Dua Cinta Itu Pergi
Cinta
bukanlah hal yang bisa
begitu saja diucapkan
dengan kata-kata, tetapi cinta hanya
bisa diungkapkan dengan hati. Terkadang bukan hal mudah untuk melupakan satu
cinta. Sama halnya dengan yang Venus rasakan. Sampai saat ini cintanya pada
Rafa dan Dylan tak pernah berubah sedikit pun. Ini semua akan menjadi rahasia
kecil, rahasia terdalam dihati Venus. Tak ada seorang pun yang tahu kecuali
Irene, bahwa ia mencintai Rafa bahkan April pun tak mengetahuinya. April hanya
tahu kalau Venus dan Rafa bersahabat sejak kecil dan sangat akrab.
Cinta Venus yang lain pun April tak pernah tahu. April
tak tahu kalau ia masih sangat mencintai Dylan, bahkan sampai hari ini.
Meskipun hampir enam bulan berlalu sejak Dylan memutuskan hubungan mereka,
namun perasaan Venus tak pernah berubah sedikit pun. Hatinya memang telah
terisi oleh Rafa dan Dylan, dan mungkin untuk saat ini tak ada tempat lagi
untuk orang lain.
Terkadang Venus sendiri pun bingung, bagaimana bisa ia
mencintai dua orang yang berbeda dengan cinta yang sama besarnya.
“ Woy, ngelamun aja “ Ucap seseorang menepuk punggung
Venus.
Venus terhenyak kaget.
“ Eh, Rafa?? Ngapain kamu ke kampus aku? “ Tanya Venus
“ Tadi di jalan aku ketemu sama April, mobilnya mogok
gitu. Ya udah aku anterin kesini, sekalian pengen ketemu kamu, kangen. Hehe “
Jawab Rafa cengengesan.
“ Iya mobil aku tiba-tiba mogok gitu. Untung ada Rafa sang penyelamat “
timpal April sambil meneguk minuman Venus.
“ Emang kamu enggak dijemput sama Arga? “ Tanya Venus
heran.
“ Enggak, dia ada kuliah pagi. Jadi dia berangkat duluan
“ Jawab April sedikit cemberut.
“ Siapa tuh Arga? “ Tanya Rafa sambil mengerutkan alis.
“ Pacar barunya April “ Jawab Venus cepat. Rafa hanya
memonyongkan mulutnya dan mengangguk-ngangguk.
“ Arga itu orangnya manis looh, baik, perhatian lagi “
Ucap Venus menerangkan.
Terlihat muka April berubah memerah, itulah ruginya
menjadi wanita yang berkulit putih. Jika sedang malu atau kegeeran pasti akan
terlihat jelas. Tapi entah mengapa wajah Rafa malah terlihat sedikit kesal.
“ Eh, ngomong-ngomong disini ada makanan apa aja? Laper
nih “ Ucap Rafa mengalihkan pembicaraan.
“ Banyak, liat aja di menu “ Jawab April.
“ Hmm, pengen jus strawberry sama mie kocok bandung aja
ah “ Ucap Rafa sambil memanggil sang pelayan.
Seorang pelayan menghampiri meja mereka. Pelayan
laki-laki itu hanya menganggukkan kepala ketika Rafa memesan makanan.
Tak lama kemudian pelayan itu datang dengan memberikan
pesanan makanan yang tadi dipesan oleh Rafa.
“ Oiya, katanya Dylan juga kuliah disini. Mana ko dia enggak
keliatan? Dari kemarin aku sampe ke Jakarta, tapiii aku sama sekali belum
ketemu sama dia “
“ Masa sih? emang kamu enggak ngasih tahu Dylan kalau
kamu pulang? “ tanya Venus tak percaya.
“ Udah, malah waktu aku masih di Paris ngasih tahu ke
dianya “ Jawab Rafa sambil sedikit mengingat.
“ Ya udah, kalau gitu biar aku suruh dia ke sini “ Ucap
April menawarkan.
“ Sip “ Ucap Rafa sambil mulai memakan mie kocoknya.
Setengah jam berlalu sejak April menghubungi Dylan lewat
telepon, dan orang yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang.
“ Hai semuaaa. Hei bro, gimana kabarnya? “ Ucap Dylan
sambil memeluk Rafa.
“
Baik. Tumben baru keliatan? “ Tanya Rafa.
“
Iya nih, aku lagi ada kerjaan. Sekarang juga aku enggak bisa lama-lama.
Sorry banget yah? “
“ Eh mau kemana? “
Tanya Rafa bingung.
“
Pergi dulu ya, ntar gue maen ke rumah.. See you “ Jawab Dylan sambil melangkah
pergi.
Venus,
April dan Rafa saling berpandangan. Mereka tak percaya Dylan pergi begitu saja
tanpa berbincang-bincang, tak biasanya dia seperti itu. Padahal Rafa baru
sehari berada di Indonesia dan hampir dua tahun mereka tak bertemu, namun
reaksi Dylan malah seperti itu.
Venus
bingung melihat reaksi Dylan seperti itu, setidaknya meskipun ia ada kerjaan
atau apa pun itu ia selalu bisa menyempatkan
waktu untuk bersama sahabat-sahabatnya. Namun hari ini, ia melihat sesuatu yang berbeda. Venus merasa dia bukan
Dylan yang ia kenal. Kenapa ya , ko Dylan
bersikap kaya gitu? apa mungkin dia lagi ada masalah? Atau mugkin ada hal lain?
ko kesannya dia kayak engga suka Rafa ada disini.. hmmm .
“ Hmm, guys aku pergi bentar ya.. Ada urusan nih “ Ucap
Venus pamit.
“ Lah , kamu juga mau kemana lagi? Aku kan baru nyampe kesini,
masa kamu mau pergi juga? “ Protes Rafa.
Venus tersenyum. “ Sorry Fa, aku bener-bener ada urusan.
Ntar aku telepon kamu “ Jawab Venus sambil melangkah pergi.
Venus melangkah dengan cepat, mencari-cari sosok Dylan
yang pergi begitu saja. Ia yakin Dylan belum jauh dari tempatnya. Venus semakin
mempercepat langkahnya. Akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari.
“ DYLAN! “ Ucap Venus berteriak.
Dylan menengok ke belakang. Ia mengerutkan alis.
“ Venus? Ngapain kamu disini? kamu kan seharusnya nemenin
Rafa yang baru dateng”
Venus menarik tangan Dylan dan mengajaknya duduk.
“ Kamu kenapa sih Dy? ko kayaknya kamu enggak seneng Rafa
dateng? “
Meskipun Dylan sedikit kaget dengan pertanyaan yang Venus
lontarkan tapi ia mencoba untuk tenang dan tetap tersenyum.
“ kamu ngomong apa Ve? Enggak mungkin sahabat aku dateng
aku enggak seneng “
“ Terus kenapa kamu pergi gitu aja? Rafa kan baru dateng,
kamu sama sekali enggak kangen sama dia? “
Dylan tersenyum lagi mendengar kata-kata Venus.
“ Aku kan tadi udah bilang Ve, aku lagi ada kerjaan.
Deadline. Aku enggak bisa ninggalin kerjaan aku gitu aja. Aku khan
punya tanggung jawab Ve.. “ Jawab
Dylan menjelaskan.
“ Tapii.. “
Ssttttt.. Dylan menempelkan jarinya pada mulut Venus.
“ Udah ah. Aku pergi dulu “
Dylan melangkah pergi, meninggalkan Venus yang masih
bergelut dengan pikirannya sendiri.
{
Setelah kemarin Dylan berhasil membuatnya bingung dengan
sikap dinginnya kepada Rafa, sekarang ia bingung dengan keberadaan April yang
tak kunjung datang. Padahal kuliah sudah dimulai dari tadi pagi. Tapi sampai
jam sebelas siang batang hidungnya sama sekali tak kelihatan dan ia pun tak
memberikan kabar sedikit pun. Venus sedang dikantin saat handphonenya tiba-tiba
berbunyi.
Rafa telepon.. Ada apa ya? hehe
“ Halo.. “
“ Halo.. Ve, aku pengen ketemu
kamu sekarang “
“ Hah? Sekarang?
Emangnya ada apa? “
“ Enggak apa-apa. Aku cuma pengen
ketemu kamu aja
“
“ Oke. Mau ketemu dimana? “
“ Di taman biasa “
“ Oh. Oke “
“ Sampe ketemu disana ya? “ Rafa memutuskan pembicaraannya.
Dengan segera Venus melangkahkan kakinya menuju
tempat parkir. Tumben
banget Rafa
tiba-tiba pengen ketemu sama aku, hmmm.. mungkin dia kangen kali
ya sehari enggak ketemu aku.. hihihi
Sambil terus berpikir, ia pergi ke taman dekat kompleks
rumahnya. Siang itu suasana taman sangat sepi, mungkin karena hari
telah beranjak siang orang-orang
pun masih sibuk dengan aktifitasnya.
Di taman tersebut terdapat taman bermain untuk anak-anak.
Venus memilih duduk di ayunan berwarna hijau. Entah ada angin apa, namun saat
ia mengayunkan ayunannya perasaannya berubah menjadi tak enak.
Hampir dua jam lebih ia menunggu di taman tersebut, tapi
Rafa tak kunjung datang. Ia mencoba menghubungi handphone lelaki tersebut tapi
yang ia dapat hanyalah balasan dari operator. Ia tak bisa menunggu lebih lama
lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 1. Pukul 2 ia ada jadwal kuliah, dengan terpaksa ia pergi dari
taman tersebut untuk kembali ke
kampus. Venus membalikkan
badan, berharap Rafa tiba-tiba datang. Tapi tidak ada siapa-siapa disana. Ia
hanya bisa berharap Rafa baik-baik saja.
Keesokan harinya, hal yang sama terjadi. Rafa mengajak
bertemu namun ia sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Handphonenya pun
sama sekali tak bisa dihubungi, keesokan harinya pun handphonenya masih tetap
tak bisa dihubungi. Venus khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi.
Saat Venus berada di kampus, ada sesuatu yang cukup
membuatnya bingung. Venus mengerutkan alis saat tahu nama ka Cantik muncul di
layar handphonenya. Ka Cantik adalah kakak Rafa yang berada di Paris, disana ia
belajar fashion designer. Ada urusan apa
coba, orang yang lagi ada di Paris tiba-tiba telepon? hmmm, aneh..
Dengan sedikit ragu Venus mengangkatnya.
“ Hmmm.. Ha,,, halo Ka.. “
Dari seberang sekilas terdengar isakan tangis.
“ Ka Cantika kenapa? ko nangis? “ Tanya Venus bingung.
“ Ve.. “ Cantik Menghela nafas .
“ Ke RS Marta sekarang.. “ Lanjut Cantik.
“ Hah? ke rumah sakit? ngapain ka? “ Tanya Venus tambah
bingung lagi.
“ Kamu enggak usah banyak nanya. Cepetan ke Rumah Sakit,
SEKARANG! “ Ucap Ka Cantik dengan nada kesal.
Venus kaget mendengar ka Cantik membentaknya.
“ I,, iya ka, Venus segera kesana “ Ucap Venus sambil
menelan ludah.
Venus menutup teleponnya. Setelah menyeruput minumannya
ia segera pergi. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang tidak
mengenakkan terjadi. Tak lama kemudian, Venus sampai di RS Marta. Ia segera
berlari mencari orang-orang yang dikenalnya. Akhirnya setelah mencari
kesana-kemari ia menemukan banyak sosok yang sudah sangat ia kenal. Ada orang
tua Rafa, ka Cantik, Irene, Amran, Lori, saudara-saudara Rafa, bahkan April. Sudah
berhari-hari ia tak bertemu dengan April. Yang membuatnya semakin bingung, dari
kejauhan semuanya terlihat sedih. Sebenarnya
ada apa inii????
Dengan segera, Venus menghampiri mereka. Dengan nafas
masih terengah-engah, ia memperhatikan wajah orang yang ia kenal satu persatu.
Venus melirik April, ia hanya menunduk. Semuanya terlihat sedih. Ralat bukan
sedih tapi sangat sedih. Semuanya meneteskan air mata. Bahkan Mika – ibu Rafa,
tiba-tiba pingsan sesaat setelah melihat Venus.
Venus kaget melihat Mika pingsan. Aduuhh tante Mika kenapa lagi? ko kesannya aku kayak hantu, ngeliat aku
ko langsung pingsan gitu?
“ Ril, sebenernya ada apa sih? ko pada sedih gini? “
Tanya Venus bingung.
“ Oiya, Rafa mana? “ Lanjut Venus sambil menengok
kesana-kemari.
Bukannya menjawab pertanyaan Venus, April malah kembali
menunduk sambil mengusap air matanya. Venus menggaruk kepalanya yang tak gatal,
ia semakin bertambah bingung.
Venus menghampiri kedua orang tuanya.
“ Papah sama mamah ngapain lagi ada disini? “ Tanya
Venus. Tapi orang tuanya itu hanya melihat Venus dengan iba.
“ Sebenarnya ini ada apa sih? Dari tadi kalian semua pada
nangis enggak jelas. Tapi enggak ada seorang pun yang ngasih tahu aku kenapa?
Aku jadi bingung “
Semua orang melihat kearah Venus dengan tatapan miris.
“ Ada apa?! “ Ucap Venus kesal.
Tiba-tiba Irene berjalan mendekatinya. Tanpa
berkata-kata, ia memeluk anaknya.
“ Kamu yang sabar ya sayang.. Mamah yakin kamu bisa
ngelewatin ini semua. Mamah tahu kamu anak yang tegar dan hebat.. “ Ucap Irene
terisak-isak.
Venus melepaskan pelukan Irene, dan melihatnya dengan
tatapan aneh. Kemudian Venus melihat ka Cantik. Orang yang menyuruhnya untuk
datang ke rumah sakit tanpa menjelaskan ada apa dan mengapa. Venus juga
bingung, kenapa tiba-tiba orang itu ada disini. Tapi ia menyingkirkan pikiran
itu.
Venus melangkah mendekati ka Cantik.
“ Ka Cantik yang nyuruh aku kesini. So?? “ Tanya Venus
dengan wajah hampir menyerah.
Cantik menghela nafas. lalu ia menyeka air matanya,
mencoba untuk tegar meskipun hanya sesaat. Setelah ia merasa cukup kuat, ia
menarik tangan Venus lalu mengajaknya ke ruangan ICU.
“ Itu.. “ Ucap Cantik menunjuk seorang manusia yang sudah
tak berdaya, yang terbaring di kasur dengan selang infus dan oksigen yang telah
dilepas dan telah ditutupi oleh kain putih.
Cantik menarik tangan Venus agar mereka lebih dekat.
Jantung Venus berdebar lebih kencang. Ia takut, takut jika orang yang terbaring
ini adalah orang yang ia sayangi. Cantik membuka kain putih yang menutupi tubuh
orang itu dengan perlahan. Jantung Venus semakin berdebar, saking kencangnya ia
merasa tak bisa bernafas. Ia tak mau melihatnya. Ia takut.
Saat kain putih yang ditarik Cantik melewati wajah orang
itu, rasanya sebilah pisau terasa menancap tepat di jantung Venus. Ia kenal
sekali dengan wajah itu, wajah yang selalu ia rindukan, wajah yang selalu ingin
ia lihat, wajah yang selalu bisa menenangkannya.
Air mata Venus mengalir begitu saja. Tanpa suara sedikit
pun. Venus terdiam. Tubuh dan tangannya bergetar hebat. Matanya terus melihat
wajah itu. Dengan ragu, Venus mencoba mengangkat tangannya, berusaha untuk
menyentuh wajah itu.
Dingin... Wajahnya sudah tak sehangat dulu lagi..
“ Rafaaaa.. “ Rintih Venus. Ia memeluk tubuh Rafa dengan
erat.
“ RAFAAAA.. “ Teriak Venus. Venus
mengguncang-guncangkan tubuh Rafa. Berharap sahabatnya itu tiba-tiba membuka matanya kembali.
“ Apa,, apa yang,, terjadi?! “ kata-katanya tersendat.
“ Apa yang terjadi?!! “ teriak Venus pada Cantik. Cantik
hanya terdiam membisu, ia mencoba memeluk Venus berharap ia bisa lebih tenang
namun Venus menolaknya.
“ Enggak,, enggak,, enggak mungkin!! “ Venus terlihat
sangat histeris. Ia menggeleng tak percaya.
Venus berjalan keluar melewati semuanya. Pandangannya
lurus tanpa ada tujuan. Pikirannya melayang entah kemana.
“ Venus “ Teriak April. Ia mencoba mengikuti Venus namun
Irene melarangnya.
Irene menggeleng.
“ Biarkan.. Ia butuh waktu.. Ia akan baik dengan
sendirinya.. “
Venus mencoba bersandar pada tembok, lututnya lemas
sekali hingga ia merasa untuk berdiri saja ia tak sanggup. Dia tak percaya jika Rafa memang telah meninggal. Baru kemarin Rafa datang ke kampusnya,
baru kemarin Rafa ingin menemuinya. Tapi sekarang ia sudah terbaring tak bernyawa.
Dengan langkah gontai, Venus berjalan ke mobilnya. Ia
menstarter mobilnya dengan tangan yang masih gemetar kemudian menancap gas. Air
matanya terus saja mengalir. Setiap ia menyeka air matanya, maka
air matanya keluar lebih banyak lagi. Ia tak bisa menghentikan tangisannya. Otaknya terus saja memikirkan hal yang baru saja terjadi. Semua
terasa begitu tiba-tiba. Tiba-tiba Rafa datang dari Paris, tiba-tiba ia
ada dihadapan Venus dan
tiba-tiba juga ia meninggalkan Venus untuk selamanya. Ya Allah .. Kenapa ini semua terjadi? semua terasa begitu tiba-tiba.
Aku tak pernah bermimpi mengalami ini, aku tak pernah berharap ini semua terjadi..
Kenapa Engkau mengambil Rafa dariku? Mengapa Engkau mengujiku seperti ini??
Saat pikiran Venus sedang melayang, tiba-tiba seorang
anak melintas tepat didepannya. Venus terhenyak kaget, dengan spontan ia
membantingkan stirnya ke kiri namun sebuah pohon menghadangnya, dengan cepat ia
menginjak rem namun tak cukup berhasil lalu dengan segera ia menarik rem tangan
mobilnya.
NGIIIkkkkkkkkkk ......
Dengan cepat mobilnya berhenti, alhasil dahinya
berbenturan dengan stir. Cukup keras dan cukup menyakitkan. Namun itu semua tak
seberapa dengan sakit dan kesedihan yang ia sedang rasakan.
“ DAMN! “ Keluh Venus sambil memukulkan tangannya ke
stir. Matanya masih meneteskan air mata.
Tok.. Tok.. Tokk..
Seseorang mengetuk kaca mobil Venus. Ia menengok dan
segera menyeka air matanya. Ia membuka kaca mobil dengan cepat.
“ Kamu enggak apa-apa, nak? “ Tanya seorang ibu paruh
baya. Tersirat kecemasan diwajahnya yang sudah sedikit berkeriput.
Saat ibu paruh baya itu yakin Venus tak menjawab, ia
meneruskan kata-katanya.
“ Maafkan cucu saya nak. Dia tadi menyebrang jalan enggak
lihat kanan-kiri. Sekali lagi maafkan saya “ Ucap ibu itu sambil sedikit
membungkuk.
Venus keluar dari mobil, lalu ia memegang tubuh ibu renta
itu.
“ Enggak,, enggak apa-apa ko bu. Saya baik-baik aja.. “ Jawab Venus tersenyum pahit. Andai aku bisa berkata ‘aku baik-baik saja’
...
“ Nak, dahi kamu berdarah. Ayo sini ibu obatin dulu.. “
Ucap ibu itu menawarkan.
Venus menyentuh dahinya, dilihat tangannya memang ada
darah. Ia baru sadar kalau dahinya berdarah.
“ Enggak perlu bu, ini hanya luka kecil aja. Biar nanti
saya obati sendiri. Kalau gitu saya permisi dulu.. “
“ Tapi... “
Venus hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu ia masuk ke
dalam mobil. Venus mengeluarkan kotak P3K yang ada di dasbor mobil, kemudian
mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan lukanya. Ia mengambil kapas
kembali dan menuangkan beberapa tetes betadhine ke kapas tersebut. Setelah
yakin lukanya bersih, ia menempelkan kapas tersebut didahinya. Luka di dahi ini
tak seberapa jika dibandingkan dengan sakit yang dirasakan hatinya. Dengan
segera ia menstarter SX4nya, lalu ia menancapkan gas dengan kencang.
Ia benar-benar tak bisa menahan perasaannya yang sedang
berkecamuk. Ditinggal selamanya oleh sahabat yang sangat ia sayangi dan cintai
membuatnya sangat terpukul. Jika ia bisa memilih, lebih baik Rafa pergi ke Paris
meskipun disana ia tinggal 10 tahun atau 20 tahun daripada ia harus pergi
meninggalkan kami semua dan menghadap Sang Pencipta. Andai ia bisa memilih ...
..
You look so dumb right now Standing outside my house Trying to apologize You’re
so ugly when you cry ..
Daritadi handphone Venus terus saja berdering, entah telepon dari siapa. Ia
memilih untuk mematikan handphonenya. Ia sedang tak ingin bicara dengan siapa-siapa. Ia hanya ingin menenangkan
diri sebentar saja.
Tak
lama kemudian, ternyata ia mendapati dirinya telah berada di tempat
kenangannya bersama Rafa. Ia
sendiri tak mengerti mengapa ia datang kemari. Mungkin hatinya lah yang
menuntun ia untuk datang kesini.
Venus memperhatikan sekeliling. Semua kenangan tentang
kebersamaannya dengan Rafa tiba-tiba muncul dibenaknya. Sahabat
yang selalu ia rindukan, sahabat yang selalu bisa membuat ia
tersenyum, sahabat yang selalu ia sayangi dan cintai, kini telah pergi untuk selama-lamanya.
“ Kenapa,, kenapa kamu pergi secepat ini? Aku bahkan belum
sempat bikin kamu bahagia.. Aku,, aku bahkan belum bisa bikin kamu tersenyum Fa..
haruskah aku kehilangan kamu lagi? “
Air mata Venus kembali menetes.
“ Aku bahkan belum sempat bilang, kalau aku sayang kamu..
Kenapa Fa, kenapa kamu harus pergi secepat ini? “ Tanya Venus sambil memukul pasir yang sedikit
basah karena terkena ombak.
“ kenapa... “ Rintih Venus.
Suasana di pantai saat itu memang sedang sepi. Matahari
sedang bersinar terik dan itu mungkin membuat orang-orang lebih memilih untuk
berteduh dan beristirahat.
“ Andai aku bisa memutar waktu... “
Tiba-tiba seseorang menyentuh Venus dari belakang. Venus
terhenyak kaget. Ia menoleh. Kedua mata mereka bertemu. Tak ada senyuman di
wajah Venus, hanya air mata yang terus menetes dari pelupuk matanya.
Dylan menghela nafas. Terpancar kesedihan dari wajahnya
meskipun tak begitu jelas. Sepertinya ia juga merasakan apa yang Venus rasakan.
Tangannya terulur menelusuri pipi Venus, menghapus air matanya kemudian
memeluknya dengan erat. Venus memang tak bisa menghadapinya sendiri. Ia tak
sanggup jika Rafa meninggalkannya begitu saja.
Air matanya tumpah disana.
{
Sore harinya, Irene memberi tahu kalau Rafa akan segera
dikuburkan. Sebenarnya ia tak ingin menyaksikan hal ini, namun ini adalah
kesempatan terakhir untuk melihat wajah sahabatnya. Jika aku ingat hal ini, ada bagian yang terasa sakit sekali. Disini,
dihatiku.
Dengan hati lapang, Venus mencoba untuk tegar. Ia memutuskan untuk pergi ke TPU yang
berada tak jauh dari kompleks rumahnya. Venus menghela nafas. Ia masih tak
percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Semua terasa begitu cepat dan ia
belum siap untuk menerimanya.
Tak lama kemudian, ia sampai di TPU melati. Terlihat
disana sudah banyak orang yang berkumpul. Lagi-lagi Venus menghela
nafas. Apakah aku bisa melewati hari ini?
Venus berjalan perlahan, mendekati keluarganya yang sedang
berkumpul. Disana April dan teman-teman dekat Rafa semasa sekolah sudah tiba.
April mendekat. Matanya terlihat sembab. Terlihat sekali
kesedihan terpancar diwajah cantiknya. Venus menatapnya dengan tatapan kosong.
April kemudian memeluknya erat. Keduanya sama sekali tak berkata apa-apa. Venus
mencoba untuk tak menangis. Ia mencoba untuk tegar dan menerima takdir-Nya.
Tak lama kemudian, jenazah Rafa datang beserta rombongan
keluarganya. Tiba-tiba jantung Venus berdebar lebih kencang. Ia memilih untuk
berdiri tepat dibelakang ibunya, dengan April disampingnya. Venus memegang
tangan April, tubuhnya gemetar. Ia mencoba untuk mengendalikan berjuta perasaan
yang memukul-mukul didada.
Venus melihat papah Rafa dan saudaranya sudah turun ke
liang lahat. Keranda jenazah akhirnya dibuka. Disana terlihat sahabat yang ia
cintai sudah terbujur kaku tak bernyawa. Tubuhnya telah tertutupi dengan kain
kafan, yang terlihat hanyalah wajahnya. Mata birunya pun sudah tak bisa ia
lihat lagi. Pikirannya melayang.
Mengapa Rafa terlihat
begitu dingin??. Padahal dia selalu bisa membuatku
hangat. Dia selalu menemaniku. Dia enggak mungkin tega ninggalin aku sendirian
...
“ Sayang... “ Ucap Irene sambil menyentuh bahunya.
Venus tersadar dari lamunannya.
Ternyata proses pemakaman telah usai. Tinggal keluarga
Rafa, keluarganya dan April. Orang tua Rafa sangat terpukul. Mamahnya terus
saja menangis sambil meraung-raung memanggil nama anaknya yang telah meninggal.
“ Sayang. Papah yakin kamu kuat.. “ Ucap Amran tenang. Ia
meraih kepala Venus kemudian membenamkannya ke dadanya.
Venus hanya terdiam mendengar kata-kata papahnya itu.
“ Ayo kita pulang.. “ Ucap Venus lemas.
“
Yakin? “ Tanya Irene.
“ Ya udah, ayo kita pulang “ Ucap Amran.
Amran dan Irene mendekati orang tua Rafa, mereka meminta
izin untuk pulang. Kemudian saling berpelukan.
Mata Venus terus tertuju pada makam Rafa. Ia masih saja
sibuk meyakinkan diri bahwa kematian Rafa hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan
berakhir saat ia terbangun nanti. Namun
ini semua telah terjadi, takdir yang tak bisa dirubah lagi. Rasanya sangat menyakitkan, ia bahkan tak bisa menangis.
“ Ve.. “ Ucap April lembut.
Venus mengangguk. Tangannya mengusap nisan kayu yang
bertuliskan nama Rafa Canavaro, kemudian ia mengecupnya.
“ Ayo kita pulang.. “
Saat Venus melangkahkan kakinya, tiba-tiba kepalanya
terasa sedikit pening. Ia memijit-mijit dahinya.
“ Kamu kenapa Ve? “ Tanya April khawatir.
“Aku enggak apa-apa “ Jawab Venus sambil menepis tangan
April dengan lembut.
“ Tapi muka kamu pucat Ve “
“ I’m fine. OK? “ Jawab Venus lembut.
Meskipun ia berkata baik, ternyata tubuhnya tak bisa
menanggung semua yang ia rasakan. Sakit yang ia rasakan, membuat tubuhnya drop.
Kepalanya terasa semakin pening. Tubuhnya oleng. Menyadari hal itu, April
langsung memegang tangan Venus kemudian memapahnya.
“ VENUSSS! “ Teriak seseorang dari belakang.
Venus dan April menoleh. Ternyata ka Cantik.
“ Ini surat dari Rafa. Dia ngasih ini buat kamu “ Ucap
Cantik sambil menyodorkan sepucuk surat.
“ Aku tau, pasti sejuta pertanyaan terbersit di pikiran
kamu. Bacalah surat ini, dan kamu akan tau apa yang sebenarnya terjadi “ Ucap
Cantik sambil tersenyum lemah. Venus kemudian mengambil surat tersebut.
Kemudian Cantik memeluk Venus untuk beberapa saat.
Sesampainya dirumah, Venus memutuskan untuk beristirahat.
Malam pun datang ditemani angin dingin yang menusuk tulang. Langit bertabur bintang,
menghiasi malam ini.
Venus sudah lebih terlihat segar daripada sebelumnya. Ia
mengambil surat yang tadi diberikan Cantik. Dengan perlahan ia membuka amplop
yang membungkusnya, kemudian mengambil isi surat bertuliskan tangan Rafa.
|
Dear Venus ... Sahabat yang selalu aku sayangi dan
cintai ..
Terima kasih karena sampai saat ini kamu selalu menjadi
sahabatku. Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah pergi untuk
selamanya.
Sahabatku ..
Maaf karena aku tak menceritakan segalanya. Saat kelas
XI, aku mendapati bahwa ternyata aku mengidap kanker otak stadium 1. Aku tak
menceritakannya pada siapa pun karena aku tak ingin membuat orang-orang
disekelilingku bersedih. Aku memutuskan untuk berkuliah di Paris, karena
disana aku bisa belajar sekaligus mengobati kankerku. Di Paris aku sempat
dioperasi, dokter menyatakan kalau aku sudah sembuh. Namun ternyata Allah
berkata lain. Setahun kemudian, ternyata kanker itu kembali terdeteksi dan
sudah stadium 4. Dokter disana sudah angkat tangan, dan mereka bilang umurku
sudah tak lama lagi. Itu tepat sebulan sebelum ulang tahunmu. Aku sudah
pasrah akan semua takdir-Nya ..
Venus, wanita yang selalu aku cintai sampai saat ini ..
Ketika Dylan mengungkapkan perasaannya padamu, dan kau
menerima cintanya rasanya duniaku seakan runtuh. Aku benar-benar merasa
sangat terpukul. Aku marah sekali pada diriku sendiri, karena aku tak bisa
mengungkapkan perasaanku padamu. Namun bagaimana pun juga kalian berdua
adalah sahabatku. Aku ingin melihat kalian bahagia, aku hanya ingin yang
terbaik untuk kalian. Akhirnya aku memutuskan mundur dan merelakanmu untuk
Dylan. Karena Aku tahu, suatu hari nanti aku pasti akan meninggalkanmu dan
hari ini pasti akan datang. Aku tak ingin melihatmu bersedih .. Jadi aku
memutuskan untuk tak mengungkapkan perasaanku padamu. Maaf..
Sebenarnya, sudah sejak lama aku mencintaimu, rasa
cintaku padamu mungkin lebih dari siapa pun. Namun bagaimana pun juga kita
adalah sahabat. Aku tak ingin merusak persahabatan yang telah kita bangun
selama ini. Maaf karena aku hanya bisa mengungkapkan perasaanku lewat surat
ini ..
Maaf, karena disaat-saat terakhir aku tak
memberitahukan keadaanku. Aku hanya tak ingin kamu melihat keadaanku yang
menyedihkan. Sekali lagi aku tak ingin dan tak bisa melihat kamu bersedih,
karena jika aku melihatmu bersedih itu semua membuatku semakin terluka ..
Venus, aku harap kamu mengerti dengan segala yang telah
aku lakukan .. Aku melakukan semua ini, itu semua karena kamu .. Kamu adalah
segalanya bagiku. Aku hanya tak ingin melihatmu sedih. Aku hanya ingin
melihatmu bahagia .. Aku yakin, suatu hari nanti kamu akan mengerti dengan
segala yang telah aku lakukan .. Maaf jika aku telah menyakitimu ..
Nb : Ve di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan, Allah telah merencanakan
semuanya. Ketika seseorang pergi
darimu, Allah telah mempersiapkan yang lebih baik untukmu.
Semoga kamu selalu berada dalam lindungan-Nya ..
Love You
Rafa
|
Venus membeku ditempatnya. Tangannya gemetar, suratnya
jatuh ke atas lantai.
Venus tak percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui. Semua
terjadi seperti mimpi. Dengan segala kenyataan yang baru saja ia ketahui, itu
malah membuat hati Venus semakin hancur. Jika ia ingat segala yang telah
terjadi, itu pasti membuat hati Rafa terluka. Ia membayangkan, ketika Rafa
merasakan sakit yang amat luar biasa karena kanker yang dideritanya. Ia pasti
sangat tersiksa.
Air matanya menetes.
“ Ya Allah.. Mengapa aku baru mengetahui semuanya
sekarang? Betapa sakit dan tersiksanya ia? Aku bukanlah sahabat yang baik..
Disaat ia membutuhkanku, aku tak ada disampingnya. Ketika ia kesakitan, aku tak
bisa meringankannya. Ketika ia bersedih, aku tak bisa membuatnya tersenyum. Ya
Allah.. “ Rintih Venus
Venus tak bisa menerima semuanya. Ia mengambil kunci
mobil dan berlari ke garasi. ia menyalakan mobilnya, kemudian menancap gasnya
dengan cepat. Ia benar-benar sangat terpukul.
Tak lama kemudian, ia sampai di rumah Dylan.
“ Eh, Non Venus.. “ Ucap Bi Marti kaget.
“ Nyari den
Dylan ya? “ Venus mengangguk.
“
Maaf non, den Dylannya enggak
ada “ Lanjut Bi Marti.
“ Pergi kemana ya bi? “
“ Den Dylan tadi siang pergi ke luar negeri bareng tuan
sama nyonya non “
“ Ke luar negeri? Maksud bibi, keluar Indonesia? Ke luar
negeri kemana bi? “ Tanya Venus tak percaya.
“ Aduh, maaf non. Kalau soal itu bibi enggak tahu “
Venus menghela nafas. Ia tersenyum pahit. Ia tak bisa
berkata-kata, mulutnya serasa terkunci oleh hal yang baru saja ia dengar. Ia
tak percaya dengan semua ini.
“ Ya udah bi,,, kalau gitu aku permisi dulu “
Venus melangkah dengan perasaan kecewa. Ia tak percaya Dylan
meninggalkannya begitu saja. Meninggalkannya disaat ia benar-benar terpuruk,
meninggalkannya disaat ia sedang membutuhkan seorang teman. Ia pergi bahkan tanpa
berkata sepatah kata pun. Padahal jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam
ia masih mencintai Dylan.
Venus mengendarai mobilnya dengan berjuta perasaan yang
bergejolak. Konsentrasinya buyar. Bagaimana ia bisa berpikir, saat kedua orang
yang ia cintai pergi meninggalkannya disaat waktu yang bersamaan ?
Tiba-tiba Venus merasa ada yang aneh dengan mobilnya. Ia
memutuskan untuk berhenti kemudian keluar dan mencoba memeriksa apa yang
terjadi.
“ Argh! “ Keluh Venus sambil menendang ban mobil
depannya.
“ Ya Allah.. Apa hari ini enggak bisa lebih buruk lagi? “
Gerutu Venus kesal.
“ Mengapa Engkau memberikanku cobaan yang bertubi-tubi?
Engkau telah mengambil Rafa. Kenapa Engkau membiarkan Dylan juga pergi? Aku tak
kuat menanggungnya sendiri.. “
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Langit pun seakan
tahu kesedihan yang sedang Venus rasakan saat ini. Ia memutuskan untuk berjalan
kaki. Jarak dari mobil ke rumahnya memang sudah tak jauh, namun ia lebih
memilih untuk menemui April. Saat ini, hanya dialah sahabat yang ia punya.
Ting ... Tong .. Ting .. Tong .. Ting .. Tong
“ Siapa sih malem-malem gini bertamu? “ Tanya April
heran. Ia melihat ke gerbang rumahnya. Pandangannya tak terlalu jelas karena
hujan turun begitu deras.
“ Bi tolong ambilin payung ya? “
“ Baik non “
Tak lama kemudian Bi Minah membawakan payung
kesayangannya.
“ Ini non payungnya “
“ Makasih bi.. “ Ucap April sambil membuka pintu
rumahnya.
Dengan hati-hati April melangkahkan kakinya. Hujan malam
ini begitu deras. Ia tak ingin terjatuh atau pun terpeleset.
Tak lama kemudian April membukakan gerbang rumahnya.
Terlihat disana seseorang dengan jaket merah berdiri membelakanginya, dengan
kepala ditutupi topi.
“ Maaf, siapa ya? “ Tanya April ragu. Penampilannya
seperti seseorang yang akan berbuat jahat. Untung April bisa sedikit bela diri,
jadi ia tak perlu khawatir.
Orang itu berbalik. April menganga dengan apa yang
dilihatnya.
“ Venus? Ngapain kamu malem-malem kesini sambil ujan-ujanan
lagi? “ Tanya April heran.
“ April.. “ Ucap Venus pelan. Tubuhnya menggigil.
“ Aduh kamu ini, ayo masuk.. “ Ajak April sambil memeluk
tubuh sahabatnya.
April mempersilahkan Venus duduk.
“ Bi tolong ambilin teh anget ya “
“ Kamu kenapa Ve? ko tiba-tiba kamu ada di depan rumah
aku? “
“ Ril.. “ Ucap Venus pelan.
Terlihat pandangannya sudah tak fokus. Wajahnya pucat
sekali. Badannya pun menggigil. Tiba-tiba Venus jatuh.
Hampir saja ia jatuh ke lantai, jika April tak menangkap tubuhnya. Ia tak tahu harus melakukan apa,
sahabatnya tiba-tiba jatuh
pingsan.
“ Pa UJAAANG! MAMAH! “
“ Aduh gimana nih? “ Ucap April bingung.
“ Pa UJAAANG! MAMAH! “
“ Ada apa non? “
“ Ada apa sayang? “ Tanya keduanya hampir bersamaan.
“ Ini... Venus pingsan “ Ucap April sambil menunjuk tubuh
Venus.
“ Pa Ujang, tolong angkat Venus ke kamar April “
“ Baik nyonya “ Jawab pa Ujang sambil menggendong Venus.
April dan mamahnya mengikutinya dari belakang.
“ Terus sekarang gimana mah? “
“ Kamu gantiin bajunya, kasian dia basah kuyup gitu. Biar
mamah yang panggil dokter “
April hanya mengangguk. April menutup pintu kamarnya.
Mamahnya dan pa Ujang sudah keluar. Ia membawakan baju piyama panjang dan jaket,
agar tubuh sahabatnya lebih hangat. Selesai mengganti bajunya, April
menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
April memutuskan untuk meneruskan tugasnya yang belum
sempat terselesaikan. Namun ia tetap berada didekat Venus, takut jikalau Venus
sadar dari pingsannya.
“ Rafa.. Dylan.. “
April kaget mendengarnya.
“ Kamu udah sadar Ve? “ Tanya April sambil melangkah
mendekatinya.
“ Rafa.. Dy.. Jangan pergi.. “
“ Oh, ternyata ngigau.. Kasian kamu Ve, tapi aku yakin
kamu kuat “ Ucap April sambil memegang dahi
Venus. Tubuhnya panas, tapi ia
terlihat menggigil.
“ Sayang, dokternya udah dateng nih “ Ucap mamah dari
balik pintu.
“ Iya mah. Masuk aja “
“ Gimana udah baikan? “
“ Belum mah, malah dia tadi ngigau gitu “
Dokter itu tersenyum, kemudian memeriksa keadaan Venus.
“ Gimana dok? “ Tanya April cemas.
“ Sebenarnya psikisnya yang sedikit terganggu. Dia
sepertinya mengalami kehilangan yang amat sangat sehingga membuatnya sangat
terpukul. Otaknya terus berpikir, sedangkan tubuhnya tak kuat menanggung
semuanya. Ditambah lagi, tadi ia hujan-hujanan kan? itu membuatnya menjadi
demam. Tapi dengan beristirahat, ia akan menjadi lebih baik “
“ Ya, memang dok. Sahabat kami tadi siang meninggal. Dia
dan sahabatnya sudah bersahabat sejak lama “ Ucap April menjelaskan.
“ She’ll be fine. Saya sarankan, untuk sementara jangan
terlalu membebankan dia dengan masalah-masalah yang rumit. Kalau sadar nanti,
beri dia minuman hangat. Ini obat untuknya. Semoga dia lekas sembuh “
“ Terima kasih dok “ Ucap April tulus.
“ Mari dok saya antar “
“ Terima kasih bu “
April memperhatikan mamahnya hingga bayangannya hilang
dibalik pintu. April melihat Venus. Keadaannya sungguh sangat memprihatinkan.
Ia sedih sekali melihat Venus seperti ini.
“ Jadi ini yang selama ini kamu rasakan? Kenapa kamu
enggak pernah bilang? Kamu memang terlihat kuat, namun didalamnya kamu sangat
rapuh.. “ Ucap April pelan. Air matanya menetes.
“ Ahhhh.. “
Lenguhan pelan keluar dari mulut gadis itu. Itu berhasil
membuat April teralihkan dari lamunannya.
“ Ve, kamu udah sadar? “ Tanya April dengan nada senang.
Pandangan
Venus sedikit kabur, ia mencoba untuk memfokuskan pandangannya. Venus melihat
ke sekeliling.
“
Kenapa aku ada di kamar kamu? “ Tanya Venus bingung.
“
Kamu tadi pingsan Ve. Sumpah, aku
tadi panik
banget. Aku takut kamu
kenapa-kenapa“ Jawab April sambil memberikan susu hangat.
“ Btw kenapa kamu malem-malem dateng kesini? Ujan-ujanan
lagi? “ Tanya April heran.
Venus terdiam, lama sekali. Entah ia sedang mencari
kata-kata yang tepat atau apa. Tapi yang jelas, terpancar kesedihan dari wajahnya.
April mengguncang-guncang tubuh Venus.
“ Kamu kenapa? tell me .. “
Mata Venus berkaca-kaca.
“ Dylan.. Dia,, dia pergi ke luar negeri, entah kemana...
“
Air matanya mengalir tanpa suara, tenggorokannya tercekat
dan tak sepatah kata pun berhasil ia lanjutkan. April kaget mendengar
penjelasan Venus, ia tak tahu harus berkata apa. Dylan juga adalah sahabatnya,
dan ia pun merasa sangat terpukul dengan kenyataan yang baru saja ia dengar.
April menyentuh bahu Venus, tubuhnya masih bergetar. Ia kemudian
memeluknya.
“ Aku yakin kamu bisa menjalani ini semua .. “
“ Aku enggak nyangka.. Dia,, dia tega ninggalin aku
disaat seperti ini.. Dua orang yang aku sayangi, pergi..“ Ucap Venus
terisak-isak.
April menghela
nafas mendengar kata-kata Venus. Sebenarnya ia juga tak mengerti mengapa Dylan
pergi disaat seperti ini. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Dylan yang aneh.
“ Aku ngerti apa yang kamu rasain. Tapi Allah udah
merencakan semuanya Ve. Ini semua pasti akan ada hikmahnya. Kamu yang sabar aja
ya.. “
Venus mengangguk mendengar ucapan april.
“ Tapi kamu enggak akan ninggalin aku kan? “ Tanyanya
pahit.
“ Never.. Kecuali jika aku dipanggil yang Maha Kuasa. Kamu sahabatku, aku sayang kamu.. I will beside you, don’t worry my dear “
Venus tersenyum mendengar jawaban April. Makasih Ril .. You’re my best friend ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar