Kenyataan Yang Menyakitkan
“ Kamu ngapain ada disini Ri? “ Tanya Venus masih tak percaya melihat adik sepupu Dylan berada di
Paris. Mereka bertiga sedang duduk di sebuah coffee shop yang tak jauh dari
tempat mereka bertabrakan.
“ Aku lagi kerja disini. Ka Venus sekali lagi aku minta maaf ya, tadi
bener-bener enggak sengaja “
“ Ya udah lupain aja. Aku juga enggak apa-apa ko “
“ Kamu kerja apa disini? “ Tanya April tak sabar.
“ Aku kerja ngebantuin Ka Dylan “
“ Oh ya? Emangnya Dylan kerja apa? “ Tanya Venus. Ia memang tak pernah
menanyakan pada Dylan tentang pekerjaannya.
Uhuk ... Uhukk ..
April tersedak saat mendengar pertanyaan tersebut. Ia takut semuanya akan
terbongkar. April mengerjap-ngerjapkan matanya, namun nihil.
“ Ka Dylan kan sekarang udah jadi pengusaha. Dia itu termasuk pengusaha
muda yang paling sukses di Paris. Dia punya butik, pabrik, restorannya juga
dimana-mana. Kalau enggak salah sekarang dia juga lagi ngebangun resto baru
lagi “
“ Wah, hebat dong ya? “ Ucap Venus kagum.
“ Iya ka, dia itu berusaha dari nol tanpa bantuan dari om atau tante,
mungkin dia emang udah ada turunan pebisnis kali dari om, ya jadi engga butuh
waktu lama dia jadi sukses. Kalau engga salah dalam waktu 3 tahun la dia udah
bisa sukses kaya gini “
Venus hanya mengangguk mendengar penjelasan Paleri. Ia memang tak meragukan
kemampuan Dylan dalam berbisnis.
“ Bukannya kalian berdua juga ke sini buat kerja sama Ka Dylan yah? “
Hah ? Venus menaikkan sebelah alisnya, tanda tak mengerti.
“ Iya, kalian kesini buat ngebangun resto
ka Dylan yang baru kan? “
“
Emang kita kesini buat ngebangun sebuah resto, tapi bukan punya Dylan yang
punya resto itu Mr.M “
“
Mr.M itu kan ka Dylan “ Paleri dengan santai menyuruput lattenya, padahal dua
orang dihadapannya sudah berwajah pucat.
Venus
tak percaya dengan kata-kata yang baru saja didengarnya, sedangkan April tak
percaya akhirnya rahasia yang selama ini ia tutupi terbongkar oleh adik sepupu
Dylan sendiri. April yakin Venus akan marah sekali, dan ia juga yakin hubungan
keduanya akan hancur.
“
Halooo, kalian berdua ko malah bengong? “ Paleri mengibas-ngibaskan tangannya.
“
Kamu enggak bohong? “ Pandangan Venus
kosong, matanya tak berkedip sama sekali.
“
Bohong? Bohong buat apa ka? Emangnya kalian berdua beneran enggak tahu kalau Mr.M itu ka Dylan? “
“ Sebenernya aku udah tahu “ April sudah pasrah, ia tak peduli jika Venus
ataupun Dylan marah padanya, ia tak ingin membohongi sahabatnya lagi.
Venus menoleh ke arah April, kemudian tersenyum kecut. Ia tak percaya, sahabat yang selama ini ia percayai telah membohongi
dirinya.
“ Enough. I’ve to go “ Venus berdiri kemudian melangkah pergi.
Paleri terbengong-bengong tak percaya Venus pergi begitu saja, sepertinya
ia marah, kecewa, sedih semua bercampur menjadi satu hingga ia pun tak tahu
harus berkata apa.
“ Waduh, aku kayaknya salah ngomong ya? Maaf ya ka, aku enggak tahu kalau
ternyata ka Venus belum tahu kalau ka Dylan itu Mr.M “
“ Enggak apa-apa ko, ini bukan salah kamu. Mungkin emang udah waktunya dia
tahu kebenarannya “
“ Ya udah kalau gitu sekarang kita mending kejar ka Venus deh, terus jelasin deh ke dia. Gimana? “
“ Enggak perlu. Biarin dia sendiri aja dulu “
April menatap keluar jendela. Forgive me Ve ..
{
Suasana di kota Paris saat itu terasa sangat panas, entah karena suasana
hati Venus yang memang sedang panas atau karena ada segerombolan orang yang
sedang melakukan adegan “panas”. Sebenarnya mereka sedang melakukan atraksi
yang berhubungan dengan api, layaknya pemain sirkus.
Venus hanya ingin menghibur dirinya sendiri, hati yang selama ini ia jaga
telah hancur oleh kebohongan yang jelas namun tertutupi oleh senyuman palsu. Ia
tak percaya orang-orang yang ia sayangi, orang-orang yang ia percaya tega
membohonginya. Kenyataan ini sungguh sangat menyakitkan, ia tak percaya
ternyata selama ini ia pergi bersama kekasih orang, ia tak percaya selama ini
ia mencintai lelaki yang sudah dimiliki. Padahal ia sudah berharap banyak
dengan pertemuannya ini, namun ternyata semuanya tak sesuai dengan harapannya.
Air mata Venus menetes. Ia menyekanya, namun air matanya tetap menetes.
Bukan matanya saja yang menangis, hatinya pun ikut menangis.
Pertunjukan telah selesai, Venus meneruskan kembali perjalanannya. Ia
memilih untuk berjalan kaki.
.. Cause you're hot then you're cold You're yes then you're no ..
Handphone Venus berdering. Nama Miss Darla muncul di layar kaca. Sebenarnya
ia tak ingin mengangkat telepon dari siapa-siapa, namun ini Miss Darla. Venus
menekan tombol hijau.
“ Haloo “
“ Where are you?? “
Suara Miss Darla yang cempreng merasuk ke
telinga Venus. Refleks Venus menjauhkan handphone dari telinganya.
“ I don’t know
where am i. What’s up? “
“ Oh my God. Are
you know? Party is tonight “
“ What? Party?
Party apa? Aku sama sekali enggak tahu kalau ada party “
“ Aduuuuh, kamu ini.
Party buat ngerayain dibangunnya resto baru Mr.M. Semua orang yang berhubungan
harus hadir disana. Banyak orang-orang penting, para pengusaha, pemegang saham,
pokoknya semuanya “
“ Maaf Miss, tapi
aku enggak bisa dateng “
“ No, no, no. Kamu
harus dateng. Acaranya diadakan pukul 8 di Hôtel de Crillon. Kalau kamu enggak tahu
tempatnya, nanti kamu pergi bersama Orion dan April biar Milano yang anter
kalian “
“ Tapi... “
Tut, tut, tut ..
Miss Darla memutuskan percakapan mereka begitu saja. Erghhh, menyebalkan!!
Venus memutuskan untuk naik taksi. Rasanya ia ingin pergi dari kota ini.
Padahal dulu, kota Paris adalah kota yang sangat ia kagumi dan puja-puja, namun
sekarang rasanya ia ingin segera menghilang dari kota ini.
Tak lama kemudian, ia sudah sampai di hotel Ritz. Matanya menangkap sesosok
lelaki yang sangat ia kenal.
“ Orion “
Orion melambaikan tangannya, kemudian tersenyum. Venus melangkah mendekati
Orion yang sedang meminum kopi.
“ Kamu mau nemenin aku di party ntar malem? “
Orion mengangkat sebelah alisnya.
“ Oke. See you tonight “
Baru saja Orion membuka mulutnya, tapi Venus sudah melangkah pergi.
Venus masih tak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui. Tenyata Mr.M itu Dylan, dan yang dimaksud Milano
Miss Christine itu siapa?? Ya tuhan,,, kenapa aku begitu bodoh, i’m so stupid.
Lima tahun berlalu dan aku masih mengharapkan Dylan? Bodoh!. Dia udah melupakan
aku, dia udah punya cinta lain yang mungkin lebih baik dari aku. Yang mungkin
bisa ngasih kebahagiaan yang dulu aku enggak bisa kasih. Aku terlalu bodoh
untuk menyadari semuanya, menyadari kalau semuanya udah berakhir.
Venus tersenyum kecut, ia mencoba membendung air yang sudah ingin keluar
semenjak tadi. Kuatkan aku Ya Allah,
kuatkan hatiku agar aku bisa menerima semua jalanMu ..
Venus membuka pintu kamarnya, terlihat April sedang melihat acara televisi.
Venus menghela nafas, kemudian memalingkan wajahnya.
Venus melangkah masuk, kemudian mengambil handuk yang berada di lemari
baju. Ia sebenarnya sedang tak ingin
bertemu atau pun berbicara dengan April. Ia hanya ingin bersiap-siap pergi ke
pesta, kemudian segera pergi dari tempat ini.
“ Ve, aku mau ngomong sama kamu “
Venus tak menghiraukan kata-kata April, ia menyiapkan segala sesuatu untuk
acara nanti malam.
“ Ve, aku mau ngomong sama kamu “
April menyentuh bahu Venus.
“ Tapi aku enggak! “ Venus menepis tangan April.
April tersenyum kecut.
“ Don’t be a coward Ve. Kita bisa selesain masalah ini baik-baik tanpa
harus saling nyakitin. Please Ve, kita udah sama-sama gede, jangan hanya karena
emosi kamu jadi keras kepala kaya gini “
Venus menghela nafas. April benar, ia memang butuh kejelasan.
“ Oke. Aku mendengarkan “ Venus duduk di sofa dengan lemas, ia pasrah
mendengarkan semua penjelasan April, ia pasrah jika semua penjelasan April
hanya akan menyakiti hatinya saja.
“ Aku juga baru tahu baru-baru ini kalau Dylan itu Mr.M. Inget saat kamu
mau jujur soal Rafa? Dia juga bilang kalau dia mau bilang yang sejujurnya sama
kamu. Mungkin karena Dylan terlanjur kecewa jadi dia mengurungkan niatnya. Dia
nyuruh aku enggak bilang ke kamu, karena Dylan pengen dia yang ngasih tahu kamu
semuanya, dia pengen kamu tahu dari dia langsung, bukan dari orang lain. Tapi
kenyataannya ternyata enggak sesuai yang diharapkan, kamu udah terlanjur tahu “
Air mata Venus menetes, air mata yang sedari tadi ia bendung akhirnya
keluar.
“ Tapi enggak gitu juga Ril caranya, dia udah bener-bener nyakitin hati aku
Ril. Dia udah ngasih harapan kosong ke aku, dia ajak aku kencan, dia ajak aku
dinner, dia care sama aku, itu semua bullshit. Dia udah punya kekasih, tapi dia
malah jalan sama aku “
“ Dia bener-bener udah bikin hati aku hancur lagi. Perjuangan aku selama
lima tahun, perjuangan aku buat lupain dia, sia-sia hanya dalam beberapa hari.
Dia datang dan masuk lagi dalam kehidupanku, membuatku serasa punya sayap
kembali, namun dia patahkan lagi sayap itu. Dia hancurkan lagi hati ini Ril.
Aku,,, aku enggak bisa maafin dia Ril. Enggak bisa ...“
“ Tapi Ve,, “
“ Please Ril, aku enggak mau denger apa-apa lagi “ Venus menyeka air
matanya.
“ Aku enggak mau denger penjelasan apa-apa lagi, semuanya udah berakhir.
Aku enggak mau ngebahas ini lagi “ Venus berdiri, kemudian melangkah menuju
kamar mandi.
Ya Allah,, hilangkanlah rasa ini,, rasa sakit ini, rasa
cinta ini ...
{
Venus melingkarkan tangannya ke tangan Orion yang sedikit kekar. Ia mencoba
menyembunyikan kesedihannya dengan bantuan dari Orion, meskipun secara tidak
langsung. Dengan adanya Orion, ia bisa menghadapi Dylan. Venus melangkah
bersamaan dengan Orion, semua mata memandangi mereka. Terlihat Venus sedikit
kikuk.
Tangan Orion menyentuh tangan Venus kemudian tersenyum, ia mencoba
menenangkan hati Venus yang sedang gelisah.
“ Oh my God. Lihat kalian berdua? Kalian begitu serasi. Kalau aku enggak
tahu kalian rekan kerja, mungkin aku bakal menyangka kalau kalian ini adalah
sepasang kekasih. Lihat saja, sang wanita dengan dress hitam selulutnya, rambut
ikal yang terurai, wajah manis yang tanpa dipoles pun tetap manis, datang
dengan pangeran tampan berjas putih. Beautiful and
handsome. Cocok banget “
Terlihat wajah Venus sedikit memerah, tak biasanya Miss Darla memujinya
seperti itu.
“ Anda terlalu memuji, saya tidak pantas mendapatkan pujian itu “
“ No, No, No. Kamu memang pantas mendapatkan pujian itu “
“ Iya, malam ini kamu memang pantas mendapatkan perhatian semua orang “
Tambah Orion.
Orion mendekatkan bibirnya ke telinga Venus. “ Malam ini,,, kamu cantik
banget “
Venus memukul dada Orion yang bidang, ia tak biasa dipuji seperti itu oleh
seorang lelaki, apalagi lelaki setampan Orion.
“ I’ve to go. Enjoy the party guys “ Miss Darla melangkah pergi menjauh
dari keduanya. Padahal keduanya tak mengenal siapa pun disini. Alhasil, mereka
hanya mengobrol berdua dan mencoba menikmati pesta yang ada.
“ Aku ambil minum buat kamu dulu ya?
“
Venus mengangguk. Orion melangkah melewati kerumunan orang-orang yang
sedang bercengkrama. Saat ia sedang memperhatikan Orion tiba-tiba dari belakang
seseorang menabraknya. Alhasil baju sebelah kirinya terkena tumpahan minuman.
Dengan refleks orang tersebut membersihkan lengan baju Venus yang terkena minuman,
tanpa melihat wajah orang dihadapannya.
“ Oh my God.. I’m so sorry, that was an incidental. Please, forgive me miss
,,, “ Ia mengangkat wajahnya, tiba-tiba ekspresi keduanya berubah.
“ Venus? “
“ Irish? “
“ Ngapain kamu disini?? “ Tanya keduanya hampir bersamaan.
Keduanya tersenyum.
“ Long time no see “ Irish tersenyum kembali, terkandung ketulusan dari
ucapannya.
“ Iya. Lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu? “
“ Baik, seperti yang kamu lihat. Hidupku sekarang jauh lebih berarti
dibandingkan dulu, dan sekarang aku sangat bahagia “ Mata Irish memancarkan
kebahagiaan yang sama sekali tak pernah Venus
lihat.
Venus tersenyum. “ Aku bahagia untukmu. Oiya, ngapain kamu ada disini? “
“ Aku khan salah satu pemegang saham disini, sudah pasti aku harus datang.
Lagipula aku ini kan,,, “
“ Sayang.. “ Seorang wanita paruh baya menyentuh bahu Irish dari belakang.
“ Eh, mamah.. Oiya, kenalin ini Venus. Dia salah satu arsitek yang cukup
terkenal di Indonesia. Resto kita yang baru juga di rancang olehnya. Iya kan
Ve? “
Venus mengangguk.
“ Nice to meet you. You look so beautiful “
“ Nice to meet you. Irish juga
terlihat sangat cantik, aku bahkan sempat tak
mengenalinya “
“ Ah, biasa aja. Kamu juga tambah cantik aja. Oiya, mana April? Bukannya
dia juga ngebantuin kamu buat ngebangun resto kami ya? “ Irish
celingak-celinguk mencari sosok yang ia kenal.
“ Dia enggak ikut, tadi tiba-tiba aja maagnya kambuh jadi ya terpaksa dia
enggak ikut“
“ Oh, gitu “ Irish mengangguk tanda mengerti. Mamah Irish berpamitan untuk
menghampiri tamu-tamu yang lain.
Keduanya mengangguk.
“ Kamu dateng kesini sama siapa? Sendirian? “
“ Enggak.
Aku bareng Orion. Temen sekaligus assistant aku di kantor “
Irish mengangguk-ngangguk.
“ Temen atau
pacar nih?? “ Goda Irish sambil tersenyum jail.
Venus tersenyum.
Ia tak menyangka, lima tahun tak bertemu dengan Irish, ternyata sekarang ia telah berubah
menjadi wanita dewasa yang bisa menghargai dan menghormati orang lain. Entah
apa yang terjadi padanya, tapi ia ikut senang dengan perubahan temannya itu.
“ Nih Ve minumannya “
“ Merci. Oiya, kenalin ini Irish. Irish ini Orion “
Keduanya bersalaman sambil tersenyum. Mata keduanya bertemu, untuk beberapa saat
mereka saling berpandangan dengan tatapan yang sama sekali tak dimengerti Venus.
Uhuk … Uhuk …
Venus pura-pura tersedak minuman yang di bawa Orion.
Keduanya
langsung tersadar.
“ Kamu enggak
apa-apa Ve? “ Ucap keduanya hampir
bersamaan.
“ Enggak apa-apa
ko tenang aja “
“ Oiya Ve, aku
mau nemuin kamu sama seseorang “
“ Seseorang?
Siapa? “ Venus mengerutkan kedua alisnya.
“ Udah ikut aja.
Kamu pasti seneng ketemu sama dia “ Irish menarik tangan Venus, kemudian
melangkah menuju kerumunan. Venus mengikutinya dari belakang dan memberi
isyarat pada Orion kalau ia pergi sebentar.
Venus terus
memperhatikan orang-orang yang berada di pesta tersebut. Terlihat sekali kalau
pesta ini diperuntukkan untuk orang-orang kelas atas. Kebanyakan dari mereka
sepertinya adalah pengusaha. Untung saja ia merupakan pribadi yang percaya
diri, ia tak pernah merasa rendah diri didepan orang lain, karena bagaimana pun
juga semua manusia itu sama.
Mata Venus masih
memperhatikan orang-orang yang berada disekitarnya.
“ Sayang, liat
siapa yang aku bawa “
Saat matanya
tertuju pada orang yang Irish panggil
‘sayang’ rasanya mata Venus terasa ingin loncat keluar, tak
percaya dengan apa yang ia lihat. Bukan tak percaya dengan kehadiran orang
tersebut di pesta itu namun ia tak percaya kalau orang itu sekarang adalah
kekasih Irish.
“ Kalian berdua masih saling kenal khan? “ Irish melihat Dylan, kemudian
beralih melihat Venus.
Venus mengangguk dengan ragu. Ia tak tahu harus berkata apa. Setelah hatinya
hancur karena selama ini ia dibohongi oleh dua orang yang ia percayai, sekarang
hatinya bertambah hancur karena ternyata Dylan sudah punya kekasih dan ia memilih
Irish untuk menjadi pendampingnya. Kenyataan yang menyakitkan. Mr. M ternyata
Dylan dan Mr. M juga sudah punya kekasih.
Tunggu dulu, bukannya pacar Mr. M itu namanya Ms. Christine?
Tapi kenapa jadi Irish?
Untuk beberapa
saat Venus terdiam. Mencoba mengingat hal yang sempat ia lupakan. Ah, bodoh. Irish Isabella Christine.
Tapi kenapa harus Irish? Kenapa harus Irish Dy??
“ Nice to meet you, Mr. M “ Venus mengulurkan tangannya, mencoba bersikap
sebiasa mungkin.
Dylan terhenyak kemudian terdiam, sepertinya ia kaget Venus tahu identitas
Mr. M yang sebenarnya.
Namun tak lama kemudian ia menyambut tangan Venus. “ Nice to meet you too,
Ve “
Venus menarik tangannya kembali, ia tak ingin memberikan harapan palsu untuk
hatinya lagi. Irish mendekati Dylan, lalu tersenyum dengan penuh arti. Irish
melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Dylan, kemudian mereka membicarakan
sesuatu. Venus mengalihkan pandangannya, ini bukan urusannya.
“ Ve, aku harus menyapa tamu-tamu yang lain dulu. Kalian berdua santai
saja, aku yakin banyak hal yang ingin kalian bicarakan “
Venus gelagapan mendengar perkataan Irish. Ia tak ingin hanya berduaan
dengan Dylan. Ia tak bisa. Ia takut amarahnya meledak-ledak.
“ Eh, enggak. Aku lebih baik pergi aja. Enggak enak juga bikin Orion nunggu
lama “
Baru saja Venus akan melangkahkan kakinya. Tapi seseorang menarik
tangannya. Venus menoleh.
“ Please Ve, don’t go. Ada yang perlu aku bicarain sama kamu “ Ucap Dylan
memelas.
Venus tak suka jika Dylan sudah menunjukkan wajah memelasnya. Ia termasuk
orang yang tidak tegaan.
“ Iya Ve. Kalian udah lama enggak ketemu. Pasti banyak hal yang ingin
kalian bicarakan. Enjoy your time “ Irish mengecup pipi Dylan, kemudian
berpamitan pada Venus dan melangkah pergi.
Irish sudah tak terlihat lagi. Untuk beberapa saat keduanya hanya terdiam.
Tiba-tiba lagu A Whole New World mengalun. Keduanya merasa kalau mereka kembali ke masa lalu. Dylan mengulurkan tangannya mencoba mengajak Venus untuk berdansa.
Untuk sesaat, Venus merasa bahagia dan tersanjung. Tapi ia harus menapikkan
perasaan itu.
Venus menggeleng.
“ Please?? “
“ Enggak. Maaf “
Dylan menghela nafas.
“ Oke. Aku minta maaf Ve, kalau kamu ngerasa aku ngebohongin kamu selama
ini “
“ Ngebohongin kamu bilang ? kamu bukan hanya ngebohongin aku, kamu udah
nyakitin hati aku. Kamu udah ngasih aku harapan kosong. Kamu juga udah nyakitin
hati Irish“
“ Aku tahu. Aku minta maaf “
Venus tersenyum kecut.
“ Aku mau tanya, dulu kenapa kamu ninggalin aku gitu aja? Oke. Aku tahu
kita udah putus. Tapi enggak seharusnya kamu ninggalin aku disaat aku
benar-benar terpuruk. Dua orang yang aku sayangi, pergi ninggalin aku disaat
yang bersamaan “
Ingin sekali Dylan memeluknya, tapi ia urungkan.
“ Maaf. Karena dulu aku ninggalin kamu tanpa berkata apa-apa. Aku minta
maaf “
“ Andai semua masalah bisa selesai dengan kata maaf...“
Venus menunduk, ia merasakan matanya mulai menghangat.
“ Kamu tahu, disana aku benar-benar terpuruk. Bayang-bayang kalian berdua
selalu menghampiri dimana pun aku berada, semua tempat mengingatkanku pada
kalian berdua. Kata-kata
yang tak bisa aku ucapkan pada orang lain, aku simpan dalam hati. Rasanya aku
ingin mati. Aku ingin menceritakannya padamu, tapi orang yang paling aku
percayai di dunia ini malah menghilang begitu saja “
“ Sedangkan kamu Dy, disini kamu bisa menemukan
dunia baru, teman baru dan kekasih baru. Mungkin kamu udah enggak pernah
mikirin aku lagi “
“ Kamu salah! Aku,,, aku masih,,, “
“ Udahlah Dy, everything is change. Enggak ada
lagi kata kita. Yang ada sekarang hanya kamu dan dia “
“ Enggak Ve, kamu salah. Terkadang apa yang kamu lihat dan kamu dengar itu
enggak sesuai dengan kenyataan “
“ Bagaimana bisa aku berada diantara cinta kalian?? “
“ Venus, I still love you ... “
Buliran air mata meluncur dipipi Venus saat kata-kata
tersebut keluar dari mulut Dylan. Harusnya ia
bahagia mendengar Dylan masih mencintainya, namun entah mengapa kata-kata itu
malah membuat hatinya menjadi sakit.
“ Udahlah Dy, semua itu enggak akan bisa merubah keadaan. May be she is
your true love .. So,,,“ Venus menghentikan kata-katanya. Rasanya berat sekali
bibir ini meneruskan kata-katanya.
“ So,,, let me go “ Dengan suara pelan namun tegas, Venus mengakhiri pembicaraannya.
Ia berjalan melewati kerumunan sambil menyeka air matanya. Ia merasakan hatinya
begitu sesak. Bagaimana bisa ia mengatakan hal itu, sementara hatinya yang lain
berkata sebaliknya.
“ Venus ... “ Teriak Dylan. Ia melangkah mengikuti Venus. Ia tak ingin
terjadi salah paham lagi. Ia tak ingin kehilangan wanita yang sangat ia cintai
lagi.
Venus melangkahkan kakinya lebih cepat. Matanya mencari-cari sosok yang ia
kenal. Orion kamu dimana???
Akhirnya Venus menemukan orang yang dicarinya. Ternyata ia sedang asik
bercengkrama dengan Irish. Entah mengapa Venus merasa mereka terlihat sangat
bahagia.
“ Ve,,nus,, “ Dylan melihat kedua sosok yang sangat ia kenal. Dylan
melangkah mendekati keduanya dengan cepat.
Buuukkk ..
Sebuah tinjuan mendarat tepat di pipi Orion.
Venus dan Irish terhenyak kaget. Ia tak menyangka Dylan akan berbuat
sekasar itu, apalagi pada orang yang baru ia kenal.
“ Avoid my girlfriend!! “
“ Dylan!
Calm down . What are you doing?
“
Venus dan Irish terheran-heran mendengar Orion mengenal Dylan.
“ Arrgghhh... “ Dylan memukulnya kembali.
Venus tak menyangka Dylan melakukan hal itu. Sebesar itukah cintamu pada Irish?
Kali ini Orion menangkis pukulan Dylan, kemudian melayangkan tinjunya tepat
ke perutnya.
“ Guys, stop it! “ Irish berteriak. Dylan tak mau mendengar, ia seperti
sedang melampiaskan amarahnya pada Orion.
“ STOP!!! “ Dengan refleks Venus berdiri tepat berada ditengah diantara
keduanya, ia memilih untuk melindungi Orion.
Buuk..
Tinjuan Dylan mendarat tepat dipipi Venus. Venus terjatuh. Ia merasakan
sudut bibirnya mengeluarkan darah. Ia rela menerimanya, jika ini memang untuk
kebahagian semuanya.
“ Venus are you oke? “ Irish mendekati Venus.
“ I’m fine “
“ Ve, kamu enggak apa – apa? Bibir kamu berdarah “ Terlihat Orion begitu
khawatir.
Dylan hanya berdiri mematung. Ia terlihat sangat syok.
“ Lebih baik kamu pergi dari sini Orion! Kamu cuma ngeganggu acara pestaku
“
“ Dylan! Enggak seharusnya kamu ngomong kaya gitu! “ Irish terlihat kecewa.
“ Lagipula kenapa kamu rela-rela ngebelain dia, Ve? “
“ Dia orang yang sangat berarti untukku. Sudah sepatutnya aku membela dia “
“ Jadi aku udah enggak berarti lagi untukmu?! “ Nada bicara Dylan meninggi.
Venus menelan ludah. Ternyata Dylan masih memendam amarah.
“ Bukan itu maksudku “
“ Udahlah. Sekarang kamu pilih dia atau tetap berada di pesta ini? “
Venus menghela nafas. Ia tak menyangka Dylan mengatakan hal itu.
“ Baiklah Mr. M yang terhormat. Aku lebih baik pergi dari sini. Tak
seharusnya aku berada disini. Ayo Orion kita pergi“
Venus berbalik kemudian melangkah pergi. Orion mengikutinya dari belakang.
Dylan tak percaya, Venus memilih untuk pergi dibandingkan tetap bersamanya.
Ia hanya bisa mematung, melihat Venus pergi semakin jauh hingga bayangannya
hilang tak terlihat lagi.
{
Tok … Tok .. Tok
..
Seseorang dengan
keras mengetuk pintu kamar hotel.
“ Siapa sih?
Pagi-pagi gini udah bertamu “ Ucap April kesal. Ia membukakan pintu.
“ Good morning
girls. Wah bagus banget, ternyata kalian udah siap. Sekarang kita pergi buat
liat-liat resto yang kalian bangun dan sebentar lagi akan selesai. Mr. M dan
Ms. Christine udah nunggu kalian dibawah “
Hah ? Venus
terlihat bingung. Ia tak ingin pergi bersama mereka.
“ Aduh Miss,
lebih baik kalian pergi duluan aja. Aku menyusul “
Miss Darla
mengerutkan kedua alisnya. Sebentar lagi kata-kata pedasnya pasti keluar.
“ Kamu ini, dikasih
kesempatan pergi bareng bos harusnya seneng, bukan malah sok jual mahal gitu.
Udah kalian pergi sekarang juga. Mr. M udah nunggu kalian dari tadi “
Venus menghela
nafas. Miss Darla termasuk orang yang tak suka dibantah, kalau kata dia A
berarti harus A.
Dengan kesal
Venus melangkah keluar kamar. Sesampainya dibawah, ia melihat Dylan dan Irish
sedang mengobrol. Mereka terlihat mesra sekali dan sangat serasi.
“ Itu bukannya
Irish ya? Apa aku salah liat? Ko bisa bareng Dylan? “ April berbisik pelan.
Ia heran melihat wanita penggoda itu ada disini.
“ Dia Ms.
Christine “ Venus berbisik tak kalah pelan.
“ WHAAT?? “ Teriak April. Dengan refleks Venus menyenggol perut April.
“ Berisik! “
“ Tapi Ve, itu Irish. Si cewek penggoda “ April berbicara tanpa mengeluarkan
suara. Ia hanya mengandalkan gerakan bibir. Mereka terbiasa bersikap seperti
itu jika membicarakan orang yang berada didepan mereka.
Kali ini Venus mencubit tangan April.
“ Aww, sakit tau! “
“ Jaga bicara kamu. Dia sekarang bukanlah Irish yang kita kenal dulu “
Venus dan April berhenti melangkah, keduanya berada tepat didepan Dylan dan
Irish.
“ Hallo Ve. Hallo April. How are you? “ Keduanya berdiri dari tempatnya
duduk.
“ Fine “ April terlihat sinis. Ia sepertinya tak suka melihat kehadiran
Irish. Karena terakhir kali saja, kehadirannya membuat hubungan Venus dan Dylan
berakhir.
“ Ve, pipi kamu udah enggak apa-apa khan? Coba aku liat “ Irish mengangkat
dagu Venus. Kemudian menengokkannya ke arah kanan. Venus hanya bisa tersenyum
kikuk dengan perhatian Irish.
“ Wah, pipi kamu biru. Memar ya? Mending kamu ke dokter deh, daripada ada
apa-apa. Gara-gara kamu sih, pake berantem segala ” Irish memukul Dylan dengan
lembut.
“ Aku enggak apa-apa ko. Orion tadi malem juga udah ngobatin aku “
“ Bagus deh. Kalau gitu kita langsung pergi aja “
Heh ? Venus mengangkat sebelah alisnya. Dylan
sinis banget.. hmm
Mereka berjalan beriringan menuju mobil limosin. Seperti biasa Milano yang
menjadi sang supir.
Sepanjang perjalanan Dylan dan Irish terus menunjukkan kemesraan mereka.
Venus sama sekali tak suka melihatnya. Berulang kali ia menghela nafas,
berulang kali pula ia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Semua cowok sama aja, katanya cinta tapi
kamu malah mesra-mesraan didepan aku. Huh, dasar cowok nyebeliiinnn!!!
Mana ada orang yang senang melihat orang yang dicintainya bermesraan dengan
orang lain didepan matanya sendiri? Kalau orang itu tak cemburu, berarti itu
tak wajar. Dan Venus sekarang sedang merasakannya. Hatinya terasa sangat
terbakar. Padahal perjalanan dari Hotel ke resto hanya sekitar 5 menit, entah
mengapa rasanya seperti lima jam. Ingin sekali ia turun dari mobil ini dan
berjalan kaki.
Venus menghela nafas. Akhirnya nyampe
juga... Venus segera keluar dari mobil kemudian mengibas-ngibaskan
tangannya ke wajah manisnya.
“ Kamu kenapa Ve? Ko kaya kepanasan gitu? “ April tersenyum bingung.
“ Iya didalem panas banget. Mangkanya aku langsung keluar “ Venus melangkah
masuk kedalam resto.
Heh ?
“ Perasaan didalem dingin banget deh Ve, orang Acnya juga lumayan. Ahh, aku
tahu. Kamu cemburu khan ngeliat mereka bermesraan kayak tadi? “
Pertanyaan April benar-benar telak. Ia selalu tahu isi hati Venus.
“ Apaan sih? Udah ah. Kita kesini mau kerja. Buruan terusin kerjaannya.
Biar kita bisa cepet pulang. Aku udah kangen sama rumah “
“ Maksudnya pulang ke Indonesia? “
“ Ya iyalah. Emangnya pulang kemana lagi? “
Venus masuk ke toilet. Disana ada beberapa orang pekerja. Ruangan tersebut
hampir selesai. Tinggal memasang wastafel dan kaca saja. Untung saja resto ini
sebagian besar temboknya terdiri dari kayu dan batu, jadi tak banyak yang bisa
dicat. Sehingga bangunannnya pun cepat selesai.
“ Tapi kenapa? Bukannya dari dulu kamu pengen banget kesini? Harusnya khan
kalau kerjaan kita udah selesai, kita bisa have fun disini “
“ Udah enggak minat. Aku ke lantai dua dulu, mau ngeliat ruangan disana “
April hanya mengangguk. Ia masih kaget dengan jawaban Venus. Padahal dari
dulu Paris adalah kota yang paling ia kagumi dan yang paling ingin ia jelajahi.
Venus menaiki tangga satu persatu dengan hati yang berat. Ingin rasanya
hari ini berlalu begitu saja. Meskipun Dylan sudah membuatnya marah dan kecewa,
namun ia tak bisa membenci Dylan. Ia sangat mencintai Dylan dan rasa cinta itu
takkan bisa hilang begitu saja hanya karena suatu kebohongan.
Sesampainya di lantai dua, Venus melihat ruangan itu masih banyak yang
sedang dikerjakan. Ada yang sedang memasang kursi dan meja, ada yang sedang
memasang hiasan, ada yang sedang menaruh pot bunga, dan ada juga yang sedang
memasang lukisan yang memang lukisan tersebut baru saja datang.
“ Pak, lukisannya dipasang dibalkon aja. Sini biar saya aja yang pasang
lukisannya “
“ Oh, baik bu “
Di lantai dua ruangannya memang dibuat lebih bertele-tele. Terdiri dari dua
ruangan, ruangan pertama dikhususkan untuk keluarga dibuat tanpa balkon hanya
terdapat jendela. Ruangan yang kedua dibuat untuk sepasang kekasih atau suami
istri yang belum mempunyai anak, terdapat balkon yang cukup luas bila ingin
mendapatkan suasana yang lebih romantis. Kedua ruangan tersebut dihubungkan
oleh sebuah lorong yang dihiasi lampu-lampu kecil dengan cahaya yang bersinar
ke dua arah yaitu atas dan bawah. Disepanjang lorong tak terdapat lampu utama, yang
ada hanya lampu-lampu kecil yang menempel ke dinding-dinding lorong.
Lokasi dari Resto ini memang cukup strategis. Jika kita melihat keluar dari
jendela atau dari balkon, maka pemandangan menara Eiffel lah yang akan terlihat.
Itulah yang Venus suka dari resto ini.
Dengan susah payah, Venus mengangkat lukisan yang berukuran kurang lebih 1
x 1,5 m tersebut. Ia tak menyangka lukisan menara Eiffel ini cukup berat, ia
tak bisa menyuruh para pekerja lagi, karena sekarang mereka pun sedang sibuk
dengan pekerjaannya masing-masing. Dengan sekuat tenaga ia mengangkat lukisan
tersebut dan melewati lorong yang hampir 100 persen telah selesai dikerjakan.
Saat Venus hampir keluar dari lorong, ia mencoba untuk mengambil nafas dan
mengumpulkan tenaga kembali. Saat ia akan melangkahkan kakinya, samar-samar
dari arah balkon ia mendengar ada orang yang sedang berbicara. Karena penasaran
ia mencoba mengintip dari balik tembok, betapa kagetnya ia saat melihat orang
yang berada dibalkon itu adalah Dylan dan Irish yang sedang berpelukan.
Venus menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Sekuat mungkin ia coba untuk
membendung kesedihannya. Namun saat ia mengangkat kepalanya, ia melihat Dylan
mendekatkan wajahnya pada Irish. Sedetik kemudian mereka berciuman.
Deg! Dengan paksa, sebuah pisau ditusukkan ke dalam hati Venus. Ia tak
percaya dengan apa yang baru saja Dylan lakukan.
Untuk sesaat Venus hanya bisa terdiam. Ia menggeleng sambil mengatupkan
mulutnya. Air mata yang sedari tadi ia bendung meluncur membasahi pipi. Venus
merasakan dadanya terasa sesak sekali, saking sesaknya ia sampai tak bisa
bernafas. Venus memutuskan untuk pergi dari ruangan itu dan langsung berlari
keluar dari resto.
Venus berlari dengan sekuat tenaga, air matanya terus menetes. Ia tak
percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Oke, di Paris ia memang sudah tak
asing melihat orang yang berciuman ditempat umum, namun melihat orang yang ia
cintai mencium wanita lain didepan matanya sendiri rasanya sakit sekali.
Bodohnya lagi, ia masih tetap saja mencintai laki-laki yang sebenarnya telah
sering menyakitinya.
Venus terus berlari hingga akhirnya ia sampai dijembatan sungai Seine,
jembatan dimana dulu ia pernah jujur pada Dylan kalau dia pernah mencintai
Rafa. Sekarang semua itu tak ada gunanya lagi.
“ Kenapa Dy? Kenapa kamu lakuin ini sama aku? Apa karena aku terlalu bodoh
karena aku sangat mencintai kamu? Apa karena aku terlalu bodoh karena aku
selalu mengharapkanmu kembali padaku? “
Venus mengalihkan pandangannya, kemudian menyeka air matanya. Ia mencoba
untuk tegar dan menerima takdirnya.
“ Setiap kali aku mencoba mempercayaimu, setiap kali juga kau membuatku
terjatuh. Dan setiap kali aku mencoba untuk bangkit, saat itu juga kau
membuatku terjatuh lagi “
Venus tersenyum kecut.
“ Semua ini sia-sia saja. Mungkin jika kamu berada disampingku, hanya luka
yang akan kamu dapat Dy “
Venus mendesah. Rasanya berat menjalaninya, namun ia harus mencobanya. Ia
tak bisa terus seperti ini.
“ I’m happy for you Dy... Namun bagaimana pun juga, aku hanya manusia biasa.
Aku enggak mampu kalau aku harus terus berada disini. Selamat tinggal Dy.
Semoga kamu bahagia “
Venus memilih pergi meninggalkan semua hal yang ia sukai disini. Sekarang
semua sudah tak berarti lagi. Semua hal disini hanya bisa membuatnya bertambah
sakit. Ia mengeluarkan handphone dari tas kecilnya.
Tuttt ... Tuuttt .. tuuuttt
“ Halo Ve, kamu dimana? Daritadi aku
cariin kamu, tapi kamunya enggak ada “
“ Aku mau pulang sekarang “ Ucap Venus terisak. Suaranya pelan namun tegas.
“ Ve, kamu nangis? Kamu kenapa? “
“ Enggak apa-apa. Kamu mau ikut pulang atau tetep disini?“
Untuk sesaat tak ada jawaban.
“ Oke kita pulang “
“ See you in hotel “
Venus memutuskan teleponnya. Ia memilih untuk memakai taksi. Venus
Mengalihkan pandangannya keluar jendela. Air matanya kembali menetes. Kota yang
sangat ia kagumi dan cintai malah membuat hatinya sakit. Sama seperti Dylan.
Sesampainya di hotel, ia langsung pergi untuk membereskan barang-barangnya.
Dengan perlahan namun pasti, ia membuka pintu kamar hotelnya. Terlihat April
sedang membereskan baju-bajunya.
Venus melihat April dengan sedih. Tak seharusnya ia membawa-bawa April
dalam penderitaannya. Seharusnya April tetap disini dan menikmati kebahagiaan
yang ada disini.
“ Maaf ya Ril, kalau aku selalu bikin kamu repot. Kalau kamu mau tetep
disini, silahkan. Tapi yang jelas aku udah enggak bisa lagi berada disini “
Wajah Venus terlihat sedih.
“ Enggak. Aku juga mau pulang. Ngapain disini juga kalau sendirian aja?
Tapi Ve, kalau boleh aku tahu sebenernya kenapa tiba-tiba kamu mau pulang? “
Venus menghela nafas.
“ Aku tadi ngeliat Dylan mencium Irish “
Venus tersenyum kecut. Kalau ia mengingatnya kembali, rasanya sakit sekali.
“ Ril, please jangan kasih tahu Dylan kalau kita pulang hari ini. Aku tadi
diperjalanan udah kasih tahu Orion. Biar dia yang kasih tahu Miss Darla “
April mengangguk. Ia tahu betapa sakitnya melihat orang yang ia cintai
bermesraan didepan matanya sendiri.
“ Kamu yang sabar ya, mudah-mudahan semua yang terjadi sekarang akan
membawamu pada kebahagian yang sesungguhnya “
Venus mengangguk kemudian tersenyum. “ Makasih ... “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar