Minggu, 07 Juni 2015

B'Coz I'm Stupid part 3 bagian 2

     Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam lebih sedikit, tapi tak ada tanda-tanda sama sekali kalau Rafa sudah datang menjemputnya. Entah mengapa, tadi pagi tiba-tiba saja semangat dan kekuatannya muncul begitu saja saat Rafa mengajaknya keluar malam ini. Ia masih ingat ekspresi April yang syok – lebih tepatnya ekspresi yang sangat menggelikan mata - saat mendengar kalau Venus takkan memberi tahu Dylan soal ajakan Rafa ini, toh ia pikir Dylan  bukanlah suaminya atau orang tuanya yang ia mesti minta izin terlebih dahulu jika ingin pergi dengan seorang cowok. Dylan hanyalah seorang pacar yang mungkin suatu hari Allah bisa saja mengatakan kalau mereka harus putus. 
     Venus masih ingat kata-kata yang terakhir April ucapkan. “ Kalau Dylan tahu malam ini kamu pergi sama Rafa, dia pasti bakal sakit hati banget “ Ucap April lirih.
    “Ini kan buat yang terakhir kalinya Ril, lagi pula besok dia kan mau berangkat ke Paris, enggak tahu balik laginya kapan. Ya jadi aku pengen ngabisin waktu bareng dia.. “ Ucap Venus tetap teguh pada pendiriannya. Kalau menyangkut Rafa, ia memang selalu bersemangat. Tak ada yang bisa menolaknya, tak ada yang bisa menghalanginya. April akhirnya menyerah, ia hanya mengangkat bahunya.
    Tiiitttt .. Tiiittt ... Suara klakson mobil yang sangat keras membuat Venus tersadar. Venus segera berdiri dari bangku riasnya lalu melangkah keluar kamar dengan cepat. Venus berlari menuju pintu rumahnya. Malam ini rumahnya memang sedang kosong, Amran, Irene dan Lori sedang pergi ke pesta pernikahan teman papahnya.
   Saat Venus melihat sosok lelaki yang keluar dari mobil, tiba-tiba jantungnya terasa begitu berdebar-bedar. Penampilan Rafa malam ini tak kalah dengan penampilannya saat pesta prom night kemarin. Begitu chamring, sangat memikat hati.
   Ferrari Rafa mulai menelusuri jalanan kota Jakarta yang gemerlap dengan lampu-lampu dimalam hari. Venus tak tahu Rafa akan membawanya kemana. Tapi ia merasa sangat bahagia, meskipun esok hari akan menjadi hari yang sulit untuk ia lewati.
   Malam ini cuaca kota Jakarta sangat cerah, secerah hati Venus saat ini. Terlihat bintang-bintang memancarkan sinarnya dengan sangat terang, bintang-bintang itu selalu setia menemani sang bulan yang terlihat hanya separuh. Bayangkan, jika bintang tak ada mungkin bulan akan kesepian dalam menjalani malam-malam yang ia lalui.
    Tiiiiiiiitttttttt ... Lagi-lagi suara klakson yang keras menyadarkan Venus. Ia melihat sekeliling. Ancol? Ngapain Rafa ngajak aku kesini? Enggak mungkin kan malem-malem gini dengan pakaian formal dia ngajak aku berenang? Hmm ..
    Tapi dengan cepat Rafa berhasil mengusir pikiran Venus yang benar-benar tak mungkin terjadi. Ia memarkirkan Ferrari merahnya didekat pantai. Pantai ini memang tempat kenangan mereka sejak dulu. Hmmm .. Pantai, tempat yang pas untuk menghabiskan waktu berdua ..
    Rafa membukakan pintu mobilnya, lalu menggenggam tangan Venus erat. Ia melangkah mendekati pantai. Terlihat disana ada sebuah meja bundar dengan taplak meja berwarna putih, dan dua buah kursi dibungkus kain berwarna merah muda namun agak sedikit pucat dengan pita berwarna merah yang menempel di belakang kursi tersebut. Cantik nan elegant.
    Rafa mempersilahkan Venus untuk duduk. Terlihat dua buah lilin merah didalam gelas kecil berada di atas meja, terdapat juga vas bunga dengan mawar merah. Langit bertabur bintang, angin malam yang berhembus cukup kencang membuat semuanya menjadi sangat Romantis.
     Venus melihat wajah Rafa. Matanya berwarna biru, mata yang mirip dengan mata Zac Efron itu selalu saja bisa membawa kedamaian. Ingin sekali rasanya waktu berhenti, agar tak ada hari esok. Hari dimana Rafa akan berangkat ke Paris, meninggalkan Venus sendiri dan entah kapan ia akan kembali. Memikirkannya saja sudah membuat hati Venus sakit dan nafasnya terasa sesak. Venus menghela nafas. Ia sedang tak ingin memikirkannya, ia hanya ingin menikmati malam ini bersama Rafa.
      Seorang pelayan membawakan dua piring tenderloin steak with jardiniere vegetable and potatoes, dan dua gelas srawberry smoothie yang terlihat sangat segar.
“ Silahkan dinikmati makanannya.. “ Ucap pelayan itu ramah.
“ Terima kasih mas .. “ Ucap Venus tersenyum.
Venus dan Rafa sangat menikmati malam itu, mereka berdua menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang ini itu lalu tertawa bersama, saling mengeluarkan candaan dan dibalas dengan candaan lainnya. Mereka tak ingin melewati malam itu dengan air mata dan bersedih ria, mereka hanya ingin melewatinya dengan bahagia dan tawa.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam padahal saat terakhir kali Venus melihat jam, waktu masih menunjukkan pukul setengah delapan. Tiba-tiba suara kembang api berdendang tepat di atas kepala mereka.   
Venus terkejut. Mulutnya menganga melihat keindahan kembang api malam itu. Ada yang berwarna merah, biru, jingga semua bergabung menjadi satu. Ia tak menyangka malam ini akan ada perayaan kembang api, biasanya di Ancol memang tak pernah ada perayaan kembang api kecuali jika tahun baru atau acara-acara khusus saja.
“ Aku khusus bikin semua ini buat kamu. Dinner, kembang api itu semua khusus buat kamu ” Ucap Rafa. Venus terpaku. Kata-katanya membuat Venus sangat terharu. 
“ Aku harap sebelum aku pergi, aku bisa memberikan sesuatu yang special dan akan menjadi kenangan yang takkan kamu lupakan.. “ Lanjut Rafa. Venus tak berani melihat mata biru itu. Pandangan Venus mengabur, matanya mulai berkaca-kaca.
Venus diam. Rafa melanjutkan ucapannya. “Aku enggak mau ngeliat kamu sedih, semua yang aku lakukan semata-mata hanya ingin membuat kamu bahagia. Selalu, aku selalu ingin ngeliat kamu bahagia. Aku enggak kuat kalau melihat kamu nangis atau sedih. Aku harap suatu hari kamu bisa ngerti “
Begitu besarkah rasa sayang Rafa padaku, pada sahabatnya ini, hingga ia rela berkorban apa saja untukku? ataukah ada perasaan lain yang ia rasakan sama seperti apa yang aku rasakan padanya?
Perasaan Venus mulai berkecamuk. Sedih, bahagia, terharu semua bercampur menjadi satu.
Ia tak bisa menahannya lagi. Air matanya mengalir.
Andai saja ia diberi dua permintaan yang pasti akan terkabul maka ia akan meminta:
Yang pertama : agar ia bisa memutar waktu kembali pada saat ia memutuskan untuk menerima cinta Dylan.
Yang kedua : ditiadakannya hari esok, dan keputusan Rafa untuk kuliah di Paris berubah.
Venus tahu semua itu takkan mungkin terjadi, waktu yang sudah berlalu takkan pernah bisa kembali lagi. Ia menunduk, matanya melihat desiran ombak yang menghampirinya. Kehidupan layaknya ombak yang selalu datang dan pergi. Ada orang yang datang, pasti akan ada orang yang pergi dari hidupnya itu memang sudah alami. Namun perpisahan bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Apalagi jika harus berpisah dengan orang yang kita sayangi.
Rafa mendekati Venus, lalu ia berlutut dihadapannya. Tangannya yang kokoh terulur menyentuh dagu wanita yang kini sangat ia cintai. Muka Venus terangkat dengan perlahan, mukanya terlihat sangat kacau. Air matanya mengalir tanpa suara.
Entah penglihatan Venus benar atau tidak, ia melihat mata Rafa berkaca-kaca. Raut mukanya terlihat sedih, jelas sekali. Mungkin Rafa juga merasakan kesedihan yang sama. Tangannya perlahan menyentuh pipi Venus yang halus, tak lama kemudian ia mengapus air mata wanita di depannya.
“ Aku kan sudah bilang, aku enggak mau ngeliat kamu sedih “
Venus menelurusi wajah sahabatnya itu. Memang tak ada gunanya bersedih hati, namun ia hanya manusia biasa. Ia tak sekuat karang yang dapat bertahan saat diterjang ombak. Venus memeluk leher Rafa, dan semuanya tumpah saat ia memeluk pria itu.
Dan malam pun terus berjalan sampai akhirnya esok benar-benar tiba ..

{

Venus membuka matanya, pandangannya masih kabur. Ia melirik jam dinding. Jam 8.00 .. hmm, baru jam delapan ..
“ WOOOAAAAAAAAA “ Teriak Venus kaget. Ia langsung loncat dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian ia sudah terlihat cantik.
“ Aduh gimana nih, jam sembilan lewat sepuluh pesawat Rafa kan berangkat. Kenapa engga ada orang yang bangunin atau telepon aku sih?? Ih, sebel deh “ Gerutu Venus sambil memakai sepatu kets putihnya. Ia langsung berlari ke luar kamar dan menyuruh pa Budi untuk mengantarkannya ke bandara Soekarno Hatta. Ia berharap ia masih sempat mengantar kepergian sahabatnya itu.
Entah mengapa jalanan kota Jakarta kali ini terasa sangat padat. Bahkan untuk membuka pintu mobilnya saja sangat susah. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 08.45, tak biasanya dijam-jam segini jalanan kota Jakarta Macet. Ya Allah,,, kali ini engkau sungguh-sungguh menguji kesabaranku .. Hamba mohon ya Allah untuk kali ini saja biarkan aku melewati jalanan dengan mudah ...
Venus gelisah, sangat gelisah. Kakinya tak bisa diam, matanya terus melihat jam yang melingar ditangannya.
.. Tak ada seorang pun didunia ini yang dapat merubah cintaku tuk selamanya ..
Handphone Venus berdering, ternyata sms dari April.

Ve km dimana? Ko blm dteng sih?
Setengah jam lagi pesawat Rafa berangkat ..

# April #
Venus semakin bertambah gelisah saat membaca sms dari April. Kalau dia terus menunggu kemacetan jalanan kota Jakarta berlalu, percuma. Yang ia dapat Rafa pasti sudah berangkat dan ia takkan sempat berpamitan dengan sahabatnya itu. Venus memutar otaknya dengan keras berharap menemukan sebuah ide. Ia melihat ke luar jendela.
Triing, tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Venus membuka pintu sedikit, keluar lewat celah pintu yang sangat kecil lalu melewati celah-celah antara mobil satu dengan mobil lainnya. Ia menghampiri seorang pemuda yang sedang beristirahat.
“ Mas, boleh saya pinjem sepedanya ? saya sedang terburu-buru, saya harap mas mau meminjamkannya .. “ Ucap Venus penuh harap. Laki-laki itu lalu menengok.
“ Looh, mas Tyo!.. Alhamdullilah.. Mas aku pinjem sepedanya ya? “ Ucap Venus sambil menyambar sepeda berwarna hijau. Ia langsung mengayuh dengan cepat tanpa menghiraukan kakak April yang terdiam tak percaya sepedanya dibawa begitu saja oleh sahabat adiknya itu. Aku mungkin memang bodoh, aku berani mengorbankan semua hal untuk orang-orang yang aku sayangi. Waktu, perasaan, uang, tenaga. Aku mau memberikan semuanya asal dapat membuat orang yang aku sayangi bahagia.
Dengan sekuat tenaga Venus mengayuh sepeda, keringatnya sudah bercucuran tapi ia tak peduli.. Jarak saat Venus keluar dari mobilnya sampai ke bandara Soekarno Hatta memang tak terlalu jauh jika memakai mobil tapi sekarang ia memakai sepeda dan tenaganya pun sudah hampir terkuras. Untung saja ia selalu berolah raga, jadi sudah terbiasa. Lima belas menit berlalu, ia beristirahat sebentar untuk menghela nafas lalu melanjutkan kembali.
Venus tersenyum, dari jauh bandara Soekarno Hatta mulai terlihat. Dengan sisa tenaga, ia mengayuh pedal dengan cepat. Dengan terengah-engah, ia menitipkan sepeda mas Tyo ke salah seorang penjaga, dan dengan secepat kilat ia segera berlari ke dalam. Ia mencari-cari tiga sosok yang sangat dikenalnya.
Suasana di bandara pagi itu cukup ramai, banyak orang yang akan bepergian sepertinya mereka pun diantarkan oleh keluarga dan kerabat dekat dan itu semua membuat bandara semakin ramai. Venus mulai putus asa, ia tak bisa menemukan sahabatnya itu. Handphonenya pun tertinggal di mobil karena tadi ia sangat terburu-buru.
Secercah harapan datang saat ia menemukan sosok yang sangat dikenalnya. Itu April. Dengan segera Ia berlari menghampirinya. Kedua tangannya diletakkan di atas lutut, ia masih sempat tersenyum disela-sela nafasnya yang memburu.
April melongo melihat Venus. Wajahnya bercucuran keringat, rambutnya awut-awutan, nafasnya terengah-engah, kausnya pun basah dibanjiri keringat. April menelan ludah. Sahabatnya itu terlihat seperti habis perlombaan marathon.
Venus mennyambar air mineral yang dibawa April. Dengan cepat ia menuangkan air mineral itu ke tenggorokannya, nyaris sampai habis.
April menyodorkan selembar tissue, sambil menggelengkan kepalanya.
“ Kamu kenapa Ve? kayak abis lomba marathon aja “ Tanya April penasaran.
“ Nanti aja ceritanya. Sekarang,, Rafa mana? Jangan bilang,,, kalau,,, pesawatnya udah take off? “ Tanya Venus terengah-engah. Ia menyisir rambut ikalnya dengan jari-jari tangannya dan sejurus kemudian rambutnya sudah kembali rapih.
April menunjuk ke suatu arah. Terlihat Rafa sedang melakukan check in.
“ Stay in here! “ Ucap Venus sambil berlari secepat kilat.
“ RAFAAAAAA.. “ Teriak Venus. Tapi sepertinya Rafa tak mendengar teriakannya sama sekali.
“ RAFAAAAAAAAAAAAA “ Teriak Venus lagi, kali ini lebih keras. Rafa menengok, lalu tersenyum. Semua orang melihat kearahnya tapi ia tak peduli. Venus terus berlari sampai akhirnya ia berada dihadapan orang yang dari tadi telah menguras tenaganya.
“ Aku kira kamu enggak bakal dateng “ Ucap Rafa putus asa. Venus menggeleng dengan cepat. Nafasnya masih terengah-engah.
Venus menelan ludah. “ Aduh.. aku.. cape banget.. “ Ucap Venus terbata-bata.
Dengan cepat Rafa memeluknya. Tiba-tiba nafas Venus berhenti, lalu sedetik kemudian kembali terengah-engah. Venus mencoba melepaskan pelukan Rafa, takut kalau baju Rafa ikut basah karena keringatnya.
Tapi Rafa tak bergeming. “ Makasih kamu udah dateng, aku seneng banget bisa ketemu kamu sebelum aku berangkat “ Bisik Rafa.
Venus diam tak menjawab.
Rafa melepaskan pelukannya, lalu mengacak-ngacak rambut Venus. “ Kamu baik-baik ya disini. Jangan suka bikin orang khawatir “ Pesan Rafa. Venus nyengir mendengar kata-kata Rafa.
“ Iya. Kamu juga hati-hati ya disana. Jangan lupa makan, jaga kesehatan juga. Insya Allah kapan-kapan aku pasti bakal kesana “
Rafa mengangguk.
“ Calling-calling ya “ Ucap Venus mengingatkan.
“ Siipp. Aku berangkat ya Ve.. “ Ucap Rafa lemas. Rafa membalikkan badannya, sekilas wajahnya memancarkan kesedihan.
Venus mengerti sekali apa yang sahabatnya itu rasakan, ia pun merasakan hal yang sama. Namun ia tak ingin terlihat sedih karena ia sudah berjanji pada Rafa dan ia juga tak ingin membuat konsentrasi Rafa disana menjadi terganggu.
Venus mengangguk. Rafa menengok ke arah Venus. Untuk beberapa saat Rafa menelusuri wajah gadis yang sangat ia cintai itu. Rafa melangkah mendekati Venus, lalu ia memeluk gadis itu kembali dan mengecup keningnya.
Rafa tersenyum, lalu ia melangkah menjauh. Rafa membalikkan badan dan melambaikan tangannya. Andai kamu tahu Ve, aku tak ingin berpisah denganmu ..
Akhirnya air mata Venus meleleh. Ia sudah tak bisa membendungnya lagi. Sahabatnya sudah pergi, ia harap disana Rafa akan baik-baik saja. Meskipun perpisahan ini sangat menyakitkan tapi ia harus tegar. Ia yakin ada hikmah disetiap peristiwa yang terjadi.
{
“ Udah dong Ve nangisnya “ Ucap April menenangkan. April tak percaya, sahabatnya itu menangis sejak bayangan Rafa tak terlihat lagi. Ia mengerti apa yang sahabatnya itu rasakan, namun sekeras-kerasnya ia menangis bahkan sampai berguling-guling pun Rafa takkan kembali.
“ Disini kan kamu masih punya keluarga, punya Dylan, punya aku.. Lagipula kamu kan masih bisa menghubungi Rafa. Dia enggak pergi jauh ko Ve. Kita kan masih tinggal ditempat yang sama, sama-sama di Bumi.. hehehe “
Venus tersenyum meskipun hanya sedikit. Ia mengambil selembar tissue, lalu mengusap air matanya.
“ Tadi Dylan dateng ga Ril? “ Tanya Venus masih terisak-isak. Saat Venus datang ia memang tak melihat kekasihnya itu.
“ Dateng, tapi cuma bentar. Soalnya dia bilang ada urusan gitu. Oiya Ve, kamu tadi sadar enggak pipi Rafa agak memar biru-biru gitu? “ Tanya April penasaran.
Venus diam. Lalu tak lama kemudian ia menggeleng. “ Aku tadi enggak merhatiin muka Rafa dengan seksama. Emangnya kenapa? “
“ Aneh aja, soalnya pipi Dylan juga agak memar “ Jawab April. Ia membelokkan mobilnya ke halaman rumahnya.
Venus mengerutkan alisnya. “ Mungkin cuma kebetulan “ Jawab Venus sambil menurunkan sepeda mas Tyo, lalu menyimpannya di garasi.
“ Oiya terus kenapa sepeda mas Tyo bisa ada di kamu? Kalau enggak salah tadi pagi mas Tyo bilang kalau dia mau jalan-jalan pake sepeda deh.. “
“ Gini, tadi malem aku nyampe rumah jam dua malem. Tadi pagi bangunnya kesiangan. Macet. Eh, dideket trotoar ada mas-mas bersepeda yang lagi istirahat daripada enggak bisa ketemu Rafa ya aku minjem sepedanya. Eh ternyata dia mas Tyo“
“ Jadi kamu tadi ke bandara naek sepeda? “ Tanya April kaget. Venus mengangguk sambil nyengir.
April melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Venus memang termasuk tipe orang yang rela berkorban apa saja demi orang yang ia sayangi. April pergi ke dapur untuk membuat latte favoritnya, setelah itu ia membawanya ke ruang keluarga. Venus mengikutinya dari belakang.
“ Oiya tawaran dari kampus itu bakal kamu terima? “ Tanya April sambil menuangkan Latte ke dalam cangkir. Venus merupakan siswa yang cukup berbakat terutama dalam bidang arsitek. Sejak SD ia memang suka menggambar, namun sejak SMA ia lebih mendalami segala hal yang berbau arsitek.
Venus mengangguk. “ Kamu? “ Tanya Venus balik.
“ Iya. Hmmm .. Rencananya sih pengen ngambil dua jurusan, arsitektur sama bisnis manajemen “ Jawab April sambil memberikan segelas Latte panas pada Venus.
“ Kalau Dylan gimana? “ Tanya April sambil sesekali ia meniup lattenya yang masih panas.
“ Dia ngambil manajemen “ Jawab Venus sambil menyeruput lattenya perlahan.
 Mas Tyo keluar dari kamar. Venus terhenyak kaget, saking kagetnya hingga ia tersedak latte yang sedang diminumnya.
 “ Mas Tyo,, maafin Venus ya? Tadi Venus bener-bener lagi kepepet. Maaf banget kalau udah bikin mas repot “ Ucap Venus dengan nada bersalah.
Mas Tyo tersenyum, lalu menggeleng. “ Enggak apa-apa ko nyantai aja. Kamu kan sahabat adik aku, jadi kamu juga udah mas anggap kayak adik mas sendiri “ Jawab mas Tyo. Ia lalu duduk disebelah April.
Venus tersenyum lega.
“ Oiya katanya Rafa tadi pagi berangkat ke Paris ya? Emang disana dia mau ngapain? Kalau cuma nerusin kuliah kan disini juga bisa “ tanya mas Tyo cuek, ia sama sekali tak tahu menahu dengan masalah yang sedang terjadi. Jadi wajar saja kalau ia bertanya.
Mendengar pertanyaan dari mas Tyo, dengan segera April menginjak kaki kakaknya dan menggelengkan kepalanya dengan tegas. Lalu April bermain-main mata dengan kakaknya. Jika ada penerjemah mungkin artinya akan seperti ini : “ Aduh mas Tyo.. jangan sebut-sebut nama Rafa di depan Venus doong.. Dia sedang sensitive dengan nama itu. Venus nangis dari tadi gara-gara nama itu, aku enggak mau kalau dia sampai nangis bombay lagi “, Begitulah kira-kira.
April melihat ke arah Venus dengan hati-hati, dan benar saja dugaannya. Venus sudah meneteskan air mata lagi. April memukul dahinya. Sepertinya, hari-harinya kedepan akan menjadi hari-hari yang penuh dengan air mata dan kesedihan ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar