Awal
“ Halo... “
“ Kamu dimana? “ Tanya Dylan tiba-tiba.
“ Aku lagi dirumah
Venus. Kenapa? “
“ Kalau Venus? “
“ Ada disini juga
lah. Kenapa sih?! ” Tanya April mulai
kesal dengan cecaran pertanyaan Dylan yang tiba-tiba. Hari sudah menjelang
malam dan ini waktunya untuk orang-orang beristirahat.
“ Shit!! Kenapa kamu
enggak bilang sih kalau kamu udah di Bandung? “
“ Yey. Emangnya
penting, ngasih tahu kamu kita ada dimana? Orang kamunya juga lagi ada di Paris
“ Jawab April Ketus.
“ Aku di Bali “ Jawab Dylan cepat.
“ Ngapain di Bali?
“
“ Aku mau ketemu
Venus. You know what? Dari Paris aku langsung terbang ke Jakarta, ke rumah
Venus. Tapi kata tante Irene dia pindah ke Bandung. Saat itu juga aku langsung
jalan ke Bandung, eh udah nyampe rumahnya pembantunya malah bilang kalau dia
pergi ke Bali. Nyebelin banget!! “ Keluh Dylan.
“ So? Sekarang kamu ada di Bali gitu? “ Tanya April menahan tawa.
“ That’s right “
“ How pity you are.
Salah siapa kamu enggak telepon aku dulu? Mungkin kalau kamu telepon aku dulu
ceritanya bakal beda “
“ Udah lah, enggak
usah dibahas. Udah ya. Bye-bye “ Tutup Dylan
mengakhiri pembicaraan.
“ Ckckck. Dasar si Dylan itu ya, dari dulu enggak pernah
berubah “
Keluar dari pantry, Venus langsung duduk kemudian
memberikan segelas cokelat hangat pada April.
“ Emangnya kenapa? “ Tanya Venus dingin.
“ Dia bela-belain berangkat dari Paris ke Jakarta, terus
ke Bandung, terus ke Bali cuma pengen ketemu kamu seorang “
Heh ? Venus tersenyum kecut. Ia tak percaya dengan apa
yang baru saja ia dengar.
“ Bener! Dia nyariin kamu! Aku salut banget sama dia.
Dylan itu ya, kalau ada maunya dia pasti selalu berjuang dan berusaha buat
dapetin apa yang dia mau. Never give up gitu “
Venus tersenyum mendengar ucapan April. Ia merasa sangat
tersanjung, Dylan berkorban segitunya hanya ingin bertemu dengan dirinya. Dylan
memang tak pernah menyerah, ia selalu berjuang untuk mendapatkan sesuatu, dan
itu adalah salah satu sifat Dylan yang ia sukai.
“ Ih, tuh khan senyum-senyum sendiri?? Udah deh ngaku aja,
kamu masih ngarepin dia khan? “ Tebak April telak. Ia menatap Venus lekat. Venus
tak tahan jika sahabatnya itu sudah mencoba untuk menjebol pertahanannya.
“ Argh! Udah ah! “ Venus mengacak-ngacak rambutnya.
“ Biarian aja dia, enggak usah dipikirin “ Venus beranjak
pergi.
“ Huh! Dasar. Tetep aja muna. Padahal dihatinya.. huuuuu
“ Protes April.
{
Setelah sarapan usai, dengan segera Venus beranjak dari
tempat duduknya. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya kearah pintu. Venus
membuka pintu, kemudian menutupnya kembali. Saat ia membalikkan badan, betapa
kagetnya ia saat dirinya mendapati sosok Dylan berdiri tepat dihadapannya.
“ Oh my God “ Venus melangkah mundur karena kaget.
Venus mengerdipkan matanya beberapa kali, ia takut kalau
matanya tertutupi sesuatu. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Penampilan Dylan, penampilan Dylan sungguuuhh,,, sungguh kacau. Sungguh
menyedihkan. Bajunya kotor, wajahnya pucat penuh dengan jambang, rambutnya pun
tak terurus. Padahal rasanya baru 2 bulan mereka tak bertemu, tapi Dylan sudah
seperti ini. Rasanya bukan Dylan yang ia kenal.
“ Dy, ngapain kamu disini? “ Tanya Venus masih tak
percaya.
“ Aku,,, aku,, pengen,,, ketemu kamu .. “ Jawab Dylan
tersendat-sendat. Pandangan matanya mulai gelap. Meskipun dipaksakan, tubuhnya
sudah tak kuat untuk menahan semua beban yang dipikulnya. Lapar, letih, lemas,
sakit semua bercampur menjadi satu.
Dylan terhuyung, kepalanya terasa berat dan pening
sekali. Untung saja Venus berhasil menangkap tubuhnya.
“ Dy, kamu kenapa?? Pleaass,, kamu jangan kaya
gini. Dy bangun!! “ Venus menguncang-guncangkan tubuh Dylan.
“ Pa Darma! Buruan kesini! Paak!!! “ Teriak Venus panik.
“ Siapa aja! Cepetan kesiniii!! “
Kriiek ...
“ Aduuh! Kenapa sih Ve? pagi-pagi gini udah teriak-teriak.
Pak Darmanya lagi ribet “ Ucap April ketus.
Ia membereskan rambutnya yang berantakan, kemudian
menyeruput teh hangat plus madu favoritnya.
Uhuk ... uhuk ...uhuk ...
April terbatuk-batuk saat ia menyadari seseorang tergeletak
pingsan dipangkuan Venus.
“ Oh my God! Ve, itu siapa??!! “ Ucap April panik, ia
berjalan mendekati Venus.
“ Dylan... “ Jawab Venus lemas, terdengar kesedihan dalam
ucapannya.
April melihat wajah Venus. Setitik air muncul disudut
matanya.
“ Pa Darma! Come here! Please help us! “ Teriak April.
{
“ VEEE,, Dylan udah sadar “ Teriak April dari dalam
kamar. Venus yang sedang berada didapur segera menghampiri keduanya.
“ Dy, are you oke? “ Tanya Venus sambil mengusap
rambutnya.
“ Aku dimana? “ Dylan memperhatikan sekeliling.
“ Kamu di rumah aku. Di kamar tamu “
Dylan mencoba untuk bangun, tapi Venus mencegahnya.
“ Eh, kamu jangan bangun dulu. Kamu khan baru sadar, biar
aku telepon dokter dulu “. Saat Venus akan beranjak pergi, Dylan menarik tangan
Venus mencegahnya untuk pergi.
“ Please, jangan pergi. I need talk to you “
“ Biar aku aja Ve yang telepon dokternya “ Ucap April
menawarkan.
“ Thanks Ril “ Venus tersenyum. April beranjak pergi
meninggalkan keduanya. Mereka memang butuh bicara. Pertemuan terakhir mereka di
Paris, sungguh tidak menyenangkan dan semuanya butuh penjelasan.
Setelah April keluar, untuk beberapa saat keduanya
terdiam. Tak tahu harus memulai darimana. Semuanya terlalu rumit dan sulit
dijelaskan.
“ Maaf.. “ Ucap Dylan perlahan. Ia menundukkan wajahnya
tak berani melihat kedua mata wanita yang sangat ia cintai namun juga telah ia
sakiti.
“ For what? “
“ Everything.. Maaf karena aku telah membohongimu... Maaf
karena aku telah menyakitimu.. Maaf karena aku telah menduakanmu... Dan Maaf
karena aku telah membiarkanmu pergi dari sisiku... “ Ucap Dylan perlahan. Air
matanya menetes, dengan cepat ia menyekanya. Ia mengangkat wajahnya dan melihat
wajah wanita yang ia cintai dengan seksama.
“ Lima tahun lebih aku pergi dari hidupmu. Lima tahun
lebih aku mencoba untuk melupakanmu. Semua tentangmu. Namun aku sama sekali tak
bisa melupakanmu. Rasanya hidupku sudah tak berarti lagi. Tapi tiba-tiba Irish
datang membawakanku tali disaat aku hampir jatuh ke jurang, dan memberiku air
ketika aku benar-benar membutuhkannya “
Deg ! Sebuah pisau menancap tepat dihati Venus. Ia tak
ingin mendengarnya lagi.
“ Mungkin dia memang tak bisa menggantikanmu dihatiku,
tapi dia selalu ada disampingku. Saat aku terpuruk, saat aku membutuhkan
pertolongan, saat aku benar-benar merindukanmu. Ia selalu ada... “
“ STOP IT!!! How i hate to see you like this “
Venus berdiri dengan perasaan marah dan kesal.
“ Diantara kita udah enggak ada apa-apa lagi Dy.
Everything is over. Seperti yang udah aku bilang dulu, may be she’s your true
love “
Sungguh
menyakitkan. Semua yang keluar dari mulutku, sangat bertolak belakang dengan
hatiku. Semua kata-kata itu, rasanya menusuk-nusuk hatiku. Sakit sekali ...
“ Kalau enggak ada yang mau diomongin lagi, aku pergi “
Lagi-lagi Dylan menarik tangan Venus.
“ Liat mata aku. Bilang
kalau kamu enggak cinta sama aku“
“ Dy! “ Ucap Venus lirih.
“ Bilang! “ Dylan bersikeras. Venus tertegun.
“ Aku enggak cinta
sama kamu “ Ucap Venus
dengan suara pelan namun tegas. Ia merasa hatinya hancur berkeping-keping. Tanpa menunggu reaksi Dylan, Venus melepaskan
tangannya dan bergegas melangkah pergi.
Ia sudah tak bisa membendung kesedihannya lagi.
Air matanya akhirnya mengalir. Semuanya sudah berakhir.
Venus melangkah dengan kepala yang sedikit pening. Percuma jika ia terus berada
dekat dengan Dylan. Lagipula ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Venus
mengambil kunci mobilnya.
“ Ve, mau kemana? “ Tanya April sesaat setelah ia keluar
dari kamar mandi.
“ Mau ke jalan Bahureksa. Ada kerjaan disana “
April berjalan menghampiri Venus. Ia melihat air mata
mengalir di wajah sahabatnya. April menghela nafas, kemudian ia menyekanya.
“ Yakin? “
Venus mengangguk.
“ Ya udah. Be carefull “
{
Saat akan berbelok ke jalan Bahureksa, Venus merasakan
mobilnya berjalan agak sedikit lambat. Ia membelokkan mobilnya, kemudian ia
turun untuk mengecek apa yang terjadi. Saat ia melihat ke ban depan, ternyata
ban depan mobilnya sudah kempes.
Venus melihat kanan-kiri, namun tak ada taksi atau
kendaraan umum yang lewat. Dengan terpaksa ia melangkahkan kaki menuju rumah
pelanggannya.
Saat Venus sedang berjalan dengan perasaan galau, sedih
dan kecewa dengan kenyataan yang harus ia hadapi, tiba-tiba 4 orang pria
berdandan preman menghampirinya.
Deg. Deg. Deg. Deg. Deg. Jantung Venus berdegup kencang.
“ Kalian mau apa??? “ Tanya Venus sedikit gemetar. Ia
mundur beberapa langkah untuk menjauh dari preman-preman itu. Suasana saat itu
sebenarnya masih siang, mungkin sekitar pukul 2 namun saat itu jalanan sangat
sepi.
“ Hey! Gadis manis kamu mau kemana? “ Ucap seorang preman
berambut gondrong, telinga sebelah kanannya memakai anting, tubuhnya bertato
dan memakai gelang-gelang rantai. Ia menyentuh dagu Venus, dengan cepat Venus
menangkis tangan lelaki tersebut.
“ Eits, galak amat.. “ Ucapnya.
“ Gue seneng nih, cewek kaya gini “ Ucap preman berkepala
botak.
“ Hahahahaha “ mereka bertiga tertawa bersamaan. Wajah
mereka terlihat sangat senang. Bagi Venus, mereka seperti iblis yang sedang
tertawa karena berhasil membuat manusia terjerumus dalam permainannya.
“ Maaf, tapi saya sedang buru-buru “ Venus melangkah
pergi dengan cepat.
“ Eh, kamu mau kemana?? Ayo bersenang-senanglah bersama
kami “ Ucap preman berkepala botak lagi. Ia menarik tangan Venus dengan keras.
“ Lepaskan! Lepaskan tanganku! Aku bilang LEPASKAN!! “
Teriak Venus. Dengan sekuat tenaga ia mencoba melepaskan cengkraman pria itu,
namun sia-sia. Cengkramannya malah semakin kuat.
“ Ayolah sayang, bersenang-senanglah bersama kami “ Ucap
preman berambut keriting. Badannya besar, tubuhnya kekar berotot. Ia
mendekatkan wajahnya pada wajah Venus, hingga wajah mereka hanya berjarak
beberapa senti.
Cuih... Venus meludahi muka preman tersebut.
“ Aku tak sudi! “
Preman berambut keriting itu terlihat geram dan sangat
marah. Ia mencengkram wajah Venus dengan keras.
“ Sombong banget loe jadi cewek?! Berani loe sama gue,
hah?! “ Sembur preman berambut keriting. Sepertinya diantara mereka ialah ‘sang
boss’.
Venus merasakan sakit yang luar biasa diwajahnya. Refleks
Venus menginjak kaki preman tersebut, karena ia sudah tak tahan dengan
cengkraman sang boss.
“ Arghhhhh! Sialan nih cewek! “ sang boss loncat-loncat
sambil memegang kakinya. Tentu saja ia kesakitan, secara Venus memakai high
heels 9cm dan itu pasti sakit sekali.
“ Bos, bos enggak
apa-apa? “ Tanya preman berambut kribo. Tubuhnya kecil, tampangnya imut, sama
sekali tidak terlihat seperti preman.
Venus melihat situasi ini sebagai suatu kesempatan,
perhatian preman-preman itu sedang terfokuskan pada sang boss. Ini saatnya dia
untuk kabur. Dengan keras, ia menyikut perut preman botak yang sedari tadi
memegang tangannya.
“ Aduuuh! “ Preman botak itu memegangi perutnya. Venus
segera berlari, mencoba mencari taksi ataupun manusia yang bisa dimintai
pertolongan .
Huuaaahhhh. Preman-preman itu ternyata mengejarnya. Venus
mencopot high heelsnya, kemudian kembali berlari.
“ TOOOLOOOONGGGG! TOOOLOOOOOONGGGGG! “
Rasanya ingin sekali ia menangis.
“ PLEASEE.. HELP ME... SOMEBODY ELSE, HEELLPPPPP MEEEEE !
“
Sudah sekuat tenaga ia berlari, tapi entah mengapa
preman-preman itu masih bisa mengejarnya.
“ Uh, kena kau. Sekarang loe enggak bisa lari kemana-mana
lagi “ Preman botak itu mengunci kedua tangan Venus kebelakang.
“ TOLOOOOONGGGG!! “ Teriak Venus sambil mencoba melepaskan
cengkraman preman botak tersebut.
“ Percuma!. Disini sepi. Enggak bakal ada yang denger
teriakan loe! “ Ucap sang boss tersenyum. Sang boss berjalan mendekati Venus,
lagak-lagaknya ia ingin mencium Venus. Venus menjauhkan wajahnya, namun
percuma.
Aduh gimana nih? Ya
Allah lindungilah hambamu ini .. Aduh aku mesti gimana?? Aha, aku dapat ide ...
Buuukkk ...
Venus menendang burung sang boss dengan keras, kemudian
menginjak kaki preman botak. Dulu ia sempat ikut kelas karate, jadi sedikitnya
ia tahu bagaimana caranya jika ia sedang terdesak seperti sekarang ini.
“ Sialaaan loee! Aduuuh burung gue! “ sang boss
meloncat-loncat sambil memegangi burungnya.
“ bos enggak apa-apa? “ Tanya preman berambut keriting.
“ Enggak apa-apa pala loe peyang. Dia nendang burung gue.
Sakit bego! “
“ Udah sikat aja! “ Ucap sang boss.
Venus terhenyak kaget. Ketiga anak buahnya maju secara
bersamaan, lagi-lagi Venus terdesak. Tangan preman bertubuh kurus, mulai
menyentuh tubuhnya namun dengan cepat ia menangkis kemudian memukul wajah
preman tersebut.
“ Aww “ Venus mengibas-ngibaskan tangannya. Baru pertama
kali ini ia memukul seseorang tanpa pelindung, dan ternyata rasanya sakit
sekali.
Melihat temannya terpukul, yang lainnya maju secara
bersamaan. Dengan cepat, keduanya memegangi kedua tangan Venus.
“ Lepaskan! Aku bilang lepaskan! “ Venus meronta-ronta,
ia mencoba melepaskan genggaman keduanya.
“ Udah gue bilang, disini enggak ada yang bakal dengerin
loe! Hahahaha “ Ucap sang boss. Venus menutup matanya, ia sudah pasrah dengan
apa yang akan terjadi selanjutnya. Semoga saja ada keajaiban.
Ya Allah...
Somedoby help me... Dylaannn, help me...
“ HEH! Lepasin tangan loe! “ Tiba-tiba suara seseorang
menghentikan gerakan sang boss. Venus membuka matanya. Kelegaan terpancar jelas dari wajah Venus. Tubuh Venus terasa melorot, rasanya lega sekali Dylan
datang tepat pada waktunya. Dylan..
“ Siapa loe??!! Berani-beraninya loe gangguin acara gue “
Tanya sang boss marah.
“ Dia orang yang gue cintai. Jadi jangan pernah gangguin
dia “ Ucap Dylan yakin.
Hah? Venus terenyuh.
“ Alaaahh , loe banyak omong. Gue benci orang kayak loe!
Udah kita hajar aja “ Ucap sang bos.
Venus melihat empat preman didepannya maju bersama-sama
menghadapi Dylan. Venus panik.
“ Aduh gimana nih? Kalau kaya gini terus, bisa-bisa Dylan
terluka “
Venus memukul-mukul dahinya, berharap sebuah ide
muncul. Venus memutuskan menelepon sahabatnya April.
Tutt … tuuutt …
Untuk beberapa saat, sama sekali tak ada jawaban.
“ Aduh, angkat dong Ril.. “
“ Haloo “
“ Lama
banget sih angkat teleponnya? “
“ Sorry,
tadi abis dari kamar mandi. Ada apa? “
“ Buruan
ke jalan Bahureksa. Ajak Orion juga. Sekarang! “
“ Ada apa
sih??? “
“ Dylan
dikeroyok preman. Buruan kesini “
Venus mengakhiri percakapannya. Venus melihat Dylan
masih mencoba melawan preman-preman tersebut. Ia tahu Dylan tak bisa menghadapinya sendiri.
“ DYLAN... HATI-HATI “
Dylan menoleh ke arah Venus, kemudian tersenyum.
Buuukk ...
Sebuah tinjuan mendarat dipipi Dylan. Venus terhenyak
kaget. Sepertinya ia lebih baik diam agar tak mengganggu konsentrasi Dylan.
Melihat situasi ini, preman bertubuh kurus dan yang berambut gondrong memegang
kedua tangan Dylan.
“ Eh, lepasin gue! Dasar bisanya keroyokan. Kalau berani
sini, lawan gue satu-satu “
“ Ah, loe banyak omong! Loe bakal babak belur gue hajar “
Ucap preman berkepala botak. Ia melayangkan tinjunya ke perut dan wajah Dylan
hingga beberapa kali. Dari kejauhan wajah Dylan terlihat memar dan mulutnya
mengeluarkan darah. Preman itu terus saja memukulnya hingga Dylan terjatuh.
Venus tak tega melihat Dylan dipukuli seperti itu, namun
ia juga tak bisa berbuat banyak. Jika ia ikut campur yang ada ia hanya membuat
Dylan semakin susah karena ia harus menjaga dua orang sekaligus. April, kamu dimana ssih?! lama banget ...
Saat Venus sedang celingak-celinguk mencari sosok April,
dari kejauhan ia melihat sang bos membawa sebilah kayu yang cukup besar sambil
tertawa seperti iblis. Ia berjalan mendekati Dylan dari belakang.
“ Engga. Enggak bisa. Aku enggak bisa ngeliat kamu
terluka lagi “ Ucap Venus sambil berlari mendekati Dylan.
“ DYLAN... AWAASSS DI BELAKANGMUUU!!!! “
Dylan menengok ke arah belakang, ia mencoba menghalangi
kepalanya dengan kedua tangannya. Namun tiba-tiba seseorang memeluk tubuhnya
dan melindunginya.
BUUUUKKKKK...
Darah segar keluar dari mulut Venus, kemudian menetes ke
wajah Dylan. Dari kejauhan samar-samar ia melihat April dan Orion diikuti
beberapa orang dibelakangnya.
Venus tersenyum. Dengan perlahan Venus melepas pelukannya.
“ VENUUSSS! “
Dengan cepat Dylan menangkap tubuh Venus yang hampir jatuh ke tanah. Dylan mendekap Venus erat.
“ Kenapa? Kenapa Ve?? “ Ucap Dylan lirih. Setitik air
muncul di sudut matanya, menetes membasahi pipi Venus.
Dengan sekuat tenaga, Venus mengangkat tangan kanannya
kemudian menyeka air mata Dylan. Venus menyentuh wajah Dylan, wajah yang selama
ini memang ia rindukan.
“ Bodoh... “ Ucap Venus lemas, ia mencoba menahan sakit
dipunggungnya.
Dylan menggenggam tangan Venus, mencoba untuk
menguatkannya.
“ Apa kamu terlalu bodoh,,, untuk menyadari,,, perasaanku?
“ Suara Venus terdengar semakin pelan.
“ Venus.. Dylan..! “ Teriak April
“ Cepetan kita pergi dari sini! Ayooo Kabuuurrr... “
keempat preman tersebut langsung lari dengan cepat saat melihat beberapa orang
warga menghampiri mereka.
“ Kalian berdua enggak apa-apa? “ Tanya Orion dengan
nafas memburu.
“ Panggil ambulans... Panggil ambulan cepat!!!! “ Teriak
Dylan
Dengan sisa tenaga yang ada, Venus mengangkat tangannya
kemudian menyentuh wajah Dylan kembali.
“ Aku.. aku.. benci.. jika.. melihatmu terluka. Itulah… alasan mengapa… aku.. melakukan ini… “ Kalimat yang keluar dari mulut Venus mulai tersendat.
Setitik air muncul di sudut mata Venus. Ia bahagia karena ia bisa melindungi
orang yang ia cintai.
“ Arghhh... “ Venus menggeram kesakitan. Pandangan
matanya mulai mengabur.
“ Ve, kamu akan baik-baik aja. Aku akan selalu ada
disini, disampingmu “ Ucap Dylan sedih, suaranya bergetar. Air matanya kembali
menetes.
Venus tersenyum menahan sakit, pandangan matanya semakin
kabur hingga akhirnya pandangannya benar-benar menghilang.
“ Venusss... “ Teriak Dylan.
{
Seminggu sudah Venus tak sadarkan diri. Semua orang cemas
memikirkannya. Dokter bilang kalau ada beberapa tulang rusuk Venus yang patah,
namun seiring berjalannya waktu tulang punggungnya akan kembali seperti semula.
“ Ka, ko lo betah banget tidur terus? Bangun dong, gue
khan jadi enggak bisa bikin lo kesel lagi “ Ucap Lori sambil mengelus rambut
kakak satu-satunya itu.
Lori menghela nafas. Hampir satu
minggu ia menjaga kakaknya itu, namun sampai sekarang sama sekali tak ada
kemajuan.
Kedua orang tuanya ia suruh pulang ke rumah kakaknya,
karena ia tak ingin kedua orang tuanya pun ikut-ikutan sakit karena terus
menjaga anak perempuan mereka satu-satunya.
Jam dinding hampir menunjukkan pukul delapan pagi. Baru
saja ia akan beranjak pergi, tiba-tiba jari-jari Venus bergerak. Sebuah
senyuman tersirat dibibir Lori. Orang yang hampir seminggu ia jaga, akhirnya
sadar juga.
Dengan perlahan namun pasti, Venus mulai membuka matanya.
Ia memperhatikan sekeliling, pandangan matanya masih sedikit kabur.
“ Ka, lo udah sadar?! “ Tanya Lori antusias.
Venus mengerjapkan matanya. Berharap pandangannya bisa
lebih baik dan ternyata berhasil. Ia tak menghiraukan pertanyaan adiknya itu,
yang ia hiraukan saat ini adalah rasa sakit di punggung yang menjalar ke seluruh
tubuh.
“ Ka, lo enggak apa-apa? “ Tanya Lori. Kali ini ia
terlihat seperti perempuan. Lori memajukan wajahnya hingga berada tepat didepan
wajah Venus.
Venus mendorong wajah adiknya itu. “ Kamu kenapa sih?
Rempong banget deh .. Aku enggak apa-apa. Cuma ini punggung ko sakit banget yah?
“
“ Ya, iyalah. Secara lo rela ngasih punggung lo dipukul
sama balok kayu, cuma buat ngelindungin pacar lo yang tercinta itu. Pastinya
tulang punggung lo patah semua lah “ Ucap Lori dengan nada santai.
Hah ? Venus terhenyak kaget mendengar penjelasan adiknya
itu.
“ Serius?? “ Tanya Venus tak percaya.
“ Ya kalo enggak percaya, coba aja lo bangun ka. Sakit
apa enggak? “
Venus mengikuti apa kata adiknya. Namun baru saja ia
ingin menggerakkan tubuhnya, rasa sakit yang luar biasa terasa menusuk-nusuk
punggungnya.
“ Udah deh ka, lo enggak usah maksain. Gue mau telepon
mamah dulu, mau ngasih tahu kalau lo udah sadar “
Venus menghela nafas, kemudian mengangguk.
Saat Lori melangkah menuju pintu, tiba-tiba dari luar
seseorang membuka pintu tersebut. Sesosok wanita yang sangat ia kenal,
melangkah masuk. Ia membawa sekeranjang buah-buahan. Dengan segera Ia keranjang
tersebut diatas kasur, ia tak tahu kalau Venus sudah bangun.
“ Buset, berat banget sih?! “ Gerutu April. Ia mencoba
merenggangkan otot tangan dan pinggangnya. Saat ia sedang menggerakkan
tangannya ke kanan, ia melihat Venus menggeleng-geleng sambil tersenyum melihat
tingkah sahabatnya itu.
Terlihat April sedikit kaget, untuk beberapa saat ia
hanya terpaku.
“ Halooo? “ Venus mengibas-ngibaskan tangannya.
April tersadar dari lamunannya.
“ Eh, kamu udah sadar Ve? Kapan kamu bangun? Ko enggak
ngasih tahu sih??? “
“ Baru aja. Eh, tolongin dong aku pengen banget nyandar
nih. Pusing kalau ranjangnya kaya gini “
“ Eh, nanti dulu ah. Aku panggilin dokter dulu “
Baru saja Venus membuka mulutnya, namun April sudah
beranjak pergi. Tak lama setelah April keluar, tiba-tiba seseorang masuk
membawakan seikat mawar putih. Terukir senyuman dibibir Venus saat ia melihat
wajah orang tersebut.
“ Hei “ Sapanya lembut. Ia duduk dikursi tepat disamping
ranjang.
“ Hei “ Balas Venus tak kalah lembut. Ia rindu sekali saat-saat
seperti ini, saat-saat dimana ia bisa mengobrol dengan tenang tanpa harus ada
yang menghindar lagi. Terutama dirinya, ia takkan bisa kabur kemana-kemana
lagi.
“ Gimana keadaan kamu Dy? “
“ Harusnya aku yang nanya kaya gitu. Setelah punggung
kamu kena balok kayu cuma buat ngelindungin aku dan hampir seminggu enggak
sadarkan diri, tulang punggung kamu patah, harusnya aku yang nanya gimana kabar
kamu?! “ Ucap Dylan marah.
“ Kamu kenapa sih ngelakuin itu? “ Ucap Dylan masih
dengan nada marah.
Dylan menghela nafas. “ Kamu tuh bodoh tau enggak? Aku
kira aku bakal kehilangan kamu. Aku enggak bisa ngebayangin gimana kalau kamu
sampai ninggalin aku, aku enggak akan sanggup Ve “ Terdengar kesedihan dalam
ucapannya.
“ Untuk sesaat kamu memang kehilangan aku “
Dylan terdiam, hatinya membenarkan ucapan Venus.
“ Aku mau ngejelasin semuanya. Aku mau masalah kita clear
“
“ Masalah apa? Emang diantara kita ada masalah ya?
Sekarang kan udah enggak ada ‘kita’ lagi “ Venus memberikan tekanan pada kata
kita diakhir kalimatnya.
“ Please, dengerin aku dulu “
Venus menghela nafas. Ia benci jika ia menjadi orang yang
tak berdaya seperti ini. Ia tak ingin mendengarkan namun apa daya, ia tak bisa
berbuat apa-apa. Kali ini tubuhnya tak bisa bertoleransi, bergerak sedikit saja
rasa sakitnya langsung menjalar ke seluruh tubuh. Akhirnya ia hanya bisa
mengangguk.
“ Aku akui, kesalahanku memang berawal saat aku
meninggalkanmu begitu saja. Aku memang bodoh. Aku benci melihatmu terluka,
namun aku malah pergi meninggalkanmu “ Dylan mengusap rambut dengan kedua
tangannya, terlihat sekali ekpresi bersalah terpancar dari wajahnya.
“ Lima tahun lebih kita berpisah. Kamu salah kalau kamu
bilang aku enggak pernah mikirin kamu. Setiap hari, setiap detik aku mikirin
kamu. Pengen banget aku tahu gimana kabar kamu, namun tak tahu kenapa rasa
takut malah menyelimutiku. Takut jika kamu tak mau menemuiku, takut jika kamu
masih marah padaku, takut jika aku harus kehilangan kamu lagi “
Dylan berdiri, kemudian melangkah kearah jendela. Ia
membuka jendela kamar tersebut, udara segar langsung merasuk ke sela-sela
kamar.
“ Aku masih mencintaimu Ve... ” Dylan menggeleng, “ Bukan.
Aku memang mencintai kamu dan akan selalu begitu. Mungkin jalanNya emang udah
kaya gini, aku jadi pengusaha di Paris dan kamu jadi arsitek disini. Akhirnya
aku punya ide, biar kamu yang ngerancang resto aku “
“ Maaf kalau aku enggak ngasih tahu kalau aku ini Mr. M.
Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu saat ini padaku, aku hanya ingin
memastikan kalau kamu memang masih mencintaiku. Akhirnya Irish mau membantuku.
Dia bersedia menjadi pacar pura-puraku “
Venus tersenyum kecut.
“ Pura-pura kamu bilang ? Kalau pura-pura enggak mungkin
kamu sampe cium dia “ Ucap Venus ketus.
Dylan tersenyum penuh arti.
“ Ngapain kamu malah senyum? “ Tanya Venus jutek.
“ Aku marah dan cemburu ngeliat kamu sama Orion. Apalagi
kamu ternyata malah lebih milih dia dibanding aku. Marah dan cemburu mungkin
udah bikin pikiran aku enggak waras. Aku tahu saat itu kamu sedang mengawasiku,
mungkin aku ingin membuatmu cemburu. Jadi aku cium Irish. Dia juga tak tahu
kalau aku akan menciumnya. Alhasil dia nampar aku karena ini diluar skenario “
Mendengar hal itu, Venus merasa hatinya terbakar. Wajahnya
langsung berubah marah dan matanya menatap Dylan tajam.
“ Kamu jahat Dy. Kamu pikir perasaan itu mainan yang bisa
kamu mainkan dengan seenaknya? Apa kamu
enggak pernah mikirin perasaan aku? “
Venus tersenyum kecut.
“ Kamu enggak tahu betapa sakitnya hati aku saat aku
ngeliat kamu cium Irish. Dan kamu bilang itu hanya pura-pura. Hebat ! “ Venus
mengibaskan tangannya, tanda sudah tak ingin melanjutkan perbincangannya lagi.
Semua ini terlalu menyakitkan.
“ Ve, please dengerin dulu.. “
Venus mengalihkan wajahnya ke arah pintu, ia tak ingin
melihat wajah laki-laki yang sudah menyakitinya namun juga masih sangat ia
cintai.
Dylan berjalan menuju sofa, mengambil gitar milik Lori
kemudian melangkah mendekati Venus. Ia duduk diatas ranjang, tepat disamping
Venus namun ia masih saja memalingkan wajahnya. Tanpa berkata sepatah kata
apapun, Dylan kemudian mulai memainkan nada-nada yang sudah tak asing lagi
untuk Venus.
Salah satu lagu yang memang Venus sukai sejak dulu.
Daniel Bedingfield – If You’re Not The One.
If
you’re not the one then why does my soul feel glad today?
If
you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If
you are not mine then why does your heart return my call
If
you are not mine would I have the strength to stand at all
Untuk sesaat Venus merasa kaget karena Dylan tiba-tiba menyanyikan lagu
tersebut untuknya, disisi lain ia juga merasa tersanjung orang yang ia cintai
menyanyikan lagu itu khusus untuk dirinya. Venus termasuk orang yang keras kepala.
Ia masih tak ingin melihat wajah Dylan.
I’ll
never know what the future brings
But
I know you’re here with me now
We’ll
make it through
And
I hope you are the one I share my life with
I
don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If
I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is
there any way that I can stay in your arms?
If
I don’t need you then why am I crying on my bed?
If
I don’t need you then why does your name resound in my head?
If
you’re not for me then why does this distance maim my life?
If
you’re not for me then why do I dream of you as my wife?
Setitik air muncul disudut mata Venus. Entah mengapa hatinya merasa
tersentuh. Ia tahu ini hanya sebuah lagu, namun entah mengapa ia merasa kalau
semua pernyataan ini memang berasal dari hati Dylan yang terdalam. Tulus, jujur
tanpa adanya rekayasa.
I
don’t know why you’re so far away
But
I know that this much is true
We’ll
make it through
And
I hope you are the one I share my life with
And
I wish that you could be the one I die with
And
I pray in you’re the one I build my home with
I
hope I love you all my life
I
don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If
I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is
there any way that I can stay in your arms?
‘Cause
I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And
I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause
I love you, whether
it’s wrong or right
And
though I can’t be with you tonight
Dengan perlahan Venus menoleh ke arah Dylan. Kemarahan yang terpancar
dari wajahnya, ketajaman mata yang tadi ia perlihatkan sekarang telah berubah.
Sekarang hanya ada kelembutan dan senyuman yang terpancar dari wajahnya.
You
know my heart is by your side
I
don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If
I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is
there any way that I could stay in your arms
Tangan Dylan
terulur menyentuh pipi Venus, kemudian menyeka air matanya. Kini tangannya
menggenggam tangan Venus. Hangat.
“ Maafin
semua kesalahan aku, Ve... Hanya kamu orang yang selalu aku cintai, hanya kamu
orang yang selalu ada dalam hatiku dan aku tak ingin kehilangan kamu lagi. Please,
Lupain semua yang udah terjadi. Aku ingin kita mulai dari awal lagi “
Venus
menatap mata Dylan. Aku juga enggak mau
kehilangan kamu lagi Dy, aku masih sangat mencintai kamu. Tapi,,,
“ Ve, aku
tahu mungkin aku memang bukan yang terbaik buat kamu. Aku enggak bisa janji aku
akan selalu ngasih kebahagiaan buat kamu, tapi aku akan selalu berusaha ngasih
kamu yang terbaik dan aku juga akan selalu berusaha buat ngebahagiain kamu “
Setitik air
mulai muncul di sudut mata Dylan.
“ Aku enggak
bisa kehilangan kamu lagi Ve. Udah cukup aku kehilangan kamu selama lima tahun
terakhir ini. Udah cukup kamu pergi dari hidup aku. Tanpa kamu segalanya tak
berarti. Aku sangat tersiksa dengan hidup seperti ini “
“ Gimana
caranya biar kamu ngerti kalau aku cinta sama kamu? Gimana caranya biar kamu
ngerti kalau aku enggak mau kehilangan kamu? Gimana,,,, “
Venus menempelkan
jarinya dimulut Dylan. Kemudian menggeleng dengan lembut.
“ Cukup Dy “
Venus
menghela nafas. Air matanya kembali menetes.
“ Aku juga masih sangat mencintai kamu Dy. Aku
mau, kita mulai dari awal lagi “
“ Kamu
serius Ve?? “ Dylan tersenyum, tak percaya dengan apa yang baru saja
didengarnya.
Venus
mengangguk mantap. Dylan tersenyum, kemudian menghela nafas lega. Terpancar
kebahagian dari wajahnya. Dengan cepat ia memeluk Venus.
“ Aww.. “ Venus
meringis kesakitan.
“ Sorry.
Sorry. Aku lupa kalau tulang punggung kamu patah. Aku minta maaf soal itu “
Venus
menggeleng. Dengan mengerahkan semua tenaganya, ia mencoba untuk duduk. Sakit
dipunggungnya semakin terasa, namun ia tak peduli. Dengan perlahan Venus
memeluk Dylan.
“ I love you
“ Bisik Venus
{
“ Kamu tahu, resto yang kamu bangun itu sebenernya aku
bikin khusus buat kamu “
Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...
Venus tersedak karena jus strawberry yang sedang
diminumnya.
“ Kamu ngomong apa? “ Tanya Venus tak percaya dengan apa
yang didengarnya.
“ Iya.
Resto yang kamu bangun di Paris itu punya kamu. Sertifikat kepemilikannya juga
atas nama kamu “
Hah?
Mulut Venus menganga. Ia tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut
Dylan. Resto, miliknya sendiri, di Paris pula.
“ Tapi,
kenapa?? “
Dylan
tersenyum Venus bertanya seperti itu.
“ Kamu
tanya kenapa? Jawabannya karena aku cinta sama kamu. Aku ingin punya
sesuatu yang selalu mengikat kamu dengan aku, meskipun kamu enggak berada dekat
aku tapi setidaknya ada satu hal yang selalu ngingetin aku sama kamu. Resto itu
aku kasih nama ELLE BELLE. Sama kaya kamu yang cantik “
Venus
merasakan panas di wajahnya. Sejak pertemuannya dengan Dylan di Paris, ia
merasa kalau Dylan telah berubah. Dia lebih bisa menunjukkan perasaan dan
perhatiannya. Sekarang pun ia selalu membuat Venus meleleh dengan perlakuannya.
Saat Dylan menyuapi
Venus, tiba-tiba pintu kamar inap Venus terbuka. Ternyata Orion.
Venus tersenyum. Rasanya sudah lama ia tak melihat Orion.
“ Dy, aku
mau bicara sama Orion. Enggak apa-apa khan kalau kamu keluar sebentar? “
Dylan
mengangguk sambil tersenyum. Ia berdiri kemudian mengecup kening Venus.
“ Love you “
Bisik Dylan. Venus memperhatikan Dylan yang berjalan keluar kamar sambil
tersenyum malu.
“ Kayaknya
bahagia banget “ Ucap Orion tiba-tiba.
Heh ? Aduh, aku lupa kalau ada Orion disini.
Venus menunduk, matanya tak berani memandang pemilik
wajah manis itu. Perasaannya berkecamuk antara bingung dan bahagia. Setelah apa
yang terjadi, Venus yakin kalau perasaannya pada Dylan tak pernah berubah
sedikit pun bahkan bertumbuh semakin besar, meskipun jelas-jelas Dylan telah
menyakitinya. Orion sudah terlalu baik padanya, ia sudah seperti kakak baginya.
Jika ia menolaknya ia takut sahabatnya itu marah dan hubungan yang telah mereka
bina selama ini menjadi hancur. Air mata Venus mengalir tanpa suara.
“ Ve? “ Tangan Orion menyentuh dagu Venus, membuat wanita
itu mengangkat kepalanya. Melihat wanita yang dicintainya menangis, ia segera
menyekanya dengan lembut.
Orion tersenyum, tangannya menggenggam tangan Venus.
“ Engga perlu dijawab Ve.. aku sudah tahu jawabannya “
Orion memandang wajah Venus lekat. “ Tetesan air mata yang keluar dari matamu,
itu sudah jelas menunjukkan betapa tulus kamu mencintainya. Aku enggak mungkin
tega merebut cinta itu. Cintaku padamu adalah jenis cinta yang sederhana. Cinta yang enggak pernah meminta “
Venus terharu mendengar ucapan Orion. Air matanya kembali
menetes.
“ Maaf.. “ Venus tertunduk, merasa bersalah.
“ Sorry? For what?? “ Orion mengerutkan alisnya, kemudian
tersenyum. “ Tak ada kata maaf untuk cinta, cinta itu bukan suatu kesalahan
tapi cinta itu adalah anugerah. Aku senang, aku bisa mencintaimu seperti ini.
Aku bahagia jika kamu bahagia “
Venus tersenyum lega.
“ Makasih.. Tapi kamu? “
“ Aku enggak apa-apa. I’ll be fine. Lagipula sebenarnya
hati aku sudah terpikat “
Venus mengerutkan alis.
“ Siapa wanita beruntung yang bisa memikat hati kamu? “
Orion tersenyum penuh arti. “ Rahasia “
“ Ihhhh, nyebelinn! “
“ We’ll see. Ntar juga kamu bakal tahu “
“ Venus.. “ Teriak April tiba-tiba.
“ Eh Ril, sini dong. Aku pengen meluk kamu. Kangen nih..
Tadi kamu langsung pergi gitu aja sih “
April melangkah sambil cengengesan.
“ Aku juga kangeeennnn “ April berlari kemudian memeluk
Venus dengan cepat.
“ Aduh , jangan kenceng-kenceng dong. Sakit tau “
“ Hehehe. Sorry. Ve, kamu emang enggak bosen diem
ditempat tidur terus? “
“ Iya. Bosen nih. Bosen banget malah “
“ Kita ke balkon yu, liat-liat pemandangan “
Terlihat Venus berpikir sejenak.
“ Tenang aja, ada kursi roda ko. Orion juga pasti ngebantuin
“
“ Oke deh “
April membawakan kursi roda sedangkan Orion mengangkat
Venus dari tempat tidur untuk berpindah ke kursi roda.
April mendorong
kursi roda Venus ke arah balkon.
“ Udaranya seger bangeeett. Udah gitu pemandangannya
bagus lagi “ Ucap Venus senang.
Tiba-tiba dari bawah muncul beberapa balon berwarna-warni
yang terbang melewati ruangan Venus.
“ Eh, itu balon siapa? Kayaknya tukang balon yang lagi
jualan balonnya pada lepas tuuuh “ Komentar Venus.
April menahan tawa mendengar ucapan Venus.
Balon-balon itu terus terbang. Tiba-tiba ada sebuah teddy
bear yang diikatkan pada tali balon tersebut dan membawa tulisan WILL YOU MARRY
ME?
Heh ? Venus mengerutkan alis. Ia semakin tak mengerti
dengan apa yang terjadi.
“ Ril? Orion? “ Venus menengok ke kanan dan ke kiri tanda
tak mengerti.
“ Venuss.. “ Teriak Seseorang.
“ Itu kayak suara Dylan. Atau aku salah denger? “ Venus
mencoba mencari-cari asal suara tersebut.
“ Venus aku disini,, dibawah “ Teriak Dylan. Venus
memberikan tanda pada April untuk memajukan kursi rodanya.
“ Dy, ngapain kamu disitu? “
Kamar Venus terletak dilantai dua. Jadi Venus tak perlu
berteriak sekuat tenaga untuk berbicara dengan Dylan. Dylan sendiri ia memakai
speaker yang entah ia bawa darimana.
“ Aku cinta sama kamu. Venus Cempaka Wiraguna WILL YOU MARRY ME? “
Hah ? Untuk sesaat Venus hanya terdiam. Tak percaya
dengan apa yang baru saja terjadi. Baru beberapa hari yang lalu ia memulai
hubungan dengan Dylan, namun sekarang Dylan sudah memintanya untuk menjadi
istrinya.
“ Aku cuma pengen kamu yang jadi ibu dari anak-anak aku.
Bukan yang lain. So? Will you marry me? “
Setitik air muncul disudut mata Venus. Rasa bahagia,
terharu, tak percaya semua bercampur menjadi satu.
“ Ve, jawab. Jangan diem aja “
Venus menyeka air matanya. Ia mengangguk.
“ I WILL “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar