Minggu, 30 November 2014

B'Coz I'm Stupid Part 2


PESTA
 
Tak terasa sang fajar telah menampakkan dirinya kembali, sinarnya memaksa masuk melewati celah-celah jendela bersama angin pagi yang berusaha keras untuk membangunkan Venus. Embun-embun didedaunan pun masih tersisa akibat hujan tadi malam. Venus menarik selimutnya yang menjauh, tiba-tiba terdengar suara riuh dari luar sana tapi ia tak peduli. Entah mengapa suara tersebut semakin mendekati kamarnya.
“ KAVEEEEEE BANGUUUNNNN … !! SHOLAT SUBUH KATA MAMAH ! KAVEEEEEE BANGUUUNNNN !! … SHOLAT SUBUH KATA MAMAH ! bangun, bangun, bangun,bangun …“ Teriak Lori sambil memukul-mukul sebuah benda entah apa itu tapi suaranya sangat memekakkan telinga. Uuuuhhh, dasar anak kecil nyebeliinnn!!!
“ IYA, IYA .. AKU BANGUN. KAMU PERGI SANA, BERISIK TAHU !“ Venus berteriak tak kalah keras. Angin pagi dan anak kecil menyebalkan itu ternyata berhasil membangunkan Venus pagi ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul 05.00.
Masih antara sadar dan tidak, Venus berjalan malas ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu. Selesai sholat subuh ia langsung menyambar handuk merahnya dan seragam sekolahnya untuk mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Venus berjalan menuruni tangga, tangannya menggenggam handphone dan mencoba mengetik sms.

Morning dyie ..
Sorry about last night ..
Something wrong but I can’t to tell you now ..
I’m sorry ..
Nice day .. J

# Venus #

Venus menekan tombol send, berharap kekasihnya itu langsung membalasnya dan mau memaafkannya atas kejadian tadi malam. Venus menyadari ia memang salah, ia meninggalkan orang yang jelas-jelas telah memberikan segalanya untuknya, tapi ia malah meninggalkannya begitu saja. Hati Dylan pasti hancur dan sakit dengan sikap Venus tadi malam sayang ia baru menyadarinya sekarang.
Venus melihat jam dinding diruang keluarga, jam telah menunjukkan jam 06.15.
“ Bi, orang-orang pada kemana? tumben jam segini belum pada ngumpul buat sarapan?“ Tanya Venus bingung.
“ Loh non, hari ini khan hari sabtu sekolah non sama den Lori kan libur. Trus kata nyonya, sekolah non juga hari ini mau ada acara, apa ya namanya? Emmm, nite nite atau aapaaa gitu “ Jawab Bi Cici menerangkan.
“ Prom night bi “ Jawab Venus tersenyum. Ia lupa kalau hari ini hari sabtu. Padahal ia ingin sekali memakai seragam ini sekali lagi, tapi apa boleh buat.
“ Terus papah, mamah sama Lori mana bi? “ Tanya Venus. Matanya mencari-cari ke seluruh ruangan.
“ Ada di teras non, lagi siap-siap mau lari pagi “ jawab Bi Cici. Venus hanya mengangguk.
“ Ya udah kalau gitu, aku ke kamar lagi ya bi masih ngan.. “
Belum selesai Venus berbicara, Amran sudah menyelanya. “ Engga boleh! Cepet ganti baju, trus kita lari pagi. Biar sehat. Buruan ya, kita tunggu didepan “ Ucap Amran sambil mendorong Venus untuk segera pergi ke kamar.
“ Tapi pah .. “ Jawab Venus malas. Amran menggeleng, matanya melotot. Akhirnya Venus mengalah. Bukannya Venus malas lari pagi bersama keluarga tercintanya itu, hanya saja Rafa juga selalu lari pagi setiap hari sabtu dan ia belum siap jika harus bertemu dengan Rafa sekarang.
“ KAVEE BURUAN DONG! LELET BANGET SIH! “ Teriak Lori dari halaman rumah. Lori sudah kelas enam SD tapi kelakuannya itu sungguh amat menjengkelkan.  
Venus mendongak ke luar jendela. “ Iya bentar. Bawel! “ Jawab Venus kesal. Setelah berganti baju dan memakai sepatu olahraga, Venus berlari menuju meja makan dan mengambil sepotong roti dan segelas susu, setelah itu ia berjalan menuju halaman rumahnya. Terlihat keluarga kecilnya telah menunggu, Venus hanya tersenyum.
“ Yu pergi “ ucap Venus sambil merangkul Mamahnya.
“ Ih, Kave kamu jadi cewek lelet banget sih! Udah lelet, pelupa, sensi lagi. Nanti kalau Lori udah besar, engga mau ah punya istri kaya Kave. Pengen punya istri kaya Mamah aja “ Cerutus Lori. Wah, nih anak pengen dihajar kayaknya!
Hampir saja jitakan Venus mengenai Lori, jika bukan kata-kata Amran yang tak diharapkan menghentikannya. “Eh, ada Rafa. Sendirian aja? “ Sapa Amran sambil tersenyum. Venus pura-pura tak mendengar, ia mencoba menyembunyikan tubuhnya dibelakang tubuh papahnya yang lumayan tinggi berharap Rafa tak melihatnya.
Tapi gagal.
Terlihat Rafa tersenyum padanya. “ Iya om sendirian, kebetulan papah sama mamah tadi malam pergi ke Paris nengokin ka Cantik. Oiya om, boleh saya mengobrol dengan Venus?” Tanya Rafa sopan. Kata-kata Rafa membuat nafas Venus berhenti.
Venus melihat papahnya, berharap ia tak mengijinkan karena papahnya itu baru pulang dari Bali dan baru bertemu dengannya atau apalah. Tapi sedetik kemudian harapannya itu tinggal harapan.
“ Sure. Kalian kan sahabat, masa mau mengobrol saja saya larang? Iya kan sayang ?” Ucap Amran sambil melihat ke arah Venus. Venus hanya tersenyum, ia salah tingkah. Venus melihat ke arah mamahnya, ia hanya tersenyum. Mamah ko malah senyum-senyum sih? Bukannya bantuin anaknya lagi pusing juga .. Aduh kenapa sih, pagi-pagi mesti ketemu Rafa? Kenapa nasibku seperti ini?
“ Maahh , pengen ikut Kave .. “ Ucap Lori tiba-tiba. Hahahaha. Thanks god!
Venus merangkul Lori. “ Boleh ko sayang kalau kamu mau ikut. Engga apa-apa kan fa ?” Tanya Venus lembut. Ia mencoba mengendalikan perasaannya yang berguncang.
“ No problem “ Jawab Rafa singkat. Ia menggenggam tangan Venus, erat. Entah mengapa perasaannya menjadi tak karuan. Rafa dan Venus duduk di taman. Sedangkan Lori malah asik bermain dengan bola basket yang dibawa Rafa. Ihhh, Lori kamu ko malah main bola, percuma kamu ikut kalau akhirnya aku tetep berduaan sama Rafa..
Hari ini rasanya banyak orang yang lari pagi lebih dari biasanya.  
“ Tadi malam kenapa telepon aku engga di angkat? “ Tanya Rafa tiba-tiba.
“ Lagi pergi sama Dylan. Terus hp aku juga low batt “ Jawab Venus sedikit berbohong. Untuk beberapa saat mereka terdiam.
“ Kamu kenapa sih? dua hari ini kamu kesannya kaya ngehindar dari aku.. “ Tanya Rafa, matanya melihat sekeliling. Venus diam, ia memilih untuk tak menjawab.
“ Ve kalau aku salah kamu ngomong jangan diem aja.. “ Ucap Rafa. Terdengar ia mulai bingung. Venus tak berani melihat mata lawan bicaranya itu.
Venus mengalihkan pandangannya pada Lori. “ Lori main bolanya hati-hati. Awas jatuh” Ucap Venus mengalihkan pembicaraan. Ia sedang tak ingin membahas itu, terlebih lagi ia tak ingin Rafa tahu tentang perasaannya yang mendadak mulai aneh.
Rafa menghela nafas.  “ Ve aku cuma mau bilang, lusa aku akan pergi ke Paris buat nerusin study disana “ Ucap Rafa tiba-tiba. Kata-kata yang Rafa lontarkan barusan membuat hati Venus untuk sesaat berhenti. Ia tak menyangka, Rafa meminta izin kepada Papahnya untuk mengucapkan “say good bye” kepadanya, lebih baik ia tidak mendengarnya dan langsung tahu kalau Rafa sudah di Paris.
Venus tak menjawab, ia menunduk terdiam. Semua ingatan, kenangan tentang dirinya dan Rafa muncul dibenaknya. Kebahagiaan, kesedihan, semua kebersamaan telah mereka lalui bersama dan besok Rafa akan pergi meninggalkannya, meninggalkan dirinya untuk waktu yang lama dan entah kapan dia akan kembali.
Air matanya menetes. Sahabat yang selalu ada didekatnya akan pergi meninggalkannya. Tak ada lagi orang yang bisa ia ajak bermain basket, mencuci mobil bersama, makan escargot bareng, minum soda sampai perut kembung, semua itu mungkin hanya akan jadi sebuah kenangan, kenangan pahit tentang sahabat yang meninggalkan sahabatnya sendiri tanpa sebelumnya pernah bercerita.
Tiba-tiba tangan Rafa menyentuh pundak Venus. “ Ve.. “
“ DON’T TOUCH ME!! “ Jawab Venus dengan nada tinggi. Ia menepis tangan Rafa dengan cepat. Venus menyeka air matanya, tapi percuma air matanya kembali menetes.
“ Ve dengerin aku dulu.. “ Terlihat mata Rafa memancarkan kesedihan, entah mengapa.
“ Dengerin kamu?! Kamu tahu fa gimana rasanya ditinggal seorang sahabat? sakit fa.. kita sahabatan tu udah dua belas tahun fa. Dua belas tahun.. “ Ucap Venus sedih, air matanya terus mengalir.
“ Kenapa kamu enggak pernah cerita kalau kamu mau study ke Paris? Kenapa kamu baru cerita sekarang? Dua hari sebelum kamu berangkat? Oh,, hebat! “ kata Venus dengan nada meledek. Rafa diam tak menjawab, ia hanya ingin menunggu wanita yang dikasihinya menyelesaikan luapan hatinya yang sedang bergejolak.
“ Memangnya, di mata kamu aku ini enggak ada artinya? Kamu mau ninggalin aku fa, dan dengan mudahnya kamu bilang ‘lusa aku pergi ke Paris buat ngelanjutin study’. That’s it. Segampang itu kamu bilang selamat tinggal? Aku benci kamu fa! Kamu sama sekali enggak ngerti perasaan aku.. AKU BENCI KAMU!! “ Teriak Venus. Ia berlari menjauhi Rafa. Ia benar-benar tak bisa menahan perasaannya.
Rafa berlari mengejar Venus, ia sedih melihat Venus seperti ini. Rafa menarik tangan Venus, lalu menggenggamnya erat seakan ia tak ingin melepaskan tangan wanita itu.
Rafa memeluk Venus, hangat. Venus mencoba melepaskan pelukannya, tapi pelukan Rafa semakin erat. “ Aku benci kamu! Aku benci kamu.. aku benci “ Ucap Venus lemas. Tangannya memukul-mukul dada Rafa dengan sekuat tenaga berharap pelukan Rafa bisa lepas tapi percuma.
“ Ve aku juga sebenarnya sedih kalau harus ninggalin kamu.. Kalau aku bisa memilih, aku enggak mau ninggalin kamu aku ingin selalu berada didekat kamu. Tapi.. aku harus pergi Ve. Meskipun aku jauh, tapi aku akan selalu berada disini, dihati kamu .. “ Ucap Rafa lembut. Ia tak ingin melihat Venus menangis. Ia selalu ingin melindungi wanita itu, wanita yang telah mencuri hatinya entah sejak kapan. Andai Venus tahu, betapa ia sangat mencintai Venus lebih dari siapa pun.
Venus sadar ia hanya seorang sahabat yang tak bisa menghalangi sahabatnya untuk mencapai cita-citanya, ia tak berhak sama sekali. Venus menghela nafas, berat. Kata-kata Rafa benar. Ia punya hak penuh untuk menentukan masa depannya sendiri. Lagi-lagi Venus menghela nafas. Yang sekarang bisa ia lakukan hanya menikmati detik-detik terakhir bersama Rafa. Venus pun tenggelam dalam pelukannya.

{

Venus, Rafa dan Lori berjalan menuju rumah Venus. Sambil memakan ice cream, sesekali mata Venus memperhatikan Rafa. Rafa, sahabat yang sudah punya tempat special dihatinya tak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Rafa dihatinya.
.. You look so dumb right now Standing outside my house Trying to apologize You’re so ugly when you cry ..
Handphone Venus berdering. Ia mengambil Hp disaku celananya. April. Venus menekan tombol answer.
Venuuussss! ini udah jam berapa? “ Teriak April tiba-tiba.
Venus melirik jam tangannya. “ Jam Sembilan lebih. Emangnya kenapa? “ Tanya Venus bingung.
kenapaaa?? Aduh, Ve kamu tu lupa atau pura-pura amnesia sih? jam sembilan kita kan mesti kumpul di sekolah buat final persiapan prom night. Tapi jam segini batang hidung kamu belum nongol juga di rumah aku. Propertynya kan masih belum lengkap. Kamu masih dimana? “ Cerutus April. Kebiasaan buruk April, saat ada acara-acara penting seperti ini ia selalu panik dan berubah menjadi sangat cerewet. Tapi kali ini Venus juga ikut-ikutan panik, karena dia belum bersiap-siap sama sekali. Mampus deh, aku lupa kalau hari ini ada kumpul panitia. Aduh bego banget sih!
  Hehe. Sory Ril, aku lupa kalau hari ini ada kumpul panitia. Aku baru aja selesai lari pagi bareng Rafa “ Jawab Venus cengengesan.
Aduuuh Venuuuuss! Ko bisa sih sampe lupa? dasar! gimana kalau ntar kita kejebak macet, trus dateng ke sekolahnya tambah telat? Gimana kalau ntar .. “
Belum selesai April bicara, Venus langsung menyelanya. “ Aduh kumat deh cerewetnya, tenang aja enggah usah panik. Aku yakin semua pasti berjalan lancar. Sekarang aku juga udah nyampe rumah ko. Tinggal siap-siap buat berangkat ke rumah kamu “ Ucap Venus menenangkan. Ia melambaikan tangannya pada Rafa.
Beneran kamu udah nyampe? Ya udah kalau gitu, kamu buruan mandi, trus ganti baju, trus makan, trus.. “
“ Iya bu guru, tenang aja. Ini juga aku lagi makan, kalau aja engga ada cewek cerewet yang telepon yang gangguin aku makan, mungkin aku udah selesai makannya dari tadi “ Ucap Venus meledek.
Terdengar suara April terkikik. “ Abis kamu bikin aku tambah panik aja. Ya udah siap-siap gih. Aku tunggu ya! “ Ucap April mengakhiri pembicaraan mereka.
Venus menghela nafas, terkadang ia sering dibuat pusing oleh sahabatnya itu. Tapi ia malah senang ia terlalu menyayangi sahabatnya itu, dan ia tak bisa mengeluh saat April berubah menjadi wanita yang cerewet.

{

Venus membelokkan Nissan Navara hitam – salah satu mobil koleksi ayahnya - ke rumah April. Terlihat sahabatnya itu sudah mondar-mandir didepan pintu rumahnya, kelihatan sekali ia sedang gelisah. Padahal kalau diteliti lagi, jarak rumahnya dan rumah April tidak begitu jauh, hanya berjarak beberapa kompleks saja. Waktu pun masih menunjukkan pukul sepuluh. Sekilas terlihat senyum April saat Venus datang.
“ Assalamu’alaikum “
“ Wa’alaikum salam. Syukur deh kamu udah dateng. MANG UJANGG.. TOLONG BAWAIN PROPERTY YANG ADA DI HALAMAN BELAKANG.. “ Teriak April. 
“ Sorry ya Ril aku datengnya telat.  Aku bener-bener lupa kalau hari ini kumpul panitia. I’m so sorry “ Ucap Venus merasa bersalah.
“ Ya iyalah lupa. Kalau lagi sama Rafa pasti semuanya jadi lupa “ Ucap April jutek.
Venus tersenyum lalu ia mencubit pipi sahabatnya itu. “Jangan jutek gitu dong, yang penting aku kan udah dateng “. Terlihat April malah cemberut.
Jangan cemberut gitu dong, senyum.. nih senyum nih  “ Ucap Venus sambil menarik mulutnya beberapa senti.
“ Udah ah, mendingan kita bantuin mang Ujang angkat-angkat property biar cepet selesai “ Ucap April sambil nyelonong pergi. Venus melongo untuk beberapa saat, lalu ia segera tersadar dan langsung mengikuti April dari belakang. Baru kali ini April nyuekin Venus, mungkin April sedang bete atau ada masalah. Entahlah.
Venus dan April mengangkat satu persatu property ke dalam mobil Venus. Disana ada enam property yang harus dibawa ke sekolah. Jadi masing-masing mereka mengangkat dua buah property. Busyet, berat banget. Ya Allah bantulah hambaMu ini .. hikz.
Venus menghela nafas, untung saja mang Ujang membantunya membawakan property ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian bi Minah membawakan jus strawberry yang kelihatannya sangat menyegarkan. Venus langsung meminumnya, setidaknya minuman itu mengurangi rasa lelah dan hausnya.
“ Berangkat yu, udah setengah sebelas. Nanti Kiran ngamuk-ngamuk lagi “ Ajak April
“ Oke. Let’s go “
Venus menyalakan mobilnya, otomatis Mp4nya menyala. Just the way you are milik Bruno Mars terdengar.
“ Ril, kamu marah ya? dari tadi diem aja “ Tanya Venus tiba-tiba. Jalanan Jakarta mulai padat, ditambah cuaca yang sangat panas membuat hari ini semakin panas. Alhamdullilah, aku pakai mobil pribadi. Enggak perlu kepanasan kaya pengendara motor atau yang memakai kendaraan umum.  
“ Tuh kan macet, sekarang udah hampir jam sebelas. Kiran pasti marah-marah deh “ Komentar April, ia tak menjawab pertanyaan Venus. Venus semakin bingung, padahal tadi malam April masih baik-baik saja.
 Venus menghela nafas. Sudahlah mungkin April memang sedang ada masalah dan belum mau cerita apa-apa. Aku enggak mau bertanya apa-apa lagi. Mungkin juga dia bete sama aku karena aku telat ..
Venus memutuskan untuk tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia lebih memilih berkonsentrasi pada jalanan karena sekarang jalanan sudah mulai lengang. 
“ Denis mutusin aku “ Ucap April tiba-tiba. Venus kaget mendengarnya tapi ia tak mengalihkan pandangannya dari jalanan, ia terdiam sesaat tak berani berkomentar apa-apa. Hubungan Denis dan April baru berjalan sebulan, dan selama sebulan itu tak pernah ada masalah apa-apa semua berjalan dengan baik layaknya pasangan yang baru jadian lainnya.
“ Denis mutusin aku tadi malem. Abis aku nganterin kamu pulang, nyampe rumah Denis telepon aku dan dia mutusin aku gitu aja tanpa alasan yang jelas “ Ucap April menghela nafas.  Meskipun dari suaranya April terdengar tegar, tapi Venus tahu hatinya pasti menangis.
“ Aku tanya alasannya, Denis cuma jawab dia pengen sendiri dulu “
April tersenyum kecut. “ Dasar cowok, dulu aja dia ngejar-ngejar pengen dapetin aku, pas udah dapet dibuang gitu aja “ Ucap April datar, kali ini suaranya terdengar seperti ‘kenapa aku tuh jadi cewek bodoh banget? Nerima cowok yang baru aku kenal tanpa pikir panjang, dan sekarang saat aku sedang sayang-sayangnya dia memutuskan hubungan kami dengan alasan ingin sendiri dulu’. Venus meminggirkan mobilnya.
Terlihat April meneteskan air mata, Venus tak bisa berkata-kata. Venus tak mengerti mengapa Denis tega mutusin April, padahal Venus tahu Denis sangat menyayangi sahabatnya itu terlihat jelas sekali dari mata Denis kalau ia sangat menyayangi April. Meskipun April tak mengatakannya, tapi Venus tahu ia juga sangat menyayangi Denis.
Venus memeluk April kemudian ia menyeka air mata April, ia ingin dirinya menjadi sandaran sahabatnya itu. Venus mengambil air minum yang ada di dasbor mobil lalu memberikannya pada April, setidaknya itu bisa membuat April lebih tenang.
Venus menjalankan mobilnya kembali. “ Kamu sabar ya Ril. Mungkin dia memang bukan yang terbaik buat kamu “ Ucap Venus menenangkan.
“ Eh, jangan-jangan kita saudara kembar lagi? Dapet masalah aja, harinya samaan. Tapi aku bersyukur banget kalau punya kembaran kaya kamu, hehe. “ Ucap Venus mencoba untuk bercanda, berharap April terhibur dengan candaannya.
April mendekap leher Venus. “ Aku yang enggak mau jadi kembaran kamu. Musibah deh  kalau punya kembaran yang suka lupa sama janjinya. Engga mauuuu “ Ucap April tak kalah bercanda. Venus dan April tertawa bersamaan, untuk sesaat mereka bisa melupakan masalah yang sedang terjadi dihidup mereka.
“ Eh, udah ah. Aku lagi nyetir nih, ntar nabrak lagi “
April melihat Venus, ya ia memang sangat beruntung dan bersyukur sekali punya sahabat seperti Venus. Terima kasih ya Allah karena engkau telah memberikan Venus dalam hidupku, tanpa Venus mungkin hidupku takkan seindah ini ..
Tak lama kemudian Venus sudah memarkirkan mobilnya dihalaman sekolah. Mereka keluar dari mobil dan langsung berlari menuju Aula. Terlihat Kiran sudah mondar-mandir didepan pintu aula sekolah sambil menyilangkan tangannya. “ Syukur deh kalian udah dateng “ Ucap Kiran tersenyum lega.
 “ Kiran, sorry ya kita datangnya telat. Aku lupa kalau hari ini ada kumpul panitia. So kalau kamu mau marah, marah aja sama aku jangan nyalahin April karena emang aku yang salah” Ucap Venus sambil terengah-engah.
“ Eh apaan sih Ve, aku juga salah ko. Tadi aku kena masalah dikit Ki, jadi bikin kita tambah telat deh “ Protes April.
“ Eh, udah-udah ko malah jadi pada ngaku salah-salahan gini sih ? Aku enggak marah ko, kita-kita juga baru mulai sejam yang lalu. Aku cuma lagi pusing aja, catering yang udah kita pesen ternyata kurang. Tadi pak kepsek bilang kalau dewan sekolah juga bakal dateng, sedangkan persediaan catering kita pasti engga bakalan cukup. Soalnya para dewan sekolah pasti mengajak suami atau istrinya buat dateng ke acara kita. Aduh gimana ya, sementara dana kita engga cukup buat pesen catering lagi “ Ucap Kiran menjelaskan. Kiran terlihat sangat bingung, ia tak tahu mesti berbuat apa. 
April mengangkat jari telunjuknya, itu tandanya kalau dia mendapatkan ide yang bagus. “Engga usah pusing-pusing, Papahnya Dylan kan punya Restoran. Pesen aja ke restoran papahnya, ya kali aja kita dikasih diskon gede-gedean. Apalagi kalau pacarnya Dylan sendiri yang ngomong langsung “ Ucap April sambil menyenggol tubuh Venus. Ia mencoba untuk menggoda Venus, tapi yang terlihat di wajah Venus bukannya malu tapi lebih terlihat seperti bingung.
Venus memang bingung, dari tadi malam ia sama sekali belum berhubungan dengan Dylan, smsnya saja tak dibalas apalagi kalau dia telepon mungkin sampai jamuran pun takkan pernah diangkat.
“ Hmmm .. Handphone aku low batt nih, kamu aja ya Ril yang telepon Dylan “ Ucap Venus sambil tersenyum, ia menggenggam tangan sahabatnya itu. April merasakan tangan Venus sedingin es. Nih anak pasti lagi bingung, kebiasaan buruk deh kalau lagi bingung pasti tangannya dingin banget. Hmmm, kayaknya emang bener dia lagi ada masalah sama Dylan ..
“ Ya udah kalau gitu biar aku aja yang telepon Dylan. Ve, kamu sama yang lain bawain propertynya ke sini “ Ucap April tenang. Venus melihat ke arah April, lalu ia tersenyum. Thanks Ril ..
Dua jam berlalu sejak April menelepon Dylan. Ruangan Aula pun telah berubah menjadi tempat pesta yang elegan dan romantis. Nuansa putih biru cocok sekali dengan karakter acara prom night bagi anak SMA yang akan melepas masa remajanya. Dengan lampu-lampu bulat ditengahnya yang terbuat dari bambu dan dilapisi dengan kain berwarna-warni. Sound system berada di panggung yang tidak terlalu tinggi dengan background tulisan-tulisan unik tema acara ini. Terdapat pula alat-alat musik yang memenuhi panggung tersebut, ada sebuah drum yang ditempatkan di belakang, dua buah gitar, sebuah bass dan yang membuat panggung itu terlihat cantik adalah sebuah piano klasik berwarna hitam. Di pojok-pojok ruangan di taruh pot bunga yang harum dan indah. Dinding-dindingnya pun disulap dengan kain-kain indah yang menjuntai seperti pada saat acara pernikahan. Didepan pintu aula terdapat gapura yang terbuat dari kayu Jepara yang diatasnya diuntaikan kain berwarna putih dan cokelat muda, terdapat pula sebuah karpet merah untuk menyambut para tamu yang datang.
Aula sekolah Venus memang cukup luas, cukup untuk menampung kurang lebih dua ribu orang. Setidaknya ruangan tersebut masih cukup lengang jika anak-anak ingin berdansa dengan gurunya, atau dengan pacarnya atau mungkin dengan sahabatnya. Meskipun malam ini akan menjadi malam terakhir tapi semua orang memang berharap malam ini akan menjadi malam yang takkan pernah terlupakan seumur hidupnya.

{

Jam telah menunjukkan pukul 17.30 saat handphone Venus berbunyi.
Aku jemput jam 7 ..

# My Dyie #
Oh my God, Oh my God, Oh my God .. Dylan sms aku, ini saatnya aku minta maaf ke dia lagi, pasti kali ini dibales. Venus menekan tombol replay.
Oke .. J
Dyie, sekali lagi aku mnt maaf soal yg td mlm ..
Please dyie jangan mrh, maafin aku ya ?
Aku bingung klo km ngediemin aku ky gini
Aku ga th mesti gmn ..
Once more, i’m so sorry honey .. L

# Venus #
Venus mengetik sms dengan cepat dan langsung menekan tombol send. Ia bertanya-tanya apakah kekasihnya itu akan membalas sms darinya. Sepuluh menit berlalu, tapi handphonenya masih belum berbunyi. Tiga puluh menit berlalu namun tetap tak ada balasan. Padahal ia sudah stay di dekat handphonenya agar ia bisa langsung membalasnya. Namun sepertinya semua itu hanya sia-sia, ia telah menunggu hampir setengah jam tapi Dylan sama sekali tak merespon. Udahlah! Percuma nunggu juga. Toh udah jelas banget ko Dylan enggak bakal ngebales sms aku. BODOH!. Mendingan sekarang aku sholat, terus siap-siap buat ke prom night.
Hampir satu jam Venus bersiap-siap. Ia memakai gaun yang kemarin di berikan Tante Inoue, ia memoles mukanya dengan bedak tipis, eye shadow, eye liner dan memberikan sentuhan terakhir berupa lip gloss. Wajah Venus tanpa make up pun sudah cantik, wajahnya putih merona, jadi ia tak perlu memakai make up tebal-tebal. Meskipun Venus tak sering berdandan, tapi ia tahu harus bermake up tebal atau natural. Rambut ikal yang panjangnya sebahu lebih sedikit ia biarkan terurai.
Tok .. Tok .. Tokk .. seseorang mengetuk pintu kamar Venus.
“ Non, Mas Dylan udah dateng. Dia udah nunggu dibawah dari tadi “ Ucap bi Cici dari seberang pintu.
“ Oh, iya bi. Bentar lagi selesai ko “ Jawab Venus sedikit berteriak. Venus segera memakai high heels bertali berwarna hitam dengan haknya berwarna silver dan terdapat mutiara-mutiara kecil di talinya yang membuat high heels tersebut terlihat mewah.
Venus membuka pintu kamarnya, ia melangkah keluar kamar dengan berat. Venus menghela nafas, ia masih menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan Dylan. Di ruang keluarga, terlihat Papahnya sedang mengobrol dengan Dylan. Dylan terlihat seperti laki-laki dewasa, ia terlihat sangat tampan dengan kemeja berwarna merah di padukan dengan jas dan celana berwarna putih membuat Dylan seperti “Prince charming” malam itu.
Venus melangkah menuruni tangga. “ Nah itu Venus “ Kata-kata Papahnya itu membuat Dylan menengok ke arah Venus.
Dylan memperhatikannya dari kaki hingga ke kepala. Ia selalu merasa risih jika ada laki-laki yang memperhatikannya seperti itu. Untuk beberapa saat mata Venus dan mata Dylan bertemu, Venus tersenyum tapi Dylan malah mengalihkan pandangannya. Venus menghela nafas, berat.
“ Sayang, malam ini kamu terlihat sangat cantik, papah sampai pangling ngeliatnya” Ucap Amran sambil mengulurkan tangannya pada Venus. Venus menyambutnya persis seperti di dongeng-dongeng saat sang Raja menyambut puterinya yang akan berangkat ke sebuah pesta.
“ Dylan, please take care my princess “ Ucap Amran dengan nada serius.  Venus melihat ke arah Dylan, ia hanya menganggukkan kepalanya.
Dylan berpamitan pada Amran. “ Om, kami pergi dulu “ Ucap Dylan sambil menggenggam tangan Venus, lalu melangkah pergi menuju mobil tanpa berkata sepatah kata pun. Dylan membukakan pintu mobil untuk Venus, ia masih menatapnya tak percaya.
“ Masuk. Kamu enggak mau kan, terlambat di acara yang udah cape-cape kamu buat sendiri .. “ Ucap Dylan datar. Venus masih menatapnya tak percaya, tapi ia segera tersadar dan masuk ke dalam mobil.
Dylan menstarter mobilnya dan langsung menancap gas. Venus masih tak mengerti apa yang ada di pikiran cowok ini. Kemarin ia sama sekali tak merespon sms dan telepon Venus, sekarang ia bersikap seperti tidak ada masalah apa-apa dan itu semua malah membuat Venus semakin merasa bersalah.
Venus terus memperhatikannya. Dylan bisa merasakan kalau Venus sedang memperhatikannya, tapi ia tak ingin mengalihkan pandangannya. Venus menghela nafas, lalu ia melempar pandangannya keluar jendela.
“ Venus “ Ucap Dylan tiba-tiba, Venus melihat ke arah Dylan. Dylan tetap tak mengalihkan pandangannya.
“ Tonight, you look different “ Ucapan Dylan membuat alis Venus berkerut, tak mengerti. Ia tak bisa terus begini.
“ Dy, soal kejadian di restoran kemarin aku minta maaf. Aku tahu aku salah udah ninggalin kamu gitu aja, tapi.. “ Belum selesai  Venus menjelaskan, Dylan malah menyalakan Mp4. Itu membuat hati Venus miris sekaligus kesal. Venus mematikan Mp4 dengan cepat.
“ Please Dy, listen to me! “ Ujar Venus dengan nada sedikit kesal.
Ngiiiikkkkkkk ... Tiba-tiba Dylan menginjak rem. Venus menggigit bibir bawahnya, takut jika Dylan marah padanya. Dylan menoleh, sorotan matanya tajam sekali. Venus menelan ludah, ia tersenyum kaku. Dylan mencondongkan tubuhnya pada Venus, hingga jarak tubuh mereka hanya beberapa senti. Jantung Venus berdegup kencang, saking kencangnya ia merasa jantungnya itu akan copot.
“ Dy.. Ka,, kamu mau ngapain? “ Tanya Venus gugup, ia memundurkan tubuhnya agar tubuhnya tak terlalu dekat dengan tubuh Dylan. Dylan geli melihat ekspresi Venus. Akhirnya Dylan tersenyum manis, lalu ia mengecup dahi Venus. Untuk beberapa saat, mereka berdua tak bergerak. Venus menutup matanya, ia bisa merasakan kehangatan dan ketulusan dari Dylan.
Dylan berdehem. Venus tak sadar kalau Dylan sudah menjalankan mobilnya kembali, Saat ini pipinya pasti merah padam karena saking malunya. Jika Venus ice cream mungkin ia sudah meleleh dengan kejadian tadi.
“ Ve ada sesuatu di dasbor, coba kamu ambil “ Ucap Dylan sambil terus memperhatikan jalanan yang lumayan padat. Venus membuka dasbor dan disana ada sekuntum mawar putih dan sebatang cokelat.
“ Itu buat kamu, coba deh kamu makan cokelatnya setidaknya bisa membuat kamu lebih baik “ Venus hanya mengangguk. Ia membuka cokelat itu dengan perlahan, lalu menggigitnya. Entah mengapa cokelat itu memang membuatnya lebih tenang dan nyaman.
Venus melihat ke arah Dylan. Ia baru menyadarinya sekarang, betapa ia sangat mencintai laki-laki itu dan ia sangat tak ingin kehilangan dirinya. Buktinya saja dengan kejadian kemarin membuat Venus menjadi sangat pusing dan bingung karena Dylan mendiamkannya, ia tak bisa jauh dari Dylan. Venus sadar, ia sudah terjebak terlalu dalam dengan permainannya sendiri tapi ia pun sudah tak bisa keluar lagi.
Venus menyenderkan kepalanya ke bahu Dylan. Ia tersenyum. Akhirnya aku bisa mencintaimu dan menerimamu. Meskipun ia tahu disisi hatinya yang lain, ada Rafa yang mungkin selalu ia cintai. Tiba-tiba air matanya menetes.

{

Malam ini adalah malam yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Venus senang karena bisa berkumpul dengan teman-teman sekolahnya dan juga gurunya-gurunya, dan ia juga senang karena ia telah lulus dari SMA. Tapi itu juga membuatnya sedih karena malam ini ia akan berpisah dengan teman-teman, guru-gurunya dan sahabat-sahabatnya.
Malam ini semua orang terlihat berbeda, mungkin karena biasanya mereka memakai seragam putih abu tapi malam ini mereka dapat mengekspresikan dirinya dan itu membuat mereka menjadi orang yang berbeda dan mengagumkan.
Acara prom night dimulai jam sembilan malam, dan sekarang sudah hampir jam sepuluh. Tadi Venus dan Dylan terjebak macet yang luar biasa, hampir dua jam setengah mereka terjebak macet. Bahkan April menelepon Venus sampai sepuluh kali karena ia belum datang juga. Namun Tuhan memberikan kemudahan kepada mereka berdua, sehingga sekarang mereka sudah ada di acara tersebut.
“ Ril, kamu cantik banget malam nie “ Ucap Venus kagum.  April memakai gaun selutut berwarna putih tulang bertali yang sangat pas dengan badannya. Rambutnya yang lurus berwarna hitam ia biarkan terurai, bukan lurus karena di rebonding tapi memang rambut April sudah lurus dari sananya. April datang bersama Bima – ketua kelas XII IPA 2. XII IPA 2 adalah kelas Venus, April, Dylan dan Rafa.
“ Kamu juga cantik banget Ve, aku sampai pangling ngeliatnya “ Ucap April tak kalah kagum. Mereka berdua tersenyum.
“ Mungkin karena gaun yang dikasih mamahnya Dylan jadi aku keliatan beda. Biasanya kan aku jarang pake gaun beginian “ Ucap Venus merendah.
“ Ah, kamu selalu aja merendah “ Ucap seseorang tiba-tiba. Venus menengok ke belakang, ia tersenyum.
Ternyata Rafa.
Malam ini ia terlihat sangat tampan, tak kalah charming dengan Dylan. Rafa memakai kemeja maroon yang terbuat dari sutera dan dilengkapi dengan jas berwarna hitam. Terdapat sekuntum mawar merah di kantung jasnya.
“ Nih buat kamu “ Ucap Rafa sambil memberikan mawar yang berada di kantung jasnya. Venus salah tingkah, ia bingung harus menerimanya atau tidak. Jika ia menerimanya, ia tak enak pada Dylan tapi jika ia tak menerimanya ia takut Rafa marah padanya.
Venus menoleh ke arah Dylan, tapi ia malah sedang memperhatikan seseorang yang datang bersama Rafa. Akhirnya ia memutuskan menerima mawar itu.
“ Makasih “ Ucap Venus sambil sedikit tersenyum.
“ Kalian masih inget sama Irish kan? Temen kita pas kelas sepuluh? “ Tanya Rafa sambil menyentuh bahu seorang gadis.
Venus dan April mengangguk. Mereka berdua tak menyangka, Irish tumbuh menjadi remaja yang mempesona. Wajahnya lumayan cantik dengan polesan make up yang terkesan glamour, kulitnya hitam manis, rambutnya sedikit keriting, gaun dan high heelsnya pun bermerk entah apa merknya mereka tak tahu.
“ Aku engga di kenalin Fa? “ Tanya Dylan tiba-tiba. Venus langsung menongok ke arah Dylan. Ia menyipitkan matanya curiga. Tumben bener nih anak pengen kenalan sama cewek ? Biasanya kalau bukan sama sahabat atau pacarnya ia selalu tak peduli. Mungkin Irish memang mempunyai daya tarik yang kuat, sehingga para lelaki didekatnya dapat bertekuk lutut dengan mudah dihadapannya. Semoga saja Rafa dan Dylan tidak terjerat..
“ Sorry. Kenalin Rish ini Dylan, Dylan ini Irish “
Mereka berdua saling berjabat tangan untuk beberapa lama, untuk sesaat mata mereka saling bertemu lalu mereka tersenyum di saat yang bersamaan.
Venus kesal melihatnya. “ Hmm, Hmm “ Venus berdehem. Dylan dan Irish salah tingkah, lalu mereka segera melepas genggamannya.
Di atas panggung, terlihat seorang DJ dan seorang penyanyi sudah mulai beraksi. Lagu Craig David - insomnia terdengar ke seluruh ruangan. Lagu itu membuat semua orang menggoyangkan tubuhnya kecuali para guru, dewan sekolah dan Venus. Entah mengapa perasaannya malam itu tiba-tiba menjadi tak enak.
Entahlah.
Venus mengambil minuman yang memang sudah di sediakan oleh pihak katering. Ia lebih memilih mengambil air putih untuk menenangkan hatinya yang gundah, yang sama sekali ia pun tak mengerti mengapa.
Venus melihat ke sekeliling, ia senang sekali pesta ini bisa berjalan dengan baik. Hasil kerja keras para panitia tidak sia-sia, semua orang terlihat sangat menikmati malam ini. Venus mengambil segelas air putih lagi. Ternyata lagu Rihanna yang mengalun sekarang sudah berganti menjadi lagu A Whole New World.  Venus hampir saja tersedak saat ia mendengar lagu ini, karena lagu ini mengingatkannya pada kejadian di restoran yang cukup menyayat hatinya.
“ Ve.. “ Ucap seseorang lembut. Ia mengulurkankan tangannya. Itu tanda kalau ia mengajaknya berdansa. Venus menyambut tangan yang kokoh itu.
Tangan kanan Dylan menggenggam tangan kiri Venus dengan erat, seakan ia tak ingin melepaskan gadis yang sangat dicintainya itu. Sementara tangan kirinya ia lingkarkan di pinggang Venus. Mereka berdua berdansa dengan indah, irama lagu mengalun semakin romantis, dan mereka berdua pun semakin tenggelam dengan suasana malam ini.
Venus mendongak. Dengan seksama ia memperhatikan wajah lelaki di depannya. Sekilas wajah Dylan mirip dengan Mukai Osamu, hanya saja kulitnya sedikit lebih hitam bukan hitam pekat namun lebih ke manis. Senyumnya pun manis sekali, apalagi plus lesung pipi meskipun hanya sebelah tapi itu semua yang menjadi daya tarik untuk Dylan. Sebenarnya kalau dipikir-pikir banyak sekali wanita yang tertarik padanya, jika tak ada Venus disampingnya mungkin Dylan sudah diperebutkan oleh banyak wanita. 
Venus beruntung. Dari sekian banyak wanita yang menyukainya, Dylan memilih Venus – wanita yang mungkin dulu sama sekali tak mencintainya - untuk menjadi wanita yang mengisi hari-hari dan relung hatinya.
Venus tersenyum. “ I love you..  “ Ucap bibir Venus tiba-tiba. Venus terhenyak kaget. Ia sendiri bahkan tak percaya saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, padahal ia tak berniat mengatakannya.  
Dylan tersenyum. “ Love you too.. “
Untuk apa disesali, toh kenyataannya sekarang ia memang sudah mulai bisa mengakui kalau dirinya memang cinta pada kekasihnya itu. Venus menyenderkan kepalanya ke dada Dylan yang bidang. Dylan mempererat pelukannya. Pada saat itu, waktu seakan berhenti berjalan dan yang ada hanyalah mereka berdua.
“ Sayang, lagunya udah selesai “ Bisik Dylan menyadarkan. Venus melihat ke sekeliling. Ia tersenyum kaku. Pipinya terasa panas, menjalar hingga ke telinga. OMG! Semua orang melihatku. Memalukan sekali. Untuk kedua kalinya, aku tak sadar gara-gara perlakuan Dylan padaku. Menyebalkaann!!!
Venus langsung melepas pelukannya, ia segera mengambil segelas air. Belum setengah jam berlalu tapi ia sudah minum tiga gelas air putih.
“ Ciie,ciie “ Ucap seseorang dari belakang. Venus tak perlu menoleh, ia sudah hafal betul pemilik suara itu.
“ Kayaknya ada yang lagi falling in love nih “ Ucap April membuat muka Venus memerah.
“ Eng, Enggak ko.. “ Jawab Venus salah tingkah.
“ Jangan bohong, keliatan jelas ko “
“ hah? Emang keliatan banget yah? “ Tanya Venus malu.
“ Yah, kalau orang buta yang ngeliatnya pasti enggak akan keliatan “ Ucap April sekenanya.
“ Ih dasar “ Ucap Venus sambil mencubit pipi April. Ia mengambil sepotong semangka lalu memakannya.
“ Jadi udah lupa sama Rafa? “ Tanya April mengalihkan pembicaraan.
Venus terdiam sejenak, ia menghela nafas. “ Please, don’t ask me about Rafa “ Pinta Venus, mukanya terlihat serius. Bagaimana pun juga Rafa dan Dylan mempunyai tempat special dihatinya, mempunyai tempatnya masing-masing. Dylan takkan bisa menggantikan Rafa, begitu pun sebaliknya.
“ Khusus malam ini, aku tak ingin membahas itu. Aku hanya ingin menikmati detik-detik terakhirku bersama Rafa. Aku tak ingin menyia-nyiakannya. Aku tak ingin terlihat sedih di depannya, meskipun kenyataannya hatiku sakit jika aku mengingatnya “
“ Vey.. “
Venus menelan ludah. Ia kaget setengah mati saat ia merasa pinggangnya di peluk oleh Dylan, laki-laki yang sudah bisa ia cintai. Venus menggigit bibir. Dylan tadi denger enggak ya, apa yang barusan aku bilang? Aku harap ia tidak mendengarnya ..
“ Serius amat ngobrolnya, lagi ngpbrol apaan sih? “ Tanya Dylan penasaran. Venus menghela nafas lega, kalau Dylan bertanya berarti tandanya ia tidak mendengar apa yang baru saja ia katakan.
“ Nothing. Urusan cewek, biasa “ Jawab April bohong. Terdengar lagu Everything I Do milik Bryan Adams mengalun. Lagu ini memang lagu yang romantis dan sangat cocok untuk berdansa. Tapi Venus tak mau berdansa lagi, ia sudah lelah dengan kegiatannya hari ini yang banyak menyita tenaganya.
“ May I? “ Tanya seseorang tiba-tiba, ia membungkukkan badannya sedikit. Rafa?
Lagi-lagi hatinya berkecamuk, antara menerima atau tidak. Rasa leleh yang tadi menyergap, seketika pun hilang. Ia melihat ke Dylan, berharap kekasihnya itu mengizinkannya.
“ Sure, lagi pula aku juga ingin berdansa dengan Irish “ Jawab Dylan mengerti. Tapi kata-kata terakhir Dylan membuat leher Venus tercekik. Untuk sesaat matanya menyipit. Venus membuang muka, dan langsung menerima uluran tangan Rafa.
Venus melihat April, ia terkikik. 
“  Kamu cantik Ve..“ Bisik Rafa pada telinga Venus.
Venus memukul tangan Rafa yang sedikit berotot. Muka Venus memerah hanya karena kata-kata yang keluar dari mulut Rafa. Pelukan Rafa pada pinggangnya membuat Venus tersadar kalau mereka sudah mulai berdansa. Memang hanya dua orang yang bisa membuat hidupnya lumpuh, kacau balau, berhenti meskipun hanya sesaat, dan berubah 180 derajat.
Terlihat Dylan sedang berdansa dengan Irish, entah mengapa perasaannya kali ini seperti tersayat-sayat. Sakit sekali. Lagi-lagi ia menyenderkan kepalanya pada lelaki didepannya, kali ini ia memang sedang butuh sandaran. Ia ingin istirahat sebentar saja, belakangan banyak sekali masalah yang terjadi yang membuat kepala dan hatinya menjadi sangat lelah.
 Tiba-tiba tangan Rafa menyentuh kepala Venus, lalu ia mencium kening Venus. Venus terlonjak kaget, mukanya memerah. Ia melihat Dylan, untung ia masih asik berdansa dengan Irish dan sepertinya ia tak melihat kejadian barusan.
“ Fa, ngapain sih kamu cium aku? Ini kan sekolah, nanti kalau ada gosip-gosip yang tak enak bagaimana? “ Tanya Venus sambil terus berdansa.
“ Malah itu yang aku harapkan “ Jawab Rafa.
Venus melongo. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
Venus melepaskan pelukan Rafa dengan lembut, lalu ia menghampiri April yang berada disebelah stand minuman. Terlihat Rafa masih mematung tak percaya. Perasaan Venus terlalu berkecamuk jika ia harus meneruskan berdansa dengan Rafa dan melihat Dylan berdansa dengan Irish. Lagi-lagi ia mengambil segelas air putih. Tapi April malah mengambil gelas yang di pegang Venus dengan cepat, lalu menyimpannya kembali.
“ Dalam setengah jam kamu udah hampir minum empat gelas, udah jangan minum lagi.. Nanti perut kamu kembung lagi“
Venus mengangkat bahunya. Tiba-tiba April memeluknya, seakan ia tahu apa yang sedang Venus rasakan.
“ Aku ngerti, apa yang kamu rasain sekarang. Kamu enggak perlu terlihat kuat didepanku Ve. Kamu sahabat aku dan aku akan selalu ada buat kamu.. “ Bisik April.
Kata-kata April membuat Venus sangat terharu. Bagaimana pun banyaknya kesulitan yang ia dihadapi, tapi selalu saja ada orang disamping Venus yang membuatnya kuat dan bertahan. Ia tak bisa membendung air matanya lagi. Satu butir air mata menetes, diikuti dengan teman-temannya yang lain.
“ Makasih. Aku cuma cape aja “ Bisik Venus pelan. Ia melepaskan pelukan sahabatnya itu. Entah mengapa hari ini ia merasa lelah sekali.
Venus memijit-mijit keningnya yang terasa sedikit sakit. Kepalanya tiba-tiba pening, pandangan matanya mulai kabur. Tubuhnya oleng, hampir saja ia terjatuh jika April tak ada disampingnya.
“ Eh, kamu kenapa Ve? “ Tanya April khawatir. Ia masih memegangi tubuh Venus yang lemas. Muka Venus memucat. Tangannya dingin sekali, bukan dingin karena pendingin ruangan tapi lebih karena dingin dari suhu tubuhnya sendiri.
“ Kayaknya kamu sakit deh Ve. Sebelum ke sini kamu makan dulu enggak? “ Selidik April. Venus menggeleng lemas, ia ingat terakhir kali ia makan adalah pada saat ia ditelepon April tadi pagi.   
“ Ril, aku pengen pulang. Kamu anterin aku ke depan ya, biar aku sms Pa Budi buat jemput aku “ Ucap Venus pelan. Alis April mengerut tak mengerti. Kenapa harus minta mang Budi buat jemput dia? Tanpa diminta pun disini ada dua orang cowok yang pasti bakal berebut buat nganterin dia ke rumah ..
“ Biar aku aja yang nganterin kamu pake taksi “ Ucap April.
“ Tapi pestanya gimana? “ Tanya Venus lemas.
“ Sahabat aku lebih penting “ Ucap April tegas. Venus tersenyum, meskipun mukanya pucat tapi ia masih terlihat cantik dan manis.
“ Tapi please, jangan bilang ke Rafa sama Dylan ya kalau aku pulang karena enggak enak badan? “ Ucap Venus penuh harap. April mengangguk, meskipun ia sama sekali tak mengerti dengan sikap Venus kali ini. Mereka berdua berjalan ke arah luar. Sepertinya Dylan tak melihat mereka karena ia masih asik berdansa dengan Irish, sedangkan Rafa batang hidungnya sama sekali tak kelihatan.
“ Ril, makasih ya “ Ucap Venus tulus. Di luar cuaca terlihat sangat cerah. Tak lama kemudian taksi datang dengan cepat.
Venus menyenderkan kepalanya dibahu sahabatnya itu, ia ingin memejamkan matanya meskipun hanya sebentar. Venus sangat lelah sekali, lelah karena semua yang telah terjadi. Lelah dengan perlakuan dua orang yang sangat ia sayangi. Lelah yang sangat menyayat hati, saking lelahnya ia sampai serasa tak bisa bernafas.
April menutupi tubuh Venus dengan jaket yang tadi sempat dibawanya ke acara prom night. Sebuah kehangatan yang April harap bisa sedikit menghapus rasa letih yang di rasakan Venus dan melindunginya dari dinginnya AC mobil. Ia sedih jika melihat sahabatnya seperti ini. Sekarang Venus memang terlihat sakit, namun di hatinya ia pasti merasakan sakit yang begitu sakit. Sakit yang di rasakan lebih karena tersiksa, tersiksa dengan keadaan yang sama sekali tak bisa sahabatnya ini hindari. Air matanya menetes.

{

Sementara di tempat lain ...

Buukkk .. Sebuah pukulan mendarat dimuka Dylan. Tak lama kemudian ia segera membalas pukulan Rafa. Dengan cepat Rafa mengangkat kerah baju Dylan, dan sebuah kepalan siap melayang ke muka Dylan. Tapi ia urungkan, ia tak ingin menodai persahabatan mereka. Lagipula kekerasan takkan pernah menyelesaikan masalah.
“ Kenapa loe lakuin itu sama Venus hah?!” Tanya Rafa dengan suara keras.
Dylan hanya diam tak menjawab.
“ Loe dateng sama pacar loe, tapi loe malah dansa sama cewek lain. Loe enggak mikirin perasaan Venus gimana??!! “ Tanya Rafa dengan nada marah, tangannya mengeras menahan emosi.
“ Apa loe mikirin perasaan gue gimana?! “ Tanya Dylan dengan suara tak kalah keras.
“ Sakit! saat gue liat loe dansa sama Venus. Sakit! Saat gue liat loe cium kening Venus!” Lanjut Dylan.
“ Tapi gue cuma diem ngeliatnya. Kenapa loe yang mesti marah? “ Tanya Dylan dengan suara mengejek. Darah Rafa terasa mendidih saat ia mendengar kata-kata Dylan barusan. Ingin sekali ia memukul wajah yang telah menyakiti gadis yang dicintainya itu tapi ia tahan.
“ Loe cinta kan sama Venus? “ Tanya Dylan tiba-tiba.
Rafa diam tak menjawab. Suaranya tertahan dikerongkongannya.
“ Iya kan?! “ Teriak Dylan.
“ Kalau iya memangnya kenapa?! Gue cinta sama Venus jauh sebelum loe cinta sama dia ” Ucap Rafa sambil menunjuk dada Dylan.
“ Loe sahabat gue, Venus juga sahabat gue. Gue kira dengan gue ngerelain dia buat loe, loe bakal bisa ngebahagian dia. Tapi nyatanya, loe malah nyakitin dia di depan mata gue sendiri“ Lanjut Rafa dengan nada kecewa.
Dylan menghela nafas, berat.
“ Maaf “ Ucap Dylan lemas. Ia sadar, ia memang telah menyakiti hati gadis yang sangat ia cintai.

“ Harusnya loe minta maaf sama Venus. Bukan sama gue“ Ucap Rafa melangkah pergi. Hatinya sakit melihat gadis yang ia cintai disakiti oleh sahabatnya sendiri. Tapi yang bisa ia lakukan sekarang hanya berharap untuk yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar