum, dingin. “ Engga ko. Aku cuma lagi enggak enak badan aja. Sorry Vey, aku mau pulang
“
“ Kalau alesan kamu emang lagi enggak enak badan, kenapa
sama orang lain kamu tetep ramah? kenapa sama aku kamu dingin banget? Jujur aja
Ril, kamu marah sama aku? Please Ril, ngomong.. “
April diam, tak menjawab pertanyaan Venus.
“ Aku bukan Tuhan yang tahu semua hal di dunia ini Ril.
Aku hanya manusia biasa. Kalau kamu diem kaya gini terus, semuanya enggak bakal
kelar “ Ucap Venus meneruskan.
“ Seorang sahabat akan selalu ada disaat kita butuh, saat
senang, saat susah, enggak pernah mengenal waktu. Tapi tadi malem kamu kemana
Ve? Kamu malah tidur. Aku cerita sama seseorang yang penting dalam hidupku,
agar dia bisa menjadi orang pertama yang tahu tapi yang aku bela-belain malah
enggak menghargainya sama sekali “ Ucap April dengan tenang.
“ Ya ampun ... Jadi cuma gara-gara hal sekecil itu kamu
marah sama aku? “ Ucap Venus tak percaya.
“ Apa kamu bilang CUMA? HAL SEKECIL ITU? “ Tanya April
dengan nada jutek.
Venus sadar kalau ia salah bicara, harusnya ia langsung
minta maaf bukannya malah berkomentar.
“ Ve, yang kamu bilang hal sekecil itu adalah sesuatu
yang penting dalam hidup aku. Aku selalu berusaha buat ada disamping kamu, saat
kamu butuh aku, saat kamu sedih, saat kamu senang. Tapi mana, saat aku senang
dan aku membutuhkan kamu untuk berbagi cerita kamu malah enggak menghargainya
sedikit pun “ Ucap April dengan nada sedikit tinggi.
Venus tertegun mendengar semua itu, semua yang April
ucapkan memang ada benarnya. Ia memang selalu mengandalkan April, namun
terkadang ada kalanya saat April membutuhkannya ia selalu tak ada. Sahabat yang
buruk.
“ Aku pikir kamu sahabat yang bisa aku andalkan. Aku kecewa
sama kamu Ve..” Ucap April dengan lemas. Terlihat sekali ada kekecewaan dalam
wajahnya.
“ tadi.. tadi malem.. aku tuh.. “ Ucap Venus terbata-bata. Matanya memerah.
Belum selesai Venus berbicara tapi April langsung
menyelanya.
“ Udahlah Ve! aku enggak mau denger apa-apa. Aku mau
pulang “ Ucap April sambil melangkah pergi.
Venus terdiam seribu bahasa. Mulutnya terasa terkunci,
otaknya seperti kehilangan semua memori tentang semua kata yang ia tahu. Ia tak
bisa menjawab kekecewaan yang April tunjukkan padanya.
Ia mencoba mencerna kembali apa yang baru saja terjadi.
Ia telah mengecewakan sahabat yang ia sayangi, ternyata selama ini ia tak bisa
menjadi sahabat yang baik. Ia tak mau kehilangan April, ia tak mau kehilangan
orang-orang yang ia sayangi lagi. Akhirnya air matanya menetes diikuti dengan
teman-temannya yang lain.
“ Hei.. “ Ucap seseorang sambil menepuk punggung Venus. Venus
terhenyak, ia langsung menyeka air matanya.
Venus berbalik.
“ Loh kamu kenapa Ve?
“ Tanya Dylan khawatir.
Venus tersenyum sambil menggelengkan
kepala.
Melihat Dylan perasaan Venus semakin berkecamuk. Ingin
sekali rasanya ia memeluk lelaki didepannya itu dan menumpahkan semuanya.
Sahabat yang ia sayangi, marah kepadanya dan ia ingin sekali berbagai dengan
seseorang.
Venus menunduk, sebisa mungkin ia mencoba menyembunyikan
kesedihannya. Namun tangan Dylan tiba-tiba menyentuh dagu Venus, dan mengangkat
wajahnya.
“ April marah sama aku Dy.. “ Ucap Venus lirih. Air
matanya kembali menetes.
Mendengar pernyataan Venus, Dylan
hanya menghela nafas. Ia tahu April
adalah sahabat sekaligus saudara bagi Venus. Ia tahu bagaimana rasanya jika
orang yang kita sayangi kecewa atau marah pada kita. Dylan menarik tubuh Venus
dan memeluknya. Ia berharap setidaknya perasaan Venus bisa lebih baik.
{
“ Please Ril angkat.. “ Ucap Venus gelisah.
Sudah hampir
enam kali Venus
mencoba menghubungi April,
namun sahabatnya itu sama sekali tak meresponnya.
“ Apa April segitu marahnya sampai-sampai dia enggak mau
angkat telepon dari aku?” Tanya Venus pada dirinya sendiri. Venus menghela nafas. Maafin aku Ril ..
Lagi-lagi air mata Venus menetes. Baru kali ini April
marah sekali sampai-sampai ia tak mau mengangkat telepon dari Venus. Perasaan
Venus berkecamuk, sedih, bingung, marah dan kecewa terhadap diri sendiri. Venus
bisa mengerti apa April rasakan, mungkin ia juga akan bersikap seperti ini jika
April bersikap acuh tak acuh.
Tok .. Tok .. Tok ..
“ KAVEEE.. “
Venus membukakan pintu. “ Iya, kenapa Lori sayang? “
Tanya Venus sambil mengacak-ngacak rambut Lori. Sebisa mungkin ia mencoba
menyembunyikan kegalauan hatinya.
“ Makan malem kata
papah “ Jawab Lori sambil menepis tangan Venus dengan kasar.
“ Idih adikku ko galak banget sih? Tumben-tumbenan. Kenapa
sih? “ Tanya Venus memperhatikan adiknya lekat-lekat.
“ Enggak apa-apa ko ka, ayo kita makan “ Jawab Lori
malas.
“ Yuuk “ Jawab Venus sambil merangkul bahu adik
kesayangannya itu.
Venus dan Lori berjalan beriringan menuju meja makan. Makan
malam berjalan seperti biasa, menyenangkan dan hangat. Hanya saja kali ini Lori
banyak terdiam. Venus sendiri mencoba untuk tetap ceria meskipun ia sedang
dalam masalah.
Selesai makan Irene, Venus dan Lori duduk di ruang
keluarga, sedangkan Amran langsung pergi ke ruang kerja karena ada pekerjaan
yang harus diselesaikan. Jam masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Venus dan Lori duduk dibawah karpet, sedangkan Irene
sedang menelepon entah siapa.
“ Ri, kamu kenapa? Enggak biasa-biasanya kamu diem kaya
gini? “ Tanya Venus setelah memastikan ibunya itu tak mendengarkan pembicaraan
mereka.
Lori menghela nafas. Adiknya itu sekarang telah tumbuh
menjadi cowok yang mempesona. Tubuhnya tinggi, berlesung pipi, manis, pintar
pula. Seharusnya tahun ini ia berada dikelas delapan, namun karena ia termasuk
anak jenius ia langsung naik ke kelas sembilan.
“ Ghea ka.. “
“ Emangnya Ghea kenapa? “ Tanya Venus penasaran.
“ Dia selingkuh.. “ Ucap Lori sambil tersenyum miris.
Venus kaget mendengarnya.
“ Selingkuh sama temen aku sendiri “ Lanjut Lori. Venus
menganga mendengarnya. Ia tak percaya dengan kata-kata adiknya itu yang bisa
dibilang masih anak kecil.
“ Really?? Oh My God.. You are so young, but your trouble
is complicated. Be patient my little brother. She isn’t the best for you “
Lori mengangkat bahunya. “ May be.. “
“ Terus gimana? “
“ Aku putusin dia. Dan yang paling bikin aku jadi benci
banget sama Ghea, dia sama sekali enggak ngerasa bersalah. Mereka berdua cuek
aja kaya yang enggak ada masalah apa-apa. Itu bikin aku muak ka.. “ Ucap Lori
dengan nada kecewa. Terdengar sekali terdapat kemarahan dalam dirinya. Venus
mengelus-ngelus punggung Lori. Lalu memeluknya untuk beberapa saat.
“ Hmm .. Sabar ya. Kamu ambil hikmahnya aja. Seharusnya
kamu bersyukur karena Allah udah ngasih tahu kamu siapa dia yang sebenarnya .. Mungkin
dia emang enggak pantes buat kamu. Udahlah kamu enggak usah mikirin dia terus,
masih banyak ko cewek yang lebih baik dari dia. Tinggal tunggu waktunya aja..
Lagipula kamu juga lumayan cakep ko, pinter lagi so pasti bakal banyak cewek
yang ngantri buat jadi pacar kamu “ Ucap Venus panjang lebar.
Lori tersenyum malu mendengar kata-kata kakaknya barusan.
Mukanya memerah.
“ Wew, apaan sih ka? Biasa aja ah.. “ Ucap Lori malu.
“ Aku jamin, kamu enggak butuh waktu lama buat ngedapetin
cinta yang baru dan pastinya harus lebih baik. Udah ah, aku ke kamar dulu ya? “
Pamit Venus sambil mengacak-ngacak rambut adiknya yang sedikit ikal.
“ Siip.. “ Jawab Lori sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah berpamitan pada Irene, Venus langsung pergi ke
kamar. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam saat ada pesan masuk ke
handphone Venus.
Gimana sama April udah baikan ?
# Dylan #
Saat makan malam tadi, untuk sesaat Venus bisa melupakan
masalah yang terjadi pada dirinya, namun Dylan malah mengingatkannya.
Not yet Dy.
Tadi aku telepon April tapi enggak diangkat ..
Aku mengerti kalau dia marah kaya gini ..
# Venus #
Venus menekan tombol send, namun tak lama kemudian Dylan
membalasnya.
Kamu yang sabar ya ..
Aku yakin April enggak bisa marah lama-lama ..
# Dylan #
Venus menghela nafas, ia juga berharap seperti itu.
Venus memilih untuk tak membalas sms Dylan, ia lebih
memilih untuk pergi tidur karena hari ini ia merasa sangat lelah. Saking
lelahnya, ia sampai tak
tahu hari apa sekarang. Entahlah, pikirannya sedang terbagi-bagi sehingga ia
tak bisa memfokuskan pikirannya pada satu hal. Venus merentangkan tubuhnya
diatas kasur. Dua tahun belakangan ini, ia mengalami kehilangan orang-orang
yang ia sayangi. Rafa pergi ke Paris, Dylan memutuskannya, sekarang April marah
kepadanya.
Andai hidup ini bisa menjadi
lebih baik. Akhirnya Venus
terlelap dalam tidurnya.
PREEEEEEEETTTTTTT.. PREEEEEEEEETTTTTTT..
PREEEEEEEEETTTTTTT..
Venus langsung terbangun karena mendengar suara yang
entah berasal darimana.
“ Ya Allah itu apaan sih ? Ganggu tidur orang aja. Enggak
tahu apa sekarang baru jam dua belas ? “ Gerutu Venus kesal. Tak lama kemudian
Venus kembali berbaring, melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
Baru saja Venus
terlelap, saat tiba-tiba PREEEEEEEEETTTTTTT.. PREEEEEEEEETTTTTTT..
PREEEEEEEEETTTTTTT.. PREEEEEEEEETTTTTTT..
Venus langsung loncat dari tempat tidur karena saking kagetnya. Ia melihat
sekeliling, pandangannya masih kabur saat tiba-tiba seseorang yang tak asing
datang dari balik pintu sambil membawa kue ulang tahun.
“ Happy brithday to you.. “ Ucap Dylan sambil melangkah
mendekati wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
“ Happy brithday to you.. Happy brithday, Happy brithday,
Happy brithday to you.. “ sambung Irene dan Amran. Tadinya Venus ingin marah,
namun setelah melihat itu ia menjadi terharu. Venus meniup lilin yang berbentuk
20. Umurnya sekarang memang sudah dua puluh tahun, ia sudah mulai menginjak
fase dewasa dimana semua persoalan akan lebih banyak menghampirinya.
“ Selamat ulang tahun Ve, semoga kamu menjadi lebih baik
dari tahun sebelumnya “ Ucap Dylan sambil bercipika-cipiki.
“ Makasih Dy.. “
Gantian sekarang Irene dan Amran mendekatinya.
“ Selamat Ulang
tahun ya sayang, semoga kamu menjadi anak yang sholehah yang berbakti kepada ke
dua orang tua, menjadi orang yang berguna dan bisa dibanggakan “ Ucap Irene sambil memeluk anaknya yang
sekarang telah tumbuh menjadi wanita yang cantik dan lebih dewasa.
“ Iya, selamat ulang tahun ya sayang.. “ Ucap Amran
memeluk anak dan istrinya.
“ Makasih mah, pah.. Aku enggak nyangka kalian ngasih surprise
kaya gini. Aku seneng banget bisa ngerayain ultah aku bareng kalian “ Ucap
Venus terharu.
“ Ya udah, gimana kalau kita makan kuenya di bawah aja? “
Usul Amran. Semua mengangguk setuju.
Venus memang bahagia, namun masih ada sesuatu yang
mengganjal dihatinya. Andai April ada
disini .. Apa dia lupa ulang tahun? Biasanya kalau aku ultah dia dateng kesini..
Venus pergi ke kamar mandi yang berada tak jauh dari
ruang keluarga untuk membasuh muka. Saat ia keluar dari kamar mandi, tiba-tiba
seember air berwarna tumpah tepat di atas kepalanya.
Byuuurrr..
Venus hanya menganga tak percaya dengan apa yang baru
saja terjadi. Tubuhnya penuh dengan cairan berwarna merah. Venus menengok ke
samping, ternyata Lori.
“ Iihhh, LORIII!!! “ Ucap Venus kesal. Lori langsung lari
ke ruang keluarga dan dengan cepat Venus mengejarnya.
“ Hahaha, mah liat deh. Lucu ya Kave, badannya warna merah..
“ Ucap Lori sambil terus berlari. Amran dan Dylan tersenyum melihat tingkah
pola adik dan kakak itu, sedangkan Irene hanya menggelengkan kepalanya.
“ Sini kamu Lorii! “
Tak lama kemudian, pa Budi dan bi Cici pun ikut
bergabung. Bi Cici membawakan minuman dari dapur.
“ Weee.. Kalau ulang tahun dikerjain itu wajar ka, jadi
jangan marah.. hehe “ Ucap Lori cengengesan. Tenaga Venus sudah hampir habis,
percuma jika ia mengejar Lori. Toh ucapan anak itu memang benar, ini semua
menunjukkan bagaimana kasih sayang mereka pada dirinya.
“ Udah ah, cape “ Ucap Venus sambil duduk di samping
Dylan.
Lori mendekati kakak kesayangannya. “ Happy brithday ya
ka “ Ucap Lori tulus.
“ Iya .. Makasih ya adekku sayang “ Jawab Venus sambil
merangkul leher Lori lalu menjitaknya.
“ Aduuh.. Sakit.. “
Venus menjulurkan lidahnya. Lori hanya cemberut
melihatnya.
“ Udah, udah. Kalian jangan berantem terus ah. Kalau
kalian berantem terus kapan kita makan tiramisunya? “ Ucap Irene melerai
anaknya.
“ Oiya bi, tolong ambilin handuk buat Venus ya. Takut
masuk angin “ Ucap Irene.
“ Baik nyonya “ Jawab bi Cici sambil melangkah pergi ke
kamar Venus.
Malam ini menjadi malam yang membahagiakan untuk Venus.
Semua orang yang ia sayangi ada dihadapannya kecuali April dan Rafa. Venus tak
mau mengharapkan sesuatu yang jelas-jelas memang tak ada.
Untuk hadiah, tiap orang memberikan sesuatu yang sama
sekali tak Venus sangka. Ayah dan ibunya memberikan sebuah rumah di kawasan
Bandung barat.
“ Rumah di Bandung sengaja papah bangun buat kamu, akte
rumahnya juga atas nama kamu. Ini kunci rumahnya. Ya kalau-kalau kamu pergi
liburan ke Bandung kamu enggak perlu tidur di hotel “ Ucap Amran sambil
menyerahkan sebuah kunci rumah.
“ Serius Pah? Wah makasih banget pah.. “ Ucap Venus
sambil mengecup papahnya, lalu memeluk mamahnya.
“ Ini dari aku “ Ucap Lori sambil menyerahkan sebuah tas
merk SunnyGirl berwarna merah.
Venus tersenyum. “ Makasih ya.. “
Sedangkan Dylan, ia lebih memilih untuk membungkus
hadiahnya. Venus pun tak berniat membukanya didepan keluarganya. Tiga jam
berlalu begitu saja. Untung saja besok
hari minggu, aku jadi bisa tidur sampe siang.. hahaiii
Setelah sholat subuh, Dylan pamit pulang. Venus langsung
pergi ke kamar untuk membuka hadiah dari Dylan dan melanjutkan tidurnya. Dengan
hati-hati ia membuka kertas kado merah yang membungkusnya.
Sebuah kotak musik berwarna putih bercorak emas, dan
sepasang kekasih yang berdansa ketika kotak itu dimainkan. Indah sekali. Ia
segera mengambil handphone yang berada di meja riasnya. Disana sudah banyak
sekali sms yang masuk. Ada dari teman kampusnya, teman satu jurusan, teman satu
hobi, teman saat SMA. Namun ia memilih untuk mengirim sms
untuk Dylan.
Dylan .. Makasih banyak ya ..
Aku seneng banget km kasih ini ..
It’s so beautifull ..
# Venus #
Venus menekan tombol send. Tak lama kemudian handphonenya
bergetar.
Bagus kalau km suka ..
Now, go to rest .. See yaa
# Dylan #
Venus mengerutkan alis. Ia bingung, entah ini hanya
kebetulan atau apa. Yang jelas ia senang bisa mendapatkan benda yang sejak lama
ia inginkan. Tak butuh waktu lama, Venus pun kembali terlelap.
Sang fajar telah bersinar terik, namun itu tak
mempengaruhi Venus sedikit pun untuk bangun.
TOOK.. TOOK.. TOOK..
“ KAVEEE. BANGUUN DOONG! Udah siang nih. Kamu kan cewek,
malu dong sama matahari “ Ucap Lori sedikit berteriak.
“ AHHHH. Berisik de! Pergi sana. Aku masih ngantuk.
Lagipula ini kan hari minggu. Aku mau tidur sampe besok! “
“ WEW. Yang bener aja Ka. Buruan bangun “ Ucap Lori
sambil tetap mengetuk pintu. Dengan kesal Venus bangun dan membukakan pintu. Huuh! nyebelin banget sih nie anak.
“ Ada apa sih? Ganggu tidur aku aja “ Gerutu
Venus kesal.
“
Aku pengen maen ke pantai nih ka.
Anterin yu? “ Pinta
Lori tiba-tiba.
“ Ih, biasanya juga kamu maen sama temen-temen kamu “
Jawab Venus sambil melemparkan diri ke atas tempat tidur.
“ Ayolah ka. Sekali-kali pengen maen bareng sama kakak
aku sendiri masa enggak boleh sih? Kata mamah juga ajakin kamu aja. Ayolah ka,
please? “ Bujuk Lori manja.
“ Males ah. Panas-panas gini masa mau ke pantai sih?
Bisa-bisa aku jadi gosong lagi. Ogah ah “ Tolak Venus mentah-mentah.
“ Ke pantainya
juga ntar jam 2an ko ka. Please?? Masa tega sih sama adiknya sendiri? “
Adiknya itu kalau sudah ada maunya pasti dia menjadi sangat
pemaksa meskipun secara tidak langsung.
“ Ya udah. Ya udah, iya. Pergi sana “ Jawab Venus sambil
mendorong tubuh adiknya itu agar keluar kamar.
“ Hehe. Makasiih ya ka “ Ucap Lori sambil sedikit
berteriak.
Venus menggeleng. Ia dan adiknya memang sama-sama
mempunyai sifat yang keras, mungkin sifat ini diturunkan dari ayahnya. Namun
bagaimana pun keras kepalanya Venus, ia tak bisa menolak permintaan dari
orang-orang yang ia sayang selama ia bisa memberikannya ia pasti akan
melakukannya.
Venus mengambil handuk merahnya lalu pergi ke kamar mandi
untuk membersihkan diri. Tiga puluh menit berlalu dan sekarang Venus sudah
terlihat segar dan rapih. Tak lupa ia melakukan ibadah sholat dzuhur, setelah
itu ia pergi ke bawah untuk makan.
Waktu telah menunjukkan pukul dua siang. Saatnya untuk
pergi.
“ Lorii buruan dong! Katanya mau ke pantai, gimana sih? “
Ucap Venus kesal.
“ Iya, iya. Cerewet! “ Jawab Lori setelah keluar dari
kamarnya.
Setelah berpamitan pada Irene, Venus menyalakan mobil SX4
putih-nya. Setelah memanaskannya sebentar, ia dan adiknya berangkat menuju
pantai. Sesampainya disana, Lori malah bertemu dengan temannya. Entah hanya
kebetulan atau apa, mereka malah main bersama-sama dan meninggalkan Venus
sendirian. Sungguh anak yang menyebalkan. Ia menyuruh Venus menemaninya ke
pantai, tapi sesampainya disini adiknya itu malah mengacuhkannya dan asik
sendiri.
Daripada menyesali sesuatu yang sia-sia, Venus memilih
untuk bermain air. Ia memang membawa baju cadangan kalau-kalau baju yang ia
pakai sekarang basah. Setelah puas bermain air, ia melihat dua anak sedang
bermain pasir.
“ Ade-ade lagi bikin apa? “ Tanya Venus pada kedua anak
yang sedang bermain pasir.
“ Lagi bikin istana dari pasir ka. Tapi susaahhhh.. “
Jawab anak kecil itu.
“ Ya udah sini, biar kakak bantu bikin istananya ya? “
“ Iya ka, boleh “ Jawab kedua anak itu sambil tersenyum.
Tak lama kemudian istana pasir tersebut sudah tampak,
bangunan klasik yang cukup besar dengan sebuah menara dan jendela disampingnya.
“ Nah, udah selesai “ Ucap Venus sambil tersenyum.
“ Wah bagus banget.. Kakak hebat deh, makasih ya ka? “
“ Iya sama-sama adik kecil. Kalau gitu kakak pamit dulu
ya.. “ Ucap Venus sambil melangkah pergi.
“ Hati-hati ka, sekali lagi makasih ya.. “ Ucap kedua
anak itu sambil sedikit berteriak.
Venus mengacungkan jempolnya. Ia memutuskan membeli
kelapa muda. Kemudian ia duduk di atas pasir sambil mnyenderkan tubuh ke pohon
kelapa dan menikmati indahnya nuansa pantai di sore hari yang tiada duanya.
Tiba-tiba seseorang menghampirinya dari belakang. Venus tak
begitu peduli dengan orang tersebut, ia hanya ingin menikmati keindahan yang
telah Allah suguhkan kepadanya. Namun saat orang tersebut bernyanyi, orang itu berhasil
menarik perhatiannya.
“ Happy birthday to you.. Happy brithday to you.. “ Ucap
seseorang. Venus mendongakkan kepalanya, mencoba mengenali suara tersebut.
Namun tak berhasil.
“ Happy birthday, happy brithday, happy brithday to you...
“ Lanjutnya.
Karena penasaran, Venus akhirnya berdiri. Ia terkejut
saat tahu siapa yang berada dihadapannya saat ini. Venus tersenyum, matanya
memerah.
“ April! Aku kira.. “
“ Enggak lah. Aku enggak marah. Aku juga enggak mungkin
lupa ulang tahun sahabat aku sendiri “ Jawab April menyela kata-kata Venus.
Kata-kata April membuat Venus terharu. Terlihat Venus akan
memeluknya, untung saja ia sigap. April memegang kuenya dengan satu tangan dan
menjauhkannya.
“ Hmm, aku sedih
banget pas kemarin kamu marah dan enggak mau angkat telepon aku. Aku takut
kehilangan sahabat aku lagi “ Ucap Venus terisak.
April menyeka air mata Venus. “ Tenang aja. Aku enggak
bakal ninggalin kamu “ Ucap April tulus.
“ Udah jangan nangis ah, ini kan hari bahagia kamu.
Seharusnya kamu seneng bukannya nangis. Sekarang make a wish, terus tiup
lilinnya “
Venus mengangguk. Setelah memejamkan mata, ia meniup
lilinnya.
“ Hehe. Ternyata aku bisa bikin kamu sedih juga “ Ucap
April cengengesan.
Venus cemberut.
“ Tapi ngomong-ngomong kamu ko tahu aku ada disini? “
Tanya Venus heran.
“ Kan aku yang nyuruh Lori ngajak kamu ke sini “ Ucap
April dengan nada santai.
“ Oh. Pantesan, tumben-tumbenan Lori minta anter maen.
Ternyata.. hmm “ Ucap Venus sambil menyolek kue ulang tahunnya lalu mengusapkannya
ke pipi April.
“ Ih, Venus. Kotor tau “ Gerutu April.
“ Biarin yeee “ Jawab Venus sambil menjulurkan lidahnya.
April menaruh kue ulang tahunnya dan mencoba untuk
membalas Venus. Mereka saling kejar-kejaran seperti anjing dan kucing, mereka
tertawa dan saling membalas satu sama lain.
Setelah merasa lelah, mereka beristirahat sejenak. Tiba-tiba ada
seseorang yang mengirimkan bunga.
“ Maaf mba, ini ada kiriman bunga “ Ucap lelaki tersebut.
Wajahnya tertutup bunga sehingga Venus tak bisa mengenalinya.
“ Dari siapa ya mas? “ Tanya Venus bingung. Ia melihat ke
arah April, terlihat ia hanya tersenyum lalu mengangkat bahunya.
Masalahnya ia sekarang sedang ada di pantai, kalau pun
ada yang mengirimkan bunga untuknya pasti dikirim ke rumahnya. Enggak mungkin
kurir ini cape-cape bolak-balik cuma buat ngasihin sebuket mawar merah.
“ Saya kurang tahu mba “ Jawab kurir tersebut. Venus
mengambil bunga tersebut, lalu melihat apakah ada nama pengirimnya atau tidak.
“ Makasih ya mas. Sekarang mas bisa melanjutkan
pekerja,,an,,nya.. “ Ucap Venus mengangkat kepalanya. Suaranya terbata-bata.
Saat ia melihat wajah itu, Venus hanya mematung. Bunga
mawar yang ada ditangannya jatuh. Terlihat mata Venus berkaca-kaca. Jantung
Venus berdebar, namun mulutnya membisu. Tubuhnya gemetar menahan gejolak hati.
Ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tak percaya dengan apa yang
dilihatnya. Wajah yang selama ini ia rindukan, senyum dan mata yang selama ini
ingin ia lihat, tubuh yang selama ini ingin ia peluk, sekarang ada
dihadapannya.
Namun Venus masih tetap membisu.
Akhirnya air matanya meleleh. Air matanya mengalir begitu
saja tanpa suara. Mungkin karena perasaan rindu, bahagia, tak percaya semua bercampur
menjadi satu. Lelaki itu merentangkan tangannya.
Venus menyambutnya.
“ Aku kangen kamu Fa.. “ Ucap Venus nyaris merintih.
“ Aku juga Ve. Aku juga kangen banget sama kamu “ Jawab
Rafa.
Venus melepaskan pelukannya. “ Kapan kamu pulang? Ko kamu
enggak bilang kalau kamu udah di Indonesia? ” Tanya Venus terisak-isak.
“ Kan surprise “ Jawab Rafa santai. Venus hanya bisa
menelan ludah saat Rafa dengan singkat menjawab pertanyaannya.
“ Tadi subuh aku dateng. Aku sama April udah ngerencanain
ini jauh-jauh hari. Akhirnya berhasil juga “ Ucap Rafa sambil menepukkan
tangannya ke tangan April.
“ Oiya lupa. Joyeux anniversaire “
Venus mengerutkan alis.
“ Selamat ulang tahun sayang.. “ Ucap Rafa sambil
mengecup pipi Venus. Pipi Venus
terasa terbakar saat Rafa mengecup pipinya.
“
Ehemmm “ April hanya berdehem melihat kelakuan dua sahabatnya itu.
Venus
tersenyum malu. Statusnya sekarang memang bukan kekasih siapa-siapa namun tetap
saja ia merasa malu saat Rafa mengecup pipinya. Perasaannya pada Rafa memang
masih tersimpan dengan rapat, tak pernah berubah sedikit pun.
“
Oiya, aku punya sesuatu buat kamu “ Ucap Rafa sambil menyerahkan sebuah
bingkisan.
“
Makasih “
Dengan hati-hati ia membuka kertas kado berwarna
merah yang membungkusnya.
Apa ya kira-kira hadiah yang
dikasih Rafa buat aku?
Venus tak percaya saat sebuah benda terlihat dari balik
kertas. Sebuah miniatur menara Eiffle berwarna cokelat keemasan. Ia tak percaya
dengan hadiah yang diberikan Rafa. Sejak kelas sebelas ia mencari-cari miniatur ini namun
ia tak pernah beruntung. Sekarang benda ini ada dihadapannya dan diberikan oleh
orang yang berarti dalam hidupnya. Venus bahagia sekali menerimanya.
“
Miniatur menara
Eiffel,
bagus bangeeetttt. Makasih ya Fa “ Ucap Venus sambil memeluk Rafa.
“
Iya sama-sama. Aku tahu dari dulu kamu nyari-nyari benda ini “
“
Udah dulu dong kangen-kangenannya. Perut aku udah bunyi nih. Makan dulu yu? “
Ajak April agak kesal.
Mereka
berdua mengangguk bersamaan.
Ini
adalah ulang tahun yang takkan pernah terlupakan. Semua orang yang ia sayangi
ada disampingnya. Bukan karena hadiah yang diberikan namun lebih karena
kejutan-kejutan kecil dari orang yang ia sayangi. Terima kasih ya Allah, karena engkau telah menghadirkan kembali
orang-orang yang aku sayang. Terima kasih juga karena engkau telah memberikanku
hadiah terindah dalam hidupku yang takkan pernah aku lupakan .. Meskipun
terkadang aku melakukan hal yang bodoh, toh sekarang semua itu membuahkan
sebuah kebahagiaan ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar