Pertemuan
Dengan Masa Lalu
Malam pun mulai turun menggantikan siang yang tetap saja
tak bersahabat. Angin malam yang menusuk tulang, membuat hati Venus semakin
beku. 5 tahun berlalu sejak Rafa dipanggil sang pemberi nyawa, 5 tahun berlalu
pula sejak Dylan meninggalkannya saat ia sedang terpuruk. Dylan yang pergi
meninggalkannya tanpa alasan membuat hati Venus semakin hancur. Ia benar-benar
telah menaburkan garam dihatinya yang masih luka.
Sejak saat itu, hatinya menjadi beku tak bisa merasakan
kepekaan lagi. Senyum pun telah hilang dari bibirnya. Sampai saat ini, belum
ada seseorang yang bisa mencairkan hatinya dan membuatnya hangat kembali.
Ia tak tahu sampai kapan akan terus begini, namun ia
berharap akan ada seseorang yang bisa menyembuhkan luka dihatinya dan
membuatnya hangat kembali. Ia harap segera ..
“ VENUUSS! “ Teriak April mengagetkan. Entah ia tiba-tiba
datang darimana.
“ Ih, kamu ngagetin aja! “ Gerutu Venus.
“ Ya abis kamu ngelamun sendirian, di balkon rumah lagi.
Ntar kesambet loooh “
“ Ah kamu, apaan sih! Ngomong-ngomong ngapain kamu
malem-malem ke sini? “
“ Oh iya, aku sampe lupa. You know ga sih? Ada seorang
pengusaha yang mau bikin resto gitu, dan dia pengen kita yang ngebangunnya “
Ucap April kegirangan.
Venus mengerutkan alis melihat ekspresi April. Semenjak
Venus memutuskan untuk pindah ke Bandung tiga tahun lalu, ia membangun
perusahaan kecil. Pekerjaannya adalah sebagai arsitektur yang membuat desain
berbagai macam bangunan. Tergantung permintaan konsumen. Sedangkan yang
membangun karya Venus adalah April. Ia memutuskan membuka usaha bahan-bahan
bangunan, disana tersedia batu bata, keramik, kayu beserta kawan-kawannya.
Venus merasa beruntung karena bisa menjalin kerja sama
dengan sahabatnya. April adalah satu-satunya orang yang bisa mengerti jalan
pikirannya. April juga memutuskan untuk pindah ke Bandung karena kinerja dan
pemasukan perusahaannya yang di Bandung semakin menurun tiap tahunnya.
“ So? Ya alhamdullah dong, kita dapet kerjaan lagi.. “
Jawab Venus datar.
“ Aduuuh, my dear. Bukan itunya. Tapii, resto yang bakal
kita bangun itu ada di Paris. Paris you know, PAAA-RIIISSSS“
Venus langsung berdiri, ia melotot mendengar penjelasan
sahabatnya.
“ Dan bukan cuma itu aja, semua biaya kita disana
ditanggung dari perusahaan tersebut. Jadi kita mau makan, mau shopping, mau
wisata atau apapun semuanya FREEEEEE! “ Ucap April menggebu-gebu.
Venus menganga mendengarnya.
“ Oh my God! Really? “ Tanya Venus tak percaya.
April mengangguk semangat.
Venus tersenyum lebar, kemudian tertawa.
“ Hahahahhhaaa.. Pariisss.. “ Ucap Venus kegirangan.
Dengan spontan ia mencium pipi sahabatnya.
April kaget melihat ekspresi Venus. Sudah lama ia tak
melihat sahabatnya sebahagia ini.
“ Aduuh , aku seneng banget. Aku enggak percaya, akhirnya
aku punya kesempatan buat pergi kesana. Kamu tahu aku sibuknya kaya gimana
“ Ucap Venus sambil menyeka air
matanya yang menetes karena bahagia.
April tersenyum lebar.
“ Syukurlah kalau kamu bahagia.. Aku seneng dengernya“
April tersenyum.
“ Terus rencananya kapan kita pergi kesana? “
“ Besok “ Jawab April datar.
“ What?? tomorrow? You kidding me.. “ Venus tersenyum tak
percaya.
“ Serius. Orang manajernya tadi telepon. Katanya deadline
gitu deh. Jadi kita mesti kesana besok “
“ Oh my God! Tapi kita khan belum siap-siap “
“ Kamu enggak perlu bawa apa-apa. Bawa pakaian aja.
Semuanya udah disiapin disana. Bahan bakunya mereka yang tentuin. Jadi kita
tinggal ngikutin aja apa mau mereka “ Ucap April menjelaskan.
“ Emang mereka ngasih jatah tiket berapa? “
“ Hmmm.. delapan kalau enggak salah “ Jawab April sedikit
mengingat.
“ Ya udah kalau gitu aku telepon Orion dulu “ Ucap Venus.
Ia kemudian mengambil Handphonenya yang disimpan diruang tengah. April
mengikutinya dari belakang.
Venus memijit tombol handphonenya, kemudian
mendekatkannya ke telinga.
“ Halo.. Ada apa Ve
malem-malem gini telepon? “ Tanya Orion memulai pembicaraan.
Orion merupakan asisten Venus sejak dua tahun lalu. Ia
merupakan tangan kanan Venus, karena ia bisa menangani dengan baik semua
pekerjaan yang Venus berikan dan juga dapat menyelesaikan masalah yang
terkadang Venus sendiri pun bingung untuk menyelesaikannya.
“ Iya nih, ada
kerjaan. Kamu siap-siap ya.. Besok kita berangkat ke Paris “ Ucap Venus
dengan cepat.
“ Hah? Paris? Mau
ngapain kita kesana? “ Tanya Orion heran.
“ Besok aku
ceritain. Jam 7 malem pesawatnya take off. Jadi ketemu di bandara jam 6. Oke? “
“ Oke
deh… “
“ Sip. Oke, night
“ tutup Venus.
Ia kemudian pergi
ke kamar untuk bersiap-siap. Ia mengambil koper sedang yang ia simpan di atas
lemari.
“ Kamu enggak siap-siap Ril? “ Tanya Venus sambil
mengambil satu-persatu bajunya yang tergantung kemudian memasukkannya ke dalam
koper.
“ Sebelum kesini, aku khan udah siap-siap. Kopernya juga
aku bawa kesini, jadi biar ntar kita berangkat bareng ke bandaranya. Pegawai
aku juga udah aku kasih tahu ko “ Jawab April santai.
“ Huh, bukannya kasih tahu lewat telepon juga, jadi biar
enggak buru-buru kaya gini “ Desah Venus.
“ Yey. Aku khan pengen ngasih tahu langsung, kalau lewat
telepon khan kesannya kaya gimanaaaa gitu “ Jawab April lebay.
“ Ya udah, sini biar aku bantuin “ Ucap April menawarkan.
“ Nah, gitu dong.. hehe “ Jawab Venus cengengesan.
“ Eh, aku telepon ortu dulu ya. Mau kasih tahu ke mereka“
April mengangguk.
Venus mengambil handphonenya kembali, kemudian memencet
tombolnya.
“ Assalamu’alakum.
Halo sayang.. “ Jawab Irene dari seberang.
“ Wa’alakum salam.
Mamah. Gimana kabarnya? “ Tanya Venus senang.
“ Baik. Kamu
sendiri gimana? “
“ Alhamdullliah mah
baik. Aku mau ngasih tahu, aku ada kerjaan di Paris dan besok berangkatnya
“
“ Oh, bagus dong.
Selamet ya sayang. Aduh tapi maaf nih, kita enggak bisa nganter soalnya
diperusahaan papah ada acara penting gitu jadi kita enggak bisa ninggalin. Lori
juga kayaknya enggak bisa kesana, soalnya tadi pagi dia bilang besok mau ada
karya ilmiah gitu “ Ucap Irene panjang lebar.
“ Enggak apa-apa ko
mah. Mamah doain aku aja, semoga semuanya lancar “
“ Pasti. Mamah
selalu doain yang terbaik buat kamu. Hati-hati disananya ya sayang“
“ Iya mah. Udah
dulu ya mah, aku mau siap-siap buat berangkat besok “
“ Ya udah. Met
malem ya sayang. Assalamu’alaikum “
“ Wa’alaikum salam
“ Tutup Venus.
Terlihat wajahnya sedikit kecewa.
“ Kenapa? “ Tanya April.
“ Mereka engga bisa nganter. Kirain aku bisa ketemu sama
mereka, udah lama enggak ketemu. Kangen banget “
“ Ya udahlah engga apa-apa. Yang penting, kamu tahu
mereka baik-baik aja “ Jawab April menenangkan.
“ Oiya, ngomong-ngomong siapa yang punya restonya? “
“ Manajernya bilang sih Mr. M.. Aku juga enggak tahu
siapa “
“ Hah? Mr. M? hmmm.. “ Pikiran Venus melayang.
“ Kenapa? Berharap Mr.M itu Dylan ya? Pengen ketemu dia khan?
Hayo-hayo.. “ Selidik
April antusias. Cengirannya menemani semua
pertanyaan interogasinya itu.
“ Ih, apaan? Nggak
ada manfaatnya lagi ketemu sama
dia ” cetus Venus ketus.
“ Aduh, jangan ketus gitu dong Ve.. Kalau misalnya kamu
ketemu Dylan, kamu juga pasti seneng khan? Ciiiee “ Goda April sambil menyenggol tubuh Venus pelan. April nyengir jail.
“ Ah, udah ah. Aku mau tidur aja “ Venus merajuk. Entah
mengapa jantungnya meloncat-loncat saat April menggodanya. Semoga besok akan menjadi hari yang menyenangkan..
{
Udara sejuk berhembus saat mereka menginjakkan kaki
mereka di Paris. Saat ini di Paris sedang musim semi.
“ Soyez bien venu à La
Ville lumière “ Teriak Orion
sesaat setelah rombongan mereka tiba di bandara Charles de Gaulle Paris.
“ Kamu
ngomong apa Rio? “ Tanya April tak mengerti.
Orion
tersenyum. “ Selamat datang di kota cahaya. Paris.. “ Ucap Orion sambil
merentangkan tangannya.
“ Sejak
kapan kamu bisa bahasa Perancis? “ Tanya Venus heran.
“
Hehehe. Sebernya tadi malem aku baca-baca. Ya cuma hafal segitu “ Jawab Orions
cengengesan.
“
Gubrak “ Ucap Venus dan April berbarengan.
“ Oiya
Ril, mana orang yang jemput kita? “ Tanya Venus sambil mencari-cari.
“ Kalau
enggak salah dia bawa tulisan I for M “
“ I for
M? Maksudnya? “ Tanya Venus tak mengerti.
“ I for
Indonesia. M for Mr.M. Jadi Indonesia untuk Mr.M. Entahlah aku juga tak
mengerti “ Ucap April mengangkat bahu dan tangannya.
“ Bonjour
mesdemoiselles et messieurs. Je m’appelle Milano. Anda pasti nona Venus? dan berwajah
putih ini pasti Nona April? “ Ucap seorang laki-laki paruh baya dengan aksen
agak aneh.
“
Bonjour monsieur Milano. Betul sekali. Tapi darimana tuan tahu nama kami? “
Tanya Venus heran.
“ Saya
disuruh Mr.M untuk menjemput kalian dan saya juga ditugaskan untuk mengantar
kalian kemana pun kalian ingin pergi. Jadi saya sudah tahu saat pertama kali
melihat anda “
Venus
dan April mengangguk.
“ Oiya,
kenalkan ini asisten saya. Namanya Orion. Bagaimana dengan yang lain? “
“
Sisanya akan diantarkan dengan mobil lain nona “
Venus
dan April mengangguk berbarengan.
“ Mari
ikuti saya “
Venus,
April dan Orion mengikutinya dari belakang.
“ Tuan,
bolehkah saya bertanya sesuatu? “ Tanya Venus menghampiri.
“ Tentu
nona “
“
Sebenarnya Mr. M itu siapa? “
“ Mr. M
adalah seorang pengusaha muda sukses di kota ini. Bersama dengan sang kekasih
beliau membangun usaha dengan cepat. Bukan hanya dibidang kuliner saja, namun
beliau juga membangun sebuah butik yang bertemakan tentang Indonesia “ Jawab
Milano menjelaskan.
“
Indonesia? “
“
Beliau cinta sekali dengan Indonesia karena itu ia membangun butik bertemakan
Indonesia “ Ucap Milano tersenyum. Ia seakan mengerti kebingungan Venus.
Terlihat
Milano mendekati sebuah limosin hitam yang mewah dan elegan. Ia membukan pintu
dan mempersilahkan masuk.
“
Kalian pasti letih sekali setelah menempuh perjalanan yang panjang, karena itu
saya akan langsung mengantar kalian ke hotel. Oiya, untuk sementara Mr.M belum
bisa bertemu dengan kalian. Besok Miss Darla assistant Mr.M akan memberikan
penjelasan tentang pembangunan resto “ Ucap Milano menjelaskan.
Mereka
bertiga hanya mengangguk. Mobil berjalan melewati sungai seine yang cukup
panjang dengan jalanan kota Paris yang begitu bersih dan rapih membuat kota ini
terlihat begitu menakjubkan. Kebanyakan bangunannya sangat megah dan klasik.
Venus melihat banyak orang yang berjalan kaki dengan kesibukannya
masing-masing.
Venus
terus melihat keluar jendela. Kota ini
benar-benar indah dan menakjubkan.. Tak lama kemudian, mobilnya melewati
menara Eiffel.
“ April
liat!.. itu menara Eiffel “ Ucap Venus semangat.
April
langsung mendekat ke jendela. Kepalanya menengok ke luar jendela, ia ingin
melihat menara itu dengan jelas.
“ Oh my
God. Speechless aku “
“ Bagus
banget yah? “ Ucap Venus terkagum-kagum.
Setelah
melewati menara Eiffel, mobil yang membawa mereka bertiga melewati berbagai
macam bangunan yang begitu megah. Tak lama kemudian, mobil berhenti.
“ Silahkan.
Kalian sudah sampai “
Venus,
April dan Orion keluar. Mereka bertiga menganga melihat mobil berhenti tepat
disebuah bangunan yang bergaya klasik namun sangat megah.
“ Enggak
salah parkir tuan? “ Tanya Venus ragu. Yang ia tahu, ini adalah Hôtel Ritz
Paris. Salah satu Hotel yang terkenal karena bergaya dan mewah.
“ Tidak
nona. Mr. M memang sudah mempersiapkan semuanya “ Jawab Milano tegas.
“ Oh..
Oke.. “ Ucap Venus masih ragu.
“
Silahkan “ Ucap Milano mempersilahkan masuk.
Venus,
April dan Orion memasuki hotel yang berdiri di Place Vendôme
sejak 1898. Mata mereka terus memperhatikan tiap detail dari bangunan tersebut. Didominasi
warna putih dan cokelat muda dengan gaya klasik membuat hotel Ritz terlihat
megah dan elegan.
Milano
mendekati resepsionis. Tak lama kemudian ia berjalan mendekati mereka bertiga
dengan beberapa kunci kamar ditangannya.
“ Three
suite room for you guys “ Ucap Milano menyerahkan kunci kamar.
“ Suite
room? “ Ucap April tak percaya.
“ Apa
enggak terlalu berlebihan tuan? “ Tanya Venus tak enak.
Milano
hanya tersenyum.
“ Saya
dengan Venus sekamar saja “ Usul April.
“ Betul
sekali tuan “ Ucap Venus mengiyakan. Milano hanya mengangguk.
“ Lalu
bagaimana dengan yang lainnya ? “ Ucap Orion.
“
Pekerja yang lain diberikan single room “ Jawab Milano cepat.
“
Baiklah kalau begitu, ini kunci kamar kalian. Room boy akan mengantar kalian ke
kamar masing-masing. Baiklah, sampai jumpa “ Pamit Milano.
Venus, April dan Orion mengangguk berbarengan.
“ Oke.
Mesdemoiselles follow me “ Ucap seorang laki-laki. Pakaiannya rapih sekali,
seperti bukan room boy saja.
“ Oke “
Didalam
hotel ternyata terdapat sebuah kolam renang yang didominasi warna cokelat dan
lukisan disamping kanan dan kirinya, langit-langitnya pun didesain seperti
langit sungguhan, itu semua membuat kolam ini terlihat begitu cantik namun
tetap menenangkan.
“ This
is your room. If you need something, you can call room service “ Ucap room boy.
“ Have
fun mesdemoiselles “ Lanjutnya sambil tersenyum.
“ Oke. Merci.
This is for you “ Ucap Venus sambil memberikan 10€. Sebenarnya Venus tidak
terlalu menguasai Bahasa Perancis, hanya sedikit yang ia hafal. Jadi ia mencoba
untuk mencampurkannya dengan bahasa Inggris.
“ De
rian mademoiselle “ Ucapnya sambil mengangguk.
Room
service itu kemudian pergi.
Venus
dan April masuk ke kamar yang didominasi dengan warna putih. Lagi-lagi Venus
tertegun melihatnya.
Saat ia
memasuki kamar, terdapat satu sofa besar ditemani bantal-bantal kotak berwarna
merah beserta sebuah meja berwarna cokelat muda dan dua sofa yang khusus untuk
satu orang. Saat ia melewati sofa besar, disebelah kanan terdapat tempat tidur
yang ditempatkan agak menjorok kedalam. Tempat tidur tersebut berwarna putih dengan
dipan berwarna emas dan selimut berwarna merah maroon
membuat tempat tidur ini terlihat simple namun
tetap elegan. Disebelah kanan dan kiri tempat tidur terdapat dua buah tiang
yang menjulang hingga ke langit-langit. Dengan lantai yang terbuat dari marmer
berwarna putih corak abu-abu membuat kamar ini menjadi begitu elegan dan
romantis. Sama dengan warna kamar, kamar mandi pun didominasi dengan warna
putih, dengan kran dan tempat handuk berwarnakan emas.
“ Gila,
bagus banget nih hotel. Amazing.. “ Ucap Venus sesaat setelah keluar dari kamar
mandi.
“ Ya
iyalah Ve. Namanya juga salah satu hotel termewah di Paris. Ya pastinya wah dan
menakjubkan “
“
Semoga esok akan jadi hari yang menyenangkan ya.. “ Lanjut April girang.
Venus
tersenyum.. Ya, semoga..
{
Sinar mentari
masuk dan menyinari wajah Venus yang masih terlelap, angin pun menari kesana
kemari. Semua itu membuat Venus risih.
“ Aduhhh. Ril, tutupin dong jendelanya. Silau tau! “
Gerutu Venus.
“ Eh non, sekarang udah jam berapa? Kita kesini bukan
buat tidur. Cepetan bangun ah“ Bujuk April menarik selimut.
“ Bentaaarrrr aja “ Rajuk Venus. Ia menarik selimutnya
kembali.
“ Ckckck. Terserah deh.. “ Decak April menyerah. Ia
memilih mengambil breakfastnya.
Tok, Tok, Tokk, Tok ..
Seseorang mengetuk pintu depan cepat dan keras. April dan
Venus terhenyak kaget. Venus menutupi
telinganya dengan bantal. April berjalan ke arah pintu dengan kesal.
“ Aduh siapa sih? “ Tanya April kesal.
April membukakan pintu.
“ Good morning ladies “ Ucap seorang wanita umur 30an
dengan pakaian rapih dan seksi. Wanita itu masuk ke kamar tanpa dipersilahkan.
“ Hmm.. Sorry. Who are you? “ Tanya April Ragu.
“ Anda pasti nona April. Dimana nona Venus? “ Tanya
wanita itu dengan suara yang memekakan telinga. Hampir saja April ingin menutup
kedua telinganya, jika ia tak ingat kalau perbuatan itu tak sopan apalagi
kepada orang yang baru ia dengar.
“ Mana nona Venus? “ Tanya wanita itu sekali lagi. Kali
ini dengan nada yang lebih keras.
“ Itu disana “ Jawab April menunjuk tempat tidur.
“ Tapi sebenarnya anda ini siapa? Kenapa anda nyelonong
masuk ke kamar orang gitu aja? “ Tanya April bingung. Wanita itu tak
menghiraukan pertanyaan April. Ia memilih untuk mendekati Venus.
“ Wake Up sleeper! “ Ucap wanita itu dengan keras, ia
menarik selimut Venus dengan cepat.
April kaget dengan tindakan wanita itu barusan.
“ Aduuuhh, Ril! “ Ucap Venus terbangun.
“ Aku bilang kan ben,,tar.. “ Lanjut Venus terbata-bata
saat ia tahu yang menarik selimutnya bukan April.
Venus mengerutkan alis. Ia bingung dengan wanita yang
berada dihadapannya. Ia melihat ke arah April dan bermain mata dengannya. April
hanya mengangkat bahu.
“ Come on ladies... Wake up! Jam berapa sekarang? Oh my
God! Kepalaku bisa pecah kalau kaya gini “ Cerutus Wanita tersebut.
“ Oke. Oke. Calm down. Who are you? “ Tanya Venus masih
bingung.
“ I’m Miss Darla. You know who i’m. Pagi ini kalian mulai
bekerja. Resto dibangun tak jauh dari Hôtel de Ville, dekat dengan Musée du
Louvre. Bahan baku untuk pembangunan sudah ada. Kalian hanya tinggal memberikan
kemampuan kalian saja “ Ucap miss Darla dengan cepat tapi tegas.
“ Now?? “ Tanya Venus tak percaya.
“ Of course “ Jawab miss Darla cepat.
“ Tapi ini khan masih pagi. Aku juga belum.. “
Belum selesai Venus berbicara miss Darla sudah menyelanya.
“ No.. No.. No.. “ Ucap miss Darla sambil
menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. Suaranya semakin meninggi.
“ Disini, kita tidak mengenal kata masih pagi ataupun
sudah malam. So, let’s do it. NOW!”
“ Tapi aku belum siap-siap “ Ucap Venus menyela.
“ Aku enggak mau tahu. Aku tunggu kalian di lobi.
Setengah jam kalian harus udah ada di-sa-na “ Ucap miss darla mengeja kata
terakhir. Kemudian ia keluar kamar tanpa mengatakan apapun.
“ NO LATE! “ Tegas miss Darla.
Venus menganga melihatnya. Ia tersenyum tak percaya.
“ Oh my God! Assistantnya aja kayak gitu apalagi bosnya “
Ucap Venus masih tak percaya.
April hanya tersenyum.
“ Udah sekarang kamu cepetan mandi gih “ Usul April. Venus
mengangguk. Ia berjalan ke kamar mandi dengan lemas.
Iima belas menit kemudian Venus sudah terlihat cantik.
Dengan bajunya yang casual, celana jins biru dan sepatu boot cokelat, membuat
Venus tetap terlihat menarik. Ia memilih untuk menguncir rambut ikalnya.
“ Yu berangkat “ Ajak Venus.
“ Kamu khan belum sarapan, sarapan dulu gih. Ntar sakit lagi “
“ Sambil jalan aja “ Ucap Venus sambil menyambar sandwichnya.
April mengangguk. Ia mengekori Venus dari belakang. Venus
mempercepat langkahnya. Ia tak ingin dihari pertamanya ia bekerja, ia sudah
terlambat.
“ Hello miss Darla. Now, we are here “ Ucap Venus bangga.
“ On time. Good! “ Ucap miss Darla sambil melihat jam
tangannya yang mewah.
“ Rion. Kamu udah ada disini? “ Tanya Venus. Orion
mengangguk kemudian tersenyum.
“ Oke. Ladies and gentleman. Follow me “ Ajak miss Darla.
Ia melangkah keluar dari hotel. Kemudian masuk ke mobil limusim yang kemarin
mengantarkan kami ke hotel.
“ Bonjour. Bagaimana tidurnya nona Venus? Apakah nyenyak?
“ Tanya Milano.
Venus tersenyum kesal. “ Ada penyihir wanita yang
mengganggu tidurku. Menyebalkan sekali “ Bisik Venus.
Milano hanya tersenyum mendengar jawaban Venus. Miss
Darla memang orang yang cerewet, tegas dan disiplin namun itu semua ia lakukan
untuk mencapai sebuah kesuksesan.
“ Silahkan “
“ Merci “
Mereka berempat masuk ke limosin tersebut. Tak lama kemudian mobil tersebut berjalan. Dalam perjalanan miss Darla yang
banyak bercerita. Menceritakan bangunan ini dan itu, pameran, makanan dan masih
banyak lagi. Sedangkan yang lainnya hanya mendengarkan cerita dari miss Darla.
Sebenarnya miss Darla tidak terlalu buruk, hanya saja suara yang memekakkan
telinga dan cerewetnya itu terkadang membuat telinga menjadi jengah.
Saking serunya miss Darla bercerita, tak terasa mobil
yang membawa mereka telah berhenti. Mereka berempat turun. Kemudian miss Darla
memperlihatkan tempat untuk membangun resto tersebut. Setelah melihat-lihat,
miss Darla kemudian mengajak kami untuk melihat bahan dasar dari bangunan
tersebut.
Tak jauh dari tempat akan dibangunnya resto, Venus
melihat museum Louvre yang begitu cantik. Ingin sekali ia pergi kesana. Namun
ia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Jika ia tak punya tanggung
jawab, mungkin saat ini ia sudah kabur.
“ Silahkan nona Venus “ Ucap Milano menyadarkan. Venus
tak sadar jika yang lainnya sudah masuk ke dalam mobil. Venus mengangguk malu.
“ Now. Where we are going? “ Tanya Venus.
“ Kita akan melihat bahan baku untuk membangun resto. I
hope guys, you do the best. Because Mr.M is perfect. So don’t dissapoint him “
Meskipun nada bicaranya santai, namun rasanya terdapat
nada ancaman dan harapan besar didalamnya. Mereka bertiga mengangguk bersamaan.
Tak lama kemudian mobil limosin kembali berhenti. Terlihat sebuah bangunan yang cukup
besar dan tinggi menunggu.
“ Oke everybody. Sekarang kita turun. Disini merupakan
pabrik dari bahan baku semua bangunan. Biasanya mereka menyuplai ke berbagai
kota di Eropa. Ini merupakan salah satu pabrik terbaik dan terbesar di kota ini
“ Ucap miss Darla menjelaskan. Miss Darla menunjukkan satu persatu bahan yang
ada disana, ada marmer, kayu mahoni, tembaga, besi, kaca, kayu khas entah
namanya dan masih banyak lagi.
Setelah hampir dua jam miss Darla mengajak mereka
melihat-lihat, akhirnya penderitaan itu selesai juga. Venus sudah mendapat ide,
rancangan apa yang akan ia buat. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang.
“ Untuk hari ini cukup sekian. Sekarang, ayo kita pergi
makan siang “
“ Finally “ Ucap Venus dan April berbarengan. Miss Darla
langsung menengok. Mereka berdua hanya cengengesan.
{
Venus menghempaskan tubuhnya. Ia melihat langit-langit
berwarna putih yang menenangkan. Hari ini terasa sangat melelahkan. Tiba-tiba
bayangan Dylan melintas. Ia tersentak oleh pikirannya sendiri. Sudah lama
sekali bayangan itu tak muncul dan sekarang tanpa ada angin mau pun hujan
tiba-tiba bayangan itu melintas. What
happen to me? Aku tak mau ini terjadi lagi..
“ Ve mau enggak? Enak looh “ Tanya April menyodorkan. Ia
sedang makan escargot yang tadi ia pesan dari room service.
“ Enggak mood “ Jawabnya cepat.
“ Tumben.. Biasanya paling semangat kalau soal makanan “
Venus hanya menghela nafas. Ia memilih membuka laptop
putihnya. Dilihatnya catatan-catatannya yang lama. Ia masih ingat, dulu ia
pernah mengutip puisi dari sebuah situs NN. Ceritanya hampir sama dengan yang
ia alami. Ia mencari di dokumennya, ternyata masih ada. Ia membacanya dan
mencoba mengingatnya kembali.
Bodohnya Aku
Aku tau, aku telah membuat
banyak luka dihatimu..
Aku sadar, aku telah membuatmu
lelah disampingku..
Aku pun mengerti, betapa sedihnya hatimu saat aku
tak menghiraukanmu..
Maaf.. karena aku tak pernah melihat
kasih sayangmu yang begitu tulus padaku..
Maaf.. karena aku tidak pernah
memikirkan sedikit pun perasaanmu..
Maaf.. karena aku tidak pernah
menghargai setiap waktu yang kamu berikan padaku..
Maaf.. Jika aku telah membuatmu sakit
hati..
dan maafkan aku, karena aku
begitu egois telah memaksamu kembali ke sisiku..
aku tahu, aku orang
yang sangat-sangat BODOH..
mengapa?? Karena aku merelakan
orang yang ternyata sangat aku sayangi pergi begitu saja dari sisiku..
dan bodohnya lagi, aku baru
menyadari kalau ternyata kamu begitu berarti untukku..
dan banyak hal terbodoh ketika,
tak pernah terpikir olehku betapa hancurnya hatiku
saat kamu meninggalkanku..
tak pernah terpikir olehku bahwa kamu lah
satu-satunya orang yang aku sayangi..
tak pernah terpikir olehku betapa berharganya kamu
untukku..
dan tak pernah
terpikir olehku bahwa kamulah yang aku perlukan untuk selalu disampingku..
mungkin sekarang hatimu sudah
tak lagi untukku..
mungkin sekarang kamu tak lagi
menyayangiku..
andaikan saja aku dapat memutar
waktu..
aku pasti akan menjaga hatimu,
aku pasti tidak akan menyia-nyiakan dirimu, dan
aku akan berusaha sekeras mungkin untuk tidak mengecewakanmu..
* dikutip dari sebuah situs NN
|
Air mata Venus menetes. Jika ia ingat masa lalu, semuanya
memang terasa menyakitkan. Terlalu banyak kesalahan yang ia perbuat, sehingga
melukai orang-orang yang ia cintai. Ia terlalu bodoh untuk mengerti semuanya,
ia memang terlalu bodoh untuk mengetahui isi hatinya. Namun ia sama sekali tak berniat
untuk menyakitinya. Andaikan saja kesempatan itu datang lagi kepadanya ..
Sekarang mustahil bagi Venus untuk memilikinya lagi,
bahkan menyentuh bayangnya saja ia sudah tak mampu. Ia telah terpuruk dalam
jurang sesal yang mungkin takkan ada habisnya, yang tersisa saat ini hanyalah
cinta yang begitu menyesakkan dada.
“ Ve, kamu kenapa? Ko mukanya sedih gitu.. “ Tanya April
cemas. Ia duduk tepat disebelah Venus.
“ Hah? Hmm. Enggak apa-apa ko “ Jawab Venus menggeleng.
“ Kamu enggak bisa bohong Ve. Emangnya aku kenal kamu
kemarin apa? Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu? “
Venus menghela nafas, kemudian ia menyodorkan laptopnya
pada April. Ia segera membacanya. Satu persatu kata-kata dari puisi tersebut ia
cerna baik-baik. April hanya ingin mencoba menilainya dari sisi yang lain.
Diluar dugaan, ternyata apa yang dipikirkan Venus salah.
Ia kira sahabatnya itu akan menertawakannya atau bahkan meledeknya. Namun April
hanya tersenyum. Wajah April memancarkan suatu kesedihan dan keprihatinan yang
ia sendiri pun tak bisa menjelaskannya.
“ Jadi kamu lagi mikirin dia? “ Selidik April.
“ Eng,, enggak ko. Aku enggak mikirin Dylan .. Siapa yang
mikirin dia? “ Venus tergagap.
“ Looh, siapa yang bilang Dylan? Aku enggak bilang nama
ko “ Jawab April menahan tawa melihat ekspresi sahabatnya itu yang sudah salah
tingkah.
“ Hah? Hmm.. Itu.. “
“ Udah ngaku aja deh.. Kamu tuh enggak pinter ngebohong “
April menyenggol tubuh Venus. Matanya terus memperhatikan Venus dengan tatapan
tajam. Venus mengalihkan pandangannya dengan perasaan kalah.
“ So? “ Tanya April dengan nada penuh harap.
“ Oke.. Oke.. “ Jawab Venus mengalah.
Venus menghela nafas.
“ Iya.. “ Lanjutnya lemas.
“ Tapi aku enggak mikirin yang aneh-aneh ko aku cuma,,“
Belum selesai Venus menyelesaikan ucapannya, sahabatnya
itu sudah menyelanya.
“ Iya, aku ngerti ko Ve.. Jadi ini yang selama ini kamu
rasain? “
Venus mengangguk.
“ Aku merasa kehilangan banget Ril. Aku baru sadar, kalau
dia tuh penting banget buat hidupku. Tapi bodohnya, saat aku udah kehilangan
dia aku baru sadar itu semua “ Ucap Venus sambil bangkit dari tempat tidurnya.
Kemudian ia mendekati jendela dan melihat suasana malam kota Paris dari sana.
“ Yang bikin aku ngerasa bersalah banget, aku belum
sempet minta maaf sama dia “ Lanjut Venus. Venus menghela nafas. Terlihat
sekali ia begitu lelah, bukan lelah karena aktifitasnya namun lebih karena
hatinya.
“ Minta maaf buat apa? “ Tanya April pura-pura tak tahu.
“ Yang dulu mutusin hubungan kalian khan Dylan, bukan
kamu. Jadi kamu engga salah apa-apa sama dia.. “ Lanjut April santai.
Venus menghela nafas. Ia melihat April lekat-lekat.
“ Sebenernya ada yang pengen aku ceritain ke kamu.. “
Terlihat Venus seperti sedang memilih-milih kata.
“ Sebenarnya,, aku sayang sama Rafa lebih dari sekedar
sahabat. Saat aku menerima cinta Dylan, awalnya aku hanya ingin mencoba. Namun
lama kelamaan, cinta untuknya pun mulai tumbuh. Seiring berjalannya waktu aku
merasa, aku udah ngeduain cinta Dylan dan aku ngerasa sangat bersalah “ Ucap
Venus hati-hati. Ia sebenarnya takut kalau-kalau April marah karena ia tak
menceritakannya sejak awal.
“ Finally “ Ucapnya sambil tersenyum.
Venus mengerutkan alis tanda tak mengerti.
“ Ya akhirnya kamu cerita ke aku kalau kamu cinta sama
Rafa. Kalau gini khan akunya juga enak. Sebenernya sih, aku udah tahu dari dulu
kalau kamu suka sama dia “ Lanjut April. Ia mengambil kopi yang tadi sudah ia
siapkan dari tadi, kemudian menyeruputnya.
“ Kamu udah tahu? Tahu darimana? “ Tanya Venus panik.
“ Keliatan jelas ko dari mata kamu “ Ucap April menahan
tawa.
“ Ah, masa sih? Emang jelas banget? “ Tanya Venus semakin
panik.
April terkikik
melihat ekspresi sahabatnya.
“ Aduuh sakit.. hahahaha.. “ Ucap April
terpingkal-pingkal.
Venus memoyongkan bibirnya. Ia kesal dengan kelakuan
sahabatnya itu. Ia sedang panik, sahabatnya malah menertawakannya.
“ Sorry.. sorry.. hehe. Enggak ko sayang, cuma sesama
wanita aja yang bisa ngerti kalau kamu suka sama Rafa “
“ Kamu ini, bikin aku panik aja “
“ Tapi Ve, kalau menurut aku sih kamu mending kasih tahu
Dylan dan minta maaf ke dia. Kalau dia tahu dari orang lain, dia pasti bakal
tambah sakit hati. Ya meskipun dia marah, seenggaknya kamu udah jujur sama dia
“ Ucap April dengan nada serius.
“ Iya sih. Aku juga mikirnya kayak gitu “ Angguk Venus.
“ Tapi aku khan enggak tahu sekarang dia ada dimana “
“ Bukannya kamu deket sama tante Inoue, mamahnya Dylan?
Tanya aja sama dia. Aku yakin dia pasti bakal ngasih tahu anak semata wayangnya
itu sekarang ada dimana “ Ucap April mengingatkan.
Sebuah lampu tiba-tiba muncul dalam benaknya.
“ Pinter juga. Thanks ya my “ Ucap Venus tersenyum. Ia
mencubit pipi sahabatnya.
Dengan segera, ia mengambil handphone yang ia simpan
diatas meja. Kemudian mencari nama tante Inoue dan mendialnya. Untuk beberapa
saat tak ada jawaban. Setelah dua tiga kali ia menelepon akhirnya diangkat
juga.
Baru saja ia ingin berkata hallo, suara seseorang
menghentikannya.
“ Hallo “ Ucap seorang laki-laki dari seberang.
Apa aku salah sambung ya? Ah,
enggak ko bener..
“ Hallo “ Ucapnya lagi, kali ini dengan suara yang lebih
keras.
Ih, lama-lama suaranya ko kaya
kenal.. Apa jangan-jangan ini,,
“ Hallo “ Ucap
seorang perempuan dengan lembut.
“ Tante Inoue “
seru Venus.
“ Venus? Aduh sayaaaang,
kamu kemana aja sih? ko enggak pernah keliatan lagi? Tante khan kangen pengen ketemu kamu.. “ Ucap Inoue semangat.
Venus sampai bingung harus menjawab yang mana terlebih
dahulu.
“ Iya tante. Ve
juga kangen
pengen ketemu.. Loh
khan tante yang tiba-tiba pergi gitu aja, tanpa kasih kabar. Ve sempet
kesel juga sih,kalian pergi tanpa bilang apa-apa. Kenapa sih tante engga ngasih
kabar? “ Tanya Venus dengan nada sedikit sedih.
“ Bukannya tante enggak mau ngasih tahu ke kamu sayang,
tapi waktu itu saudara tante ada yang meninggal. Karena buru-buru tante lupa
ngasih tahu kamu. Udah gitu Dylan juga ngelarang tante buat kasih tahu kamu.
maafin tante ya sayang? “ Jawab
Inoue menjelaskan.
“ Ya... Enggak
apa-apa ko tante “
“ Udah hampir lima
tahun ya kita enggak ketemu.. “
“ Iya “
“ Kamu pasti tambah
dewasa dan makin cantik deeehhh “ Ucap Inoue membayangkan.
“ Enggak ko tante.
Masih sama kaya dulu “ Jawab Venus merendah.
“ Oiya tante, boleh
tanya sesuatu? “ Lanjut Venus.
“ Tentu dong
sayang. Kamu mau nanya apa? “
“ Kalau boleh tahu
sebenernya sekarang Dylan
ada dimana tan? “ Tanya
Venus penuh harap.
“ Oh itu.. Dylan
sekarang ada di Paris. Tante sama om juga sekarang lagi ada disini“ Ucap
Inoue santai.
“ Hah? Paris? “
Tanya Venus tak percaya.
“ Tante pasti
bercanda “ Lanjut Venus masih tak percaya.
“ Iya beneran. Tiga
tahun lalu, Dylan tuh menetap disini. Dia sekarang lagi ada proyek. Tante juga
lagi nengokin anak tante disini “
“ Ya ampun tanteee!
Venus juga lagi di Paris.. “
“ Oh ya? Bagus
dong, kalo gitu besok kita bisa ketemu.. Ketemu di Café de Flore jam
10 pagi ya sayang? ..“
“ Eh, tapi disini aku lagi
ada kerjaan tante. Enggak enak kalau ninggalin gitu aja “
“ Ah, tinggalin bentar enggak bakal
apa-apa ko “ Inoue meyakinkan.
“ Tapi tante.. “
“ Enggak ada tapi-tapian.. See you
tomorrow honey “ Ucap Inoue menyela. Ia langsung menutup teleponnya.
Dari dulu ternyata
tante Inoue tak pernah berubah..
Venus tersenyum. Ada rasa bahagia yang tersirat dalam hatinya. Orang yang
selama ini ia rindukan ternyata berada tak jauh darinya. Apakah ini hanya
kebetulan ataukah memang takdir yang mendekatkan mereka kembali? Venus segera
menyingkirkan pikiran itu. Ia tak ingin berharap terlalu banyak, ia tak mau jatuh
lebih dalam lagi.
Venus melihat April, ternyata ia sudah tertidur dengan pulas. Venus
membenarkan selimutnya. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat
tidur. Semoga besok merupakan satu langkah awal untuk
memulai sesuatu yang baru.. semoga..
{
“ Ril, boleh aku bicara sama Venus sebentar? “ Tanya
Orion tiba-tiba. April dan Venus sedang sarapan pagi
di resto hotel Ritz yang berada di luar ruangan.
“ Oh.. Tentu “
“ Sori ya.. “ Orion tersenyum.
April membalas senyumannya. Kemudian ia berdiri dan beranjak
pergi. Setelah Orion yakin bayangan April sudah tak ada, ia melihat wajah Venus
lekat. Tatapan Orion tak seperti biasa, kali ini tatapannya sangat dalam penuh
dengan rasa yang sama sekali ia tak mengerti.
Tangan Orion terulur menyentuh tangan Venus, kemudian
menggenggamnya. Venus terlihat kaget.
“ Ve.. “
“ Iya? “
“ Sebenarnya aku.. “ Orion menggeleng, sepertinya ia tak
menyukai kata-kata yang ia ucapkan.
“ Mungkin ini terkesan mendadak dan tiba-tiba. Aku sadar
aku tak pernah terbuka soal perasaanku padamu. Aku cinta kamu Ve. Aku sangat
mencintaimu. Sejak pertemuan kita pertama kali. Kamu wanita pintar, cerdas,
hebat dan mandiri. Setiap kali aku bersamamu, aku semakin kagum padamu “ Mata
Orion memancarkan keseriusan.
Venus kaget mendengar pernyataan Orion barusan. Orion
memang tak pernah menunjukkan sikap kalau ia menyukainya. Sikapnya tak lebih
dari sekedar seorang teman. Venus memang sempat menyukai Orion, namun rasa
cintanya pada Dylan lebih besar daripada rasa sukanya pada Orion.
“ Would you be my princess? “ Tanya Orion penuh harap.
Venus menganga mendengarnya. Ia tak menyangka ternyata
dalam masalah seperti ini Orion termasuk orang yang tak suka basa-basi. Venus
terdiam tak menjawab.
“ Ve? “
Venus menunduk. Ia tak tahu mesti menjawab apa. Ia tak
ingin mengulang kesalahan yang dulu pernah ia perbuat, namun jika ia terus
terjerat dalam sesal yang tak ada henti-hentinya selamanya ia takkan bisa
keluar dari sesal itu.
Venus terlihat bingung.
Tangan Orion terulur menyentuh dagu Venus. Laki-laki itu
mengangkat wajah wanita yang dicintainya. Kemudian ia tersenyum.
“ It’s ok Ve. Kamu enggak perlu jawab sekarang. Aku
enggak mau bikin kamu menjadi terbebani. Kapanpun kamu siap. Aku bakal nunggu “
Orion berdiri, kemudian mengecup rambut wanita di depannya.
Orion melangkah pergi. Venus melihat laki-laki itu
semakin menjauh. Maaf Ri.. Aku,, aku
belum siaap ...
{
“ Mobil Ferrari? “ Tanya Venus saat ia melihat mobil
didepannya.
“ Iya nona. Mobil yang biasa saya pakai, sedang dipakai
miss Darla dan tuan Orion. Jadi saya memakai mobil cadangan ini “ Ucap Milano
menyadari keheranan Venus.
Mobil cadangan? Ferrari mobil
cadangan? OMG! Aku jadi bener-bener penasaran sama Mr. M. Kaya gimana sih dia?
hmm..
“ Tuan, bolehkah saya yang menyetir? Sudah
lama saya tak menyetir mobil
sendiri. Kemana-mana selalu diantar tuan. Sekali-kali biar aku yang menjadi
supir tuan. Aku mohon..”
“ Tapi.. “ Milano berpikir senejak.
“ Saya sudah hafal ko jalan ke Café de Flore “
“ Baiklah. Terserah nona saja, asalkan nona senang “
Venus tersenyum bahagia. Ia masuk ke Ferrari kuning, kemudian
menjalankannya.
“ Tuan, kira-kira kapan ya saya bisa bertemu dengan Mr.M? “ Tanya Venus
saat ia berbelok ke jalan Rue Saint-Honeré.
“ Soon “ Ucap Milano singkat.
Venus cemberut saat ia mendengar jawaban Milano yang
singkat.
“ Oiya, kalau saya boleh tahu, siapakah wanita beruntung
yang bisa mendapatkan hati Mr.M tuan? “
“ Namanya Ms. Christine nona. Dia merupakan seorang anak
dari pengusaha sukses disini. Dia juga pintar dalam mengelola bisnis, mungkin
warisan dari ayahnya “
“ Bukan beruntung, tapi mungkin memang sudah takdir.
Pengusaha sukses dengan pengusaha sukses. Klop sekali “
Tak lama kemudian ia membelokkan mobil yang ia kendarai
ke Boulevard Saint-Germain. Dari jauh Café de Flore sudah
terlihat. Venus berhenti tepat disebelah cafe tersebut. Milano segera turun,
kemudian ia membukakan pintu untuk Venus.
“ Merci monsieur Milano. Monsieur
pulang saja duluan, tak usah menunggu atau menjemputku. Sekali lagi terima
kasih “ Venus tersenyum. Milano hanya mengangguk, kemudian ia masuk ke
Ferrarinya. Milano mengangguk kemudian berlalu.
Venus
menghela nafas. Sudah hampir lima tahun ia tak bertemu mamah keduanya itu.
Jantung Venus tiba-tiba berdebar.
Venus
melangkah dengan ragu. Lagi-lagi ia menghela nafas. Seharusnya ia
membawa sesuatu untuk diberikan pada tante Inoue. Venus melihat ke sekeliling.
Tak jauh dari tempat tersebut ada kios bunga. Ia berjalan ke arah kios tersebut.
Dilihatnya sebuket bunga Lily putih disimpan diantara
bunga-bunga yang lain.
Venus
tersenyum. Ia memilih bunga tersebut untuk diberikan pada tante Inoue. Dengan
perasaan yakin dan wajah yang berseri-seri, Venus melangkah dengan mantap
menuju Café de Flore. Matanya mencari-cari sosok
yang ia kenal dan sudah lama ia rindukan. Inoue bilang, kalo dirinya duduk
dikursi yang berada di teras.
“ Venus.. “ Inoue melambaikan tangannya. Nah! itu dia..
Seulas senyum merekah dibibir Venus, saat ia melihat sosok yang sangat ia
rindukan. Ia melangkah menghampiri Inoue. Dari jauh seorang lelaki memakai topi
dan jaket kulit hitam menghampiri Inoue.
“
Tante .. “ Sapa Venus semangat.
Laki-laki itu mendongak, kemudian berdiri. Buket bunga yang
dibawa Venus jatuh. Ia kaget setengah mati melihat lelaki dihadapannya. Reaksi
laki-laki itu pun tak jauh beda. Keduanya terdiam, tak bergerak atau
mengeluarkan sepatah katapun. Mereka terlalu sibuk memikirkan perasaan yang
berkecamuk didalam diri masing-masing.
Venus mencoba meredam gemuruh di dalam dadanya. Perasaannya sungguh tak
karuan. Senang, haru, gembira, rindu semua bercampur menjadi satu. Ia tak bisa
mombohongi dirinya sendiri. Lelaki yang sangat ia rindukan, sekarang ada
dihadapannya. Ingin sekali ia memeluknya, namun ia tak bisa. Ingin sekali ia
minta maaf, namun ia tak bisa.
Oh God! What should
i do?
Venus menunduk. Merasakan matanya menghangat. Buliran air mata meluncur
dari pipinya.
“ Honey.. Are you ok? “ Tanya Inoue khawatir. Venus menyeka air matanya.
Mengangkat kepala kemudian tersenyum semampu yang ia bisa.
Venus tersenyum ke arah Dylan. Keduanya terlihat bingung harus berbuat apa.
Secara bersamaan, Venus mengulurkan tangannya sedangkan Dylan merentangkan
tangannya. Saat keduanya menyadari kalau mereka salah tingkah, keduanya
tersenyum kaku. Inoue yang melihat keduanya hanya tersenyum geli.
“ Udah-udah. Kalian ini lama enggak ketemu malah malu-maluin. Liat tuh muka
kalian, jelek gitu saking saltingnya “
Wajah Venus dan Dylan memerah.
“ Ayo buruan duduk “ Inoue menyeruput ice lemon teanya. Keduanya
mengangguk.
Inoue ternyata sudah memesankan makanan. Ia memesan tiga porsi chicken
cordon bleu dan tiga ice lemon tea.
“ Makan dulu yu? Laper nih “ Ucap Inoue dengan wajah memelas.
“ Oke “ Jawab Venus dan Dylan bersamaan.
Keduanya terlihat kaget. Dylan memandang Venus lekat. Venus mengalihkan
pandangannya. Sialan! Mukaku pasti merah!.
Ia pura-pura menyibukkan diri dengan mengambil merica dan garam, kemudian
memotong-motong chicken cordon bleu menjadi kecil-kecil. Padahal sangat susah
bagi dirinya untuk bersikap biasa.
Venus memilih untuk lebih banyak menunduk. Ia hanya ingin mencoba untuk
menikmati makanannya, meskipun sebenarnya tak bisa. Saat ia sedang mengunyah
makanannya, Venus mencuri pandang untuk melihat wajah Dylan. Saat ia sedang
memperhatikan wajah Dylan, tiba-tiba mata Dylan melirik kearahnya.
“ Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. “ Venus tersedak. Ia pasti terlihat bodoh, ia
tertangkap basah sedang memperhatikannya.
“ Aduh, minum Ve. Minum “ Ucap Inoue panik.
Dengan refleks, Dylan mengambil minuman untuk Venus yang sedang
terbatuk-batuk. Venus menerimanya, namun yang
terjadi selanjutnya adalah kedua tangan mereka
saling bersentuhan. Sontak jantung Venus meletup-letup. Ia segera mengambil
minumannya, kemudian menyeruputnya.
“ Kamu enggak apa-apa? “ Inoue menepuk-nepuk punggung Venus pelan.
“ I’m ok “ Venus menarik nafas.
“ Excuse me “ Dylan berdiri. Ia pergi ke toilet.
Melihat Dylan pergi ke toilet, Venus bisa sedikit bernafas lega. Ia melirik
pada Inoue dengan tatapan tajam. Inoue hanya tersenyum,
merasa tak bersalah.
“ Pasti tante khan yang ngerencanain ini semua? Tante khan bilang kita
ketemu cuma berdua. Kenapa tante ngajak Dylan segala? “ Omel Venus sambil
mengerutkan alis.
Venus menyeruput ice lemon teanya kembali, mencoba untuk mengendalikan
gejolak dihatinya.
“ Tante pengennya, kamu balikan sama Dylan. Trus jadi mantu tante deh “ Ucap
Inoue santai.
Venus tersedak dan terbatuk untuk kedua kalinya. Ia kaget mendengar
pernyataan Tante Inoue. Venus mengambil tissue yang ada didalam tasnya.
Venus tersenyum.
“ Tante ini, masih aja suka bercanda “ Venus menyenggol tubuh wanita
separuh baya yang masih terlihat sangat muda itu.
“ No.. No.. Tante serius. Sangat serius bahkan. Tante berharap kamu bisa
jadi isteri Dylan. Hanya kamu yang pantas mendampingi my little prince, tak ada
yang lain “ Matanya memancarkan keseriusan dan harapan yang besar.
Mendengar kata-kata itu, Venus merasakan panas dari pipi menjalar ke
telinganya. Ia sungguh sangat tersanjung dengan kata-kata tante Inoue.
“ Sampai saat ini, tante masih bisa melihat cinta di matamu. Cinta yang
hanya ditujukan untuk Dylan seorang. Tujuh tahun lalu tante juga bisa melihat
cinta di matamu, namun tak sebesar cinta yang tante lihat sekarang “ Lanjut
Inoue.
Venus merasakan pipinya semakin panas. Semua yang dikatakan tante Inoue
memang benar. “ Sungguh
tante, jika aku bisa mengatakannya. Aku pasti akan mengatakannya. Kalau pun semua yang tante katakan itu benar,,
sekarang aku tak mungkin memilikinya lagi. Aku hanya ilalang kering yang
mungkin bagi Dylan sudah tak berharga lagi “ Venus menatap nanar.
“ Aku tak pernah tahu kebahagiaan yang sesungguhnya
hingga saat kudapatkan cinta Dylan,
dan aku tak pernah tahu derita yang sebenarnya sampai aku kehilangan dirinya. That’s very,, very hurts. Aku melewati tahun-tahun yang
membuatku sungguh sangat tersiksa ” Lanjut Venus. Air matanya menetes.
Inoue melihatnya prihatin. Kemudian memeluknya.
“ No my dear. Don’t speak like that. Kamu tahu, kamu
lebih berharga daripada sekedar ilalang. Kamu adalah permata didalam sebuah
mahkota. Tante tahu Dylan, sayang. Apapun yang terjadi pada hubungan kalian di
masa lalu, tante harap masa depan kalian bisa kalian tata bersama “ Inoue
mengelus-ngelus punggu Venus.
“ Mah.. “
Inoue melepaskan pelukannya. Venus menunduk dan menyeka air matanya.
“ Dy, mamah pulang duluan ya? Ada urusan nih.. Kamu ntar anterin Venus
pulang ya“ Inoue tersenyum penuh arti. Ia berdiri dari tempat duduknya.
“ Tapi mah.. “
“ No choice.. “ Inoue menyela. Ia mengedipkan matanya pada Venus. Venus
tersenyum kaku.
“ See you honey “ Ucap Inoue bercipika-cipiki pada Venus.
Dylan tersenyum.
“ Dasar, mamah itu.. Sekarang kamu mau kemana? Atau mau nerusin makan dulu
atau gimana ? “ Tanya Dylan sedikit gugup. Namun ia berhasil mengusai nada
bicaranya.
“ Pulang aja “ Jawab Venus singkat. Mendengar jawaban Venus, Dylan hanya
mengangguk.
Dylan berjalan ke mobilnya yang diparkir disamping cafe. Venus mengikutinya
dari belakang. Dylan membukakan pintu Ferrari merah untuknya. Rasanya seperti ada jurang yang besar diantara
kita.. Lima tahun berlalu. Banyak hal yang sudah kita lewati. Aku tak tahu
tentang kamu, begitu pun juga kamu. Rasanya semua ini takkan berhasil ..
Perjalanan dari cafe menuju hotel dilewati keduanya dengan diam. Hanya
alunan lagu yang mengalun merdu. Keduanya berkutat dengan pikirannya
masing-masing.
“ Ve, udah nyampe.. “ Ucap Dylan menyadarkan.
“ Oh.. Iya. Makasih ya.. Kalau gitu aku permisi dulu “ Venus membuka pintu
mobil, kemudian menutupnya kembali.
Venus menghela nafas. Ia melangkahkan kakinya dengan berat. That’s it? Menyebalkan!!! Argh!!!
“ Venus.. “
Langkah Venus tertahan, kemudian menoleh kebelakang.
“ We need to talk. I’ll pick you up tomorrow “
Venus tersenyum, mengangguk pelan dengan wajah memanas. Kemudian berjalan
memasuki hotel dengan gembira. Pikirannya dipenuhi dengan kejadian barusan,
kejadian yang membuat hatinya berbunga-bunga.
Venus membuka pintu kamar no 699 dengan senyum tersungging diwajahnya. Ia
menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Kemudian tertawa sambil memeluk bantal
sofa tersebut.
“ Seneng banget kayaknya? “ Tanya April sesaat setelah ia keluar dari kamar
mandi.
Terlihat Venus malah bengong, matanya menerawang jauh ke luar jendela,
namun mulutnya masih mengukir senyuman.
“ Woi! “
“ Astagfirullah “
“ Ditanyain malah bengong! Mana senyum-senyum sendiri lagi “ Sentak April
jengkel.
Venus tak menghiraukannya, ia malah terus
tersenyum.
“ Helloo.. Anybody here? “ April menggerak-gerakkan tangannya di depan
wajah Venus.
Venus menghela nafas. Kemudian tersenyum.
“ Aku ketemu dia tadi.. “
“ Siapa? “ Tanya April heran. April loncat ke atas sofa.
“ Dylan.. “
“ What?? “
“ Busyeet, kenceng amat Ril. Sakit nih telinga “ Venus mengelus-ngelus telinganya.
“ What did you say? Can you repeat again? I’m afraid if i listen something
wrong “
“ Aku tadi ketemu sama Dylan sayang.. “ Venus mengatakannya dengan lambat,
berharap agar sahabatnya itu mendengar.
“ Oh my God! Really? Ko kamu engga bilang-bilang? “ April histeris.
Venus terhenyak kaget.
“ Calm down baby. Aku juga enggak nyangka tadi bakal ketemu dia “
“ Gimana ceritanya?? Come on, tell me! “ Ucap April semangat.
“ Kamu juga tahu hari ini aku ketemu sama tante Inoue “ Venus memulai
cerita. “ Pas sampe disana ada cowok nyamperin dia. Pas diliat dari deket
ternyata Dylan “ Tatapannya menerawang jauh ke luar jendela.
“ Nothing special. Tante Inoue cuma bilang, kalau dia pengen aku jadi
mantunya. Eh, tapi dia bilangnya pas Dylan lagi ke toilet ya “ Ralat Venus saat
menyadari wajah April berbinar-binar.
“ Tante Inoue pulang, trus Dylan nganterin aku kesini “
“ That’s it? “ Tanya April tak percaya.
“ Dia bilangnya sih, mau ada yang diomongin. Besok dia jemput aku “
April tersenyum sumringah.
“ Wahhh , bagus dong. Kemajuan. Pertama kali ketemu, setelah hampir lima
tahun tak bertemu Dylan langsung ngajak kamu ngedate “
“ Iya sih.. Tapi.. “ Venus tak melanjutkan ucapannya.
“ Apa ada yang ngeganggu pikiran kamu? “
“ Kata kamu apa aku harus mengatakan yang sejujurnya besok? “
“ Hanya jika kau siap. Namun kalau kau menunggu hingga dirimu siap, aku
yakin kamu takkan pernah bilang kalau kamu siap. Jadi, siap atau pun tidak kamu
harus tetap mengatakannya. Mau Dylan marah atau tidak, itu adalah konsekuensinya
“
Venus menghela nafas. Ia sangat benci saat dirinya berada dalam perasaan
galau.
“ Au’ ah. Bingung. Gimana besok aja
deh “ Venus merajuk.
“ Pengen istirahat bentar, ntar bangunin ya? “ Venus menghempaskan diri ke
tempat tidur. Ketika bayangan Dylan terlintas dipikirannya, ia membiarkannya. Jika aku mengatakan yang sejujurnya, apakah
aku siap jika kehilangannya lagi??
{
Ini aku Dylan. Aku udah ada dibawah
Aku tunggu di Lobi
# 08212678xxxx
Venus tersenyum membaca sms dari Dylan.
Dy, aku belum siap-siap
Kamu enggak bilang mau jemput jam brp sih ..
Kamu mending nunggu dikamar aku aja
Takut lama. Disini ada April juga ko ..
Dia kangen sama kamu katanya
# Venus
Tak berapa lama kemudian, Venus menerima balasan.
Oh .. Kalo kamu
kangen enggak sama aku ? :p
Ok. Kamar no berapa ?
# 08212678xxxx
Muka Venus memerah saat ia membaca sms balasan dari Dylan. Ia tak menyangka
Dylan akan menanyakan hal itu, meskipun terkesan hanya bercanda.
Iya, kangen .. LOL
No 699
# Venus
Venus memeluk bantal dengan perasaan malu. Ia baru saja menyadari
kebodohannya. Mengapa ia harus mengatakan hal yang bodoh seperti itu. Huahhhh .. Stupid banget sih! Kenapa mesti jawab kangen coba? Ih, malu-maluin!
Venus mengambil baju dan melangkah ke kamar mandi dengan segera.
“ Ril, ntar ada Dylan mau dateng kesini. Bilang aku lagi mandi “ Venus
melangkah dengan cepat ke kamar mandi.
April yang melihat tingkah sahabatnya itu terheran-heran. Dia kenapa sih? Aneh banget.. ckckck
Tok .. Tok .. Tok
April melangkah menuju pintu kamar. Saat ia membuka pintu, sebuah senyum
terukir dibibir keduanya.
“ Dylan “ April histeris. April langsung memeluk sahabatnya itu. Sudah lama
sekali mereka tak bertemu.
“ Ayo masuk.. “ April menarik tangan Dylan. Kemudian menutup pintu kembali.
“ Gimana kabarnya Ril? “
“ Baik. Kamu sendiri? “ Tanya April sambil mempersilahkan duduk.
“ Ya seperti yang kamu liat “ Jawab Dylan. Matanya melihat sekeliling. Saat
ia sedang memperhatikan ruangan tersebut, matanya tertuju pada sebuah foto yang
menarik perhatiannya. Foto dirinya bersama ketiga sahabatnya saat masih
berseragam SMA. Ia ingat saat itu, sebelum teman sekelasnya ‘take a picture’
Dylan mencium pipi Venus. Alhasil, foto mereka saling berpandangan. Venus
melihat kearahnya dengan muka kaget, dan ia hanya tersenyum jail. Dylan tersenyum jika mengingat masa-masa
indah itu. Ia tak menyangka Venus masih memajangnya.
“ Woi! Ko malah senyum-senyum sih? “ Tanya April bingung. Entah mengapa,
kedua sahabatnya ini sama-sama bertingkah aneh.
“ Ups! Sorry.. “ Dylan tersenyum malu.
“ Venus mana? “
“ Dia lagi mandi “
“ Hmm.. Ril. Aku mau cerita sesuatu. Tapi janji, kamu jangan cerita ke
Venus “ Muka Dylan terlihat serius. Dylan berdiri, kemudian duduk disamping
April.
“ Emang soal apa? “ Tanya April penasaran.
“ Tapi janji dulu “
“ Iya aku janji, enggak bakal cerita sama Venus “
“ Sebenernya Mr.M itu aku “ Bisik Dylan.
“ What?? “ Teriak April histeris.
Dylan segera menutup mulut April. “ Sssstttttt! “ Dylan menengok ke pintu
kamar mandi. Kayaknya dia enggak denger..
fiuh..
Terlihat April tak bisa berkata-kata. Ia benar-benar tak percaya dengan apa
yang baru saja ia dengar.
“ Jadiii,, M itu Mahesa? “ Tanya April masih tak percaya. Dylan mengangguk.
“ Oh my God! Why? “
“ Aku ngelakuin semua ini karena dia. Hanya untuknya. Aku ingin bertemu
Venus. Sampai saat ini aku masih mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Kalau
aku terang-terangan, aku takut dia masih marah dan malah tak mau bertemu
denganku “
“ Argh! You so stupid! “ April menepuk dahinya. “ Kamu memancing di air
yang keruh tau g ? Kalau Venus tahu dari orang lain gimana? Kamu enggak mikirin
perasaan dia apa? “ Tanya April tanpa jeda.
“ Mangkanya, kamu jangan dulu cerita. Rencananya aku mau cerita ke dia
sekarang “
Baru saja April akan bicara, tapi ia mengurungkannya. Waduh. Kalau Venus cerita bakal perang dunia ke tiga nih.. Bakal enggak
selesai-selesai nih masalah.. OMG! Gimana dong?
Kriiettt ..
Pintu kamar mandi terbuka. Dylan kembali ke tempatnya semula. Venus
melangkah keluar dari kamar mandi, ia memakai jins hitam dengan t-shirt
berwarna merah bertuliskan sorry. Ia mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah
dan mengusapnya dengan handuk. Dylan terpesona melihatnya.
“
Ril, Dylan uda.. “ Ucapannya terhenti. Deg!
Saat Venus mengangkat wajahnya, betapa kagetnya ia ketika Dylan telah duduk
dihadapannya dan terang-terangan sedang memperhatikan dirinya.
Dug dug dug dug! Jantung Venus
berdebar lebih cepat dari biasanya. Untuk sesaat Venus
hanya mematung, tak tahu harus melakukan apa.
Gugup, malu bercampur menjadi salting. Venus segera menutup rambutnya dengan
handuk. Damn! Damn! Pasti merah deh..
“ Mmm,, Ehmm.. Dy, ka,,kamu udah lama,, disini? “ Tanya Venus gugup. Ia
menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk mengendalikan perasaannya yang
bergejolak. April hanya menahan senyum melihat sahabatnya yang salah tingkah.
Dylan tersenyum. “ Kayaknya aku lebih baik nunggu di Lobi aja “ Ucap Dylan
berdiri. Dylan melangkah. Ia tak melangkahkan kakinya ke pintu keluar namun
melangkah melewati Venus.
“ Cantik… “ Bisik Dylan dengan senyuman penuh arti. Venus merasakan pipinya semakin
memanas. Ia merasakan lututnya bergetar. Dylan berjalan lalu melirik Venus yang masih syok, gugup dan tak percaya,
kemudian melangkah keluar meninggalkan kedua sahabatnya.
“ Huaaahaaahaaahaa “ April meledak, sesaat setelah pintu kamar tertutup.
Bruk bruk bruk .. April memukul meja, tak tahan ingin tertawa.
Venus meloncat ke sofa, kemudian menutup mukanya dengan bantal. Uuhhh!
Nyebelin! Malu-maluin! Stupiiiiiddd!!!!
Argghhhh!
{
Venus melempar pandangannya ke luar jendela. Mobil yang Dylan kendarai
terus berjalan melewati berbagai bangunan yang cukup asing bagi Venus. Kejadian
dikamar hotelnya tadi masih terngiang-ngiang dipikirannya. Betapa malunya ia,
jika ia mengingat kejadian tadi. Apalagi orang yang membuatnya malu dan salah
tingkah sekarang tepat berada disampingnya. Alhasil sepanjang perjalanan Venus
hanya terdiam.
Dylan tahu alasan mengapa Venus diam. Untuk mencairkan suasana dan memecah
keheningan, Dylan menyalakan audio. Terdengar lagu because you loved me –
Celine Dion mengalun.
For all those
times you stood by me
For all the
truth that you made me see
For all the joy
you brought to my life
For all the
wrong that you made right
For every dream
you made come true
For all the love
I found in you
I’ll be forever
thankful baby
You’re the one
who help me up
Never let me
fall
You’re the one
who saw me through through it all
You were my
strength when I was weak
You were my
voice when I couldn’t speak
You were my eyes
when I couldn’t see
You saw the best
there was in me
Lifted me up
when I couldn’t reach
You gave me
faith ’coz you believed
I’m everything I
am
Because you
loved me ...
Lagu itu begitu sangat romantis. Lagu yang mewakili perasaan keduanya,
perasaan yang bahkan mereka sendiri tak pernah menyatakannya selama hampir lima
tahun. Perasaan yang sejak dulu sama sekali tak pernah berubah sedikit pun.
Dylan menghentikan mobilnya didekat jembatan Pont au Change. Sebuah
Jembatan yang melintasi sungai Seine di Paris.
Dylan dan Venus keluar.
“ Kita emangnya mau kemana sih? “ Tanya Venus bingung.
“ Udah ikut aja “ Dylan menarik tangan Venus. Untuk sesaat, ia terhenyak
kaget. Tapi kemudian ia menerima tangannya digenggam oleh lelaki didepannya.
Dylan berhenti disisi jembatan, tepat berada ditengah. Sebuah jembatan yang
menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Bangunan-bangunan klasik khas kota
Paris dengan sungai Seine yang membelahnya membuat kota itu tak pernah bosan
untuk dilihat. Kota itu selalu saja dapat menghipnotis orang-orang yang
melihatnya, terhipnotis dengan keromantisannya.
Venus tertegun melihat pemandangan yang Allah suguhkan dihadapannya.
Apalagi tepat disampingnya ada Dylan, sang pujaan hati.
“ Ve “
“ hah,, eh,, kenapa Dy? “
“ Kagum ya? “ Dylan tersenyum.
Venus mengangguk takjub, matanya berbinar-binar. Matanya telah terhipnotis
oleh pemandangan dihadapannya. Ia sampai tak memperhatikan Dylan masih ada
disampingnya.
“ Heii.. Anybody here? “ Dylan melambai-lambaikan tangannya tepat didepan
wajah Venus. Venus tersadar dari kekagumannya, kemudian tersenyum keki.
“ Ve, aku mengajak kamu kesini bukan hanya untuk sekedar melihat
pemandangan “ Dylan menatap Venus lekat.
Venus menunduk, malu. Kemudian ia menghela nafas berat. Kata-kata April
tadi malam masih terngiang-ngiang dikepalanya. Aku harus mengatakannya sekarang! Kalau tidak semuanya akan bertambah
kacau. Sekarang atau tidak sama sekali..
“ Sebenarnya aku.. “ Ucap keduanya bersamaan. Terlihat Dylan sedikit kaget.
Mungkin ia tak menyangka kalau Venus pun akan mengatakan sesuatu.
“ Aku lebih dulu “ Ucap Venus cepat.
“ Oke. Ladies first “ Dylan mengalah.
Venus menghela nafas. Aduh.. gimana
ngomongnya yah? Mau mulai darimana coba? Apa cerita dari aku nerima dia karena
balas budi sampe sekarang? Impossible! Bakal nyakitin dia banget.. atau..
“ Ve? Katanya mau ngomong sesuatu? “ Dylan menyadarkan.
“ Oh.. ehem.. “
Jantung Venus berdetak lebih kencang. Adrenalinnya naik turun, tubuhnya
terasa lunglai. Rasanya mulut dan hati ini terasa begitu berat untuk
mengatakannya, tapi ini harus ia lakukan.
“ Aku tak tahu harus mulai darimana. Yang jelas,, aku minta maaf “
Dylan mengangkat sebelah alisnya kemudian memperhatikan dengan seksama.
Venus melanjutkan ucapannya.
“ Dulu saat kita menjalin hubungan.. “ Ia terdiam, ragu untuk melanjutkan.
Venus menghela nafas. Rasanya ini terlalu berat, namun ia harus mengatakannya.
“ Sebenarnya,, hatiku terbagi “ Venus tak berani menatap wajah laki-laki yang
sudah ia bohongi selama bertahun-tahun.
Dylan terlihat bingung.
“ Ya, aku mencintaimu namun aku juga,,, mencintai Rafa“
Deg ! Jantung Dylan serasa disayat-sayat oleh sebilah pisau. Ia merasakan hatinya
hancur, saat ia mendengar penjelasan dari Venus. Dulu ia memang merasa kalau
Venus menyukai Rafa, namun ditepikannya jauh-jauh karena ia rasa itu semua tak
mungkin dan ia percaya pada Venus. Namun ternyata kenyataannya tak seperti yang
ia duga, Venus mencintai dua orang disaat yang bersamaan dan ia tak pernah
mengatakannya setelah bertahun-tahun berlalu. Ia menyembunyikan yang
sebenarnya, bukan lebih tepatnya ia berbohong padanya. Lalu apa arti
pengorbanannya selamanya ini ?
“ Dy, aku juga tak tahu sejak kapan perasaanku pada Rafa berubah. Aku tak
bisa menghindarinya Dy, aku hanya.. “ Venus ingin menyentuh tangan Dylan tapi
ia menepisnya.
“ Oh my God. I don’t believe this. Kau membohongiku selama bertahun-tahun!
Dan kamu tak merasa bersalah atau sedih atau apapun?? Apa kau tak pernah
memikirkan perasaanku?? Apa kau hanya memikirkan perasaanmu saja?? “ Nada suara
Dylan meninggi.
“ You wrong! “ Jawab Venus dengan nada tak kalah tinggi.
“ Kamu salah Dy.. “ Ucap Venus lagi dengan nada suara yang berubah turun
drastis. Matanya menghangat. Ia mencoba membendung air matanya.
“ Saat itu aku sangat mencintaimu, aku merasa kau belahan jiwaku. Aku
berikan kau segalanya. Aku tak pernah meminta apapun darimu. Tapi yang ku dapat
sekarang ternyata hanya pengakuan yang begitu menyakitkan hati “ Dylan melempar
pandangannya, menatap permukaan sungai Seine dengan pandangan kosong.
“ Tapi dulu aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu. Bahkan.. “ Ingin sekali ia mengatakan ‘bahkan
sampai saat ini’ tapi ia urungkan.
“ Tapi awalnya kau tidak mencintaiku khan? “ Dylan menoleh kearah Venus.
Deg! Ucapan Dylan benar-benar menohok Venus. Mulutnya serasa terkunci oleh
kata-kata lelaki didepannya.
“ Dengan segenap hati, aku terus
berusaha agar kau bisa mencintaiku. Aku rela mengorbankan segalanya untukmu.
Namun saat aku bisa mendapatkan cintamu, dibelakangku ternyata kau malah
membagi cintamu “ Dylan tersenyum kecut. Venus miris mendengarnya. Air matanya
meleleh.
“ Mungkin saat aku pergi pun, kau tak merasa kehilangan. Aku sudah bukan
siapa-siapa lagi dalam hidupmu. Aku tak berarti lagi bagimu. Karena aku
hanyalah.. “
“ Enough Dylan! “ Suaranya tercekat. Ia tak kuat mendengar kata-kata Dylan.
Ia benci jika Dylan men’judge’ dirinya, padahal ia tak tahu apa-apa sama
sekali.
“ Kalau gitu, kenapa kamu ngelakuin itu? “ Tangan Dylan menyentuh kedua
bahu Venus kemudian mencengkeramnya.
“ Kenapa kamu ngebohongin aku selama bertahun-tahun? Kenapa Ve?! “ Tanya Dylan
sambil mengguncang-guncangkan tubuh Venus dengan keras.
“ Stop it! You hurts me “
Venus menghela nafas.
“ Really sorry for
hurting you more. Sorry, to have put you to so much
trouble. Terkadang ada hal yang tak bisa kita mengerti. Maybe, I should go.
Once more, i’m sorry “ Ucap Venus melangkah pergi. Ia menyeka air matanya.
Dylan menarik tangan Venus, mencegahnya untuk pergi. Venus membalikkan
badan.
Terpancar jelas sekali kekecewaan dari wajahnya, namun entah mengapa Venus
merasakan hal yang lain dari matanya.
“ Biar aku yang mengantarmu pulang “ Ucap Dylan. Terdengar nada suaranya
begitu dingin.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua terdiam. Hanya suara musik yang
mengiringi mereka. Bukan diam karena canggung atau malu. Tapi diam karena salah
satunya sedang meredam amarah. Mungkin lebih baik jika keduanya diam. Lagu The
reason – Hoobastank mengalun.
I'm not a
perfect person
There's many
things I wish I didn't do
But I continue
learning
I never meant to
do those things to you
And so I have to
say before I go
That I just want
you to know
I've found a
reason for me
To change who I
used to be
A reason to
start over new
And the reason
is you
I'm sorry that I
hurt you
It's something I
must live with everyday
And all the pain
I put you through
I wish that I
could take it all away
And be the one
who catches all your tears
That's why I
need you to hear ....
Venus menoleh kearah Dylan. Lagu ini
untukmu, Dy .. Andai kamu tahu, aku melakukan itu semua karena aku tak ingin
kehilangan dirimu. I always love you Dy, even until now. Namun aku tahu Dy,
jika aku memberitahukan apa alasannya, kamu pasti takkan percaya dan bilang
‘kalau itu semua hanya alasan dan kebohongan belaka’ .. Hufh .. Sudahlah. Biar
waktu yang menjawab semuanya ..
Venus melempar pandangannya keluar jendela. Air matanya menetes.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar