PERPISAHAN
Dua tahun berlalu sejak
kepergian Rafa ke Paris. Namun bagi Venus rasanya seperti beribu-ribu tahun
Rafa pergi meninggalkannya. Bulan-bulan pertama sejak kepergian Rafa, keadaan Venus
cukup membuat April kelabakan. Masalahnya hampir setiap hari Venus selalu saja
bercerita semua hal tentang Rafa sambil menangis bombay tentunya. Itu semua
terkadang membuat April bingung sekaligus sedih. Ia tak bisa berbuat apa-apa
sementara sahabatnya terus saja bersedih dengan kepergian sahabat karibnya itu.
April bahkan pernah protes karena Venus bercerita tentang Rafa melulu, tapi
setelah itu ia tak pernah protes lagi.
Keadaan itu terus berlanjut
hampir dua bulan lebih, namun setelah kegiatan perkuliahan dimulai kesedihannya
tentang kepergian Rafa mulai berkurang sedikit demi sedikit, apalagi Venus
mempunyai Dylan yang selalu berada disampingnya dan selalu membuatnya tersenyum.
“ APRILLIYA DWI HARYANTO! “
Teriak seseorang dengan nada kesal. Suaranya menggema ke sudut-sudut kelas.
April terhenyak, kaget setengah
mati. “ Saya Pak! “ Jawab April sambil mengangkat tangannya. Semua orang yang
melihat reaksi April langsung tertawa terbahak-bahak, Venus hanya terkikik dan
menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.
“ Kamu mau belajar atau melamun
sih? “ Tanya Pak Hendry jutek.
April menelan ludah. Rasanya ia
ingin menghilang saat itu juga. Pak Hendry termasuk salah satu dosen yang
killer, jika ada salah satu mahasiswa atau mahasiswinya yang tak
memperhatikannya mengajar pasti disikat sampai habis. Apesnya hari ini adalah
giliran April untuk merasakannya.
“ April. Ke depan kamu! “ Ucap
pak Hendry marah. April menengok ke arah Venus dengan muka memelas. Ia berjalan
dengan lemas, berharap jam mata kuliah pak Hendry usai. Namun semuanya sia-sia sampai tiba-tiba
jari-jari pak Hendry menjewer telinga April yang putih.
“ Aduh pak, jangan gitu dong.
Sakit pa, kasihan telinga saya nanti bisa copot “ Ucap April memelas.
Tak lama kemudian jari-jari
kekar itu melepaskan genggamannya, terlihat telinga April sedikit memerah. Venus
hanya tersenyum melihat sahabatnya “ dikerjai ” pak Hendry.
“ Sebagai hukuman, kamu harus
menggambar sketsa bangunan ini tiga puluh kali, rabu pagi harus dikumpulkan! dan
TIDAK ADA PROTES!! “
Baru saja April membuka
mulutnya, tapi kata-kata terakhir pak Hendry membuat April mengatupkannya
kembali. Pundak April tiba-tiba merosot mendengar hukuman yang diberikan pak
Hendry barusan.
April berjalan lemas ke
kursinya.
“ Sabar.. “ Ucap Venus
berbisik. April cemberut mendengar kata-kata Venus.
Begitulah hari-hari yang mereka
lalui, hari-hari yang setidaknya bisa membuat Venus melupakan kesedihannya
tentang Rafa. Hari-hari yang akan membuat mereka menjadi seseorang yang lebih
dewasa dalam menyikapi segala sesuatunya.
{
Keesokan harinya. Saat Venus
mengunjungi April dikediamannya yang berjarak tak terlalu jauh dari
rumah Venus,
saat itu kondisi April cukup
memprihatinkan. Terlihat kalau ia
kurang tidur, wajahnya kusut, dan terlihat sangat lelah sekali.
“ Muka kamu ko kusut banget Ril?
“ Tanya Venus prihatin.
“ Gimana enggak kusut, pak
Hendry terlalu deh. Aku ngerjain ini semaleman, baru mau terbang ke alam mimpi
aja ke bangun lagi gara-gara tugas nyebelin ini “ Jawab April kesal.
Venus terkikik mendengar
jawaban sahabatnya itu. Venus merasa pak Hendry memang selalu keterlaluan jika
ia memberikan hukuman pada muridnya. Pernah dulu, Arga – ketua angkatan di
kelasnya yang jika dilihat sekilas mirip
Leonardo Dicaprio – dihukum
mengelilingi kampus dengan tulisan “ Saya tidak akan pernah melamun di kelas
lagi. Jika saya melamun lagi semua orang bisa melempari saya dengan telur “,
namun hukuman Arga ternyata belum selesai, setelah itu ia disuruh membuat
sketsa bangunan jaman dulu sebanyak dua puluh kali dan masih banyak lagi
hukuman-hukuman yang tak kalah menyiksa daripada itu.
“ Sebel! Cuma ngelamun bentar
aja, hukumannya seabreg gini. Kapok ah, enggak akan ngelamun lagi pas pelajaran
pak Hendry “ Ucap April, tangannya masih menggambar sketsa sebuah bangunan.
“ Itu hikmahnya.. Kamu dihukum
sama pak Hendry biar kamu enggak mengulanginya lagi. Biar kamu selalu merhatiin
pelajarannya, ya meskipun aku akui hukumannya emang agak keterlaluan sih.. “
Ucap Venus menasehati tanpa menggurui.
“ Emang udah dapet berapa
gambar? “
“ Sembilan belas.. “ Jawab
April lemas.
“ Ya udah biar aku bantuin sini
“ Ucap Venus menawarkan. Ia tak tega melihat sahabatnya kelelahan seperti itu.
Dalam hal menggambar, Venus memang ahlinya. Namun dalam hal bisnis, hitung
menghitung April jagonya.
“ Seriusan? Demi apa? “ Tanya
April berbunga-bunga.
“ Iya, jadi kamu bisa istirahat
“
Terlihat senyum April merekah
dibibirnya. Ia langsung memeluk Venus dan mencium pipinya. “ Thanks you so much
my best Friend.. “
“ Iya, iya.. udah dong kalau
kamu terus meluk aku kaya gini, kapan aku ngerjainnya?“
April nyengir. “ Ya udah aku ambil
minum dulu ke belakang ya? “
Venus mengangguk. Ia
memperhatikan sahabatnya yang menari-nari senang ke arah dapur. Venus hanya menggeleng-geleng
melihat tingkah sahabatnya yang kegirangan.
April membawakan dua buah gelas
dan sebotol cola. Terlihat Venus sudah mulai menggambar.
“ Kamu enggak istiraht aja Ril?
“ Tanya Venus tanpa mengalihkan pandangan.
“ Ntar aja. Enggak enak sama
kamu, masa baru dateng aku langsung tidur. Eng-gak so-pan na-ma-nya “ Jawab
April sambil mengeja kata-kata terakhirnya.
Venus mengangkat bahunya. “ Ya
udah terserah. Hmmm, Ril kamu tahu enggak Irish pindah jurusan ke manajemen? “
tanya Venus masih menggambar.
“ Serius? Kata siapa? “ Tanya
April tak percaya. Ia memang tahu kalau Irish kuliah di kampus yang sama dengan
mereka, ia kuliah di jurusan Ekonomi kalau tak salah. Namun ia baru tahu kalau
ternyata Irish pindah jurusan ke manajemen, jurusan yang sama dengan Dylan dan
mungkin ia bisa saja sekelas dengan kekasih sahabatnya itu.
“ Kata Dylan “ Jawab Venus
singkat. Tak ada sedikit pun perasaan sedih yang terbersit dari jawabannya.
“ Kamu enggak apa-apa? “
Venus menengok lalu mengerutkan
alis. “ Apa-apa? emangnya kenapa? Aku percaya ko sama Dylan. Dia enggak mungkin
nyakitin aku “ Jawab Venus tenang.
April hanya mengangkat bahunya
ketika mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Entah mengapa ia tak yakin dengan
Irish. Wanita yang dikabarkan suka menggoda para lelaki dan mempunyai banyak
kekasih itu, sekarang kuliah di jurusan yang sama dengan Dylan. Ia takut Dylan
terjerat cinta yang semu. Belakangan ia juga melihat, hubungan Venus dan Dylan
agak renggang. Ia jarang melihat mereka jalan berdua seperti dulu. Ia
memang pernah bertanya pada Venus dan Venus hanya menjawab kalau Dylan sedang
sibuk dengan kuliah dan bisnis ayahnya. April takut Dylan menyakiti perasaan
Venus. Ia tak bisa membayangkannya.
April menghela nafas. Ia menepis
pikiran-pikiran aneh yang baru saja masuk ke otaknya. Ia berharap itu semua
takkan pernah terjadi. Ia berbaring di sofa karena matanya semakin terasa
berat. Akhirnya ia terbang ke alam mimpi.
{
“ VENUUSSSS! “ Teriak April dari belakang.
Venus menoleh.
April berlari ke arahnya. Kedua tangannya diletakkan di atas lutut dengan nafas
terengah-engah. April menghela nafas, mencoba mengatur nafasnya agar lebih
tenang. Lalu ia tersenyum lebar. “ Makasih banyak ya Ve.. kamu udah bantuin
aku. Kemarin malam, pas aku bangun semuanya udah selesai. Aku nyari-nyari kamu
tapi kata Bibi kamu udah pulang dari tadi. Aku jadi enggak enak nih. Aku
traktir ice cream ya sebagai ucapan terima kasih..“ Ucap April.
Terlihat Venus berpikir. “
Boleh.. “ Ucap Venus sambil menganggukkan kepalanya.
April tersenyum lega mendengar
jawaban sahabatnya. Lalu ia melingkarkan tangannya ke pundak Venus. Mereka
berjalan beriringan ke arah kantin. Venus mencari tempat duduk sementara April
membeli dua corneto rasa strawberry dan rasa cokelat.
“Belakangan aku jarang liat
Dylan deh. Kemana sih dia?“ Tanya April sambil menyodorkan corneto rasa strawberry yang dibelikan khusus memang untuk
Venus si ratu strawberry.
“ Gedung Fakultas Teknik sama Fakultas Ekonomi dan Manajemen kan lumayan jauh
Ril. Ya jadi wajar aja kalau kita jarang liat dia.. “ Jawab Venus sambil
menjilati ice creamnya.
“ Perasaan pas semester
kemaren-kemaren dia suka dateng kesini meskipun jauh. Baru sekarang-sekarang
aja dia jadi jarang nongol “ Ucap April mengingatkan.
Terlihat Venus terdiam.
Ia pikir ucapan April memang
ada benarnya. Dulu Dylan memang sering datang ke fakultasnya. Apa cintanya untukku sudah hilang? Ataukah
ada wanita lain dihatinya?
“ Haiii.. “ Ucap seseorang
tiba-tiba, ia menepuk pundak Venus.
Venus terhenyak kaget, saking
kagetnya ice cream strawberry yang dipegangnya mengenai hidungnya yang mancung.
April tertawa.
“ Aduh sorry Ve, enggak sengaja..
“ Ucap Dylan sambil membersihkan ice cream dihidung kekasihnya itu dengan
tissue.
“ Hai Ril.. “ Ucap Dylan sambil
cipika-cipiki pada April. April terlihat kaget. Tak biasanya Dylan
bercipika-cipiki dengan wanita lain sebelum dengan kekasihnya terlebih
dahulu.
Venus menyipitkan matanya
melihat kejadian barusan. Ini tuh siapa
yang pacarnya sih? Dateng-dateng bukannya sun pipi pacarnya atau gimana, ini
malah cipika-cipiki sama April. Dasar cowok..
“ Ve, kamu ada kuliah lagi? “
Tanya Dylan, mukanya terlihat serius.
Venus menggeleng.
“ Ril, aku pinjem Venus
sebentar ya. Ada sesuatu yang mau diomongin. Penting “ Ucap Dylan masih dengan
muka serius.
“ Iya boleh.. “
Dylan menarik tangan Venus.
April terus memperhatikan mereka. Mereka duduk di kursi yang berada tak jauh
dari kantin. Untuk beberapa lama keduanya hanya terdiam. Entah pikiran apa yang
berada dipikiran masing-masing.
“ Tumben Dyie mau ngobrol
serius? Biasanya kalau ada April juga kamu suka blak-blakan.. “ Ucap Venus
memulai pembicaraan.
“ Aku enggak tahu mesti mulai
darimana.. “ Ucap Dylan tak menjawab pertanyaan Venus. Dengan seksama ia
mendengar kekasihnya itu bicara, karena ia tahu Dylan tak suka disela ketika ia
berbicara.
“ Aku sayang sama kamu.. “
Venus tersenyum mendengar
kata-kata Dylan barusan.
“ Tapi sayang aja enggak cukup..
Empat tahun kita sama-sama. Entah mengapa aku selalu merasa ada yang kurang..“
Lanjut Dylan. Kata-kata barusan membuat senyuman Venus hilang. Baru saja Venus membuka
mulutnya, tapi Dylan memberi isyarat agar ia diam terlebih
dulu.
“ Terkadang kamu terlihat cuek
dan dingin, terkadang kamu juga manis dan hangat.. Aku tak tahu bagaimana
sesungguhnya perasaanmu padaku.. “ Ucap Dylan. Pandangan matanya lurus ke
depan, melihat rumput-rumput yang bergoyang karena tertiup oleh angin.
“ Aku tahu kamu cukup bahagia berhubungan
denganku. Tapi sepertinya kamu lebih terlihat bahagia bila aku tetap menjadi
sahabatmu.. “ Lanjut Dylan. Jantung Venus mulai berdebar-debar lebih kencang
dari biasanya.
“ Aku rasa,, kita cukup sampai
disini “
Deeg ! Rasanya sebuah pisau telah
ditusukkan tepat dihati Venus.
“ Aku enggak mau buat hidup
kamu terkekang dengan hanya ada aku disisimu setiap saat.. “ Ucap Dylan sambil
menghela nafas, berat.
“ Sampai akhirnya aku sadar,
ternyata aku tak dapat membuka hatimu untuk menyimpan cintaku kepadamu “ Ucap
Dylan pelan.
Venus mencerna kembali satu
persatu kata-kata yang baru saja Dylan katakan. Kepalanya terlalu pening untuk
mengingat kata-kata yang baru saja kekasihnya itu ucapkan.
“ Jadi, maksud kamu kita
putus?? Tapi kenapa? Aku sayang sama kamu, aku selalu berusaha memberikan yang
terbaik buat kamu .. “ Ucap Venus. Suaranya serak. ia mencoba menahan tangis
agar terlihat tegar.
“ Please Ve! “ Ucap Dylan
tiba-tiba, nada suaranya sedikit meninggi.
“ Aku sedang tak ingin
mendengar pembelaan apa-apa.. Kita tetep jadi sahabat, kita masih bisa
berhubungan baik kaya dulu.. “ Ucap Dylan. Tangan kanannya menarik tubuh Venus,
lalu ia memeluk wanita yang sampai saat ini masih ia cintai itu.
Air mata Venus meleleh. Tapi ia
segera menyekanya. Ia tak ingin terlihat rapuh di depan lelaki yang dicintainya.
Venus melepas pelukan Dylan.
“ Ya udah, kalau itu memang
yang terbaik buat kamu aku terima apapun keputusan kamu.. “ Ucap Venus. Ia tak
berani melihat mata Dylan.
Dylan tersenyum, sedih. Lalu ia
mengecup kening Venus untuk terakhir kalinya, lalu ia pergi meninggalkan Venus
yang membeku tak percaya akan apa yang baru saja terjadi.
Air matanya kembali meleleh. Venus
terus melihat Dylan sampai ia tak terlihat lagi.
“ VENUUSSS.. PULANG YUU “
Teriak April dari belakang. Venus segera menyeka air matanya, ia menoleh lalu
tersenyum meskipun sebenarnya ia tak mampu.
Sebelum pulang ke rumah, Venus
dan April sepakat untuk mampir ke taman kompleks rumah mereka. Suasana di taman
tersebut cukup sepi. Hanya ada beberapa anak yang sedang bermain.
“ Ve dari tadi kamu diem aja.
Kenapa sih? Kalau boleh tahu tadi Dylan ngomong apa aja? “ Ucap April memulai
pembicaraan. Mereka duduk di kursi dekat ayunan.
Venus diam tak menjawab.
Pandangannya kosong, pikirannya melayang entah kemana. Sinar matahari siang
yang teriknya berkurang karena tertutup awan membuat wajah Venus terlihat
semakin jelas. April dapat melihat kesedihan dari pancaran matanya.
Tangan April mengelus-ngelus
punggung Venus dengan lembut. “ Ve.. “ Ucap April lembut.
Sejenak suasana menjadi sunyi.
Lalu Venus tiba-tiba menangis.
Awalnya air mata Venus mengalir
begitu saja tanpa suara. Tenggorokanya seperti tercekat hingga ia tak bisa mengucapkan
sepatah kata pun. April kaget melihat sahabatnya menangis. Sudah lama sekali
sejak Rafa pergi ia tak pernah melihat Venus menangis lagi, yang bisa ia lihat
hanya senyuman. Namun siang itu ia melihat sahabatnya menangis, mungkin ia
rindu pada Rafa atau mungkin karena masalah lain.
Sejenak April terdiam lalu ia meraih kepala Venus dan
membenamkannya ke pundaknya. “Kalau dengan nangis bisa membuat kamu tenang,
nangis aja. Enggak perlu ditahan-tahan“
Tak lama kemudian April mendengar isakan tangis. April
lebih memilih untuk diam, menunggu sahabatnya itu agar lebih tenang.
“ Dylan mutusin aku Ril.. “ Ucap Venus nyaris merintih.
Nafas April nyaris berhenti saat ia mendengar kata-kata
Venus barusan. Hal yang ia takutkan selama ini akhirnya terjadi. Ia bisa
membayangkan betapa sakitnya perasaan Venus saat ini. Empat tahun bersama-sama,
terlalu banyak kenangan yang mereka lalui. Senang, sedih semuanya pasti membuat
hati Venus semakin hancur.
Venus memperbaiki posisi tubuhnya. “ Dylan bilang kalau sayang aja enggak cukup.. Empat tahun kita sama-sama.
Entah mengapa dia selalu merasa ada yang kurang..“ Ucap Venus. Ia menghela nafas, berat.
“ Secara
enggak langsung aku udah nyakitin dia Ril.. Empat tahun aku nyakitin hati dia.. Empat tahun aku sama-sama dia tapi
hati aku tetap mendua. Empat tahun Ril, aku tersiksa dengan semua perasaan yang
berkecamuk dalam hati.. “ Ucap Venus tersedu-sedu. April hanya bisa
mendengarkan sahabatnya meluapkan perasaan yang selama ini ia pendam.
“ Empat tahun aku menunggu hal yang tak pasti. Aku
berharap suatu hari aku bisa sepenuh hati mencintainya. Tapi aku enggak bisa
Ril, aku enggak bisa ..“
April tertegun mendengar penjelasan yang baru saja ia
dengar, ia tak menyangka sahabatnya itu masih saja memendam perasaan yang
membuat orang bisa menjadi gila.
“ Aku merasa bersalah sekali padanya, sangat
merasa bersalah .. Bukan dia yang enggak pantes buat aku, tapi aku yang enggak
pantes buat dia .. Aku, manusia yang tak pernah bisa menghargai perasaannya. Aku
enggak pantes buat dia..“ Ucap Venus pelan. Tangisnya tumpah kembali.
April memeluk sahabatnya itu, ia tahu Venus tak bisa
menghadapi semua ini sendiri. Ini terlalu menyakitkan.
“ Ssshhhttt.. Kamu enggak boleh ngomong gitu.. Yang
terjadi ya udah biarin aja. Kamu boleh nangis sepuas hati, udah kamu jangan
ngomong apa-apa lagi. Aku aja yang dengernya bikin nyesek, apalagi kamu yang
ngerasain.. Setelah ini kamu enggak boleh nangisin dia lagi ya..“ Ucap April
menenangkan.
Mendengar kata-kata April, tangis Venus semakin keras.
Semuanya tertumpahkan disana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar