B’COZ
I’M STUPID
KEBOHONGAN
Hari-hari terakhir Venus di sekolah
sebagai seorang siswi bernama Venus Cempaka Wiraguna bisa dihitung dengan jari,
ia tak menyangka sebentar lagi mau tak mau ia akan menjalani sebuah fase menuju
kedewasaan dimana ia harus menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan jauh lebih
berat dibandingkan saat masa-masa SMA-nya.
Venus menghela nafas, berat.
“Kamu kenapa Ve?“ Tanya Rafa.
“Aku enggak apa-apa ko“ jawab Venus
bohong. Sebenarnya ia merasa sangat sedih jika harus berpisah dengan
sahabat-sahabatnya ini.
“Tapi kelihatannya kamu ko lesu banget
Ve, lagi ada masalah?“ Tanya April cemas. April adalah sahabat Venus sejak
kelas sepuluh. Ia adalah satu-satunya sahabat wanita Venus di sekolah. Orangnya
baik, perhatian, pengertian, pinter, cantik, rendah hati meskipun dia anak dari
seorang ketua yayasan sekolah, dan masih banyak lagi kelebihannya yang lain
pokoknya sempurna banget deh.
Venus tak menjawab, matanya
memperhatikan pelayan kantin yang mondar-mandir untuk melayani pembeli. Terlihat
ia sangat kelelahan, memang ini adalah jam istirahat dimana anak-anak mulai
dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas pergi ke kantin untuk mencari makan.
Kantin seluas ini tidak sebanding dengan tenaga mereka yang hanya terdiri dari
lima orang. Dua menyiapkan makanan, sedangkan yang lainnya melayani kami (para
pembeli) yang terkadang bisa sangat menyebalkan. Kasihan.
“Halooo .. Vey kamu ko malah ngelamun
sih ? kamu kenapa sayang?“ Dylan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah
Venus. Tapi ia tak menghiraukannya. Tiba-tiba Dylan mengecup pipi Venus.
Ia terhenyak kaget. “Apaan sih? Malu
tahu“ Venus melihat ekspresi Rafa. Unbeliveable.
Untuk pertama kalinya aku ngeliat dagu
Rafa mengeras saat Dylan mengecup pipiku. Apa mungkin .. dia jealous ?
“La abis kamu ditanya malah bengong aja,
aku khan gemes jadinya“ Dylan tersenyum geli. Ia mencubit kedua pipi Venus
gemas.
Dylan Niandra Mahesa adalah pacar Venus
sejak kelas sebelas. Sebenarnya Venus dan Dylan sudah lama kenal karena mereka
satu SMP. Dylan juga teman baik Venus, ya maksudnya sejak dulu Dylan selalu
saja baik pada Venus, perhatian dan selalu membantu Venus saat ia kesusahan,
Dylan juga termasuk orang yang suka bercanda. Saat SMP pernah beberapa kali ia
menyatakan perasaannya pada Venus, tapi ia tak pernah menganggapnya serius
karena Dylan selalu saja bilang kalau itu hanya bercanda. Tapi saat mereka naik
ke kelas sebelas, Dylan menyatakan perasaannya lagi pada Venus dan Dylan bilang
kali ini ia benar-benar serius. Entah mengapa Venus tak bisa menolaknya,
mungkin karena kasihan atau ingin balas budi karena Dylan sudah baik sekali
kepadanya. Jangan Tanya perasaan Venus padanya saat ini, karena ia sendiri pun
tak tahu.
Alis Venus mengerut mendengar kata-kata
Dylan.
“ Beneran aku engga apa-apa “ Jawab
Venus lemas. Sebenarnya Venus sedih karena Rafa. Ia mendengar kalau Rafa akan
meneruskan kuliah di Paris. Tapi Rafa sama sekali tak pernah bercerita kepada
Venus tentang rencananya itu. Venus juga sedih karena ia sangat tak ingin Rafa
pergi dari sampingnya, ia sungguh tak ingin kehilangan Rafa. Mungkin Venus memang
kejam, ia sudah punya Dylan tapi disisi lain ia juga mengharapkan Rafa. Terkadang Venus merasa dirinya sangat bodoh, ia sudah
mempunyai kekasih yang sangat mencintainya dengan sutulus hati tapi ia
terkadang malah menyia-nyiakannya. Venus
memang selalu merasa bersalah jika ia mengingatnya, dan belakangan masalah ini
selalu saja menghantuinya.
“Udah
ah aku pergi ke ruang Osis dulu, ada rapat panitia buat acara prom night besok
malam” Ucap Venus dengan nada sedikit sebal. Rafa, Dylan dan April saling
berpandangan, bingung.
“Vey kamu pulang bareng aku engga?“ Tanya
Dylan sedikit berteriak. Tapi Venus terus berjalan tanpa menghiraukannya.
“Ve, bareng … Aku juga mau kesanaaa…“
Teriak April.
“Venus kenapa Pril, lagi ada masalah?“
Terlihat wajah Rafa sedikit cemas.
“Engga tahu“ Jawab April sekenanya,
lantas ia beranjak pergi.
“Cewek memang aneh“ Ucap Rafa dan Dylan
bersamaan.
{
Sesampainya dirumah Venus langsung pergi
ke kamarnya. Jam segini rumah Venus biasanya kosong, hanya ada Bi Cici - pembantu
rumah tangga mereka. Amran - Papah
Venus sedang ada proyek ke Bali, sedangkan Irene - mamah Venus sedang mengantarkan
Lori ke tempat les. Venus membuka Laptop putih kesayangannya, kali ini ia sedang
ingin mencurahkan segala isi hatinya pada benda canggih ini.
Dear Diary,
Hampir
dua belas tahun aku dan Rafa bersahabat. Senang, sedih sudah kami lalui
bersama. Dulu ia bahkan pernah rela berkorban untukku, untuk sahabatnya. Rafa
selalu ada untukku, saat aku sedih ia selalu bisa membuatku tersenyum, saat aku
terjatuh ia bisa menguatkanku agar aku bisa berdiri tegak kembali. Ia seperti
tanganku, yang selalu menyeka air mataku, ia seperti kakiku yang selalu
membuatku untuk terus berjalan meskipun aku sudah tak mampu.
Entah
kapan perasaanku pada Rafa berubah. Aku tak pernah menyadarinya, yang jelas
ketika berada didekatnya aku selalu merasa nyaman dan aman.
Rafa
akan pergi meninggalkanku, meninggalkan semua kenangan kami, kenangan yang
takkan pernah bisa aku lupakan, kenangan yang selalu akan ada dan tersimpan
dihatiku. Aku tak mampu jika ia harus meninggalkanku, aku tak ingin ia pergi
dari sisiku , aku tak bisa. Aku butuh dirinya, aku butuh Rafa.
Aku
tahu ini memang tak adil untuk Dylan. Aku menerima cintanya, tapi didalam lubuk
hatiku paling dalam ada orang lain yang telah mengisinya. Sebuah kebohongan yang
jika Dylan mengetahuinya pasti akan sangat menyakiti hatinya. Aku sangat merasa
bersalah pada Dylan maupun Rafa. Tak seharusnya aku menyimpan perasaan ini.
Tapi aku hanya manusia yang tak bisa berbuat apa-apa …
.. tak ada seorang pun didunia ini yang
dapat merubah cintaku tuk selamanya ..
Tiba-tiba Handphone Venus berdering,
ternyata sms dari Rafa.
Ve
kamu kenapa ?
Dari tadi siang kayaknya
km ngehindar dari aku ..
#
Rafa #
Sejenak Venus terdiam. Andai saja kau mengerti perasaanku, mungkin
aku akan sangat bahagia.
Aku
enggak
apa-apa, cuma perasaan kamu aja .. J
#
Venus #
Venus menekan tombol send, tak lama
kemudian handphonenya kembali berbunyi.
Ve,
kita sahabatan bkn sehari dua hari, tp udah dua belas tahun ..
Aku
tahu kamu Ve ..
#
Rafa #
Lagi-lagi Venus menghela nafas, ia
menyimpan handphonenya di atas meja. Kali ini ia sedang tak ingin berhubungan
dengan dunia luar, terutama Rafa. Venus mematikan laptopnya, lalu pergi ke
kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti baju. Setelah itu ia merebahkan
tubuhnya di atas tempat tidur mencoba untuk memejamkan mata sejenak. Kenapa ini semua harus terjadi padaku ?.
{
Tak terasa sang fajar telah berada di
peraduannya, langit yang mulai gelap mengantarkan kepergiannya meskipun esok
pagi ia akan datang kembali. Venus menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi.
.. You look so dumb right now Standing
outside my house Trying to apologize You’re so ugly when you cry ..
Dari kamar mandi ia mendengar
handphonenya berbunyi. Tapi tak ia hiraukan. Setelah selesai mandi,
handphonenya kembali berdering. Venus melihat layar handphonenya, My dyie.
“ Halo
“
“
Akhirnya di angkat juga. Kenapa sih ko baru diangkat ? sebel ah “ Ucap
Dylan dengan nada sedikit aneh.
Dylan kadang memang selalu bersifat
manja, wajar saja dia memang anak laki-laki satu-satunya di keluarga
Mahesa. Keluarga konglomerat yang mempunyai usaha resto dimana-mana, bahkan mereka telah membuka
cabang di Jepang dan Paris.
“ iya
maaf, tadi aku abis mandi engga denger kalau ada yang telepon “ Jawab Venus
sedikit bohong.
“ Oh
.. Pacarku yang cantik ini baru mandi toh, pantesan aja wanginya sampai kesini.
Aku tadi sampai bingung, bau wangi apa yang ada di kamar aku, ternyata bau kamu
sampai ke sini .. hehehe “ Dylan mulai menggombal.
“ idih
kamu lebay ah, udah jangan ngegombal terus. Btw ada apa kamu telepon ? “
“
Loh, emang engga boleh kalo aku telepon pacar aku sendiri ? Ya udah kalau gitu,
aku tutup aja teleponnya “ Terdengar
suaranya sedikit kesal.
Venus tersenyum. “Hmmm gitu aja marah, sensi ah kaya cewek aja” Jawabnya meledek.
“Engga
marah ko, mana bisa aku marah sama cewek yang paling aku cintai.
Ngomong-ngomong buat prom night besok, kamu mau pakai apa ? “ Tanya
Dylan tiba-tiba mengingatkan. Venus memang belum punya pakaian untuk pergi ke
acara prom night besok. Belakangan waktunya habis untuk menyiapkan acara prom
night, karena sebagai tukang menyiapkan property ia membutuhkan waktu dan
tenaga ekstra.
“Engga
tahu, kayaknya di lemari aku engga ada pakaian yang cocok buat acara prom night
besok deh”
“Ya
udah aku jemput kamu jam 7, kita nyari gaun buat kamu”
“Tapi
..” Belum selesai Venus berbicara, Dylan
sudah menyelanya.
“Engga
ada tapi-tapian. See You Honey ”. Belum sempat Venus menjawab tapi Dylan
sudah menutup teleponnya. Terkadang Dylan memang selalu saja seenaknya, tak
pernah mendengarkan apa kata-kata Venus.
{
Jam
dinding Venus
telah menunjukkan jam 18.30. Dengan segera ia mengambil air
wudhu untuk menunaikan sholat magrib. Venus harus banyak bersyukur kepada-Nya, hampir
17 tahun Allah telah memberinya kesehatan, rezeki, keluarga yang baik dan
berkecukupan, sahabat-sahabat yang menyayanginya dan nikmat lainnya yang tak
terhitung. Selesai sholat, ia segera berganti baju. Malam ini ia memilih memakai
dress biru langit dengan corak bunga-bunga kecil dan simple dengan sepatu wedges berwarna blue
satin bertali satu dengan pita dengan resleting dibelakangnya.
Tok .. Tok .. Tok .. seseorang mengetuk
pintu kamarnya.
“ Masuk .. “
“ Good night honey.. Wow you look so
beautiful “
“ Thanks Mom “ Venus tersenyum.
“ Dylan udah ada di bawah tuh, dia udah
dateng dari tadi, katanya kamu mau nyari baju buat prom night besok ya ? “
Tanya Irene.
Venus mengangguk.
“ Ma, kata orang lebih baik dicintai
daripada mencintai. Kayaknya kata-kata itu engga berlaku buat aku deh “ Ucap
Venus lemas.
“Loh emangnya kenapa , ko kamu
ngomongnya kaya gitu?“
Dicintai
orang rasanya memang bisa membuat bahagia, tapi ketika hati ini tak bisa
menerima cintanya dengan setulus hati dan mungkin hati ini malah mencintai
orang lain, rasanya itu semua malah membuat ku sangat tersiksa.
“ Hey, ko malah bengong “ Ucap Irene sambil mengibas-ngibaskan tangannya, gerakan
mamahnya itu menyadarkan Venus dari lamunannya.
“ Ah, engga apa-apa ko ma. Aku pergi
dulu ya “ Venus mencium tangan dan pipi mamanya tersebut.
Venus berjalan keluar kamar, ia
mempercepat langkahnya ia tak ingin mamanya itu menanyakan hal yang
macam-macam.
“ Dy maaf ya lama “ Ucap Venus sedikit
tak enak. Terlihat Dylan sedang bermain Uno dengan Lori.
Dylan menengok. “ Engga ko, tadi Lori
ngajak aku main jadi malah keasikan main sama Lori “ Jawab Dylan.
“ Idiih, tumben Kave hari ini cantik
banget, kaya bukan Kave yang Lori kenal “ Omel Lori tiba-tiba. Lori adalah adik
Venus satu-satunya. Kave merupakan panggilan sayang dari Lori untuknya. Venus
mencubit pipi Lori gemas, secara tidak langsung ia menyuruh adiknya itu untuk
tutup mulut.
“ Pergi yu, ntar keburu malem lagi “
Ajak Venus sedikit memaksa. Dylan hanya mengangguk. Mereka berdua berjalan ke
arah mobil BMW hitam milik Dylan. Dylan membukakan pintu untuk Venus.
“ Thanks “ Ucap Venus. Dylan hanya
tersenyum. Ia menyalakan mobil sesaat kemudian BMW itu mulai berjalan memecah
keramaian kota Jakarta disaat malam. Di luar jalanan terlihat sangat ramai,
padahal hari ini bukan hari libur. Dylan menekan tombol power pada Mp4 mobilnya.
Lagu Aku Harus Jujur-Kerispatih terdengar mengalun dari Mp4nya.
Kenapa harus lagu ini? Apa ini hanya
kebetulan? Ataukah dia tahu semua kebohonganku? Venus mengalihkan
pandangannya ke luar jendela. Semua hal yang terjadi belakangan membuat pikiran
dan perasaannya berkecamuk. Tiba-tiba air matanya menetes, tapi ia segera
menyekanya ia tak ingin Dylan melihatnya menangis. Sepanjang perjalanan, mereka
hanya mendengarkan lagu yang terdengar dari Mp4.
“ Sayang udah sampe “ Ucap Dylan
tiba-tiba. Venus melihat ke luar. Butik
sakura. Dari namanya, Venus langsung bisa mengenalinya. Dylan menggenggam
tangan Venus dan mengajaknya ke dalam butik tersebut.
“ Eh, ada Venus “ Kata Seseorang
tiba-tiba. Venus langsung menoleh, lalu ia tersenyum dan segera mencium
tangannya. Venus tahu kalau Mamah Dylan memang mempunyai butik, mungkin sekitar
enam bulan yang lalu ia membuka butik tersebut. Venus baru pertama kali
mengunjungi Butik Sakura. Mamahnya Dylan memang menyukai segala hal yang berbau
Jepang, maklum saja beliau adalah keturunan Jepang yang sudah lama menetap di
Indonesia.
“ Malam tante, maaf kalo Venus mengganggu
waktunya “ Ucap Venus tak enak.
“ Enggak ko. Kamu khan udah tante anggap
seperti anak sendiri, masa anak datang malah mengganggu “ Inoue tersenyum,
manis sekali. Terdapat lesung pipi disebelah kanannya.
“ Oiya, tante mau ngasih liat sesuatu.
Ayo ikut “ Tante Inoue menarik tangan Venus. Venus melihat ke arah Dylan, ia
malah mengangkat bahunya.
“ Ve coba liat gaun ini, menurut kamu gaun
ini bagus engga ?” Tanya tante Inoue sambil menunjuk salah satu gaun koleksi
butiknya. Gaun diatas lutut berwarna merah maroon yang menjuntai tanpa tali, dipinggangnya terdapat
sabuk karet berwarna hitam dan terdapat bunga berwarna merah menempel disamping
sabuk. Venus terkesan dengan gaun tersebut.
“ Bagus banget tante “ mata Venus berbinar-binar.
Tangannya terus saja menyentuh gaun tersebut. Inoue tersenyum, ia tahu anak
tersebut pasti akan menyukainya.
“ Gaun ini buat kamu sayang “ Ucap Tante
Inoue tiba-tiba. Venus menatap tante Inoue tak percaya.
“ Tapi .. “
Belum selesai Venus bicara, tante Inoue
langsung memotongnya. “ Engga ada tapi-tapian. Kamu udah tante anggap seperti
anak sendiri, jadi wajar aja kalau tante ingin ngasih sesuatu buat kamu di hari
special sekolah kamu “
Ternyata tante Inoue dan Dylan mempunyai
sifat yang sama, sama-sama tidak suka dibantah dan sama-sama tidak bisa mendengarkan
ucapan orang lain sampai selesai. Venus memang tak bisa menolak semua hal yang
diberikan Dylan dan tante Inoue, sebenarnya jika Venus harus membeli gaun
tersebut pun ia masih sanggup namun apa daya ia tak ingin mengecewakan ibu dari
kekasihnya tersebut.
“ Oke, Ve terima tante. makasih banyak
ya “ jawab Venus tersenyum, lalu ia mengecup pipi tante Inoue sebagai tanda
terima kasih.
“ Vey, pergi yu ? “ Ucap Dylan
tiba-tiba.
Venus mengerutkan alisnya. “ Kemana ? “
“ Udah ikut aja “ Jawab Dylan sambil
menarik tangan Venus.
“ Tapi .. “ Venus kebingungan. Ia tak
enak pada tante Inoue, tante Inoue sudah sangat berbaik hati memberikannya gaun
yang begitu indah, tapi ia malah pergi begitu saja bahkan tanpa berpamitan
sedikit pun.
“ Tante Ve pergi dulu ya dan makasih
buat gaunnya .. “ Ucap Venus sedikit berteriak. Sekilas terlihat tante Inoue tersenyum
dan mengangguk.
Dasar
ya nih anak, bener-bener engga sopan!. Gini deh kalau udah kumat. Sebel!
Venus menginjak kaki Dylan. Rasain tuh!
“ Aawwww .. “ Ucap Dylan sambil
mengerang kesakitan.
“ Kamu kenapa sih ? Aku benci kalau kamu
udah kaya gini! Kamu tuh kaya orang yang engga tahu sopan santun tahu ga ?!
Mamah kamu udah baik banget ngasih aku gaun buat acara prom night besok, tapi
kamu malah ngajak aku pergi gitu aja. Udah lah, aku mau pulang!” Kata Venus
dengan nada marah. Ia melangkah pergi. Ia sungguh tak mengerti dengan pikiran
kekasihnya itu.
Tiba-tiba dari belakang seseorang
menggenggam tangan Venus. Ia menengok.
“ Udah kamu ikut aja “ Kata Dylan sambil
menarik tangannya. Venus mencoba melepaskannya namun genggamannya terlalu kuat.
Ia tak tahu Dylan ingin membawanya kemana.
Dylan melangkahkan kakinya menuju sebuah
restoran berarsitektur mewah bernuansa cokelat muda, terdengar lagu A Whole New
World mengalun saat mereka datang. Di restoran tersebut terdapat panggung kecil
untuk menghibur para pelanggan. Disana terdapat piano dan gitar berwarna putih.
Terlihat sepasang penyanyi sedang menyanyikan lagu romantis itu dengan penuh
penghayatan.
Dylan mempersilahkan Venus duduk. Ia
memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Terlihat suasana malam kota Jakarta
dihiasi dengan jutaan lampu, itu membuat kota Jakarta terlihat seperti kota
Paris di malam hari, indah sekali. Diatas meja terdapat satu buah lilin
berwarna merah berbentuk hati dan dua buah lilin kecil disampingnya. Lampu
restoran tersebut pun sedikit redup, entah memang temanya seperti itu atau
memang lampu restoran tersebut sedang rusak tapi itu semua malah membuat
suasana semakin romantis.
Tiba-tiba Dylan memberikan setangkai mawar
merah pada Venus. “ It’s special for you “ Dylan tersenyum, manis sekali. Entah
mengapa, senyuman Dylan kali ini membuat Venus menjadi salah tingkah.
Sejak
kapan ni anak jadi romantis gini? Udah gitu, ko aku baru nyadar ya kalau senyum
Dylan tuh manis banget, rasanya aku jadi pengen meleleh gini. Ih, Meleleh ? Enggak
ah, enggak.. enggakk.. enggak.. di RALAT.
Seorang waiter membawakan mereka Lasagna
dan Squash Lemon. Mereka ko bisa tahu
makanan sama minuman kesukaan aku? Enggak mungkin khan waiternya bisa baca
pikiran aku? Venus bingung melihatnya. “ Kami kan belum pesan apa-apa mas ?
“
“ Ini semua udah dipesan oleh mas Dylan
mba “ Jawab waiter tersebut. Venus melihat ke arah Dylan, tapi ia hanya
tersenyum dan sekali lagi senyumannya terlihat manis sekali.
Tiba-tiba
Dylan berdiri. “ Wait a minute, Oke ? “
Kali ini Venus benar-benar dibuat
bingung oleh Dylan. Entah mengapa kali ini ia tak bisa menebak apa yang akan dilakukan
kekasihnya itu. Dylan melangkahkan kakinya ke arah panggung di restoran
tersebut.
OMG!
Jangan bilang dia mau nyanyi?
“ Selamat malam semuanya. Maaf kalau
saya mengganggu acara makan anda malam ini. Disini saya ingin mempersembahkan
sebuah lagu untuk wanita cantik berbaju biru yang duduk disebelah sana. Untuk
wanita yang paling saya cintai “ Ucap Dylan dengan lambat.
Orang-orang yang tadinya sibuk dengan
urusannya masing-masing tiba-tiba langsung melihat ke arah Venus. Venus
tersenyum, malu. Dylan memang orang yang cukup mahir memainkan berbagai alat
musik, suaranya pun lumayan bagus. Tapi Venus tak menyangka malam ini ia akan bernyanyi
untuknya. Dylan mulai memainkan note-note piano dari sebuah lagu.
I know this song!.
Cinta adalah misteri dalam hidupku
Yang tak pernah ku tahu akhirnya
Namun tak seperti cintaku pada dirimu
Yang harus tergenapi dalam kisah hidupku
Venus melihat Dylan, miris. Entah
mengapa hatinya terasa sakit sekali saat ia mendengar Dylan menyanyikan lagu
itu untuknya. Ia merasa, ia tak pantas untuk menerimanya. Ia merasa dirinya sangat bodoh.
Sepenuh hati Dylan telah mencintai dirinya, tapi ia sendiri malah tak tahu
kepada siapa hatinya tertuju. Venus sedih melihatnya, ia sudah tak tahan akan
semua ini.
Ku ingin slamanya mencintai dirimu
Sampai saat ku akan menutup mata dan
hidupku
Ku ingin slamanya ada disampingmu
Menyayangi dirimu sampai waktu kan
memanggilku
Maafin
aku dy, aku udah nyakitin kamu. Tiba-tiba air
mata Venus menetes, ia menyekanya tapi air matanya tak mau mendengar
perintahnya. Venus sudah benar-benar tak sanggup mendengarnya. Ia berlari
meninggalkan semuanya, meninggalkan restoran itu, terutama meninggalkan Dylan
yang masih tak percaya kekasihnya itu pergi begitu saja tanpa sepatah kata
apapun.
Venus terus berlari, ia sudah tak peduli
dengan keadaannya sekarang. Yang jelas ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari
tempat itu. Tiba-tiba hujan turun dengan begitu deras. Tapi ia sama sekali tak
menghiraukannya, ia terus berlari memecah hujan yang turun pada malam itu.
Kenapa
Dy,
kenapa kamu harus cinta sama aku? Kenapa kamu harus mencintai aku
sampai segitunya ? Kenapa
kamu harus baik banget sama aku? Asal kamu tahu Dy, dulu aku
nerima kamu karena kasihan! Bukan karena aku cinta sama kamu. Aku tahu
aku memang bodoh.
Aku enggak sanggup Dy,
kalau aku harus terus nyakitin hati kamu. Kamu terlalu baik buat aku. Aku enggak
bisa bikin kamu bahagia, aku cuma
bikin kamu sakit dan
hati aku pun sakit Dy. Aku engga
sanggup kalau kamu perlakukan aku kaya gini terus … Sebaiknya kamu lupain
aku dy, karena aku memang enggak pantes buat kamu .. kamu terlalu baik buat aku
..
Air mata Venus terus saja mengalir. Venus
terjatuh dan ia baru menyadari kalau ia telah berada di Pantai, tempat
kenangannya bersama Rafa. Tak ada seorang pun di Pantai itu, mungkin karena malam
ini hujan sehingga orang-orang lebih memilih makan malam di restoran daripada
di Pantai.
Venus tak mampu untuk berdiri, rasanya
semuanya terlalu menyakitkan. Biasanya saat ia terjatuh, Rafa yang selalu
membantunya untuk berdiri tegak kembali. Tapi kali ini ia tak bisa bercerita
pada sahabatnya itu. Hujan semakin deras begitu pun dengan air matanya. Sialan, kenapa enggak mau berhenti sih? Andai aku bisa
memutar waktu, aku takkan pernah menerima cinta Dylan dan semuanya enggak akan
menjadi serumit dan sesakit ini.
Venus merasa ia sudah tak kuat menahan
semuanya sendiri, ia butuh seseorang untuk menemaninya dan berbagi
kesedihannya. Venus mengambil handphone di tasnya. Ia mencari nama April dan
menekan tombol dial .. Untuk beberapa saat, ia menunggu bersama derasnya hujan
malam itu. Please Pril, angkat .. aku
udah engga kuat.
“ Haloooooo
“ Ucap April girang.
“ April .. “ Jawab
Venus terisak-isak. Saking lemasnya, suaranya terkalahkan oleh suara hujan yang
begitu deras.
Meskipun begitu, beruntung April masih
bisa mendengar suaranya. “ What happend
? ko suara kamu kaya lagi nangis gitu ? “ Tanya
April. Terdengar dari suaranya ia begitu cemas.
“ Ril,
kamu kesini aku butuh kamu. Aku udah engga kuat buat nahan semuanya sendiri.
Terlalu menyakitkan.. “ Jawab Venus masih terisak-isak.
“
Oke, aku ke sana. Kamu sekarang dimana ? “
“
Di Ancol “
“
Hah? Ancol? Ya udah aku kesana sekarang. Kamu jangan sampai ngelakuin hal-hal
yang bodoh. Tungguin aku, bentar lagi aku kesana “ Ucap
April mengakhiri pembicaraan.
April memang orang yang bisa diandalkan.
Ia selalu ada untuk Venus, bahkan di saat-saat kritis seperti ini. Sepuluh
menit berlalu sejak ia menelepon April.
Tiba-tiba seseorang memayungi tubuhnya
dari hujan yang deras. “ Ve “ April melihat sahabatnya miris. Mata
April memancarkan kesedihan, sedih melihat sahabatnya rapuh seperti ini.
Venus mendongak, dengan segera ia
memeluk sahabatnya itu. Tangisannya tumpah dipelukan April, sementara hujan
masih tetap turun dengan derasnya. April menyeka air mata Venus, ia tak ingin
melihat sahabatnya terus terpuruk.
“ Ve kita pulang ya, kamu udah basah
kuyup kaya gini. Nanti kamu sakit lagi kalau kamu terus disini “ Ucap April
khawatir. April berharap Venus mau pulang dengannya. Terlihat Venus berpikir
sebentar, tapi akhirnya ia menganggukkan kepalanya. April tersenyum lega. April
mendekap Venus erat hingga ia terhindar dari tetesan air hujan. Kemudian mereka
berdua berjalan beriringan ke Mercedes
putih milik April.
“ Nih pake, untung aku selalu bawa
handuk di mobil “
“ Ril thanks ya ? “ Venus
tersenyum. Suaranya lemas sekali.
“ My pleasure “ April mengangguk lalu
tersenyum tulus. April tak ingin bertanya apa-apa dulu, karena ia tahu waktunya
memang belum tepat. Ia juga tak ingin memaksa Venus untuk bercerita, biarkan
dia sendiri yang memulai untuk bercerita. Ia sudah tahu, hanya ada dua orang
yang bisa membuat Venus seperti ini, kalau bukan tentang Rafa ya pasti Dylan.
April
menstarter mobilnya, otomatis audionya menyala. April hanya berusaha untuk mencairkan
suasana hati Venus yang sedang tak karuan. lagu beautiful girls-Jojo menjadi
lagu pertama yang terdengar. Setelah itu, lagu bondan&fade 2 black - kita
selamanya mengalun didalam mobil April.
“ Ril, aku engga bisa pulang ke rumah
dengan keadaan kaya gini “ Ucap Venus, matanya masih merah. April hanya
tersenyum. April memang tidak berniat memulangkan sahabatnya itu ke rumahnya.
Kebetulan kedua orang tua April sedang keluar negeri, dan dirumah
hanya ada Mang Ujang dan Bi Minah. Sedangkan Mas Tyo sedang pergi bersama sang
pacar dari tadi sore, entah kemana.
“ Ril, Denis engga marah sama kamu?
Bukannya biasanya hari ini kamu ngedate bareng dia ya ? “ Tanya Venus merasa
bersalah. Ia memang sering sekali merepotkan sahabatnya ini.
“ Kamu ini ngomong apa sih ? Aku pasti
bakal ngeduluin sahabat aku daripada pacar aku, ya kalau udah suami sih beda
lagi ya .. Apalagi dengan ngeliat keadaan kamu sekarang. OMG, enggak banget “
Jawab April hati-hati, ia melirik Venus. Sekilas Venus tersenyum. April
membelokkan mobilnya ke halaman Rumahnya. Hujan sudah mulai mereda, seperti
hati Venus yang sudah agak tenang. Mereka berjalan melewati pintu garasi yang
berhubungan langsung dengan ruang makan.
“ Kamu ke kamar duluan gih, ntar aku
nyusul “ Ucap April sambil nyelonong ke dapur. Venus mengangguk dan langsung
pergi ke kamar April yang berada dilantai dua.
“ Bi tolong pesenin soto ayam di Resto
biasa ya, nanti langsung bawain ke kamar “ Ucap April sambil membuat teh panas
ditambahkan madu.
“ Baik Mba. Oiya tadi Mas Tyo telepon
katanya dia pulangnya agak telat, soalnya lagi ada acara bareng temen-temennya
“ Ucap Bi Minah menjelaskan.
April mengangguk, ia melihat jam. Sekarang udah jam sembilan kurang, mas Tyo
mau pulang jam berapa ?. Kakak April memang sedikit berbeda dari laki-laki
Jakarta lainnya, wajar saja dia keturunan orang Yogya dan dibesarkan di Yogya
selama lima belas tahun, baru setelah itu ia dan keluarganya menetap di
Jakarta.
April berjalan ke kamarnya dan membawakan
teh untuk Venus. Ia hanya bisa berharap sahabatnya itu bisa lebih tenang dari
sebelumnya. April membuka pintu kamarnya, terlihat Venus sudah mengganti baju.
April dan Venus sudah seperti saudara sendiri, sehingga mereka sudah tak
sungkan satu sama lain.
Hhhaaaciii .. Venus mengambil tissue
yang ada di meja rias April. “ Aku pinjem baju kamu Ril, abis dingin banget
enggak kuat “ Ucap Venus sambil mengetik sms.
“
Siip. Nih minum dulu tehnya, mumpung masih panas. Btw sms siapa ? “ April
menyodorkan segelas teh pada Venus.
“ My mom. Pengen ngasih tahu, kalau
sekarang aku lagi di rumah kamu. Takut dia khawatir “ Jawab Venus.
“ Ril, sorry banget ya aku udah
ngerepotin kamu “ Ucap Venus tak enak.
April mengangkat sebelah alisnya, lalu
menjitak kepala Venus pelan. “ Ih, kayak ke siapa aja. Calm down my dear “
“ Maaf juga, karena aku belum bisa
cerita sekarang. Aku,,
belum siap “
April tersenyum, tulus. “ Enggak apa-apa
ko. Santai aja, aku juga ngerti. Kalau kamu cerita sekarang pasti bikin hati
kamu kacau lagi. Lagian aku juga udah tahu, kalau engga menyangkut Rafa ya
pastinya soal Dylan “
Venus tersenyum malu, April memang tahu
semua tentangnya. Meskipun tanpa bercerita tapi entah mengapa April selalu bisa
mengetahuinya,
mungkin dia punya indra keenam atau apa, tapi yang jelas Venus senang karena
sahabatnya itu bisa mengerti dirinya.
“ Tehnya enak banget Ril, bikin hati
jadi tenang. Hmmm, sekali lagi makasih buat semuanya ya “ Ucap Venus tulus. April hanya tersenyum, ia melihat ke luar jendela
ternyata hujan telah berhenti sejak tadi.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.30.
Terlihat Venus mengetik sms lagi, entah untuk siapa.
Night
..
#
Venus #
Venus menekan tombol send, sms itu
ditujukan untuk Dylan. Ia bingung harus mengetik apa. Venus menyeruput teh
hangatnya hingga habis.
“ Ril, aku pamit pulang ya? “ Ucap Venus
setelah menghabiskan tehnya.
“ Yakin? “ April terlihat ragu. Venus
mengangguk mantap.
“ Ya udah, biar aku sama mang Ujang yang
anterin kamu “ Ucap April menawarkan.
Venus mengangguk senang. Terima kasih ya Allah, karena engkau telah
memberikanku sahabat sebaik , sepengertian dan seperhatian April.
{
“
Udah sampe mba “ Kata Mang Ujang memotong pembicaraan April dan Venus.
Baru saja mang Ujang akan turun dari
mobil, April langsung berkata “ Enggak perlu turun mang, biar aku buka sendiri aja. Tunggu ya
mang, aku mau mampir dulu sebentar “.
April dan Venus turun dari mobil, mereka
berjalan menuju pintu rumah April, kebetulan gerbang rumah Venus belum di
tutup. April menekan bel sampai tiga kali.
Seseorang membuka pintu. “ Aduh maaf
non, ngebuka pintunya lama. Soalnya tadi bibi abis beres-beres mainan den Lori dulu
“ kata bi Cici menerangkan.
“ Mamah ada ? “ Tanya Venus pada bi
Cici. Malam ini Venus tak ingin bertemu dengan mamahnya dulu, entah mengapa
mamahnya itu selalu bisa membaca kondisi seseorang dari matanya.
“ Ada non, malah papah non udah pulang “
Jawab bi Cici.
Terlihat Mamah Venus dan Papah Venus sedang
berada di ruang keluarga. Mamahnya
sedang menikmati sesuatu, mungkin oleh-oleh yang dibawa Papah sedangkan Papahnya sedang
membaca koran.
“ Mah, pah ada April nih. Dia mau pamit
pulang “ Ucap Venus tiba-tiba. Amran dan
Irene langsung berdiri.
“ Ko langsung pulang aja, enggak minum
dulu Ril ? “ Tanya Amran
menawarkan,
terdengar begitu tulus.
“ Engga usah om, makasih. April kesini
cuma mau mastiin Venus nyampe rumah dengan selamat “ Ucap April tersenyum, lalu
ia melirik Venus terlihat mulutnya cemberut.
“ Makasih ya udah repot-repot nganterin anak tante yang manja ini
pulang “ Ucap Irene.
April mengangguk pelan sambil tersenyum.
“ Ya udah kalau gitu tante om, April
pamit pulang dulu. Assalamu’alaikum “
“ Wa’alaikum salam. Hati-hati dijalan ya
“ Ucap Irene,
Amran
dan Venus berbarengan.
Venus langsung melangkah pergi ke kamar,
ia tak ingin orang tuanya itu menginterogasinya. Tapi terlambat.
“ Sayang bukannya tadi kamu pergi bareng
Dylan ya, kenapa pulangnya dianterin April?“ Tanya Irene bingung. Gubrak !
“ Enggak apa-apa ko mah. Aku pergi ke
kamar dulu ya pah, mah “ Pamit Venus. Ia melangkah dengan cepat.
Venus mengunci kamarnya. Venus melihat
layar Handphonenya, ada tiga
miscalled dan lima sms. Venus
memilih untuk tak membukanya, ia malah mematikan handphonenya tersebut. Venus
melihat ke luar jendela, rumput-rumput ditaman terlihat bahagia, karena mereka
telah diberikan karunia yang tak tergantikan.
Tok .. Tok .. Tok , seseorang mengetuk
pintu kamar Venus.
“ Sayang, boleh mama masuk ? “ Tanya Irene dari seberang
pintu. Venus menghela nafas. hmm, padahal
aku sedang tak ingin mengobrol dengan mamah. Venus berjalan mendekati
pintu, lagi-lagi ia menghela nafas. Tapi akhirnya ia membukakan pintu kamarnya.
Mungkin memang udah saatnya aku cerita ke
mamah.
“ Gimana tadi sekolah kamu? Baik-baik
aja khan? “ Tanya Irene,
ia duduk disamping Venus. Sesekali matanya melihat ke luar jendela.
“ Baik ma “ Jawab Venus tak begitu
bersemangat. Ia berjalan menuju kamar mandi, untuk membasuh mukanya, berharap
agar mukanya terlihat lebih segar.
“ Sayang, kamu lagi ada masalah ya? Mau cerita ?”
Tanya Irene
dengan sorotan mata yang lembut. Venus tak pernah bisa tahan dengan sorotan
mata wanita itu. Irene
memang tak pernah memaksanya untuk bercerita, ia layaknya seperti seorang
sahabat yang menunggu sahabatnya untuk bercerita tanpa adanya paksaan. Tapi
buktinya, Venus tak pernah bisa menyembunyikan apapun dari Mamanya itu. Venus
terus memperhatikan Irene,
akhirnya ia melompat ke pelukan mamanya.
“ Ma, sebenarnya aku .. “ Venus
tiba-tiba menghentikan ucapannya. Tapi akhirnya ia meneruskannya. Venus
menceritakan semuanya, mulai dari ia menerima cinta Dylan karena kasihan dan
balas budi, perasaan yang berubah terhadap Rafa, Rafa yang katanya akan berkuliah
di Paris, perasaan bersalah terhadap Dylan dan sampai kejadian barusan. Tak ada
satupun yang ia tutup-tutupi.
Sesekali air matanya menetes.
Irene
tersenyum. “ Ternyata kamu sudah besar “ Kata Irene sambil
menyeka air mata Venus.
“ Ve, cinta itu anugerah terindah yang
Allah berikan kepada kita. Kita enggak bisa menolak atau menghindar dari yang
namanya cinta. Kita bisa saja cinta pada musuh kita, sahabat kita bahkan
mungkin saudara kita. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kamu yang sabar,
semua yang terjadi selalu ada hikmahnya. Suatu hari nanti, pasti akan ada
laki-laki yang terbaik buat kamu hanya kamu belum tahu saja siapa orangnya “
Ucap Irene
panjang lebar.
Ya, mamahnya benar. Venus
tahu Allah memang telah menentukan takdirnya, sekarang yang bisa ia lakukan
hanya mengahadapinya dengan sabar dan terus berdoa untuk yang terbaik. Venus
tersenyum. Mamahnya itu memang selalu bisa membuatnya lega.
Venus memeluk mamahnya erat. Thanks my angel ..