Complicated
‘ Hidup itu pilihan Ve, dan setiap pilihan selalu ada konsekuensinya. Kamu
sudah memilih dan kamu harus terima hasilnya ‘ Kata-kata April masih saja terngiang-ngiang dalam pikirannya.
“ Ve... “ April menyentuh bahu Venus. Terlihat sahabatnya itu seperti
sedang memikirkan sesuatu. Pandangannya menerawang jauh ke luar jendela.
“ Perasaanmu ke Dylan masih kuatkah? “ Tanya April setelah hampir seminggu
berlalu sejak kejadian di jembatan. Sejak itu Dylan belum menghubunginya
ataupun memberinya kabar. Mungkin ia memang benar-benar marah. Sejak saat itu
pula, sikap Venus berubah drastis menjadi sangat pendiam. April sangat khawatir
dengan sahabatnya itu.
“ Ve, mungkin mulutmu bisa berbohong. Tapi mata dan hatimu tak bisa “ Ucap
April menjawab pertanyaannya sendiri. Venus masih saja terdiam, ia tak ingin
membuka luka hatinya.
“ I know who you are. Aku tahu apa yang membuatmu galau. Aku mengerti apa
yang kamu rasakan. Jangan pernah kamu memendamnya Ve, karena itu hanya akan
membuatmu bertambah sakit “
Pertahanan Venus jebol. Air mata yang sedari tadi ia pendam, akhirnya meleleh.
Ia memang tak bisa terus memendamnya, ini terlalu menyakitkan. Seseorang yang
tiba-tiba hadir setelah sekian lama tak bertemu, tiba-tiba pergi karena
kebodohannya. Itu sangat menyakitkan hati.
“ I’m so stupid.. Aku,, mencintainya, bahkan sangat mencintainya.. “ Ucap
Venus terisak.
“ Kini dia pergi karena kebodohan yang telah aku lakukan. Aku tak tahu
harus berbuat apa “ Suaranya seperti tercekat. Venus duduk di sofa dengan
lemas, menyandarkan tubuhnya ke sofa tersebut. Belakangan selera makannya
menurun, terkadang ia bahkan tak makan sama sekali.
April melihat sahabatnya yang terduduk lemas. Kasihan Venus ..
April
menyentuh bahu Venus. “ Ve,, aku yakin Dylan tahu mengapa kamu berbohong
padanya. Aku kenal dia Ve, dan aku tahu dia enggak bakal ngebiarin kamu tersiksa
kaya gini. Trust me! “ April mengangguk yakin.
“
Tapi,, aku udah bohongin dia bertahun-tahun Ril.. “ Air mata Venus terus mengalir. Hatinya tersayat jika ia mengingat hal
ini. Ia bisa
merasakan bagaimana sakitnya dibohongi oleh orang yang kau sayangi selama
bertahun-tahun. Itu pasti menyakitkan,
dan ia yakin Dylan pasti berat mengetahui kenyataan ini.
“ Aku tahu.. Tapi setiap kebohongan selalu ada alasannya.. Inget Ve, semua
manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya “
Kata-kata April seperti lilin yang memancarkan cahaya dalam kegelapan,
kegelapan yang telah menghinggapinya
selama ini.
Mendengar kata-kata sahabatnya itu, sebuah senyuman tersungging dibibir Venus. Wajahnya menggoreskan sebuah
harapan, harapan untuk mendapatkan kesempatan kedua.
“
Kamu bener Ril .. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, dan aku akan
berusaha untuk mendapatkannya. Thanks Ril.. “ Venus memeluk April bahagia.
{
“
Halo.. “ Jawab seorang wanita dari seberang
“ Halo.. Tante, Dylan ada? “ Tanya Venus sesaat setelah ia keluar dari mobil ferrari milik Mr. M.
“ Kalau enggak salah, tadi dia bilang mau ke museum Louvre. Emang kenapa
nanyain Dylan? Kangen ya? “
Venus tersenyum malu.
“ Iya.. hehe “ Jawab Venus cengengesan.
“ Udah dulu ya tan, Venus juga sekarang lagi ada kerjaan gitu. See you tan
“
“ Oke, see you honey “
Venus menyimpan kembali handphone putihnya ke dalam tas.
“ Gimana? “ Tanya April setelah dari tadi ia memperhatikan sahabatnya itu
menelepon.
“ Ada disini juga katanya “ Jawab Venus santai.
“ Wah, bagus dong. Kalian berdua emang jodoh kayanya ya? Ve, ini kesempatan
kamu buat ngobrol sama dia “
April dan Venus melangkah menuju museum Louvre dimana didepannya terdapat
piramida kaca. Menurut Venus salah satu alasan museum Louvre begitu menarik
adalah karena piramida kacanya, apalagi jika dilihat pada saat senja kemegahan
dan keindahannya sangat jelas sekali terlihat.
Venus
dan April terperangah saat mereka memasuki museum tersebut. Belum selesai
mereka terkagum-kagum dengan keindahan piramida kaca, mereka sudah disuguhkan
kembali dengan sesuatu yang tak bisa digambarkan
dengan kata-kata. Dari luar mungkin museum ini terlihat sangat klasik, namun
berbeda halnya dengan bagian dalam. Bagian dalam museum tersebut sangat terawat
dan sangat indah, dipadukan dengan sesuatu yang modern membuat museum ini
menjadi museum yang sangat menarik.
Didalam museum ini, terdapat dua buah piramida kaca yang saling berhadapan.
Satu berada dibawah, ukurannya kecil mungkin kira-kira tingginya 1,5 M dan
piramida yang satunya lagi berada diatas yang menghadap ke bawah ukurannya
sangat besar. Sungguh indah dan mengagumkan.
Di museum ini terdapat berbagai koleksi dari bekas kerajaan berupa lukisan
dan patung, diperkaya juga dengan pembelian dan hadiah termasuk penemuan
arkeologi. Koleksi yang paling dikenal dari museum ini adalah lukisan Mona Lisa
karya Leonardo Da Vinci. Disana juga terdapat barang antik dari Mesir, Romawi
dan Yunani. Ada juga patung-patung dari abad pertengahan ke zaman modern.
Furnitur, benda-benda seni dan lukisan yang mewakili semua sekolah-sekolah di
Eropa juga menghiasi museum ini.
“ Ve,,, Ve,,, “ April menepuk-nepuk punggung Venus dengan keras.
“ Errrghh. Apaan sih? “ Venus geram. Ia sedang memperhatikan patung yang
berasal dari Sumeria. April tahu, sahabatnya itu paling benci jika ia diganggu
ketika sedang mengamati warisan dunia.
“ Liat dulu deh, itu bukannya Dylan ya? “ Tanya April memastikan.
“ Hah? Mana? “ Tanya Venus celingak-celinguk. Hanya Dylan yang bisa membuat
perhatian Venus dari kesukaannya itu teralihkan.
“ Yeehh. Dasar. Tadi aja marah. Kalau soal Dylan aja, enggak ada matinya.
Huh! “
“ Hehe. Ya abis gimana. Dua-duanya cinta. Eh, mana Dylan? “ Tanya Venus
masih mencari-cari sosok yang sangat ia rindukan. Entah mengapa, hari itu
pengunjung museum terasa sangat banyak.
“ Tuh!! “ April memutar wajah Venus dengan cepat.
Dylan sama siapa ya??? Venus memincingkan matanya. Terlihat ia sedang berjalan dengan seorang
wanita berambut ikal. Mungkin rekan
kerjanya..
“ Samperin dongg... “ April menyenggol tubuh Venus.
Venus tersenyum kecut, ia melihat ke arah Dylan kemudian kembali melihat
April.
“ Anterin yu? “
“ Hah?? Enggak salah denger? Tumben banget mau ketemu Dylan dianterin
segala, biasanya juga langsung ngacir “
Entahlah Ril, aku
juga tak tahu.. Tiba-tiba hati ini merasa jadi sangat tak percaya diri..
“ Ya udah, ayoooo “ April menarik tangan Venus. April berjalan dengan
cepat. Ia tak ingin Dylan pergi lagi.
“ Jalannya pelan-pelan kenapa? “ Protes Venus.
“ Ntar dia keburu ngilang gimana? Dylaaan! “ Teriak April. Venus mencubit
tangan April dengan cepat. Nih anak, bisa
enggak sih enggak bikin sensasi?
Venus memperhatikan Dylan kembali. Lelaki itu terus berjalan hingga
mencapai pintu keluar, sepertinya ia tak mendengar suara April.
“ DYLAAAAN!!! “ Teriak April lagi, kali ini lebih keras. Akhirnya lelaki
yang sedari tadi dikejar oleh April dan Venus membalikkan badannya. Seulas
senyum terukir dibibirnya.
“ Dipanggil dari tadi juga, malah teruus aja jalan “ Terlihat April sedikit
kesal.
“ Sorry “ Dylan memperlihatkan wajah tanpa dosa.
“ Btw, cewek tadi siapa? “ April mendekatkan wajahnya pada Dylan.
“ Enggak penting itu siapa. Ngomong-ngomong, ada apa kamu manggil aku
sambil teriak-teriak segala? Pasti ada yang mau diomongin khan? “ Dylan
mengajak mereka duduk di kursi kayu yang berada tak jauh dari mereka.
“ Ve, katanya ada yang mau diomongin? Nih orangnya udah ada didepan mata “
Ucap April cuek. Ia sama sekali tak bisa menyadari kegelisahan Venus.
Heh? Venus tersenyum kecut. Nih anak enggak respon banget sih, orang aku
lagi bingung juga.. aduuhhh
“ Hah? ngomong? Emang aku mau ngomong apa Ril? “ Venus pura-pura tak
mengingatnya.
“ Lah bukannya kamu mau ngomong kalau kamu.. “ Venus dengan segera mendekap
mulut April. Ia belum siap jika harus membicarakannya sekarang.
“ iiiihhhhh “ Dengan cepat Venus melepas tangannya dari mulut April.
“ Jorok banget sih “ Ucap Venus sambil melap tangannya yang basah dengan
tissue karena air liur sahabatnya itu.
“ Abis kamu nutup mulut aku segala, emangnya enggak sakit apa? “
“ Ya, maaf.. Hehehe “
“ Haloo, kalian mau ngomong apa sih? Kalau enggak ada yang penting, lebih
baik aku pergi “ Dylan beranjak dari tempat duduknya, kemudian melangkah pergi.
Ia pergi meninggalkan dua orang yang masih tercengang tak percaya dengan sikap
yang baru saja ia tunjukan.
Mereka berdua saling berpandangan. Bingung dan tak percaya. Keduanya
mengangkat bahu bersamaan.
{
Malamnya setelah mereka berdua kembali dari museum Louvre, entah ada angin
apa tiba-tiba saja Dylan mengirim sms pada Venus.
Ve, aku mau ngajak kamu
ke suatu tempat..
Aku tunggu
dibawah..
# Dylan #
Sebuah senyuman tersirat di bibir Venus saat ia membaca sms dari Dylan.
Rasanya dunia kembali berpihak padanya. Meskipun ia belum tahu apa yang akan terjadi, tapi setidaknya ia sudah maju satu langkah. Dylan ingin bertemu
dengannya, sesuatu yang sama sekali tak terduga.
Oke. Tunggu bentar
ya..
# Venus #
Dengan segera ia berganti baju, ia tak ingin membuat Dylan menunggu lama.
Venus memilih memakai blouse dan high heels merah, rambutnya ia biarkan terurai. Venus membuka pintu kemudian melangkah dengan hati berbunga-bunga.
Sepanjang jalan senyuman Venus terus mengembang dibibir manisnya.
Sesampainya di lobi, kedua matanya terus mencari-cari orang yang sangat ia
rindukan. Saat matanya menangkap sosok tersebut, ia melambaikan tangannya
kemudian tersenyum. Dylan membalas dengan senyuman.
Venus menghampiri Dylan yang sedang duduk di ruang tunggu, hampir saja ia ingin
bercipika-cipiki dengan lelaki tersebut namun Dylan langsung berdiri kemudian
melangkahkan kakinya keluar hotel.
Venus
tersenyum kecut. Gondok gue … Ia
segera melangkahkan kakinya dengan hati dongkol, kemudian masuk ke dalam mobil. Sampai
hari ini ia masih tak bisa
mengerti dan memahami sikap dan sifat Dylan.
Terkadang ia bisa sangat baik dan manis, terkadang ia juga bisa sangat jahat
dan menyebalkan, terkadang ia bisa sangat marah namun sesaat kemudian berubah
menjadi sangat romantis.
Dylan menstarter mobilnya. Lagu I miss You like crazy milik The Moffatts mengalun. Lagu itu benar-benar mewakili perasaan Venus. Ia sangat
merindukan lelaki yang sekarang berada tepat disampingnya. Tapi ia sama sekali
tak bisa mengungkapkan perasaannya tersebut. Hubungannya dengan Dylan sekarang ini benar-benar rumit dan sulit dipahami. Seperti benang kusut yang tak bisa dikembalikan seperti semula. Venus
menengok ke arah Dylan.
“ Dy.. Hmm, soal yang kemarin aku minta maaf. Aku tahu, aku salah. Aku
melakukan itu semua karena,,, “
Belum selesai Venus berbicara, Dylan menyelanya.
“ Sudahlah. Aku tak ingin membahas hal itu lagi “
“ Oke... Maaf “ Tergurat kekecewan di wajah Venus. Ia mengalihkan
pandangannya ke luar jendela. Sepertinya
Dylan masih marah padaku ..
Tak lama kemudian mobil Dylan berhenti. Saat Venus keluar, betapa takjubnya
ia melihat menara Eiffel di malam hari dari dekat. Cahaya keemasannya menyoroti besi-besi bangunan tersebut
dengan cara yang tidak dapat terjawab
di siang hari. Indah sekali.
“ Ayo Ve “ Dylan mengulurkan tangannya.
“ Emangnya kita mau kemana? “
“ Ikut aja “ Venus mengangguk, kemudian menyambut tangan Dylan.
Dylan melangkah mendekati menara Eiffel, kemudian ia mengajak Venus untuk masuk
ke dalam lift. Terlihat Venus sedikit ragu. Tapi saat Venus menatap Dylan,
entah racun apa yang ia berikan dengan mantap dan tanpa keraguan sedikit pun,
ia ikut naik lift tersebut.
Jantung Venus berdegup kencang. Sebenarnya ia takut dan tak tahan jika
harus naik lift. Tapi selama didalam lift, Dylan terus menggenggam tangannya. Entah
mengapa ia selalu merasa aman jika berada didekat Dylan.
“ Jules Verne Restoran??? “
Sesaat setelah mereka keluar dari lift.
“ Iya. Kenapa? Enggak suka? “ Terlihat Dylan sedikit
kecewa.
“ Bukan-bukan.. Bukan gitu.. “
“ Ya udah. Kita masuk “ Venus menelan ludah, kemudian
mengangguk.
Seorang waiter menunjukkan meja mereka, terlihat diatas
meja tersebut terdapat tulisan reserved. Venus tahu kalau rsetoran ini termasuk
restoran yang sangat mahal, dan orang yang ingin makan di restoran ini juga
harus memesan kalau tak salah dua bulan sebelum hari H. Jadi Dylan jauh-jauh hari udah mempersiapkan ini semua?? Hmmm.. Dylan..
You’re so romantic.
Meja mereka tepat berada didekat jendela. Pemandangannya
akan sangat menakjubkan, jika saja Venus bisa menikmatinya dengan santai. Semoga ini takkan lama...
“ Ve, ini buat kamu “ Dylan memberikan sepucuk mawar
putih sambil tersenyum manis.
Venus menerima mawar tersebut dengan perasaan gugup,
sudah lama sekali ia tak melihat senyum manis itu dan rasanya sekarang pun ia
masih meleleh jika melihat senyuman itu.
“ Makasih “
“ Gimana, pemandangannya bagus kan? Kamu suka dengan ini semua? “
Venus sama sekali tak berani melihat keluar jendela.
“ Iya, aku suka “ Venus merasakan kepalanya mulai sedikit pusing.
Tak lama kemudian, seorang waiter membawakan mix salad sebagai hidangan
pembuka. Ya Allah.. Sepertinya ini akan
butuh waktu lama.. Kuatkan aku..
Selesai memakan salad, waiter
tersebut menghidangkan sup bawang kental dengan potongan keju dan roti
panggang. Venus pernah merasakan sup ini, dan menurutnya sup ini membuat
kepalanya pusing. Ia tak suka dengan sup ini, ingin sekali ia menolak untuk
memakannya tapi ia tak ingin membuat Dylan kecewa lagi. Apalagi ia sudah
menyiapkan ini semua jauh-jauh hari.
Sesuai dengan dugaannya, baru beberapa sendok ia memakan sup tersebut
kepalanya mulai pusing. Ditambah lagi dengan tempat restoran yang berada entah diketinggian
berapa. Ia sudah tak bisa berpikir lagi, kepalanya terasa pening sekali.
Lagi-lagi ia mencoba menahannya.
Waiter itu kemudian mengganti hidangan dengan dua buah steak, entah apa
nama makanan tersebut.
“ Ve, aku mau ngomong sesuatu “
Venus hanya mengangguk.
“ Kamu kenal Mr. M? “
“ I,ya... “ Venus mengerjapkan matanya, mencoba mengusir pening yang
menghinggapi kepalanya.
“ Kenapa,,, emang? “ Tanya Venus. Kalimat yang keluar dari mulutnya mulai
tersendat.
Venus sudah tak bisa menahannya lagi. “ Dy,, bisa pergi,,, dari sini,,
pening “
Terlihat wajah Venus memang pucat. Dylan terlihat begitu khawatir, kemudian ia mengangguk dan keduanya
berdiri. Saat Venus membalikkan badan dan melihat lift terbuka, kepalanya
semakin terasa pening. Pandangan matanya mulai kabur, tubuhnya oleng.
Bruuukkkk ..
Ia pingsan dan jatuh ke lantai.
“ Venus!! “ Dylan menghampiri Venus. Ia panik setengah mati. Wanita yang
sampai saat ini masih ada dihatinya tiba-tiba pingsan, ia takut jika terjadi
apa-apa padanya. Benar saja, dahi sebelah kiri Venus berdarah. Sepertinya
terkena sesuatu.
Orang-orang yang berada didekatnya menghampiri keduanya. Ada yang mencoba
menolong, ada juga yang hanya melihat saja.
Setelah lukanya diobati, Dylan mengangkat tubuh wanita yang dicintainya dengan
perasaan sedih. Ia tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Venus. Apa yang terjadi selama lima tahun ini?
Dylan memasukkan Venus ke dalam mobil dengan hati-hati. Ia menstarter
mobilnya, kemudian menancap gas dengan kencang menuju hotel. Tadi ia sudah
menelepon April.
Tak lama kemudian, ia sudah sampai didepan hotel. Dylan mengeluarkan Venus,
lalu menggendongnya sampai ke kamar.
“ Oh My God!! What happen? “ Teriak April panik.
“ Aku juga enggak tahu. Kita lagi makan malam, tiba-tiba dia minta pergi.
Eh, pas berdiri dia langsung pingsan “
“ Ya udah, kamu keluar dulu bentar. Aku mau ganti baju dia dulu “ Dylan
mengangguk.
Saat berada diluar kamar, ia benar-benar khawatir. Tidak biasanya ia
seperti itu. Venus yang ia kenal adalah wanita yang kuat. Dylan terus
mondar-mandir didepan kamar Venus.
Kriieekkkk ..
“ Udah. Yuk masuk “
“ Sebenernya dia kenapa sih? Aku enggak ngerti kenapa dia tiba-tiba pingsan
“
“ Emang kalian pergi kemana sih? “
“ Kita dinner di Jules Verne Restoran “
“ Ah, kamu gila?! “ April tersenyum tak percaya.
“ Emang kamu lupa kalau Venus phobia ketinggian? “ Lanjut
April.
Dylan menepuk jidatnya. Ia baru menyadari kebodohan yang
telah ia lakukan. Dari kecil Venus memang phobia ketinggan dan juga takut naik
lift namun anehnya ia tak takut jika harus naik pesawat. Ia phobia jika ia berada ditempat yang tinggi. Saat kecil disebuah mall ia pernah hampir jatuh dari lantai 5. Saat
sma juga ia sempat terjebak selama berjam-jam di lift sendirian.
“ Terus emang tadi dia makan apa aja? “
“ Dia baru makan salad, sama sup bawang “
“ Ya ampun.. Venus enggak suka sama masakan perancis yang
satu ini. Kata dia sup bawang bikin kepalanya pusing “
Dylan tercengang tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Ia kemudian melihat Venus yang terbaling lemas tak berdaya. Ve, kamu sampai segitunya.. Padahal kamu
takut naik
lift,
takut ketinggian, enggak suka sup bawang, tapi kamu malah bela-belain ngelakuin
itu semua demi aku.. kamu,, kamu bodoh Ve..
Air matanya menetes.
{
“
Hmmmm “
Lenguhan
pelan yang keluar dari mulut Venus membuat Dylan tersadar dari lamunannya.
Akhirnya setelah kejadian di Restoran itu, keesokan harinya Venus baru sadar.
“
Ve, are you ok? “
Venus
memegang pelipisnya yang masih terasa sakit.
Kepalanya pun masih terasa sangat pening. Ia mencoba untuk bangun, namun
tubuhnya tak mempunyai kekuatan sama sekali.
“ Kamu jangan bangun dulu Ve. Lebih baik kamu tiduran aja “
“ Aku dimana? “ Venus memperhatikan sekeliling. Ia lupa kalau kamar itu
adalah kamarnya.
“ Kamu di hotel “
Venus mengerutkan alisnya. Ia heran mengapa ia ada di hotel. Seingatnya
tadi malam ia sedang makan malam dengan Dylan namun tiba-tiba kepalanya terasa
sangat pening dan semuanya menjadi gelap. Saat ia tersadar, ia berada di kamar
hotel berdua dengan Dylan. Kenapa aku
bisa ada disini berdua dengan Dylan? Apa tadi malam terjadi sesuatu? Apa Dylan
melakukan hal yang...
Venus mengangkat selimut yang menyelimuti tubuhnya. Benar saja, pakaiannya
sudah berganti dengan baju piyama.
“ Dy,,, ka,, kamu ngelakuin apa tadi malem? “
Dylan mengerutkan kedua alisnya.
“ Jadi kamu udah ngeliat semuanya? “ Venus menarik selimutnya, mencoba
untuk menutupi seluruh tubuhnya.
“ Ohhh ituuuuu.. Enggak ko, yang gantiin baju kamu April bukan aku “
Mendengar penjelasan Dylan, Venus menghela nafas lega.
“ Atau kamu mau aku yang gantiin baju kamu? “
Venus terhenyak kaget, tiba-tiba panas dari telinga menjalar ke pipinya.
“ Ihh, kamu apaan sih?! Ngaco aja. Kita kan bukan muhrim, enggak boleh
buka-bukaan..”
“ Mangkanya kamu nikah sama aku. Biar aku bisa buka dan gantiin baju kamu “
Hah? Pipinya terasa semakin panas. Kali ini wajahnya pasti merah. Venus
tersenyum kecut. Ia pasti tadi salah dengar.
“ Emang ini dimana sih? “ Tanya Venus mengalihkan pembicaraan. Jantungnya masih
berdebar kencang.
“ Di kamar kamu lah. Masa aku bawa perempuan yang bukan muhrim ke kamar aku
“
Dylan duduk disamping Venus, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Venus
hingga jarak mereka hanya beberapa senti. Venus menelan ludah, ia mencoba untuk
memundurkan wajahnya namun terhalang oleh dipan.
Dylan tersenyum manis.
Deg ! Venus benci jika Dylan sudah melakukan hal itu, melakukan hal-hal
yang bisa membuat Venus tak berdaya, tak berkutik dan membuatnya salah tingkah.
Dylan mendekatkan mulutnya pada telinga Venus, kemudian berbisik
“ Aku hanya akan membawa perempuan ke dalam kamarku, jika ia sudah sah
menjadi istriku “
Dylan berdiri dan kembali tersenyum, kali ini senyum dengan penuh arti.
Venus masih terdiam mematung. Jantungnya berdendang sangat kencang, rasanya
ingin sekali ia menyembunyikan dirinya dibawah selimut.
“ Aku pamit dulu ya? Bentar lagi juga April dateng. Oiya, forgive me about
last night“
Venus mengangguk cepat. Dylan tersenyum kemudian melangkahkan kakinya
keluar. Venus menghela nafas lega. Ia memegang dadanya, nafasnya
terengah-engah. Dasar!! Seneng banget tuh
orang liat orang lain kesiksa?! Nyebeliiinnnn!!!
Venus melemparkan bantal ke arah pintu.
Duukk ...
Bantal itu tepat mendarat di wajah April.
“ Ooops “
Terlihat April agak kesal. Venus hanya tersenyum.
“ Udah sadar? “ Venus mengangguk.
“ Sorry Ril, enggak sengaja. Abis aku kesel banget sama orang yang baru aja
keluar dari pintu itu. Bikin aku enggak bisa berkutik sama sekali. Aku sebel
banget sama dia “
“ Oh. Sebel juga tapi cinta kan? “
“ Darimana kamu tahu kalau yang aku maksud itu Dylan?“
“ Ih, aku enggak sebut nama ya. Kamu yang mengakui sendiri kalau kamu emang
cinta Dylan “
“ Udahlah. Aku emang cinta Dylan, sangat cinta bahkan. Aku enggak bisa dan
enggak mau kehilangan dia lagi. Aku pengen hidup sama dia selamanya. Aku pengen
selalu ada disamping dia “
“ Iya aku ngerti. Enggak usah kamu bilang, aku udah tahu“
“ Oiya, lupain dulu soal Dylan bentar. Kamu udah baikan kan? Gimana kalau
hari ini kita jalan-jalan? Kebetulan ternyata hari ini kita libur.. “
“ Really? Good news. Iya aku udah baikan ko. Kalau gitu aku siap-siap dulu
“
Venus beranjak dari tempat tidurnya, kemudian
melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia memang butuh istirahat dari rutinitasnya, ia ingin menghirup udara kota Paris dengan
bebas. Ia ingin beristirahat sejenak dari masalah-masalah yang ada di hidupnya.
Tak lama kemudian, Venus keluar dari kamar mandi. Ia memakai celana jins
dengan tank top abu dan cardigan cokelat.
Rambutnya ia biarkan terurai.
“ Ayo, berangkat “ Venus mengambil sepatu boat cokelatnya. Dengan cepat ia memakai
sepatu tersebut kemudian melangkah keluar kamar.
“ Ril, emang kita mau kemana? “
“ Kemana aja, sambil ngisi waktu “
Venus hanya mengangguk. Ia mengikuti April dari belakang. Mereka meminjam
mobil Ferrari milik Mr.M.
“ Kita sebenarnya mau kemana Ril? “ Tanya Venus setelah ia menyadari mereka
hanya berputar-putar.
“
Hehehe. Sebenernya aku juga engga tahu mau kemana“
Hah
?
“
Ya udah parkir disini aja. Kita makan di resto itu “ Venus menunjuk salah satu restoran Jepang.
“ Ya udah, boleh-boleh. Udah lama juga kita enggak makan masakan Jepang “
April membelokkan mobilnya kemudian memarkirkannya.
Keduanya keluar dari mobil, kemudian berjalan
memasuki restoran Jepang yang ukurannya tak terlalu besar. Mereka memilih
tempat duduk yang berada didekat jendela.
Seorang waiter menghampiri keduanya.
“ Iam order sushi, beef ramen, and two green tea “
“ Oke. Please wait a minute “
Tak lama kemudian pesanan keduanya datang.
“ Cepet banget, perasaan baru aja pesen udah datang lagi “ Ucap April tak
percaya.
“ Ya bagus dong, berarti servisnya emang memuaskan. Ya udah cepetan makan
ramennya “
“ Iya. Iya “
“ Dari tadi malem Dylan nungguin aku? “ Tanya Venus sambil mengoleskan
sedikit wasabi ke sushi salmonnya.
“ Iya. Dia keliatan cemas banget tau
“
Mendengar
hal itu Venus hanya tersenyum.
“
Kenapa kamu engga bilang atau nolak aja ajakan dia?“ Tanya April menyeruput
ramennya.
“ Enggak bisa. Aku enggak mau bikin dia kecewa. Dia udah nyiapin semuanya
jauh-jauh hari dan aku enggak mau bikin dia kecewa atau sedih “ Kali ini
wajahnya terlihat serius.
“ Ya aku ngerti “
“ Oiya, aku belum sempet cerita ke kamu. You know what? Orion love me “
“ Hah??! Darimana kamu tahu? Ngarang niih “ Tanya April tak percaya.
“ Beneran. Dia bilang sendiri sama aku. Kamu inget yang pas kita lagi makan
di resto hotel? Disana dia bilang kalau dia cinta sama aku. Dia bilang mau nunggu aku
sampai aku siap buat ngejawab “
“ Terus? “
Venus mengangkat kedua bahunya, kemudian menghela nafas.
“ Aku enggak tahu Ril harus jawab apa, kamu tahu sendiri siapa yang ada
dihatiku sekarang. Aku enggak mau ngelakuin kesalahan yang sama lagi. Itu
bener-bener bikin hati aku sakit “
“ Ya udah, kalau emang waktunya tepat dan kamu juga udah yakin sama
keputusan kamu baru kamu kasih jawaban ke Orion. Toh kenyataannya, hubungan
kamu sama Dylan juga masih ngegantung kan? Hubungan kalian berdua tuh sulit
dipahami. Jadi pikirin baik-baik. Orion itu orang yang langka, baik, perhatian,
setia, menghargai dan menghormati wanita “
“ Ya aku tahu. Kalau dihatiku tak ada siapa-siapa, aku akan langsung menerima
dia. Mungkin dengannya, aku bisa bahagia dan tak banyak terluka “
“ Nyindir someone? “
Venus tersenyum kecut.
“ Eh, udah yu? Kamu yang bayar ya? “ Venus melangkah pergi.
Heh ?
“ Ve, tungguuuu dooong!! “ April mempercepat langkahnya.
“ Enggak tahu terima kasih banget sih, udah makan dibayarin pake ninggalin
segala lagi. Dasar! ”
“ Jangan marah gitu dong,, makasih ya sayang udah dibayarin, maaf kalau
jalannya duluan “
April memalingkan mukanya. Terlihat ia sedikit kesal. Aduh nih anak enggak bisa becanda dikit apa ya?
“ Ih, jangan gitu dong. Aku kan cuma becanda, senyum dong. Mau aku beliin
lolipop?“ Tanya Venus sambil terus menggoda April. Venus berjalan mundur,
mencoba untuk menghibur temannya yang sedang kesal.
“ Emangnya aku anak kecil apa? “
“ Siapa yang bilang kamu anak kecil? Enggak ada kan? “ Venus tersenyum
jail, sambil terus menggoda April. Ia terus memperhatikan wajah April tanpa
memperhatikan kemana ia berjalan.
Alhasil,
Buuuk ...
“ Aduuh.. “
Venus terjatuh karena tertabrak seseorang. Venus memegang pinggulnya yang
terasa sakit.
“ Oh my God. I’m so sorry. I’m not looking you hover me“ Orang tersebut
mengulurkan tangannya, mencoba membantu Venus untuk berdiri.
“ Thanks “ Ucap Venus. Ia tak memperhatikan orang didepannya, ia menepuk-nepuk
bajunya yang sedikit kotor.
“ Kamu enggak apa-apa? Mangkanya jangan jail “
“ Enggak apa-apa ko “
Venus mengangkat wajahnya. Betapa kagetnya ia, ketika ia melihat wajah
seseorang yang telah menabraknya. Seseorang yang sudah tak asing lagi.
“ Paleri?? “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar