Minggu, 07 Juni 2015

B'Coz I'm Stupid part 6



         Dua Cinta Itu Pergi

Cinta bukanlah hal yang bisa begitu saja diucapkan dengan kata-kata, tetapi cinta hanya bisa diungkapkan dengan hati. Terkadang bukan hal mudah untuk melupakan satu cinta. Sama halnya dengan yang Venus rasakan. Sampai saat ini cintanya pada Rafa dan Dylan tak pernah berubah sedikit pun. Ini semua akan menjadi rahasia kecil, rahasia terdalam dihati Venus. Tak ada seorang pun yang tahu kecuali Irene, bahwa ia mencintai Rafa bahkan April pun tak mengetahuinya. April hanya tahu kalau Venus dan Rafa bersahabat sejak kecil dan sangat akrab.
Cinta Venus yang lain pun April tak pernah tahu. April tak tahu kalau ia masih sangat mencintai Dylan, bahkan sampai hari ini. Meskipun hampir enam bulan berlalu sejak Dylan memutuskan hubungan mereka, namun perasaan Venus tak pernah berubah sedikit pun. Hatinya memang telah terisi oleh Rafa dan Dylan, dan mungkin untuk saat ini tak ada tempat lagi untuk orang lain.
Terkadang Venus sendiri pun bingung, bagaimana bisa ia mencintai dua orang yang berbeda dengan cinta yang sama besarnya.    
“ Woy, ngelamun aja “ Ucap seseorang menepuk punggung Venus.
Venus terhenyak kaget.
“ Eh, Rafa?? Ngapain kamu ke kampus aku? “ Tanya Venus
“ Tadi di jalan aku ketemu sama April, mobilnya mogok gitu. Ya udah aku anterin kesini, sekalian pengen ketemu kamu, kangen. Hehe “ Jawab Rafa cengengesan.
“ Iya mobil aku tiba-tiba mogok gitu. Untung ada Rafa sang penyelamat “ timpal April sambil meneguk minuman Venus.
“ Emang kamu enggak dijemput sama Arga? “ Tanya Venus heran.
“ Enggak, dia ada kuliah pagi. Jadi dia berangkat duluan “ Jawab April sedikit cemberut.
“ Siapa tuh Arga? “ Tanya Rafa sambil mengerutkan alis.
“ Pacar barunya April “ Jawab Venus cepat. Rafa hanya memonyongkan mulutnya dan mengangguk-ngangguk.
“ Arga itu orangnya manis looh, baik, perhatian lagi “ Ucap Venus menerangkan.
Terlihat muka April berubah memerah, itulah ruginya menjadi wanita yang berkulit putih. Jika sedang malu atau kegeeran pasti akan terlihat jelas. Tapi entah mengapa wajah Rafa malah terlihat sedikit kesal.
“ Eh, ngomong-ngomong disini ada makanan apa aja? Laper nih “ Ucap Rafa mengalihkan pembicaraan.
“ Banyak, liat aja di menu “ Jawab April.
“ Hmm, pengen jus strawberry sama mie kocok bandung aja ah “ Ucap Rafa sambil memanggil sang pelayan.
Seorang pelayan menghampiri meja mereka. Pelayan laki-laki itu hanya menganggukkan kepala ketika Rafa memesan makanan.
Tak lama kemudian pelayan itu datang dengan memberikan pesanan makanan yang tadi dipesan oleh Rafa.
“ Oiya, katanya Dylan juga kuliah disini. Mana ko dia enggak keliatan? Dari kemarin aku sampe ke Jakarta, tapiii aku sama sekali belum ketemu sama dia “
“ Masa sih? emang kamu enggak ngasih tahu Dylan kalau kamu pulang? “ tanya Venus tak percaya.
“ Udah, malah waktu aku masih di Paris ngasih tahu ke dianya “ Jawab Rafa sambil sedikit mengingat.
“ Ya udah, kalau gitu biar aku suruh dia ke sini “ Ucap April menawarkan.
“ Sip “ Ucap Rafa sambil mulai memakan mie kocoknya.
Setengah jam berlalu sejak April menghubungi Dylan lewat telepon, dan orang yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang.
“ Hai semuaaa. Hei bro, gimana kabarnya? “ Ucap Dylan sambil memeluk Rafa.
“ Baik. Tumben baru keliatan? “ Tanya Rafa.
“ Iya nih, aku lagi ada kerjaan. Sekarang juga aku enggak bisa lama-lama. Sorry banget yah? “
“ Eh mau kemana? “ Tanya Rafa bingung.
“ Pergi dulu ya, ntar gue maen ke rumah.. See you “ Jawab Dylan sambil melangkah pergi.
Venus, April dan Rafa saling berpandangan. Mereka tak percaya Dylan pergi begitu saja tanpa berbincang-bincang, tak biasanya dia seperti itu. Padahal Rafa baru sehari berada di Indonesia dan hampir dua tahun mereka tak bertemu, namun reaksi Dylan malah seperti itu.
Venus bingung melihat reaksi Dylan seperti itu, setidaknya meskipun ia ada kerjaan atau apa pun itu ia selalu bisa menyempatkan waktu untuk bersama sahabat-sahabatnya. Namun hari ini, ia melihat sesuatu yang berbeda. Venus merasa dia bukan Dylan yang ia kenal. Kenapa ya , ko Dylan bersikap kaya gitu? apa mungkin dia lagi ada masalah? Atau mugkin ada hal lain? ko kesannya dia kayak engga suka Rafa ada disini.. hmmm .
“ Hmm, guys aku pergi bentar ya.. Ada urusan nih “ Ucap Venus pamit.
“ Lah , kamu juga mau kemana lagi? Aku kan baru nyampe kesini, masa kamu mau pergi juga? “ Protes Rafa.
Venus tersenyum. “ Sorry Fa, aku bener-bener ada urusan. Ntar aku telepon kamu “ Jawab Venus sambil melangkah pergi.
Venus melangkah dengan cepat, mencari-cari sosok Dylan yang pergi begitu saja. Ia yakin Dylan belum jauh dari tempatnya. Venus semakin mempercepat langkahnya. Akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari.
“ DYLAN! “ Ucap Venus berteriak.
Dylan menengok ke belakang. Ia mengerutkan alis.
“ Venus? Ngapain kamu disini? kamu kan seharusnya nemenin Rafa yang baru dateng”
Venus menarik tangan Dylan dan mengajaknya duduk.
“ Kamu kenapa sih Dy? ko kayaknya kamu enggak seneng Rafa dateng? “
Meskipun Dylan sedikit kaget dengan pertanyaan yang Venus lontarkan tapi ia mencoba untuk tenang dan tetap tersenyum.
“ kamu ngomong apa Ve? Enggak mungkin sahabat aku dateng aku enggak seneng “
“ Terus kenapa kamu pergi gitu aja? Rafa kan baru dateng, kamu sama sekali enggak kangen sama dia? “
Dylan tersenyum lagi mendengar kata-kata Venus.
“ Aku kan tadi udah bilang Ve, aku lagi ada kerjaan. Deadline. Aku enggak bisa ninggalin kerjaan aku gitu aja. Aku khan punya tanggung jawab Ve.. “ Jawab Dylan menjelaskan.
“ Tapii.. “
Ssttttt.. Dylan menempelkan jarinya pada mulut Venus.
“ Udah ah. Aku pergi dulu “
Dylan melangkah pergi, meninggalkan Venus yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri.

{

Setelah kemarin Dylan berhasil membuatnya bingung dengan sikap dinginnya kepada Rafa, sekarang ia bingung dengan keberadaan April yang tak kunjung datang. Padahal kuliah sudah dimulai dari tadi pagi. Tapi sampai jam sebelas siang batang hidungnya sama sekali tak kelihatan dan ia pun tak memberikan kabar sedikit pun. Venus sedang dikantin saat handphonenya tiba-tiba berbunyi.
Rafa telepon.. Ada apa ya? hehe
Halo.. “
“ Halo.. Ve, aku pengen ketemu kamu sekarang “
Hah? Sekarang? Emangnya ada apa? “
“ Enggak apa-apa. Aku cuma pengen ketemu kamu aja  
“ Oke. Mau ketemu dimana? “
“ Di taman biasa “
“ Oh. Oke “
“ Sampe ketemu disana ya? “ Rafa memutuskan pembicaraannya.
Dengan segera Venus melangkahkan kakinya menuju tempat parkir. Tumben banget Rafa tiba-tiba pengen ketemu sama aku, hmmm.. mungkin dia kangen kali ya sehari enggak ketemu aku.. hihihi
Sambil terus berpikir, ia pergi ke taman dekat kompleks rumahnya. Siang itu suasana taman sangat sepi,  mungkin karena hari telah beranjak siang orang-orang pun masih sibuk dengan aktifitasnya.
Di taman tersebut terdapat taman bermain untuk anak-anak. Venus memilih duduk di ayunan berwarna hijau. Entah ada angin apa, namun saat ia mengayunkan ayunannya perasaannya berubah menjadi tak enak.
Hampir dua jam lebih ia menunggu di taman tersebut, tapi Rafa tak kunjung datang. Ia mencoba menghubungi handphone lelaki tersebut tapi yang ia dapat hanyalah balasan dari operator. Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 1. Pukul 2 ia ada jadwal kuliah, dengan terpaksa ia pergi dari taman tersebut untuk kembali ke kampus. Venus membalikkan badan, berharap Rafa tiba-tiba datang. Tapi tidak ada siapa-siapa disana. Ia hanya bisa berharap Rafa baik-baik saja.
Keesokan harinya, hal yang sama terjadi. Rafa mengajak bertemu namun ia sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Handphonenya pun sama sekali tak bisa dihubungi, keesokan harinya pun handphonenya masih tetap tak bisa dihubungi. Venus khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi.
Saat Venus berada di kampus, ada sesuatu yang cukup membuatnya bingung. Venus mengerutkan alis saat tahu nama ka Cantik muncul di layar handphonenya. Ka Cantik adalah kakak Rafa yang berada di Paris, disana ia belajar fashion designer. Ada urusan apa coba, orang yang lagi ada di Paris tiba-tiba telepon? hmmm, aneh..
Dengan sedikit ragu Venus mengangkatnya.
“ Hmmm.. Ha,,, halo Ka.. “
Dari seberang sekilas terdengar isakan tangis.
“ Ka Cantika kenapa? ko nangis? “ Tanya Venus bingung.
“ Ve.. “ Cantik Menghela nafas .
“ Ke RS Marta sekarang.. “ Lanjut Cantik.
“ Hah? ke rumah sakit? ngapain ka? “ Tanya Venus tambah bingung lagi.
“ Kamu enggak usah banyak nanya. Cepetan ke Rumah Sakit, SEKARANG! “ Ucap Ka Cantik dengan nada kesal.
Venus kaget mendengar ka Cantik membentaknya.
“ I,, iya ka, Venus segera kesana “ Ucap Venus sambil menelan ludah.
Venus menutup teleponnya. Setelah menyeruput minumannya ia segera pergi. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi. Tak lama kemudian, Venus sampai di RS Marta. Ia segera berlari mencari orang-orang yang dikenalnya. Akhirnya setelah mencari kesana-kemari ia menemukan banyak sosok yang sudah sangat ia kenal. Ada orang tua Rafa, ka Cantik, Irene, Amran, Lori, saudara-saudara Rafa, bahkan April. Sudah berhari-hari ia tak bertemu dengan April. Yang membuatnya semakin bingung, dari kejauhan semuanya terlihat sedih. Sebenarnya ada apa inii????
Dengan segera, Venus menghampiri mereka. Dengan nafas masih terengah-engah, ia memperhatikan wajah orang yang ia kenal satu persatu. Venus melirik April, ia hanya menunduk. Semuanya terlihat sedih. Ralat bukan sedih tapi sangat sedih. Semuanya meneteskan air mata. Bahkan Mika – ibu Rafa, tiba-tiba pingsan sesaat setelah melihat Venus.
Venus kaget melihat Mika pingsan. Aduuhh tante Mika kenapa lagi? ko kesannya aku kayak hantu, ngeliat aku ko langsung pingsan gitu?
“ Ril, sebenernya ada apa sih? ko pada sedih gini? “ Tanya Venus bingung.
“ Oiya, Rafa mana? “ Lanjut Venus sambil menengok kesana-kemari.
Bukannya menjawab pertanyaan Venus, April malah kembali menunduk sambil mengusap air matanya. Venus menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia semakin bertambah bingung.
Venus menghampiri kedua orang tuanya.
“ Papah sama mamah ngapain lagi ada disini? “ Tanya Venus. Tapi orang tuanya itu hanya melihat Venus dengan iba.
“ Sebenarnya ini ada apa sih? Dari tadi kalian semua pada nangis enggak jelas. Tapi enggak ada seorang pun yang ngasih tahu aku kenapa? Aku jadi bingung “
Semua orang melihat kearah Venus dengan tatapan miris.
“ Ada apa?! “ Ucap Venus kesal.
Tiba-tiba Irene berjalan mendekatinya. Tanpa berkata-kata, ia memeluk anaknya.
“ Kamu yang sabar ya sayang.. Mamah yakin kamu bisa ngelewatin ini semua. Mamah tahu kamu anak yang tegar dan hebat.. “ Ucap Irene terisak-isak.
Venus melepaskan pelukan Irene, dan melihatnya dengan tatapan aneh. Kemudian Venus melihat ka Cantik. Orang yang menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit tanpa menjelaskan ada apa dan mengapa. Venus juga bingung, kenapa tiba-tiba orang itu ada disini. Tapi ia menyingkirkan pikiran itu.
Venus melangkah mendekati ka Cantik.
“ Ka Cantik yang nyuruh aku kesini. So?? “ Tanya Venus dengan wajah hampir menyerah.
Cantik menghela nafas. lalu ia menyeka air matanya, mencoba untuk tegar meskipun hanya sesaat. Setelah ia merasa cukup kuat, ia menarik tangan Venus lalu mengajaknya ke ruangan ICU.
“ Itu.. “ Ucap Cantik menunjuk seorang manusia yang sudah tak berdaya, yang terbaring di kasur dengan selang infus dan oksigen yang telah dilepas dan telah ditutupi oleh kain putih.
Cantik menarik tangan Venus agar mereka lebih dekat. Jantung Venus berdebar lebih kencang. Ia takut, takut jika orang yang terbaring ini adalah orang yang ia sayangi. Cantik membuka kain putih yang menutupi tubuh orang itu dengan perlahan. Jantung Venus semakin berdebar, saking kencangnya ia merasa tak bisa bernafas. Ia tak mau melihatnya. Ia takut.
Saat kain putih yang ditarik Cantik melewati wajah orang itu, rasanya sebilah pisau terasa menancap tepat di jantung Venus. Ia kenal sekali dengan wajah itu, wajah yang selalu ia rindukan, wajah yang selalu ingin ia lihat, wajah yang selalu bisa menenangkannya.
Air mata Venus mengalir begitu saja. Tanpa suara sedikit pun. Venus terdiam. Tubuh dan tangannya bergetar hebat. Matanya terus melihat wajah itu. Dengan ragu, Venus mencoba mengangkat tangannya, berusaha untuk menyentuh wajah itu.
Dingin... Wajahnya sudah tak sehangat dulu lagi..
“ Rafaaaa.. “ Rintih Venus. Ia memeluk tubuh Rafa dengan erat.
“ RAFAAAA.. “ Teriak Venus. Venus mengguncang-guncangkan tubuh Rafa. Berharap sahabatnya itu tiba-tiba membuka matanya kembali.
“ Apa,, apa yang,, terjadi?! “ kata-katanya tersendat.
“ Apa yang terjadi?!! “ teriak Venus pada Cantik. Cantik hanya terdiam membisu, ia mencoba memeluk Venus berharap ia bisa lebih tenang namun Venus menolaknya.
“ Enggak,, enggak,, enggak mungkin!! “ Venus terlihat sangat histeris. Ia menggeleng tak percaya.
Venus berjalan keluar melewati semuanya. Pandangannya lurus tanpa ada tujuan. Pikirannya melayang entah kemana.
“ Venus “ Teriak April. Ia mencoba mengikuti Venus namun Irene melarangnya.
Irene menggeleng.
“ Biarkan.. Ia butuh waktu.. Ia akan baik dengan sendirinya.. “
Venus mencoba bersandar pada tembok, lututnya lemas sekali hingga ia merasa untuk berdiri saja ia tak sanggup. Dia tak percaya jika Rafa memang telah meninggal. Baru kemarin Rafa datang ke kampusnya, baru kemarin Rafa ingin menemuinya. Tapi sekarang ia sudah terbaring tak bernyawa.
Dengan langkah gontai, Venus berjalan ke mobilnya. Ia menstarter mobilnya dengan tangan yang masih gemetar kemudian menancap gas. Air matanya terus saja mengalir. Setiap ia menyeka air matanya, maka air matanya keluar lebih banyak lagi. Ia tak bisa menghentikan tangisannya. Otaknya terus saja memikirkan hal yang baru saja terjadi. Semua terasa begitu tiba-tiba. Tiba-tiba Rafa datang dari Paris, tiba-tiba ia ada dihadapan Venus dan tiba-tiba juga ia meninggalkan Venus untuk selamanya. Ya Allah .. Kenapa ini semua terjadi? semua terasa begitu tiba-tiba. Aku tak pernah bermimpi mengalami ini, aku tak pernah berharap ini semua terjadi.. Kenapa Engkau mengambil Rafa dariku? Mengapa Engkau mengujiku seperti ini??
Saat pikiran Venus sedang melayang, tiba-tiba seorang anak melintas tepat didepannya. Venus terhenyak kaget, dengan spontan ia membantingkan stirnya ke kiri namun sebuah pohon menghadangnya, dengan cepat ia menginjak rem namun tak cukup berhasil lalu dengan segera ia menarik rem tangan mobilnya.
NGIIIkkkkkkkkkk ......
Dengan cepat mobilnya berhenti, alhasil dahinya berbenturan dengan stir. Cukup keras dan cukup menyakitkan. Namun itu semua tak seberapa dengan sakit dan kesedihan yang ia sedang rasakan.
“ DAMN! “ Keluh Venus sambil memukulkan tangannya ke stir. Matanya masih meneteskan air mata.
Tok.. Tok.. Tokk..
Seseorang mengetuk kaca mobil Venus. Ia menengok dan segera menyeka air matanya. Ia membuka kaca mobil dengan cepat.
“ Kamu enggak apa-apa, nak? “ Tanya seorang ibu paruh baya. Tersirat kecemasan diwajahnya yang sudah sedikit berkeriput.
Saat ibu paruh baya itu yakin Venus tak menjawab, ia meneruskan kata-katanya.
“ Maafkan cucu saya nak. Dia tadi menyebrang jalan enggak lihat kanan-kiri. Sekali lagi maafkan saya “ Ucap ibu itu sambil sedikit membungkuk.
Venus keluar dari mobil, lalu ia memegang tubuh ibu renta itu.
“ Enggak,, enggak apa-apa ko bu. Saya baik-baik aja..  “ Jawab Venus tersenyum pahit. Andai aku bisa berkata ‘aku baik-baik saja’ ...
“ Nak, dahi kamu berdarah. Ayo sini ibu obatin dulu.. “ Ucap ibu itu menawarkan.
Venus menyentuh dahinya, dilihat tangannya memang ada darah. Ia baru sadar kalau dahinya berdarah.
“ Enggak perlu bu, ini hanya luka kecil aja. Biar nanti saya obati sendiri. Kalau gitu saya permisi dulu.. “
“ Tapi... “
Venus hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu ia masuk ke dalam mobil. Venus mengeluarkan kotak P3K yang ada di dasbor mobil, kemudian mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan lukanya. Ia mengambil kapas kembali dan menuangkan beberapa tetes betadhine ke kapas tersebut. Setelah yakin lukanya bersih, ia menempelkan kapas tersebut didahinya. Luka di dahi ini tak seberapa jika dibandingkan dengan sakit yang dirasakan hatinya. Dengan segera ia menstarter SX4nya, lalu ia menancapkan gas dengan kencang.
Ia benar-benar tak bisa menahan perasaannya yang sedang berkecamuk. Ditinggal selamanya oleh sahabat yang sangat ia sayangi dan cintai membuatnya sangat terpukul. Jika ia bisa memilih, lebih baik Rafa pergi ke Paris meskipun disana ia tinggal 10 tahun atau 20 tahun daripada ia harus pergi meninggalkan kami semua dan menghadap Sang Pencipta. Andai ia bisa memilih ...
.. You look so dumb right now Standing outside my house Trying to apologize You’re so ugly when you cry ..
Daritadi handphone Venus terus saja berdering, entah telepon dari siapa. Ia memilih untuk mematikan handphonenya. Ia sedang tak ingin bicara dengan siapa-siapa. Ia hanya ingin menenangkan diri sebentar saja.
 Tak lama kemudian, ternyata ia mendapati dirinya telah berada di tempat kenangannya bersama Rafa. Ia sendiri tak mengerti mengapa ia datang kemari. Mungkin hatinya lah yang menuntun ia untuk datang kesini.
Venus memperhatikan sekeliling. Semua kenangan tentang kebersamaannya dengan Rafa tiba-tiba muncul dibenaknya. Sahabat yang selalu ia rindukan, sahabat yang selalu bisa membuat ia tersenyum, sahabat yang selalu ia sayangi dan cintai, kini telah pergi untuk selama-lamanya.
“ Kenapa,, kenapa kamu pergi secepat ini? Aku bahkan belum sempat bikin kamu bahagia.. Aku,, aku bahkan belum bisa bikin kamu tersenyum Fa.. haruskah aku kehilangan kamu lagi? “
Air mata Venus kembali menetes.
“ Aku bahkan belum sempat bilang, kalau aku sayang kamu.. Kenapa Fa, kenapa kamu harus pergi secepat ini? “  Tanya Venus sambil memukul pasir yang sedikit basah karena terkena ombak.
“ kenapa... “ Rintih Venus.
Suasana di pantai saat itu memang sedang sepi. Matahari sedang bersinar terik dan itu mungkin membuat orang-orang lebih memilih untuk berteduh dan beristirahat.
“ Andai aku bisa memutar waktu... “
Tiba-tiba seseorang menyentuh Venus dari belakang. Venus terhenyak kaget. Ia menoleh. Kedua mata mereka bertemu. Tak ada senyuman di wajah Venus, hanya air mata yang terus menetes dari pelupuk matanya.
Dylan menghela nafas. Terpancar kesedihan dari wajahnya meskipun tak begitu jelas. Sepertinya ia juga merasakan apa yang Venus rasakan. Tangannya terulur menelusuri pipi Venus, menghapus air matanya kemudian memeluknya dengan erat. Venus memang tak bisa menghadapinya sendiri. Ia tak sanggup jika Rafa meninggalkannya begitu saja.
Air matanya tumpah disana.

{
Sore harinya, Irene memberi tahu kalau Rafa akan segera dikuburkan. Sebenarnya ia tak ingin menyaksikan hal ini, namun ini adalah kesempatan terakhir untuk melihat wajah sahabatnya. Jika aku ingat hal ini, ada bagian yang terasa sakit sekali. Disini, dihatiku.
Dengan hati lapang, Venus mencoba untuk  tegar. Ia memutuskan untuk pergi ke TPU yang berada tak jauh dari kompleks rumahnya. Venus menghela nafas. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Semua terasa begitu cepat dan ia belum siap untuk menerimanya.
Tak lama kemudian, ia sampai di TPU melati. Terlihat disana sudah banyak orang yang berkumpul. Lagi-lagi Venus menghela nafas. Apakah aku bisa melewati hari ini?
Venus berjalan perlahan, mendekati keluarganya yang sedang berkumpul. Disana April dan teman-teman dekat Rafa semasa sekolah sudah tiba.
April mendekat. Matanya terlihat sembab. Terlihat sekali kesedihan terpancar diwajah cantiknya. Venus menatapnya dengan tatapan kosong. April kemudian memeluknya erat. Keduanya sama sekali tak berkata apa-apa. Venus mencoba untuk tak menangis. Ia mencoba untuk tegar dan menerima takdir-Nya.
Tak lama kemudian, jenazah Rafa datang beserta rombongan keluarganya. Tiba-tiba jantung Venus berdebar lebih kencang. Ia memilih untuk berdiri tepat dibelakang ibunya, dengan April disampingnya. Venus memegang tangan April, tubuhnya gemetar. Ia mencoba untuk mengendalikan berjuta perasaan yang memukul-mukul didada.  
Venus melihat papah Rafa dan saudaranya sudah turun ke liang lahat. Keranda jenazah akhirnya dibuka. Disana terlihat sahabat yang ia cintai sudah terbujur kaku tak bernyawa. Tubuhnya telah tertutupi dengan kain kafan, yang terlihat hanyalah wajahnya. Mata birunya pun sudah tak bisa ia lihat lagi. Pikirannya melayang.
Mengapa Rafa terlihat begitu dingin??. Padahal dia selalu bisa membuatku hangat. Dia selalu menemaniku. Dia enggak mungkin tega ninggalin aku sendirian ...
“ Sayang... “ Ucap Irene sambil menyentuh bahunya.
Venus tersadar dari lamunannya.
Ternyata proses pemakaman telah usai. Tinggal keluarga Rafa, keluarganya dan April. Orang tua Rafa sangat terpukul. Mamahnya terus saja menangis sambil meraung-raung memanggil nama anaknya yang telah meninggal.
“ Sayang. Papah yakin kamu kuat.. “ Ucap Amran tenang. Ia meraih kepala Venus kemudian membenamkannya ke dadanya.
Venus hanya terdiam mendengar kata-kata papahnya itu.
“ Ayo kita pulang.. “ Ucap Venus lemas.
“ Yakin? “ Tanya Irene.
“ Ya udah, ayo kita pulang “ Ucap Amran.
Amran dan Irene mendekati orang tua Rafa, mereka meminta izin untuk pulang. Kemudian saling berpelukan.
Mata Venus terus tertuju pada makam Rafa. Ia masih saja sibuk meyakinkan diri bahwa kematian Rafa hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan berakhir saat ia terbangun nanti. Namun ini semua telah terjadi, takdir yang tak bisa dirubah lagi. Rasanya sangat menyakitkan, ia bahkan tak bisa menangis.
“ Ve.. “ Ucap April lembut.
Venus mengangguk. Tangannya mengusap nisan kayu yang bertuliskan nama Rafa Canavaro, kemudian ia mengecupnya.
“ Ayo kita pulang.. “
Saat Venus melangkahkan kakinya, tiba-tiba kepalanya terasa sedikit pening. Ia memijit-mijit dahinya.
“ Kamu kenapa Ve? “ Tanya April khawatir.
“Aku enggak apa-apa “ Jawab Venus sambil menepis tangan April dengan lembut.
“ Tapi muka kamu pucat Ve “
“ I’m fine. OK? “ Jawab Venus lembut.
Meskipun ia berkata baik, ternyata tubuhnya tak bisa menanggung semua yang ia rasakan. Sakit yang ia rasakan, membuat tubuhnya drop. Kepalanya terasa semakin pening. Tubuhnya oleng. Menyadari hal itu, April langsung memegang tangan Venus kemudian memapahnya.
“ VENUSSS! “ Teriak seseorang dari belakang.
Venus dan April menoleh. Ternyata ka Cantik.
“ Ini surat dari Rafa. Dia ngasih ini buat kamu “ Ucap Cantik sambil menyodorkan sepucuk surat.
“ Aku tau, pasti sejuta pertanyaan terbersit di pikiran kamu. Bacalah surat ini, dan kamu akan tau apa yang sebenarnya terjadi “ Ucap Cantik sambil tersenyum lemah. Venus kemudian mengambil surat tersebut. Kemudian Cantik memeluk Venus untuk beberapa saat.
Sesampainya dirumah, Venus memutuskan untuk beristirahat. Malam pun datang ditemani angin dingin yang menusuk tulang. Langit bertabur bintang, menghiasi malam ini.
Venus sudah lebih terlihat segar daripada sebelumnya. Ia mengambil surat yang tadi diberikan Cantik. Dengan perlahan ia membuka amplop yang membungkusnya, kemudian mengambil isi surat bertuliskan tangan Rafa.

Dear Venus ... Sahabat yang selalu aku sayangi dan cintai ..
Terima kasih karena sampai saat ini kamu selalu menjadi sahabatku. Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah pergi untuk selamanya.
Sahabatku ..
Maaf karena aku tak menceritakan segalanya. Saat kelas XI, aku mendapati bahwa ternyata aku mengidap kanker otak stadium 1. Aku tak menceritakannya pada siapa pun karena aku tak ingin membuat orang-orang disekelilingku bersedih. Aku memutuskan untuk berkuliah di Paris, karena disana aku bisa belajar sekaligus mengobati kankerku. Di Paris aku sempat dioperasi, dokter menyatakan kalau aku sudah sembuh. Namun ternyata Allah berkata lain. Setahun kemudian, ternyata kanker itu kembali terdeteksi dan sudah stadium 4. Dokter disana sudah angkat tangan, dan mereka bilang umurku sudah tak lama lagi. Itu tepat sebulan sebelum ulang tahunmu. Aku sudah pasrah akan semua takdir-Nya ..
Venus, wanita yang selalu aku cintai sampai saat ini ..
Ketika Dylan mengungkapkan perasaannya padamu, dan kau menerima cintanya rasanya duniaku seakan runtuh. Aku benar-benar merasa sangat terpukul. Aku marah sekali pada diriku sendiri, karena aku tak bisa mengungkapkan perasaanku padamu. Namun bagaimana pun juga kalian berdua adalah sahabatku. Aku ingin melihat kalian bahagia, aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Akhirnya aku memutuskan mundur dan merelakanmu untuk Dylan. Karena Aku tahu, suatu hari nanti aku pasti akan meninggalkanmu dan hari ini pasti akan datang. Aku tak ingin melihatmu bersedih .. Jadi aku memutuskan untuk tak mengungkapkan perasaanku padamu. Maaf..
Sebenarnya, sudah sejak lama aku mencintaimu, rasa cintaku padamu mungkin lebih dari siapa pun. Namun bagaimana pun juga kita adalah sahabat. Aku tak ingin merusak persahabatan yang telah kita bangun selama ini. Maaf karena aku hanya bisa mengungkapkan perasaanku lewat surat ini ..
Maaf, karena disaat-saat terakhir aku tak memberitahukan keadaanku. Aku hanya tak ingin kamu melihat keadaanku yang menyedihkan. Sekali lagi aku tak ingin dan tak bisa melihat kamu bersedih, karena jika aku melihatmu bersedih itu semua membuatku semakin terluka ..
Venus, aku harap kamu mengerti dengan segala yang telah aku lakukan .. Aku melakukan semua ini, itu semua karena kamu .. Kamu adalah segalanya bagiku. Aku hanya tak ingin melihatmu sedih. Aku hanya ingin melihatmu bahagia .. Aku yakin, suatu hari nanti kamu akan mengerti dengan segala yang telah aku lakukan .. Maaf jika aku telah menyakitimu ..

Nb : Ve di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan, Allah telah merencanakan semuanya. Ketika seseorang pergi darimu, Allah telah mempersiapkan yang lebih baik untukmu. Semoga kamu selalu berada dalam lindungan-Nya ..

Love You
                                                                                                                                
                                                                                                                             Rafa

Venus membeku ditempatnya. Tangannya gemetar, suratnya jatuh ke atas lantai.
Venus tak percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui. Semua terjadi seperti mimpi. Dengan segala kenyataan yang baru saja ia ketahui, itu malah membuat hati Venus semakin hancur. Jika ia ingat segala yang telah terjadi, itu pasti membuat hati Rafa terluka. Ia membayangkan, ketika Rafa merasakan sakit yang amat luar biasa karena kanker yang dideritanya. Ia pasti sangat tersiksa.
Air matanya menetes.
“ Ya Allah.. Mengapa aku baru mengetahui semuanya sekarang? Betapa sakit dan tersiksanya ia? Aku bukanlah sahabat yang baik.. Disaat ia membutuhkanku, aku tak ada disampingnya. Ketika ia kesakitan, aku tak bisa meringankannya. Ketika ia bersedih, aku tak bisa membuatnya tersenyum. Ya Allah.. “ Rintih Venus
Venus tak bisa menerima semuanya. Ia mengambil kunci mobil dan berlari ke garasi. ia menyalakan mobilnya, kemudian menancap gasnya dengan cepat. Ia benar-benar sangat terpukul.
Tak lama kemudian, ia sampai di rumah Dylan.
“ Eh, Non Venus.. “ Ucap Bi Marti kaget.
Nyari den Dylan ya? “ Venus mengangguk.
Maaf non, den Dylannya enggak ada “ Lanjut Bi Marti.
“ Pergi kemana ya bi? “
“ Den Dylan tadi siang pergi ke luar negeri bareng tuan sama nyonya non “
“ Ke luar negeri? Maksud bibi, keluar Indonesia? Ke luar negeri kemana bi? “ Tanya Venus tak percaya.
“ Aduh, maaf non. Kalau soal itu bibi enggak tahu “
Venus menghela nafas. Ia tersenyum pahit. Ia tak bisa berkata-kata, mulutnya serasa terkunci oleh hal yang baru saja ia dengar. Ia tak percaya dengan semua ini.
“ Ya udah bi,,, kalau gitu aku permisi dulu “
Venus melangkah dengan perasaan kecewa. Ia tak percaya Dylan meninggalkannya begitu saja. Meninggalkannya disaat ia benar-benar terpuruk, meninggalkannya disaat ia sedang membutuhkan seorang teman. Ia pergi bahkan tanpa berkata sepatah kata pun. Padahal jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam ia masih mencintai Dylan.
Venus mengendarai mobilnya dengan berjuta perasaan yang bergejolak. Konsentrasinya buyar. Bagaimana ia bisa berpikir, saat kedua orang yang ia cintai pergi meninggalkannya disaat waktu yang bersamaan ?
Tiba-tiba Venus merasa ada yang aneh dengan mobilnya. Ia memutuskan untuk berhenti kemudian keluar dan mencoba memeriksa apa yang terjadi.
“ Argh! “ Keluh Venus sambil menendang ban mobil depannya.
“ Ya Allah.. Apa hari ini enggak bisa lebih buruk lagi? “ Gerutu Venus kesal.
“ Mengapa Engkau memberikanku cobaan yang bertubi-tubi? Engkau telah mengambil Rafa. Kenapa Engkau membiarkan Dylan juga pergi? Aku tak kuat menanggungnya sendiri.. “
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Langit pun seakan tahu kesedihan yang sedang Venus rasakan saat ini. Ia memutuskan untuk berjalan kaki. Jarak dari mobil ke rumahnya memang sudah tak jauh, namun ia lebih memilih untuk menemui April. Saat ini, hanya dialah sahabat yang ia punya.
Ting ... Tong .. Ting .. Tong .. Ting .. Tong
“ Siapa sih malem-malem gini bertamu? “ Tanya April heran. Ia melihat ke gerbang rumahnya. Pandangannya tak terlalu jelas karena hujan turun begitu deras.
“ Bi tolong ambilin payung ya? “
“ Baik non “
Tak lama kemudian Bi Minah membawakan payung kesayangannya.
“ Ini non payungnya “
“ Makasih bi.. “ Ucap April sambil membuka pintu rumahnya.
Dengan hati-hati April melangkahkan kakinya. Hujan malam ini begitu deras. Ia tak ingin terjatuh atau pun terpeleset.
Tak lama kemudian April membukakan gerbang rumahnya. Terlihat disana seseorang dengan jaket merah berdiri membelakanginya, dengan kepala ditutupi topi.
“ Maaf, siapa ya? “ Tanya April ragu. Penampilannya seperti seseorang yang akan berbuat jahat. Untung April bisa sedikit bela diri, jadi ia tak perlu khawatir.
Orang itu berbalik. April menganga dengan apa yang dilihatnya.
“ Venus? Ngapain kamu malem-malem kesini sambil ujan-ujanan lagi? “ Tanya April heran.
“ April.. “ Ucap Venus pelan. Tubuhnya menggigil.
“ Aduh kamu ini, ayo masuk.. “ Ajak April sambil memeluk tubuh sahabatnya.
April mempersilahkan Venus duduk.
“ Bi tolong ambilin teh anget ya “
“ Kamu kenapa Ve? ko tiba-tiba kamu ada di depan rumah aku? “
“ Ril.. “ Ucap Venus pelan.
Terlihat pandangannya sudah tak fokus. Wajahnya pucat sekali. Badannya pun menggigil. Tiba-tiba Venus jatuh. Hampir saja ia jatuh ke lantai, jika April tak menangkap tubuhnya. Ia tak tahu harus melakukan apa, sahabatnya tiba-tiba jatuh pingsan.
“ Pa UJAAANG! MAMAH! “
“ Aduh gimana nih? “ Ucap April bingung.
“ Pa UJAAANG! MAMAH! “
“ Ada apa non? “
“ Ada apa sayang? “ Tanya keduanya hampir bersamaan.
“ Ini... Venus pingsan “ Ucap April sambil menunjuk tubuh Venus.
“ Pa Ujang, tolong angkat Venus ke kamar April “
“ Baik nyonya “ Jawab pa Ujang sambil menggendong Venus. April dan mamahnya mengikutinya dari belakang.
“ Terus sekarang gimana mah? “
“ Kamu gantiin bajunya, kasian dia basah kuyup gitu. Biar mamah yang panggil dokter “
April hanya mengangguk. April menutup pintu kamarnya. Mamahnya dan pa Ujang sudah keluar. Ia membawakan baju piyama panjang dan jaket, agar tubuh sahabatnya lebih hangat. Selesai mengganti bajunya, April menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
April memutuskan untuk meneruskan tugasnya yang belum sempat terselesaikan. Namun ia tetap berada didekat Venus, takut jikalau Venus sadar dari pingsannya.
“ Rafa.. Dylan.. “
April kaget mendengarnya.
“ Kamu udah sadar Ve? “ Tanya April sambil melangkah mendekatinya.
“ Rafa.. Dy.. Jangan pergi.. “
“ Oh, ternyata ngigau.. Kasian kamu Ve, tapi aku yakin kamu kuat “ Ucap April sambil memegang dahi Venus. Tubuhnya panas, tapi ia terlihat menggigil.
“ Sayang, dokternya udah dateng nih “ Ucap mamah dari balik pintu.
“ Iya mah. Masuk aja “
“ Gimana udah baikan? “
“ Belum mah, malah dia tadi ngigau gitu “
Dokter itu tersenyum, kemudian memeriksa keadaan Venus.
“ Gimana dok? “ Tanya April cemas.
“ Sebenarnya psikisnya yang sedikit terganggu. Dia sepertinya mengalami kehilangan yang amat sangat sehingga membuatnya sangat terpukul. Otaknya terus berpikir, sedangkan tubuhnya tak kuat menanggung semuanya. Ditambah lagi, tadi ia hujan-hujanan kan? itu membuatnya menjadi demam. Tapi dengan beristirahat, ia akan menjadi lebih baik “
“ Ya, memang dok. Sahabat kami tadi siang meninggal. Dia dan sahabatnya sudah bersahabat sejak lama “ Ucap April menjelaskan.
“ She’ll be fine. Saya sarankan, untuk sementara jangan terlalu membebankan dia dengan masalah-masalah yang rumit. Kalau sadar nanti, beri dia minuman hangat. Ini obat untuknya. Semoga dia lekas sembuh “
“ Terima kasih dok “ Ucap April tulus.
“ Mari dok saya antar “
“ Terima kasih bu “ 
April memperhatikan mamahnya hingga bayangannya hilang dibalik pintu. April melihat Venus. Keadaannya sungguh sangat memprihatinkan. Ia sedih sekali melihat Venus seperti ini.
“ Jadi ini yang selama ini kamu rasakan? Kenapa kamu enggak pernah bilang? Kamu memang terlihat kuat, namun didalamnya kamu sangat rapuh.. “ Ucap April pelan. Air matanya menetes.
“ Ahhhh.. “
Lenguhan pelan keluar dari mulut gadis itu. Itu berhasil membuat April teralihkan dari lamunannya.
“ Ve, kamu udah sadar? “ Tanya April dengan nada senang.
  Pandangan Venus sedikit kabur, ia mencoba untuk memfokuskan pandangannya. Venus melihat ke sekeliling.
“ Kenapa aku ada di kamar kamu? “ Tanya Venus bingung.
“ Kamu tadi pingsan Ve. Sumpah, aku tadi panik banget. Aku takut kamu kenapa-kenapa“ Jawab April sambil memberikan susu hangat.
“ Btw kenapa kamu malem-malem dateng kesini? Ujan-ujanan lagi? “ Tanya April heran.
Venus terdiam, lama sekali. Entah ia sedang mencari kata-kata yang tepat atau apa. Tapi yang jelas, terpancar kesedihan dari wajahnya. April mengguncang-guncang tubuh Venus.
“ Kamu kenapa? tell me .. “
Mata Venus berkaca-kaca.
“ Dylan.. Dia,, dia pergi ke luar negeri, entah kemana... “
Air matanya mengalir tanpa suara, tenggorokannya tercekat dan tak sepatah kata pun berhasil ia lanjutkan. April kaget mendengar penjelasan Venus, ia tak tahu harus berkata apa. Dylan juga adalah sahabatnya, dan ia pun merasa sangat terpukul dengan kenyataan yang baru saja ia dengar.
April menyentuh bahu Venus, tubuhnya masih bergetar. Ia kemudian memeluknya.
“ Aku yakin kamu bisa menjalani ini semua .. “
“ Aku enggak nyangka.. Dia,, dia tega ninggalin aku disaat seperti ini.. Dua orang yang aku sayangi, pergi..“ Ucap Venus terisak-isak.
 April menghela nafas mendengar kata-kata Venus. Sebenarnya ia juga tak mengerti mengapa Dylan pergi disaat seperti ini. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Dylan yang aneh.
“ Aku ngerti apa yang kamu rasain. Tapi Allah udah merencakan semuanya Ve. Ini semua pasti akan ada hikmahnya. Kamu yang sabar aja ya.. “
Venus mengangguk mendengar ucapan april.
“ Tapi kamu enggak akan ninggalin aku kan? “ Tanyanya pahit.
“ Never.. Kecuali jika aku dipanggil yang Maha Kuasa. Kamu sahabatku, aku sayang kamu.. I will beside you, don’t worry my dear “
Venus tersenyum mendengar jawaban April. Makasih Ril .. You’re my best friend ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar