Senin, 13 Oktober 2014

B'Coz I'm Stupid part1

B’COZ I’M STUPID

KEBOHONGAN
Hari-hari terakhir Venus di sekolah sebagai seorang siswi bernama Venus Cempaka Wiraguna bisa dihitung dengan jari, ia tak menyangka sebentar lagi mau tak mau ia akan menjalani sebuah fase menuju kedewasaan dimana ia harus menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan jauh lebih berat dibandingkan saat masa-masa SMA-nya.
Venus menghela nafas, berat.
“Kamu kenapa Ve?“ Tanya Rafa.
“Aku enggak apa-apa ko“ jawab Venus bohong. Sebenarnya ia merasa sangat sedih jika harus berpisah dengan sahabat-sahabatnya ini.
“Tapi kelihatannya kamu ko lesu banget Ve, lagi ada masalah?“ Tanya April cemas. April adalah sahabat Venus sejak kelas sepuluh. Ia adalah satu-satunya sahabat wanita Venus di sekolah. Orangnya baik, perhatian, pengertian, pinter, cantik, rendah hati meskipun dia anak dari seorang ketua yayasan sekolah, dan masih banyak lagi kelebihannya yang lain pokoknya sempurna banget deh.
Venus tak menjawab, matanya memperhatikan pelayan kantin yang mondar-mandir untuk melayani pembeli. Terlihat ia sangat kelelahan, memang ini adalah jam istirahat dimana anak-anak mulai dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas pergi ke kantin untuk mencari makan. Kantin seluas ini tidak sebanding dengan tenaga mereka yang hanya terdiri dari lima orang. Dua menyiapkan makanan, sedangkan yang lainnya melayani kami (para pembeli) yang terkadang bisa sangat menyebalkan. Kasihan.
“Halooo .. Vey kamu ko malah ngelamun sih ? kamu kenapa sayang?“ Dylan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Venus. Tapi ia tak menghiraukannya. Tiba-tiba Dylan mengecup pipi Venus.
Ia terhenyak kaget. “Apaan sih? Malu tahu“ Venus melihat ekspresi Rafa. Unbeliveable. Untuk pertama kalinya aku ngeliat dagu Rafa mengeras saat Dylan mengecup pipiku. Apa mungkin .. dia jealous ?
“La abis kamu ditanya malah bengong aja, aku khan gemes jadinya“ Dylan tersenyum geli. Ia mencubit kedua pipi Venus gemas.
Dylan Niandra Mahesa adalah pacar Venus sejak kelas sebelas. Sebenarnya Venus dan Dylan sudah lama kenal karena mereka satu SMP. Dylan juga teman baik Venus, ya maksudnya sejak dulu Dylan selalu saja baik pada Venus, perhatian dan selalu membantu Venus saat ia kesusahan, Dylan juga termasuk orang yang suka bercanda. Saat SMP pernah beberapa kali ia menyatakan perasaannya pada Venus, tapi ia tak pernah menganggapnya serius karena Dylan selalu saja bilang kalau itu hanya bercanda. Tapi saat mereka naik ke kelas sebelas, Dylan menyatakan perasaannya lagi pada Venus dan Dylan bilang kali ini ia benar-benar serius. Entah mengapa Venus tak bisa menolaknya, mungkin karena kasihan atau ingin balas budi karena Dylan sudah baik sekali kepadanya. Jangan Tanya perasaan Venus padanya saat ini, karena ia sendiri pun tak tahu.
Alis Venus mengerut mendengar kata-kata Dylan.
“ Beneran aku engga apa-apa “ Jawab Venus lemas. Sebenarnya Venus sedih karena Rafa. Ia mendengar kalau Rafa akan meneruskan kuliah di Paris. Tapi Rafa sama sekali tak pernah bercerita kepada Venus tentang rencananya itu. Venus juga sedih karena ia sangat tak ingin Rafa pergi dari sampingnya, ia sungguh tak ingin kehilangan Rafa. Mungkin Venus memang kejam, ia sudah punya Dylan tapi disisi lain ia juga mengharapkan Rafa. Terkadang Venus merasa dirinya sangat bodoh, ia sudah mempunyai kekasih yang sangat mencintainya dengan sutulus hati tapi ia terkadang malah menyia-nyiakannya. Venus memang selalu merasa bersalah jika ia mengingatnya, dan belakangan masalah ini selalu saja menghantuinya.
 “Udah ah aku pergi ke ruang Osis dulu, ada rapat panitia buat acara prom night besok malam” Ucap Venus dengan nada sedikit sebal. Rafa, Dylan dan April saling berpandangan, bingung.
“Vey kamu pulang bareng aku engga?“ Tanya Dylan sedikit berteriak. Tapi Venus terus berjalan tanpa menghiraukannya.
“Ve, bareng … Aku juga mau kesanaaa…“ Teriak April.
“Venus kenapa Pril, lagi ada masalah?“ Terlihat wajah Rafa sedikit cemas.
“Engga tahu“ Jawab April sekenanya, lantas ia beranjak pergi.
“Cewek memang aneh“ Ucap Rafa dan Dylan bersamaan.
{
Sesampainya dirumah Venus langsung pergi ke kamarnya. Jam segini rumah Venus biasanya kosong, hanya ada Bi Cici - pembantu rumah tangga mereka. Amran - Papah Venus sedang ada proyek ke Bali, sedangkan Irene - mamah Venus sedang mengantarkan Lori ke tempat les. Venus membuka Laptop putih kesayangannya, kali ini ia sedang ingin mencurahkan segala isi hatinya pada benda canggih ini.
Dear Diary,
Hampir dua belas tahun aku dan Rafa bersahabat. Senang, sedih sudah kami lalui bersama. Dulu ia bahkan pernah rela berkorban untukku, untuk sahabatnya. Rafa selalu ada untukku, saat aku sedih ia selalu bisa membuatku tersenyum, saat aku terjatuh ia bisa menguatkanku agar aku bisa berdiri tegak kembali. Ia seperti tanganku, yang selalu menyeka air mataku, ia seperti kakiku yang selalu membuatku untuk terus berjalan meskipun aku sudah tak mampu.
Entah kapan perasaanku pada Rafa berubah. Aku tak pernah menyadarinya, yang jelas ketika berada didekatnya aku selalu merasa nyaman dan aman.
Rafa akan pergi meninggalkanku, meninggalkan semua kenangan kami, kenangan yang takkan pernah bisa aku lupakan, kenangan yang selalu akan ada dan tersimpan dihatiku. Aku tak mampu jika ia harus meninggalkanku, aku tak ingin ia pergi dari sisiku , aku tak bisa. Aku butuh dirinya, aku butuh Rafa.
Aku tahu ini memang tak adil untuk Dylan. Aku menerima cintanya, tapi didalam lubuk hatiku paling dalam ada orang lain yang telah mengisinya. Sebuah kebohongan yang jika Dylan mengetahuinya pasti akan sangat menyakiti hatinya. Aku sangat merasa bersalah pada Dylan maupun Rafa. Tak seharusnya aku menyimpan perasaan ini. Tapi aku hanya manusia yang tak bisa berbuat apa-apa …
.. tak ada seorang pun didunia ini yang dapat merubah cintaku tuk selamanya ..
Tiba-tiba Handphone Venus berdering, ternyata sms dari Rafa.
Ve kamu kenapa ?
Dari tadi siang kayaknya km ngehindar dari aku ..
# Rafa #
Sejenak Venus terdiam. Andai saja kau mengerti perasaanku, mungkin aku akan sangat bahagia.
Aku enggak apa-apa, cuma perasaan kamu aja .. J
# Venus #
Venus menekan tombol send, tak lama kemudian handphonenya kembali berbunyi.
Ve, kita sahabatan bkn sehari dua hari, tp udah dua belas tahun ..
Aku tahu kamu Ve ..
# Rafa #
Lagi-lagi Venus menghela nafas, ia menyimpan handphonenya di atas meja. Kali ini ia sedang tak ingin berhubungan dengan dunia luar, terutama Rafa. Venus mematikan laptopnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengganti baju. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur mencoba untuk memejamkan mata sejenak. Kenapa ini semua harus terjadi padaku ?.
{
Tak terasa sang fajar telah berada di peraduannya, langit yang mulai gelap mengantarkan kepergiannya meskipun esok pagi ia akan datang kembali. Venus menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi.
.. You look so dumb right now Standing outside my house Trying to apologize You’re so ugly when you cry ..
Dari kamar mandi ia mendengar handphonenya berbunyi. Tapi tak ia hiraukan. Setelah selesai mandi, handphonenya kembali berdering. Venus melihat layar handphonenya, My dyie.
Halo “
“ Akhirnya di angkat juga. Kenapa sih ko baru diangkat ? sebel ah “ Ucap Dylan dengan nada sedikit aneh.
Dylan kadang memang selalu bersifat manja, wajar saja dia memang anak laki-laki satu-satunya di keluarga Mahesa. Keluarga konglomerat yang mempunyai usaha resto dimana-mana, bahkan mereka telah membuka cabang di Jepang dan Paris.
iya maaf, tadi aku abis mandi engga denger kalau ada yang telepon “ Jawab Venus sedikit bohong.
Oh .. Pacarku yang cantik ini baru mandi toh, pantesan aja wanginya sampai kesini. Aku tadi sampai bingung, bau wangi apa yang ada di kamar aku, ternyata bau kamu sampai ke sini .. hehehe “ Dylan mulai menggombal.
idih kamu lebay ah, udah jangan ngegombal terus. Btw ada apa kamu telepon ? “
“ Loh, emang engga boleh kalo aku telepon pacar aku sendiri ? Ya udah kalau gitu, aku tutup aja teleponnya “ Terdengar suaranya sedikit kesal.
Venus tersenyum. “Hmmm gitu aja marah, sensi ah kaya cewek aja” Jawabnya meledek.
“Engga marah ko, mana bisa aku marah sama cewek yang paling aku cintai. Ngomong-ngomong buat prom night besok, kamu mau pakai apa ? “ Tanya Dylan tiba-tiba mengingatkan. Venus memang belum punya pakaian untuk pergi ke acara prom night besok. Belakangan waktunya habis untuk menyiapkan acara prom night, karena sebagai tukang menyiapkan property ia membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.
Engga tahu, kayaknya di lemari aku engga ada pakaian yang cocok buat acara prom night besok deh”
“Ya udah aku jemput kamu jam 7, kita nyari gaun buat kamu”
“Tapi ..” Belum selesai Venus berbicara, Dylan sudah menyelanya.
Engga ada tapi-tapian. See You Honey ”. Belum sempat Venus menjawab tapi Dylan sudah menutup teleponnya. Terkadang Dylan memang selalu saja seenaknya, tak pernah mendengarkan apa kata-kata Venus.
{
Jam dinding Venus telah menunjukkan jam 18.30. Dengan segera ia mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat magrib. Venus harus banyak bersyukur kepada-Nya, hampir 17 tahun Allah telah memberinya kesehatan, rezeki, keluarga yang baik dan berkecukupan, sahabat-sahabat yang menyayanginya dan nikmat lainnya yang tak terhitung. Selesai sholat, ia segera berganti baju. Malam ini ia memilih memakai dress biru langit dengan corak bunga-bunga kecil dan simple dengan sepatu wedges berwarna blue satin bertali satu dengan pita dengan resleting dibelakangnya.
Tok .. Tok .. Tok .. seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“ Masuk .. “
“ Good night honey.. Wow you look so beautiful “
“ Thanks Mom “ Venus tersenyum.
“ Dylan udah ada di bawah tuh, dia udah dateng dari tadi, katanya kamu mau nyari baju buat prom night besok ya ? “ Tanya Irene. Venus mengangguk.
“ Ma, kata orang lebih baik dicintai daripada mencintai. Kayaknya kata-kata itu engga berlaku buat aku deh “ Ucap Venus lemas.
“Loh emangnya kenapa , ko kamu ngomongnya kaya gitu?“
Dicintai orang rasanya memang bisa membuat bahagia, tapi ketika hati ini tak bisa menerima cintanya dengan setulus hati dan mungkin hati ini malah mencintai orang lain, rasanya itu semua malah membuat ku sangat tersiksa.
“ Hey, ko malah bengong “ Ucap Irene sambil mengibas-ngibaskan tangannya, gerakan mamahnya itu menyadarkan Venus dari lamunannya.
“ Ah, engga apa-apa ko ma. Aku pergi dulu ya “ Venus mencium tangan dan pipi mamanya tersebut.
Venus berjalan keluar kamar, ia mempercepat langkahnya ia tak ingin mamanya itu menanyakan hal yang macam-macam.
“ Dy maaf ya lama “ Ucap Venus sedikit tak enak. Terlihat Dylan sedang bermain Uno dengan Lori.
Dylan menengok. “ Engga ko, tadi Lori ngajak aku main jadi malah keasikan main sama Lori “ Jawab Dylan.
“ Idiih, tumben Kave hari ini cantik banget, kaya bukan Kave yang Lori kenal “ Omel Lori tiba-tiba. Lori adalah adik Venus satu-satunya. Kave merupakan panggilan sayang dari Lori untuknya. Venus mencubit pipi Lori gemas, secara tidak langsung ia menyuruh adiknya itu untuk tutup mulut.
“ Pergi yu, ntar keburu malem lagi “ Ajak Venus sedikit memaksa. Dylan hanya mengangguk. Mereka berdua berjalan ke arah mobil BMW hitam milik Dylan. Dylan membukakan pintu untuk Venus.
“ Thanks “ Ucap Venus. Dylan hanya tersenyum. Ia menyalakan mobil sesaat kemudian BMW itu mulai berjalan memecah keramaian kota Jakarta disaat malam. Di luar jalanan terlihat sangat ramai, padahal hari ini bukan hari libur. Dylan menekan tombol power pada Mp4 mobilnya. Lagu Aku Harus Jujur-Kerispatih terdengar mengalun dari Mp4nya.
 Kenapa harus lagu ini? Apa ini hanya kebetulan? Ataukah dia tahu semua kebohonganku? Venus mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Semua hal yang terjadi belakangan membuat pikiran dan perasaannya berkecamuk. Tiba-tiba air matanya menetes, tapi ia segera menyekanya ia tak ingin Dylan melihatnya menangis. Sepanjang perjalanan, mereka hanya mendengarkan lagu yang terdengar dari Mp4.
“ Sayang udah sampe “ Ucap Dylan tiba-tiba. Venus melihat ke luar. Butik sakura. Dari namanya, Venus langsung bisa mengenalinya. Dylan menggenggam tangan Venus dan mengajaknya ke dalam butik tersebut.
“ Eh, ada Venus “ Kata Seseorang tiba-tiba. Venus langsung menoleh, lalu ia tersenyum dan segera mencium tangannya. Venus tahu kalau Mamah Dylan memang mempunyai butik, mungkin sekitar enam bulan yang lalu ia membuka butik tersebut. Venus baru pertama kali mengunjungi Butik Sakura. Mamahnya Dylan memang menyukai segala hal yang berbau Jepang, maklum saja beliau adalah keturunan Jepang yang sudah lama menetap di Indonesia.
“ Malam tante, maaf kalo Venus mengganggu waktunya “ Ucap Venus tak enak.
“ Enggak ko. Kamu khan udah tante anggap seperti anak sendiri, masa anak datang malah mengganggu “ Inoue tersenyum, manis sekali. Terdapat lesung pipi disebelah kanannya.
“ Oiya, tante mau ngasih liat sesuatu. Ayo ikut “ Tante Inoue menarik tangan Venus. Venus melihat ke arah Dylan, ia malah mengangkat bahunya.
“ Ve coba liat gaun ini, menurut kamu gaun ini bagus engga ?” Tanya tante Inoue sambil menunjuk salah satu gaun koleksi butiknya. Gaun diatas lutut berwarna merah maroon yang  menjuntai tanpa tali, dipinggangnya terdapat sabuk karet berwarna hitam dan terdapat bunga berwarna merah menempel disamping sabuk. Venus terkesan dengan gaun tersebut.
“ Bagus banget tante “ mata Venus berbinar-binar. Tangannya terus saja menyentuh gaun tersebut. Inoue tersenyum, ia tahu anak tersebut pasti akan menyukainya.
“ Gaun ini buat kamu sayang “ Ucap Tante Inoue tiba-tiba. Venus menatap tante Inoue tak percaya.
“ Tapi .. “
Belum selesai Venus bicara, tante Inoue langsung memotongnya. “ Engga ada tapi-tapian. Kamu udah tante anggap seperti anak sendiri, jadi wajar aja kalau tante ingin ngasih sesuatu buat kamu di hari special sekolah kamu “
Ternyata tante Inoue dan Dylan mempunyai sifat yang sama, sama-sama tidak suka dibantah dan sama-sama tidak bisa mendengarkan ucapan orang lain sampai selesai. Venus memang tak bisa menolak semua hal yang diberikan Dylan dan tante Inoue, sebenarnya jika Venus harus membeli gaun tersebut pun ia masih sanggup namun apa daya ia tak ingin mengecewakan ibu dari kekasihnya tersebut.  
“ Oke, Ve terima tante. makasih banyak ya “ jawab Venus tersenyum, lalu ia mengecup pipi tante Inoue sebagai tanda terima kasih.
“ Vey, pergi yu ? “ Ucap Dylan tiba-tiba.
Venus mengerutkan alisnya. “ Kemana ? “
“ Udah ikut aja “ Jawab Dylan sambil menarik tangan Venus.
“ Tapi .. “ Venus kebingungan. Ia tak enak pada tante Inoue, tante Inoue sudah sangat berbaik hati memberikannya gaun yang begitu indah, tapi ia malah pergi begitu saja bahkan tanpa berpamitan sedikit pun.
“ Tante Ve pergi dulu ya dan makasih buat gaunnya .. “ Ucap Venus sedikit berteriak. Sekilas terlihat tante Inoue tersenyum dan mengangguk.
Dasar ya nih anak, bener-bener engga sopan!. Gini deh kalau udah kumat. Sebel!
Venus menginjak kaki Dylan. Rasain tuh!
“ Aawwww .. “ Ucap Dylan sambil mengerang kesakitan.
“ Kamu kenapa sih ? Aku benci kalau kamu udah kaya gini! Kamu tuh kaya orang yang engga tahu sopan santun tahu ga ?! Mamah kamu udah baik banget ngasih aku gaun buat acara prom night besok, tapi kamu malah ngajak aku pergi gitu aja. Udah lah, aku mau pulang!” Kata Venus dengan nada marah. Ia melangkah pergi. Ia sungguh tak mengerti dengan pikiran kekasihnya itu.
Tiba-tiba dari belakang seseorang menggenggam tangan Venus. Ia menengok.
“ Udah kamu ikut aja “ Kata Dylan sambil menarik tangannya. Venus mencoba melepaskannya namun genggamannya terlalu kuat. Ia tak tahu Dylan ingin membawanya kemana.
Dylan melangkahkan kakinya menuju sebuah restoran berarsitektur mewah bernuansa cokelat muda, terdengar lagu A Whole New World mengalun saat mereka datang. Di restoran tersebut terdapat panggung kecil untuk menghibur para pelanggan. Disana terdapat piano dan gitar berwarna putih. Terlihat sepasang penyanyi sedang menyanyikan lagu romantis itu dengan penuh penghayatan.
Dylan mempersilahkan Venus duduk. Ia memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Terlihat suasana malam kota Jakarta dihiasi dengan jutaan lampu, itu membuat kota Jakarta terlihat seperti kota Paris di malam hari, indah sekali. Diatas meja terdapat satu buah lilin berwarna merah berbentuk hati dan dua buah lilin kecil disampingnya. Lampu restoran tersebut pun sedikit redup, entah memang temanya seperti itu atau memang lampu restoran tersebut sedang rusak tapi itu semua malah membuat suasana semakin romantis.
Tiba-tiba Dylan memberikan setangkai mawar merah pada Venus. “ It’s special for you “ Dylan tersenyum, manis sekali. Entah mengapa, senyuman Dylan kali ini membuat Venus menjadi salah tingkah.
Sejak kapan ni anak jadi romantis gini? Udah gitu, ko aku baru nyadar ya kalau senyum Dylan tuh manis banget, rasanya aku jadi pengen meleleh gini. Ih, Meleleh ? Enggak ah, enggak.. enggakk.. enggak.. di RALAT.
Seorang waiter membawakan mereka Lasagna dan Squash Lemon. Mereka ko bisa tahu makanan sama minuman kesukaan aku? Enggak mungkin khan waiternya bisa baca pikiran aku? Venus bingung melihatnya. “ Kami kan belum pesan apa-apa mas ? “
“ Ini semua udah dipesan oleh mas Dylan mba “ Jawab waiter tersebut. Venus melihat ke arah Dylan, tapi ia hanya tersenyum dan sekali lagi senyumannya terlihat manis sekali.  
 Tiba-tiba Dylan berdiri. “ Wait a minute, Oke ? “
Kali ini Venus benar-benar dibuat bingung oleh Dylan. Entah mengapa kali ini ia tak bisa menebak apa yang akan dilakukan kekasihnya itu. Dylan melangkahkan kakinya ke arah panggung di restoran tersebut.
OMG! Jangan bilang dia mau nyanyi?
“ Selamat malam semuanya. Maaf kalau saya mengganggu acara makan anda malam ini. Disini saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk wanita cantik berbaju biru yang duduk disebelah sana. Untuk wanita yang paling saya cintai “ Ucap Dylan dengan lambat.
Orang-orang yang tadinya sibuk dengan urusannya masing-masing tiba-tiba langsung melihat ke arah Venus. Venus tersenyum, malu. Dylan memang orang yang cukup mahir memainkan berbagai alat musik, suaranya pun lumayan bagus. Tapi Venus tak menyangka malam ini ia akan bernyanyi untuknya. Dylan mulai memainkan note-note piano dari sebuah lagu.
I know this song!.

Cinta adalah misteri dalam hidupku
Yang tak pernah ku tahu akhirnya
Namun tak seperti cintaku pada dirimu
Yang harus tergenapi dalam kisah hidupku
 
Venus melihat Dylan, miris. Entah mengapa hatinya terasa sakit sekali saat ia mendengar Dylan menyanyikan lagu itu untuknya. Ia merasa, ia tak pantas untuk menerimanya. Ia merasa dirinya sangat bodoh. Sepenuh hati Dylan telah mencintai dirinya, tapi ia sendiri malah tak tahu kepada siapa hatinya tertuju. Venus sedih melihatnya, ia sudah tak tahan akan semua ini.

Ku ingin slamanya mencintai dirimu
Sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku
Ku ingin slamanya ada disampingmu
Menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku

   Maafin aku dy, aku udah nyakitin kamu. Tiba-tiba air mata Venus menetes, ia menyekanya tapi air matanya tak mau mendengar perintahnya. Venus sudah benar-benar tak sanggup mendengarnya. Ia berlari meninggalkan semuanya, meninggalkan restoran itu, terutama meninggalkan Dylan yang masih tak percaya kekasihnya itu pergi begitu saja tanpa sepatah kata apapun.
Venus terus berlari, ia sudah tak peduli dengan keadaannya sekarang. Yang jelas ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Tiba-tiba hujan turun dengan begitu deras. Tapi ia sama sekali tak menghiraukannya, ia terus berlari memecah hujan yang turun pada malam itu.
Kenapa Dy, kenapa kamu harus cinta sama aku? Kenapa kamu harus mencintai aku sampai segitunya ? Kenapa kamu harus baik banget sama aku? Asal kamu tahu Dy, dulu aku nerima kamu karena kasihan! Bukan karena aku cinta sama kamu. Aku tahu aku memang bodoh. Aku enggak sanggup Dy, kalau aku harus terus nyakitin hati kamu. Kamu terlalu baik buat aku. Aku enggak bisa bikin kamu bahagia, aku cuma bikin kamu sakit dan hati aku pun sakit Dy. Aku engga sanggup kalau kamu perlakukan aku kaya gini terus … Sebaiknya kamu lupain aku dy, karena aku memang enggak pantes buat kamu .. kamu terlalu baik buat aku ..
Air mata Venus terus saja mengalir. Venus terjatuh dan ia baru menyadari kalau ia telah berada di Pantai, tempat kenangannya bersama Rafa. Tak ada seorang pun di Pantai itu, mungkin karena malam ini hujan sehingga orang-orang lebih memilih makan malam di restoran daripada di Pantai.  
Venus tak mampu untuk berdiri, rasanya semuanya terlalu menyakitkan. Biasanya saat ia terjatuh, Rafa yang selalu membantunya untuk berdiri tegak kembali. Tapi kali ini ia tak bisa bercerita pada sahabatnya itu. Hujan semakin deras begitu pun dengan air matanya. Sialan, kenapa enggak mau berhenti sih? Andai aku bisa memutar waktu, aku takkan pernah menerima cinta Dylan dan semuanya enggak akan menjadi serumit dan sesakit ini.
Venus merasa ia sudah tak kuat menahan semuanya sendiri, ia butuh seseorang untuk menemaninya dan berbagi kesedihannya. Venus mengambil handphone di tasnya. Ia mencari nama April dan menekan tombol dial .. Untuk beberapa saat, ia menunggu bersama derasnya hujan malam itu. Please Pril, angkat .. aku udah engga kuat.
Haloooooo “ Ucap April girang.
April ..Jawab Venus terisak-isak. Saking lemasnya, suaranya terkalahkan oleh suara hujan yang begitu deras.
Meskipun begitu, beruntung April masih bisa mendengar suaranya. “ What happend ? ko suara kamu kaya lagi nangis gitu ? “ Tanya April. Terdengar dari suaranya ia begitu cemas.
Ril, kamu kesini aku butuh kamu. Aku udah engga kuat buat nahan semuanya sendiri. Terlalu menyakitkan.. “ Jawab Venus masih terisak-isak.
“ Oke, aku ke sana. Kamu sekarang dimana ? “
“ Di Ancol “
“ Hah? Ancol? Ya udah aku kesana sekarang. Kamu jangan sampai ngelakuin hal-hal yang bodoh. Tungguin aku, bentar lagi aku kesana “ Ucap April mengakhiri pembicaraan.
April memang orang yang bisa diandalkan. Ia selalu ada untuk Venus, bahkan di saat-saat kritis seperti ini. Sepuluh menit berlalu sejak ia menelepon April.
Tiba-tiba seseorang memayungi tubuhnya dari hujan yang deras. “ Ve “ April melihat sahabatnya miris. Mata April memancarkan kesedihan, sedih melihat sahabatnya rapuh seperti ini.
Venus mendongak, dengan segera ia memeluk sahabatnya itu. Tangisannya tumpah dipelukan April, sementara hujan masih tetap turun dengan derasnya. April menyeka air mata Venus, ia tak ingin melihat sahabatnya terus terpuruk.
“ Ve kita pulang ya, kamu udah basah kuyup kaya gini. Nanti kamu sakit lagi kalau kamu terus disini “ Ucap April khawatir. April berharap Venus mau pulang dengannya. Terlihat Venus berpikir sebentar, tapi akhirnya ia menganggukkan kepalanya. April tersenyum lega. April mendekap Venus erat hingga ia terhindar dari tetesan air hujan. Kemudian mereka berdua berjalan beriringan ke Mercedes putih milik April.
“ Nih pake, untung aku selalu bawa handuk di mobil “
“ Ril thanks ya ? “ Venus tersenyum. Suaranya lemas sekali.
“ My pleasure “ April mengangguk lalu tersenyum tulus. April tak ingin bertanya apa-apa dulu, karena ia tahu waktunya memang belum tepat. Ia juga tak ingin memaksa Venus untuk bercerita, biarkan dia sendiri yang memulai untuk bercerita. Ia sudah tahu, hanya ada dua orang yang bisa membuat Venus seperti ini, kalau bukan tentang Rafa ya pasti Dylan.
 April menstarter mobilnya, otomatis audionya menyala. April hanya berusaha untuk mencairkan suasana hati Venus yang sedang tak karuan. lagu beautiful girls-Jojo menjadi lagu pertama yang terdengar. Setelah itu, lagu bondan&fade 2 black - kita selamanya mengalun didalam mobil April.
“ Ril, aku engga bisa pulang ke rumah dengan keadaan kaya gini “ Ucap Venus, matanya masih merah. April hanya tersenyum. April memang tidak berniat memulangkan sahabatnya itu ke rumahnya. Kebetulan kedua orang tua April sedang keluar negeri, dan dirumah hanya ada Mang Ujang dan Bi Minah. Sedangkan Mas Tyo sedang pergi bersama sang pacar dari tadi sore, entah kemana.
“ Ril, Denis engga marah sama kamu? Bukannya biasanya hari ini kamu ngedate bareng dia ya ? “ Tanya Venus merasa bersalah. Ia memang sering sekali merepotkan sahabatnya ini.
“ Kamu ini ngomong apa sih ? Aku pasti bakal ngeduluin sahabat aku daripada pacar aku, ya kalau udah suami sih beda lagi ya .. Apalagi dengan ngeliat keadaan kamu sekarang. OMG, enggak banget “ Jawab April hati-hati, ia melirik Venus. Sekilas Venus tersenyum. April membelokkan mobilnya ke halaman Rumahnya. Hujan sudah mulai mereda, seperti hati Venus yang sudah agak tenang. Mereka berjalan melewati pintu garasi yang berhubungan langsung dengan ruang makan.
“ Kamu ke kamar duluan gih, ntar aku nyusul “ Ucap April sambil nyelonong ke dapur. Venus mengangguk dan langsung pergi ke kamar April yang berada dilantai dua.
“ Bi tolong pesenin soto ayam di Resto biasa ya, nanti langsung bawain ke kamar “ Ucap April sambil membuat teh panas ditambahkan madu.
“ Baik Mba. Oiya tadi Mas Tyo telepon katanya dia pulangnya agak telat, soalnya lagi ada acara bareng temen-temennya “ Ucap Bi Minah menjelaskan. 
April mengangguk, ia melihat jam. Sekarang udah jam sembilan kurang, mas Tyo mau pulang jam berapa ?. Kakak April memang sedikit berbeda dari laki-laki Jakarta lainnya, wajar saja dia keturunan orang Yogya dan dibesarkan di Yogya selama lima belas tahun, baru setelah itu ia dan keluarganya menetap di Jakarta.
April berjalan ke kamarnya dan membawakan teh untuk Venus. Ia hanya bisa berharap sahabatnya itu bisa lebih tenang dari sebelumnya. April membuka pintu kamarnya, terlihat Venus sudah mengganti baju. April dan Venus sudah seperti saudara sendiri, sehingga mereka sudah tak sungkan satu sama lain.
Hhhaaaciii .. Venus mengambil tissue yang ada di meja rias April. “ Aku pinjem baju kamu Ril, abis dingin banget enggak kuat “ Ucap Venus sambil mengetik sms.
 “ Siip. Nih minum dulu tehnya, mumpung masih panas. Btw sms siapa ? “ April menyodorkan segelas teh pada Venus.
“ My mom. Pengen ngasih tahu, kalau sekarang aku lagi di rumah kamu. Takut dia khawatir “ Jawab Venus.
“ Ril, sorry banget ya aku udah ngerepotin kamu “ Ucap Venus tak enak.
April mengangkat sebelah alisnya, lalu menjitak kepala Venus pelan. “ Ih, kayak ke siapa aja. Calm down my dear
“ Maaf juga, karena aku belum bisa cerita sekarang. Aku,, belum siap “
April tersenyum, tulus. “ Enggak apa-apa ko. Santai aja, aku juga ngerti. Kalau kamu cerita sekarang pasti bikin hati kamu kacau lagi. Lagian aku juga udah tahu, kalau engga menyangkut Rafa ya pastinya soal Dylan “
Venus tersenyum malu, April memang tahu semua tentangnya. Meskipun tanpa bercerita tapi entah mengapa April selalu bisa mengetahuinya, mungkin dia punya indra keenam atau apa, tapi yang jelas Venus senang karena sahabatnya itu bisa mengerti dirinya.
“ Tehnya enak banget Ril, bikin hati jadi tenang. Hmmm, sekali lagi makasih buat semuanya ya “ Ucap Venus tulus.  April hanya tersenyum, ia melihat ke luar jendela ternyata hujan telah berhenti sejak tadi.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.30. Terlihat Venus mengetik sms lagi, entah untuk siapa.
Night ..
# Venus #  
Venus menekan tombol send, sms itu ditujukan untuk Dylan. Ia bingung harus mengetik apa. Venus menyeruput teh hangatnya hingga habis.
“ Ril, aku pamit pulang ya? “ Ucap Venus setelah menghabiskan tehnya.
“ Yakin? “ April terlihat ragu. Venus mengangguk mantap.
“ Ya udah, biar aku sama mang Ujang yang anterin kamu “ Ucap April menawarkan.
Venus mengangguk senang. Terima kasih ya Allah, karena engkau telah memberikanku sahabat sebaik , sepengertian dan seperhatian April.  
{
 “ Udah sampe mba “ Kata Mang Ujang memotong pembicaraan April dan Venus.
Baru saja mang Ujang akan turun dari mobil, April langsung berkata “ Enggak perlu turun mang, biar aku buka sendiri aja. Tunggu ya mang, aku mau mampir dulu sebentar “.
April dan Venus turun dari mobil, mereka berjalan menuju pintu rumah April, kebetulan gerbang rumah Venus belum di tutup. April menekan bel sampai tiga kali.  
Seseorang membuka pintu. “ Aduh maaf non, ngebuka pintunya lama. Soalnya tadi bibi abis beres-beres mainan den Lori dulu “ kata bi Cici menerangkan.
“ Mamah ada ? “ Tanya Venus pada bi Cici. Malam ini Venus tak ingin bertemu dengan mamahnya dulu, entah mengapa mamahnya itu selalu bisa membaca kondisi seseorang dari matanya.
“ Ada non, malah papah non udah pulang “ Jawab bi Cici.
Terlihat Mamah Venus dan Papah Venus sedang berada di ruang keluarga. Mamahnya sedang menikmati sesuatu, mungkin oleh-oleh yang dibawa Papah sedangkan Papahnya sedang membaca koran.
“ Mah, pah ada April nih. Dia mau pamit pulang “ Ucap Venus tiba-tiba. Amran dan Irene langsung berdiri.
“ Ko langsung pulang aja, enggak minum dulu Ril ? “ Tanya Amran menawarkan, terdengar begitu tulus.
“ Engga usah om, makasih. April kesini cuma mau mastiin Venus nyampe rumah dengan selamat “ Ucap April tersenyum, lalu ia melirik Venus terlihat mulutnya cemberut.
“ Makasih ya udah repot-repot nganterin anak tante yang manja ini pulang “ Ucap Irene. April mengangguk pelan sambil tersenyum.
“ Ya udah kalau gitu tante om, April pamit pulang dulu. Assalamu’alaikum “
“ Wa’alaikum salam. Hati-hati dijalan ya “ Ucap Irene, Amran dan Venus berbarengan.
Venus langsung melangkah pergi ke kamar, ia tak ingin orang tuanya itu menginterogasinya. Tapi terlambat.
“ Sayang bukannya tadi kamu pergi bareng Dylan ya, kenapa pulangnya dianterin April?“ Tanya Irene bingung. Gubrak !
“ Enggak apa-apa ko mah. Aku pergi ke kamar dulu ya pah, mah “ Pamit Venus. Ia melangkah dengan cepat.
Venus mengunci kamarnya. Venus melihat layar Handphonenya, ada tiga miscalled dan lima sms. Venus memilih untuk tak membukanya, ia malah mematikan handphonenya tersebut. Venus melihat ke luar jendela, rumput-rumput ditaman terlihat bahagia, karena mereka telah diberikan karunia yang tak tergantikan.
Tok .. Tok .. Tok , seseorang mengetuk pintu kamar Venus.
“ Sayang, boleh mama masuk ? “ Tanya Irene dari seberang pintu. Venus menghela nafas. hmm, padahal aku sedang tak ingin mengobrol dengan mamah. Venus berjalan mendekati pintu, lagi-lagi ia menghela nafas. Tapi akhirnya ia membukakan pintu kamarnya. Mungkin memang udah saatnya aku cerita ke mamah.
“ Gimana tadi sekolah kamu? Baik-baik aja khan? “ Tanya Irene, ia duduk disamping Venus. Sesekali matanya melihat ke luar jendela.
“ Baik ma “ Jawab Venus tak begitu bersemangat. Ia berjalan menuju kamar mandi, untuk membasuh mukanya, berharap agar mukanya terlihat lebih segar.
“ Sayang, kamu lagi ada masalah ya? Mau cerita ?” Tanya Irene dengan sorotan mata yang lembut. Venus tak pernah bisa tahan dengan sorotan mata wanita itu. Irene memang tak pernah memaksanya untuk bercerita, ia layaknya seperti seorang sahabat yang menunggu sahabatnya untuk bercerita tanpa adanya paksaan. Tapi buktinya, Venus tak pernah bisa menyembunyikan apapun dari Mamanya itu. Venus terus memperhatikan Irene, akhirnya ia melompat ke pelukan mamanya.
“ Ma, sebenarnya aku .. “ Venus tiba-tiba menghentikan ucapannya. Tapi akhirnya ia meneruskannya. Venus menceritakan semuanya, mulai dari ia menerima cinta Dylan karena kasihan dan balas budi, perasaan yang berubah terhadap Rafa, Rafa yang katanya akan berkuliah di Paris, perasaan bersalah terhadap Dylan dan sampai kejadian barusan. Tak ada satupun yang ia tutup-tutupi. Sesekali air matanya menetes.
Irene tersenyum. “ Ternyata kamu sudah besar “ Kata Irene sambil menyeka air mata Venus.
“ Ve, cinta itu anugerah terindah yang Allah berikan kepada kita. Kita enggak bisa menolak atau menghindar dari yang namanya cinta. Kita bisa saja cinta pada musuh kita, sahabat kita bahkan mungkin saudara kita. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kamu yang sabar, semua yang terjadi selalu ada hikmahnya. Suatu hari nanti, pasti akan ada laki-laki yang terbaik buat kamu hanya kamu belum tahu saja siapa orangnya “ Ucap Irene panjang lebar.
Ya, mamahnya benar. Venus tahu Allah memang telah menentukan takdirnya, sekarang yang bisa ia lakukan hanya mengahadapinya dengan sabar dan terus berdoa untuk yang terbaik. Venus tersenyum. Mamahnya itu memang selalu bisa membuatnya lega.

Venus memeluk mamahnya erat. Thanks my angel ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar