Minggu, 07 Juni 2015

B'Coz I'm Stupid part 4



PERPISAHAN
Dua tahun berlalu sejak kepergian Rafa ke Paris. Namun bagi Venus rasanya seperti beribu-ribu tahun Rafa pergi meninggalkannya. Bulan-bulan pertama sejak kepergian Rafa, keadaan Venus cukup membuat April kelabakan. Masalahnya hampir setiap hari Venus selalu saja bercerita semua hal tentang Rafa sambil menangis bombay tentunya. Itu semua terkadang membuat April bingung sekaligus sedih. Ia tak bisa berbuat apa-apa sementara sahabatnya terus saja bersedih dengan kepergian sahabat karibnya itu. April bahkan pernah protes karena Venus bercerita tentang Rafa melulu, tapi setelah itu ia tak pernah protes lagi.
Keadaan itu terus berlanjut hampir dua bulan lebih, namun setelah kegiatan perkuliahan dimulai kesedihannya tentang kepergian Rafa mulai berkurang sedikit demi sedikit, apalagi Venus mempunyai Dylan yang selalu berada disampingnya dan selalu membuatnya tersenyum.
“ APRILLIYA DWI HARYANTO! “ Teriak seseorang dengan nada kesal. Suaranya menggema ke sudut-sudut kelas.
April terhenyak, kaget setengah mati. “ Saya Pak! “ Jawab April sambil mengangkat tangannya. Semua orang yang melihat reaksi April langsung tertawa terbahak-bahak, Venus hanya terkikik dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.
“ Kamu mau belajar atau melamun sih? “ Tanya Pak Hendry jutek.
April menelan ludah. Rasanya ia ingin menghilang saat itu juga. Pak Hendry termasuk salah satu dosen yang killer, jika ada salah satu mahasiswa atau mahasiswinya yang tak memperhatikannya mengajar pasti disikat sampai habis. Apesnya hari ini adalah giliran April untuk merasakannya.
“ April. Ke depan kamu! “ Ucap pak Hendry marah. April menengok ke arah Venus dengan muka memelas. Ia berjalan dengan lemas, berharap jam mata kuliah pak Hendry  usai. Namun semuanya sia-sia sampai tiba-tiba jari-jari pak Hendry menjewer telinga April yang putih.
“ Aduh pak, jangan gitu dong. Sakit pa, kasihan telinga saya nanti bisa copot “ Ucap April memelas.
Tak lama kemudian jari-jari kekar itu melepaskan genggamannya, terlihat telinga April sedikit memerah. Venus hanya tersenyum melihat sahabatnya “ dikerjai ” pak Hendry.
“ Sebagai hukuman, kamu harus menggambar sketsa bangunan ini tiga puluh kali, rabu pagi harus dikumpulkan! dan TIDAK ADA PROTES!! “
Baru saja April membuka mulutnya, tapi kata-kata terakhir pak Hendry membuat April mengatupkannya kembali. Pundak April tiba-tiba merosot mendengar hukuman yang diberikan pak Hendry barusan.
April berjalan lemas ke kursinya.
“ Sabar.. “ Ucap Venus berbisik. April cemberut mendengar kata-kata Venus.
Begitulah hari-hari yang mereka lalui, hari-hari yang setidaknya bisa membuat Venus melupakan kesedihannya tentang Rafa. Hari-hari yang akan membuat mereka menjadi seseorang yang lebih dewasa dalam menyikapi segala sesuatunya.
 {
Keesokan harinya. Saat Venus mengunjungi April dikediamannya yang berjarak tak terlalu jauh dari rumah Venus, saat itu kondisi April cukup memprihatinkan. Terlihat kalau ia kurang tidur, wajahnya kusut, dan terlihat sangat lelah sekali.
“ Muka kamu ko kusut banget Ril? “ Tanya Venus prihatin.
“ Gimana enggak kusut, pak Hendry terlalu deh. Aku ngerjain ini semaleman, baru mau terbang ke alam mimpi aja ke bangun lagi gara-gara tugas nyebelin ini “ Jawab April kesal.
Venus terkikik mendengar jawaban sahabatnya itu. Venus merasa pak Hendry memang selalu keterlaluan jika ia memberikan hukuman pada muridnya. Pernah dulu, Arga – ketua angkatan di kelasnya yang jika dilihat sekilas mirip Leonardo Dicaprio – dihukum mengelilingi kampus dengan tulisan “ Saya tidak akan pernah melamun di kelas lagi. Jika saya melamun lagi semua orang bisa melempari saya dengan telur “, namun hukuman Arga ternyata belum selesai, setelah itu ia disuruh membuat sketsa bangunan jaman dulu sebanyak dua puluh kali dan masih banyak lagi hukuman-hukuman yang tak kalah menyiksa daripada itu.
“ Sebel! Cuma ngelamun bentar aja, hukumannya seabreg gini. Kapok ah, enggak akan ngelamun lagi pas pelajaran pak Hendry “ Ucap April, tangannya masih menggambar sketsa sebuah bangunan.
“ Itu hikmahnya.. Kamu dihukum sama pak Hendry biar kamu enggak mengulanginya lagi. Biar kamu selalu merhatiin pelajarannya, ya meskipun aku akui hukumannya emang agak keterlaluan sih.. “ Ucap Venus menasehati tanpa menggurui.
“ Emang udah dapet berapa gambar? “
“ Sembilan belas.. “ Jawab April lemas.
“ Ya udah biar aku bantuin sini “ Ucap Venus menawarkan. Ia tak tega melihat sahabatnya kelelahan seperti itu. Dalam hal menggambar, Venus memang ahlinya. Namun dalam hal bisnis, hitung menghitung April jagonya.
“ Seriusan? Demi apa? “ Tanya April berbunga-bunga.
“ Iya, jadi kamu bisa istirahat “
Terlihat senyum April merekah dibibirnya. Ia langsung memeluk Venus dan mencium pipinya. “ Thanks you so much my best Friend.. “
“ Iya, iya.. udah dong kalau kamu terus meluk aku kaya gini, kapan aku ngerjainnya?“
April nyengir. “ Ya udah aku ambil minum dulu ke belakang ya? “
Venus mengangguk. Ia memperhatikan sahabatnya yang menari-nari senang ke arah dapur. Venus hanya menggeleng-geleng melihat tingkah sahabatnya yang kegirangan.
April membawakan dua buah gelas dan sebotol cola. Terlihat Venus sudah mulai menggambar.
“ Kamu enggak istiraht aja Ril? “ Tanya Venus tanpa mengalihkan pandangan.
“ Ntar aja. Enggak enak sama kamu, masa baru dateng aku langsung tidur. Eng-gak so-pan na-ma-nya “ Jawab April sambil mengeja kata-kata terakhirnya.
Venus mengangkat bahunya. “ Ya udah terserah. Hmmm, Ril kamu tahu enggak Irish pindah jurusan ke manajemen? “ tanya Venus masih menggambar.
“ Serius? Kata siapa? “ Tanya April tak percaya. Ia memang tahu kalau Irish kuliah di kampus yang sama dengan mereka, ia kuliah di jurusan Ekonomi kalau tak salah. Namun ia baru tahu kalau ternyata Irish pindah jurusan ke manajemen, jurusan yang sama dengan Dylan dan mungkin ia bisa saja sekelas dengan kekasih sahabatnya itu.
“ Kata Dylan “ Jawab Venus singkat. Tak ada sedikit pun perasaan sedih yang terbersit dari jawabannya.
“ Kamu enggak apa-apa? “
Venus menengok lalu mengerutkan alis. “ Apa-apa? emangnya kenapa? Aku percaya ko sama Dylan. Dia enggak mungkin nyakitin aku “ Jawab Venus tenang.
April hanya mengangkat bahunya ketika mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Entah mengapa ia tak yakin dengan Irish. Wanita yang dikabarkan suka menggoda para lelaki dan mempunyai banyak kekasih itu, sekarang kuliah di jurusan yang sama dengan Dylan. Ia takut Dylan terjerat cinta yang semu. Belakangan ia juga melihat, hubungan Venus dan Dylan agak renggang. Ia jarang melihat mereka jalan berdua seperti dulu. Ia memang pernah bertanya pada Venus dan Venus hanya menjawab kalau Dylan sedang sibuk dengan kuliah dan bisnis ayahnya. April takut Dylan menyakiti perasaan Venus. Ia tak bisa membayangkannya.  
 April menghela nafas. Ia menepis pikiran-pikiran aneh yang baru saja masuk ke otaknya. Ia berharap itu semua takkan pernah terjadi. Ia berbaring di sofa karena matanya semakin terasa berat. Akhirnya ia terbang ke alam mimpi.

{

“ VENUUSSSS! “ Teriak April dari belakang.
Venus menoleh.
April berlari ke arahnya. Kedua tangannya diletakkan di atas lutut dengan nafas terengah-engah. April menghela nafas, mencoba mengatur nafasnya agar lebih tenang. Lalu ia tersenyum lebar. “ Makasih banyak ya Ve.. kamu udah bantuin aku. Kemarin malam, pas aku bangun semuanya udah selesai. Aku nyari-nyari kamu tapi kata Bibi kamu udah pulang dari tadi. Aku jadi enggak enak nih. Aku traktir ice cream ya sebagai ucapan terima kasih..“ Ucap April.
Terlihat Venus berpikir. “ Boleh.. “ Ucap Venus sambil menganggukkan kepalanya.
April tersenyum lega mendengar jawaban sahabatnya. Lalu ia melingkarkan tangannya ke pundak Venus. Mereka berjalan beriringan ke arah kantin. Venus mencari tempat duduk sementara April membeli dua corneto rasa strawberry dan rasa cokelat.
“Belakangan aku jarang liat Dylan deh. Kemana sih dia?“ Tanya April sambil menyodorkan corneto rasa strawberry yang dibelikan khusus memang untuk Venus si ratu strawberry.
“ Gedung Fakultas Teknik sama Fakultas Ekonomi dan Manajemen kan lumayan jauh Ril. Ya jadi wajar aja kalau kita jarang liat dia.. “ Jawab Venus sambil menjilati ice creamnya.
“ Perasaan pas semester kemaren-kemaren dia suka dateng kesini meskipun jauh. Baru sekarang-sekarang aja dia jadi jarang nongol “ Ucap April mengingatkan.
Terlihat Venus terdiam.
Ia pikir ucapan April memang ada benarnya. Dulu Dylan memang sering datang ke fakultasnya. Apa cintanya untukku sudah hilang? Ataukah ada wanita lain dihatinya?
“ Haiii.. “ Ucap seseorang tiba-tiba, ia menepuk pundak Venus.
Venus terhenyak kaget, saking kagetnya ice cream strawberry yang dipegangnya mengenai hidungnya yang mancung.
April tertawa.
“ Aduh sorry Ve, enggak sengaja.. “ Ucap Dylan sambil membersihkan ice cream dihidung kekasihnya itu dengan tissue.
“ Hai Ril.. “ Ucap Dylan sambil cipika-cipiki pada April. April terlihat kaget. Tak biasanya Dylan bercipika-cipiki dengan wanita lain sebelum dengan kekasihnya terlebih dahulu. 
Venus menyipitkan matanya melihat kejadian barusan. Ini tuh siapa yang pacarnya sih? Dateng-dateng bukannya sun pipi pacarnya atau gimana, ini malah cipika-cipiki sama April. Dasar cowok..
“ Ve, kamu ada kuliah lagi? “ Tanya Dylan, mukanya terlihat serius.
Venus menggeleng.
“ Ril, aku pinjem Venus sebentar ya. Ada sesuatu yang mau diomongin. Penting “ Ucap Dylan masih dengan muka serius.
“ Iya boleh.. “
Dylan menarik tangan Venus. April terus memperhatikan mereka. Mereka duduk di kursi yang berada tak jauh dari kantin. Untuk beberapa lama keduanya hanya terdiam. Entah pikiran apa yang berada dipikiran masing-masing.
“ Tumben Dyie mau ngobrol serius? Biasanya kalau ada April juga kamu suka blak-blakan.. “ Ucap Venus memulai pembicaraan.
“ Aku enggak tahu mesti mulai darimana.. “ Ucap Dylan tak menjawab pertanyaan Venus. Dengan seksama ia mendengar kekasihnya itu bicara, karena ia tahu Dylan tak suka disela ketika ia berbicara.
“ Aku sayang sama kamu.. “
Venus tersenyum mendengar kata-kata Dylan barusan.
“ Tapi sayang aja enggak cukup.. Empat tahun kita sama-sama. Entah mengapa aku selalu merasa ada yang kurang..“ Lanjut Dylan. Kata-kata barusan membuat senyuman Venus hilang. Baru saja Venus membuka mulutnya, tapi Dylan memberi isyarat agar ia diam terlebih dulu.
“ Terkadang kamu terlihat cuek dan dingin, terkadang kamu juga manis dan hangat.. Aku tak tahu bagaimana sesungguhnya perasaanmu padaku.. “ Ucap Dylan. Pandangan matanya lurus ke depan, melihat rumput-rumput yang bergoyang karena tertiup oleh angin.
 Aku tahu kamu cukup bahagia berhubungan denganku. Tapi sepertinya kamu lebih terlihat bahagia bila aku tetap menjadi sahabatmu.. “ Lanjut Dylan. Jantung Venus mulai berdebar-debar lebih kencang dari biasanya.
“ Aku rasa,, kita cukup sampai disini “
Deeg ! Rasanya sebuah pisau telah ditusukkan tepat dihati Venus.
“ Aku enggak mau buat hidup kamu terkekang dengan hanya ada aku disisimu setiap saat.. “ Ucap Dylan sambil menghela nafas, berat.
“ Sampai akhirnya aku sadar, ternyata aku tak dapat membuka hatimu untuk menyimpan cintaku kepadamu “ Ucap Dylan pelan.
Venus mencerna kembali satu persatu kata-kata yang baru saja Dylan katakan. Kepalanya terlalu pening untuk mengingat kata-kata yang baru saja kekasihnya itu ucapkan.
“ Jadi, maksud kamu kita putus?? Tapi kenapa? Aku sayang sama kamu, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kamu .. “ Ucap Venus. Suaranya serak. ia mencoba menahan tangis agar terlihat tegar.
“ Please Ve! “ Ucap Dylan tiba-tiba, nada suaranya sedikit meninggi.
“ Aku sedang tak ingin mendengar pembelaan apa-apa.. Kita tetep jadi sahabat, kita masih bisa berhubungan baik kaya dulu.. “ Ucap Dylan. Tangan kanannya menarik tubuh Venus, lalu ia memeluk wanita yang sampai saat ini masih ia cintai itu.
Air mata Venus meleleh. Tapi ia segera menyekanya. Ia tak ingin terlihat rapuh di depan lelaki yang dicintainya. Venus melepas pelukan Dylan.
“ Ya udah, kalau itu memang yang terbaik buat kamu aku terima apapun keputusan kamu.. “ Ucap Venus. Ia tak berani melihat mata Dylan.
Dylan tersenyum, sedih. Lalu ia mengecup kening Venus untuk terakhir kalinya, lalu ia pergi meninggalkan Venus yang membeku tak percaya akan apa yang baru saja terjadi.
Air matanya kembali meleleh. Venus terus melihat Dylan sampai ia tak terlihat lagi.
“ VENUUSSS.. PULANG YUU “ Teriak April dari belakang. Venus segera menyeka air matanya, ia menoleh lalu tersenyum meskipun sebenarnya ia tak mampu.
Sebelum pulang ke rumah, Venus dan April sepakat untuk mampir ke taman kompleks rumah mereka. Suasana di taman tersebut cukup sepi. Hanya ada beberapa anak yang sedang bermain.
“ Ve dari tadi kamu diem aja. Kenapa sih? Kalau boleh tahu tadi Dylan ngomong apa aja? “ Ucap April memulai pembicaraan. Mereka duduk di kursi dekat ayunan.
Venus diam tak menjawab. Pandangannya kosong, pikirannya melayang entah kemana. Sinar matahari siang yang teriknya berkurang karena tertutup awan membuat wajah Venus terlihat semakin jelas. April dapat melihat kesedihan dari pancaran matanya.
Tangan April mengelus-ngelus punggung Venus dengan lembut. “ Ve.. “ Ucap April lembut.
Sejenak suasana menjadi sunyi. Lalu Venus tiba-tiba menangis.
Awalnya air mata Venus mengalir begitu saja tanpa suara. Tenggorokanya seperti tercekat hingga ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. April kaget melihat sahabatnya menangis. Sudah lama sekali sejak Rafa pergi ia tak pernah melihat Venus menangis lagi, yang bisa ia lihat hanya senyuman. Namun siang itu ia melihat sahabatnya menangis, mungkin ia rindu pada Rafa atau mungkin karena masalah lain.
Sejenak April terdiam lalu ia meraih kepala Venus dan membenamkannya ke pundaknya. “Kalau dengan nangis bisa membuat kamu tenang, nangis aja. Enggak perlu ditahan-tahan“
Tak lama kemudian April mendengar isakan tangis. April lebih memilih untuk diam, menunggu sahabatnya itu agar lebih tenang.
“ Dylan mutusin aku Ril.. “ Ucap Venus nyaris merintih.
Nafas April nyaris berhenti saat ia mendengar kata-kata Venus barusan. Hal yang ia takutkan selama ini akhirnya terjadi. Ia bisa membayangkan betapa sakitnya perasaan Venus saat ini. Empat tahun bersama-sama, terlalu banyak kenangan yang mereka lalui. Senang, sedih semuanya pasti membuat hati Venus semakin hancur.
Venus memperbaiki posisi tubuhnya. “ Dylan bilang kalau sayang aja enggak cukup.. Empat tahun kita sama-sama. Entah mengapa dia selalu merasa ada yang kurang..“ Ucap Venus. Ia menghela nafas, berat.
Secara enggak langsung aku udah nyakitin dia Ril.. Empat tahun aku nyakitin hati dia.. Empat tahun aku sama-sama dia tapi hati aku tetap mendua. Empat tahun Ril, aku tersiksa dengan semua perasaan yang berkecamuk dalam hati.. “ Ucap Venus tersedu-sedu. April hanya bisa mendengarkan sahabatnya meluapkan perasaan yang selama ini ia pendam.
“ Empat tahun aku menunggu hal yang tak pasti. Aku berharap suatu hari aku bisa sepenuh hati mencintainya. Tapi aku enggak bisa Ril, aku enggak bisa ..“
April tertegun mendengar penjelasan yang baru saja ia dengar, ia tak menyangka sahabatnya itu masih saja memendam perasaan yang membuat orang bisa menjadi gila.
  “ Aku merasa bersalah sekali padanya, sangat merasa bersalah .. Bukan dia yang enggak pantes buat aku, tapi aku yang enggak pantes buat dia .. Aku, manusia yang tak pernah bisa menghargai perasaannya. Aku enggak pantes buat dia..“ Ucap Venus pelan. Tangisnya tumpah kembali.
April memeluk sahabatnya itu, ia tahu Venus tak bisa menghadapi semua ini sendiri. Ini terlalu menyakitkan.
“ Ssshhhttt.. Kamu enggak boleh ngomong gitu.. Yang terjadi ya udah biarin aja. Kamu boleh nangis sepuas hati, udah kamu jangan ngomong apa-apa lagi. Aku aja yang dengernya bikin nyesek, apalagi kamu yang ngerasain.. Setelah ini kamu enggak boleh nangisin dia lagi ya..“ Ucap April menenangkan.
Mendengar kata-kata April, tangis Venus semakin keras. Semuanya tertumpahkan disana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar